Catatan: Pasien Dungu

SONY DSC

Then shall the dust return to the earth as it was: and the spirit shall return unto God who gave it- Ecclesiastes 12:7

Sebelum tahun 2010, saya adalah pasien dungu. Seperti pasien kebanyakan, saya  selalu manut kata dokter setiap kali berkunjung pada tuan/nyonya dokter. Kalau mereka bilang saya sakit flu dan harus mengkonsumsi oseltamivir atau zanamivir sebagai obat sebagaimana ditulis dalam resep, tanpa banyak berpikir saya langsung menebus resep tersebut. Atau, ketika mereka mendiagnosa saya dengan penyakit lambung dan harus mengkonsumsi antibiotik, tanpa berpikir banyak lagi-lagi saya langsung menebus resep tersebut. Jujur saja, saya enggak pernah bertanya apakah obat tersebut hanyalah satu-satunya jalan yang menyembuhkan saya dari penyakit tersebut atau ada alternatif lain. Saya pun juga enggak pernah menanyakan kekurangan dan kelebihan dari obat tersebut. Maklum, dulu saya sering menganggap bahwa tuan dan nyonya dokter adalah satu-satunya kelompok manusia yang tahu bagaimana menyembuhkan penyakit manusia maupun binatang (untuk dokter hewan tentunya), kira-kira sebelas dua belas dengan dewa lah. Apalagi waktu itu saya masih seorang mahasiswa, belum ada kesadaran bagaimana menjadi seorang pasien a.k.a konsumen yang baik atau hidup sehat. Namun hal tersebut berubah sejak tahun 2009 ketika seorang dokter mendiagnosa saya dengan adanya gangguan liver dan “meramalkan” bahwa saya hanya memiliki 10 tahun lagi untuk hidup. “What the phvck? What have I done? What would I have achieved within 10 years?!” kata saya dalam hati. Lalu apa yang saya lakukan?

Well, saya pun kemudian mencari second opinion dari seorang dokter penyakit dalam di Yogyakarta. Seorang dokter dengan penampilan sebagai seorang umat beragama yang taat. Nyonya dokter kemudian menanyakan gaya hidup saya, apakah saya suka minum, apakah saya melakukan meggunakan narkoba dengan jarum suntik, apakah saya memiliki pasangan seks banyak dan lain sebagainya. Lucunya, nyonya dokter ini justru menjudge gaya hidup saya sebagai social drinker tanpa bisa membedakannya dengan seorang alcoholic, seorang candu, oleh karena itu saya harus menanggung resikonya. “What the heck?! You orang gila semua!” kata saya dalam hati. Tentu, saya frustrasi, takut.

Saya jadi ragu apakah tuan dan nyonya dokter ini adalah dukun atau orang berpendidikan? They seem having no idea how to interact  and or communicate the problem with their patients. Saya pun kembali ke tuan dokter di Bali. Meskipun tuan dokter telah meramalkan sisa waktu hidup saya, tuan dokter yang memiliki gelar profesor ini mengatakan bahwa saya bisa hidup lebih lama dengan catatan saya harus mengkonsumsi obat seharga 4 juta Rupiah per bulan seumur hidup atau 6 juta Rupiah per minggu. Belum lagi, suatu hari nanti, saya akan membutuhkan liver transplant. “Holy cow! How would I be able to afford it? Other than that, even if I had a good job and earn good money, I would rather to enjoy it!” Interestingly enough, tanpa bertanya ini-itu, tuan dokter akhirnya hanya memberikan vitamin yang konon katanya bisa memperkuat liver karena menganggap saya enggak mampu untuk membeli obat-obatan itu. “Well, that was true that I could not afford it back then. However, he could have asked than just prescribed me with some b.s vitamin kan?” As a result, bukannya semakin baik tapi semakin buruk. “Jesus! Mati beneran gue!”

