Catatan: Suratmi dan Problemanya

SONY DSC

SONY DSC

Ini adalah sebuah cerita tentang Suratmi. Suratmi adalah seorang asisten rumah tangga yang enggak kenal lelah. Bahkan, kalau diajak plesir, dia linglung dan bingung karena enggak ada yang dapat dia lakukan secara rutin. Luntang-luntung sana-sini, hanya bermain dengan Bejo, putra Bu Nuning. Asyik memang tapi kalau Bejo sedang tidur, lagi-lagi dia nganggur. Pusing bukan kepalang rasanya. Sebaliknya, dia sangat giat kalau diminta lembur apalagi Bu Nuning enggak enggan memberi upah tambahan.

Hari itu, hari Selasa. Jam dinding menunjukkan pukul 19:38. Suratmi masih berada di rumah Bu Nuning, dua setengah jam sudah dia lembur. Meskipun sudah tak banyak lagi yang harus dia lakukan, rasa lelah mulai menggerogoti tubuhnya. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang. Kebetulan, malam itu Bu Nuning memberinya kepala ikan kakap merah yang bisa ia gunakan untuk membuat kari ikan sayur sebagai santap malam keluarga. Sambil berdendang, Suratmi mengepel lantai dapur.

Kringggg….. kringgggg…..telepon seluler Suratmi berdering kencang. Biasanya Tukijo, suami Suratmi, atau Ratri, adiknya, yang menelepon untuk memastikan bahwa Suratmi baik-baik saja. Maklum, hari sudah mulai gelap. Tanpa melihat siapa si penelepon, Sutami langsung mengangkat teleponnya.

“Hallooo……” sapa Suratmi girang.

“Heee Suratmi…. Aku tahu di mana kamu bekerja sekarang. Jalan Samudera No 50 kan? Nanti, aku akan menunggumu di pengkolan jalan. Tapi jangan berharap kamu akan pulang ke rumah dan bertemu dengan keluargamu kalau suamimu tak segera membayar hutangnya,” kata seorang lelaki di balik telepon Nokia berwarna hitam miliki Suratmi. Suratmi tertegun, terdiam.

“Siapa kamu?” kata Suratmi singkat.

“Kamu tahu siapa aku!”

Suratmi kembali terpaku. Mukanya merah, keringat mulai bercucuran di dahinya. Takut dan bingung, itulah yang Suratmi rasakan.  Dia sangsi apakah ia harus memberitahu kejadian tersebut pada Bu Nuning atau menyimpannya dalam hati. Namun kalau Suratmi tak cerita, dia pun takut pulang. Bagaimana kalau laki-laki tersebut betul-betul menculiknya?

“Nyah… boleh saya bicara? Malam ini saya takut pulang ke rumah,” kata Suratmi memulai perbincangan. Suaranya sedikit bergetar. Bu Nuning hanya mengernyitkan dahi, penasaran. “Lho kenapa Mi?”

Suratmi terdiam sejenak lalu mulai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami dan asal mulanya.

Tukijo adalah suami Suratmi. Dia adalah pemilik sebuah apotek kecil di Mymensingh, sebuah distrik di Bangladesh. Cerita punya cerita, Tukijo ternyata gemar meminjam uang dari renternir sebagai modal menjadi renternir. Sialnya, para peminjam kabur semua dan meninggalkan Tukijo dengan hutang yang cukup besar sebanyak 65 juta rupiah dalam 10 tahun terakhir ini. Meskipun dia berusaha untuk membayarnya, bunganya terlalu besar 40 persen pertahun.. Jadi hutangnya pun tak kunjung lunas.

“Akh… lagi-lagi perkara uang,” pikir Bu Nuning. Bu Nuning pun diam sejenak.

Jujur saja, mendengar cerita tersebut, Bu Nuning enggak langsung percaya. Siapa tahu itu hanya alasan Suratmi untuk meminjam uang. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu Suratmi mencoba meminjam uang dari Bu Nuning dan Pak Prapto, suami Bu Nuning, tetapi mereka menolak permintaan tersebut. Tuman, kalau diiyakan terus. Ya toh?

Tetapi, kalau cerita tersebut memang benar adanya, bagaimana kalau debt kolektor datang ke rumah dan melakukan hal-hal yang enggak diinginkan sama sekali, seperti pembunuhan misalnya. Celaka dua belas bisa-bisa! Memang, Bu Nuning terdengar berlebihan. Namun, belum lama ini, asisten rumah tangga Pak Tebu baru saja dibunuh di rumah Pak Tebu saat Pak Tebu ke warung seberang. Bayangkan saja, hanya ditinggal 20 menit dan mati sudah si asisten rumah tangga! Mengerikan bukan? Jadi enggak salah jika Bu Nuningpun was-was. Ya toh?