Setelah melakukan riset sana sini, kita pun memutuskan ke Singapura, the best medical tourism destination in Southeast Asia. Tentu, kami tidak ke Mt. Elizabeth Hospital, mahal bok! Itu kan rumah sakitnya orang berduit. Kami hanya ke National University Hospital, rumah sakit pemerintah yang sekaligus berfungsi universitas yang terus melakukan riset. Selain itu, rumah sakit ini menawarkan servis dengan biaya yang miring bahkan jauh lebih murah dari rumah sakit internasional di Bali atau Jakarta. Kami pun enggak hanya melakukan riset akan biaya rumah sakit tersebut tetapi juga education background tuan/nyonya dokter yang kami temui. Dan ternyata pendekatan nyonya dokter sangat berbeda.

Kami cerita semua pengalaman kami dengan tuan dan nyonya dukun eh dokter dari Indonesia. Nyonya dokter sangat kaget dan heran kok ada dokter yang meramalkan lama hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive liver check up apalagi dia adalah seorang profesor. Dia pun kemudian menjelaskan secara detail tentang gangguan liver tersebut, dia menyarankan saya untuk melakukan sejumlah test dari liver test ulang, usg dan juga liver biopsy. Setelah dua minggu menunggu hasil lab keluar, kami bertemu lagi dengan nyonya dokter. Menariknya, bukannya dia langsung memberikan saya resep tapi justru memberikan beberapa alternatif tentang pengobatan yang bisa saya ambil.

  • Obat A, harganya X, hanya dikonsumsi selama 1 tahun. Nyonya dokter mengatakan bahwa obat A baru digunakan dalam 5 tahun terakhir per 2009. Sejauh ini, hasil riset menunjukkan bahwa meskipun banyak yang sembuh dalam kurun waktu 2 tahun saja tetapi karena ini obat baru maka belum bisa dilihat efek jangka panjangnya.
  • Obat B, harganya Y, dikonsumsi selama 4 tahun berturut-turut dan aman untuk kehamilan. Obat B sudah digunakan sejak tahun 1985 sehingga sejauh ini efektivitasnya telah teruji. Harganya pun jauh lebih murah karena sudah ada versi genericnya.
  • Obat C, harganya XY, dikonsumsi selama 6 bulan dengan efek samping depresi, rambut rontok, kehilangan napsu makan, dll. Obat ini sudah digunakan sejak tahun 1995. Harganya pun tinggi.

Dari sini saya belajar bahwa seorang dokter seharusnya enggak meramalkan hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive medical test apalagi menghakimi gaya hidup seseorang tanpa memberikan solusi yang efektif. Solusi yang diberikan pun harus beragam kalau memang ada pilihan sehingga tuan dan nyonya dokter tidak hanya jualan obat saja. Saya jadi ingat akan pembicaraan saya dengan seorang tuan dokter dari asosiasi dokter mengenai isu ini. Menariknya, tuan dokter mengatakan bahwa dokter enggak memiliki waktu yang banyak untuk memberikan penjelasan yang detail karena gaji dokter kecil sehingga alternatif pendapatan adalah dengan menjual obat. Perlu diketahui bahwa penjualan industri farmasi dunia mencapai 1 trillion USD per 2014, tanpa campur tangan dokter perusahaan tersebut tentu target tersebut enggak bisa diraih dengan mudah. Tapi tentu saja, saya enggak bisa mengeneralisasikan hal ini. Saya percaya ada juga tuan/nyonya dokter yang ingin memberguna bagi masyarakatnya.

Sejak saat itu, sebelum saya ke dokter, saya melakukan dekstop research terutama dan scientific journal dan artikel di mainstream media tentang apa yang saya alami termasuk ketika saya hamil sekarang ini. Saya pun lumayan nyinyir dengan dokter apalagi kalau sudah memberikan saya resep yang panjang apalagi kalau enggak memberikan penjelasan tentang obat tersebut.

Sometimes, it is not about how much we spend but also its long-term effect to our health and body esp. liver as well as kidney. What is the point to have a lot of money and adequate insurance tapi sakit melulu hanya karena kita menjadi pasien/konsumen dungu, manut-manut saja dengan tuan/nyonya dokter hanya karena mereka dokter. Ya kan?

Ride the bus

 

Photo: The Legendary Mbah Lindu

Gudeg is a traditional cuisine from the city of Yogyakarta. Gudeg is a slow cooking spiced young jackfruit which is being cooked in the claypot for hours.  Gudeg is normally being served for breakfast with white rice and chicken. Hence, as a traditional food, you can find gudeg in every street corner. One of those seller is Setyo Utomo who is also known as Mbah Lindu. Many believe that Mbah Lindu is the eldest gudeg maker in the town.
 
SONY DSC

Unlike many elderly people who choose to stay at home and take rest, Mbah Lindu choose to continue working at her old age by cooking and selling gudeg.

SONY DSC

The 96 years old lady has been cooking and selling gudeg since the 40s before the Japanese troops occupied Indonesia in 1942

dscn0770

Everyday, the mother of five would make 15 kg of gudeg along with other dishes such as areh and sambel goreng krecek which then would be sold in the following day at her street stall in Jalan Sosrowijayan. Her stall opens from 5 a.m to 10 a.m . She is normally being assisted by her youngest daughter Ratiah who acts as a cashier.

dscn0772

Mbah Lindu mentioned that she decided to continue selling gudeg at her old age because she feels healthier for being active. For her, age is just a number. It does not stop her tough yet hard working spirit from working on daily basis. Clearly, she does what she loves, cooking and selling gudeg.

Therefore, if you happen to visit Yogyakarta, you must try gudeg especially gudeg Mbah Lindu. Mbah Lindu stall is located in Jalan Sosrowijayan in Malioboro area.
I personally like it because it is not very sweet. Other than that, it is somewhat a different experience if you have gudeg which is made by the oldest gudeg maker in town.

Ride the bus

Notes: Rule #1

_DSC4571.JPG

I am an introvert but when I live at someone else’s house, I will not lock myself in the room all the times and only come up when I am hungry. That is why I do not like staying at other people’s house even for one night because one is forced to socialize with others.

However, if I have to stay at someone’s house, I will force myself to socialize with other and take some time to help the host to do some household task because the host has been kindly hosting me. Otherwise, one is considered to be very rude.

signature

Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature

Ztreet Queen: Sidomukti Skirt

Sidomukti Skirt [2015: CP]

Sidomukti Skirt [2015: CP]

Years ago….. I used to be known as an ‘ethnic girl’ because I love wearing ethnic fashion outfit and accessories, be it necklace, earing or skirt, and that is how I called myself, ethnicgirl. However my fashion taste has been changing as time passed by. I left the ethnic girl within me and become some kind of edgy girl. Yet, I still heart some ethnic element in fashion.

I must say that I often find it hard to get something an outfit which bring together the element of ethnic and modern as one combination in fashion product. Many fashion producer might try but I think they fail or I just never like them. That is why ….  I’d always rather to purchase raw material and design it by myself or together with tailor. Why? So I can get the perfect combination of color, pattern and also unique design according to my taste. At the same time, I also could determine the quality of it.

Rocking Sidomukti Skirt [2015: CP]

Rocking Sidomukti Skirt [2015: CP]

Few months ago, I went back to my hometown, the city of Yogyakarta. There is one ritual that I always do whenever I go to Yogya, I always go to Mirota Batik in Jalan Malioboro for Batik shopping. Mirota Batik is one of the largest souvenir shop in Yogyakarta. The shop is organized, clean and has a wide variety of products with reasonable price. I got myself a couple of Batik Solo.

As soon as I returned to Jakarta, I asked a good friend of mine, who happened to be a fashion designer, to design a funky skirt for me. And this is it, Sidomukti Skirt by Dreu Lona. Look the different that she made for the front and the back of the skirt. Love it so much! Thank you Miss Naia.

Ride the bus

BJ: Ignorance to The Warning

Jobs answered the Lord “I know Lord that You are all-powerful that you can do everything you want. You ask how I dare question your wisdom when I am so very ignorant. I talked about things that I did not understand, about marvels too great for me to know.

You told me while you spoke and try to answer your questions. In the past, I only knew what others had told me but now I have seen with you with my own eyes. So I am ashamed of all I have said and repent in dust and ashes (Jobs 42: 1-6)

signature