Sebenarnya hal ini merupakan hal yang sangat menyedihkan karena meskipun kota tinggal di abad 21 dan berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan dan mengimplementasikan internet finance and banking, masih banyak orang yang tidak memiliki akses ke dunia perbankan atau koperasi. Namun meskipun tak sedikit pula yang memiliki akses ke dunia perbankan, tak sedikit pula yang menyalahgunakan untuk hidup hedon padahal ngutang. Kalau sudah begini, dikejar debt kolektor, mau lari ke mana? Ya toh? Suratmi! Suratmi!

Ride the bus

Catatan: Sirna

SONY DSC

Give no shit, take no bullshit and live your life [2016:EO]

Sebelum pindah ke Bangladesh, E sempat berkata “Jangan khawatir tentang bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, sebagian besar dari mereka berbicara bahasa Inggris dan kamu bisa berkawan dengan orang setempat dengan mudah,” Sayangnya, pernyataan tersebut tidak begitu tepat karena saya selalu mengalami miscommunication baik dengan supir, asistan rumah tangga atau karyawan pusat kebugaran but well what do you expect jika saya berkomunikasi dengan mereka, SD pun mereka belum tentu lulus.Saya sempat berpikir ‘Mungkin berbeda cerita jika saya bekerja, pasti saya akan berinteraksi dengan orang-orang yang berpendidikan dengan pengalaman internasional’. Dan jujur saja, hal ini membuat saya cukup frustrasi beberapa bulan pertama di sini. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai berkenalan dengan orang-orang lokal dengan berbagai background. Surprisingly, mereka sangat ‘bright’ and fun. Sesekali waktu, kami mengundang mereka untuk makan malam atau makan siang di rumah kami atau sebaliknya, berbicara ngalor ngidul mulai dari musik, keluarga, gaya hidup sampai politik. Kami bisa tertawa terbahak-bahak atau menjadi sangat serius. Pertemanan dengan mereka membuat Dhaka menjadi tempat yang lebih “liveable”.

Namun beberapa hari yang lalu, kami dikejutkan dengan sebuah berita. Seorang kawan dikabarkan menghilang, menghilang seperti Wiji Thukul atau Petrus Bima Anugrah. Entah, dia akan berakhir seperti Andi Arif atau Mas Nezar Patria kembali dengan selamat atau justru seperti Wiji Thukul yang sampai hari ini masih hilang atau malah seperti Gilang yang ditemukan tewas dengan luka tembak. Entahlah! Kami tidak tahu. Berbagai spekulasi dan teori bermunculan mengingat dia ‘hanya’ seorang akademisi. Kenapa dia? Pesan apa yang ingin disampaikan pelaku? Dan siapa pelaku? Sesaat, saya teringat dengan film Daniel Pearl dan menjadi ketakutan setengah mati. Jika pelakunya sama seperti kasus Pearl, bagaimana kalau kemudian kami? Apalagi mengingat sudah lama tak ada kejadian mengerikan di sini. Akh, tidak mungkin sepertinya. Begitu pikir saya. Saya pun iseng untuk melihat halaman Facebooknya, sesekali akun tersebut nampak online pada dua hari pertama sejak dia diberitakan hilang. Bagi saya, hal tersebut mengkonfirmasi siapa kira-kira pelakunya. Dari sana, saya merasa sedikit lega, kiranya kami aman. Tapi tetap saja, saya merasa sedikit kurang nyaman. Bagaimana tidak? Ini bukan pertama kali, kawan kami menghilang tiba-tiba.

Yang pertama hilang tahun lalu dan hingga hari ini tak ada kabar berita tentang dirinya. Yang kedua, entahlah. Jujur saja, saya sangat sedih karena dia cukup dekat dengan kami. Dia kerap datang untuk makan malam dengan hidangan ayam betutu dan juga urap, saya pun sering menyuguhinya risoles dan dadar gulung jika dia datang pagi atau sore untuk sekedar berbincang. Selain itu, kami sama-sama penggemar Eminem. Terakhir dia datang, dia memakai topi dengan logo E yang dia beli dari konser Eminem di Australia beberapa tahun lalu dan menunjukkan pada saya. Dia pun memberi saya dua buah clutch untuk hadiah ulang tahun. “Akh kawan, semoga kau baik-baik saja. Jika kau kembali, pergilah sejauh mungkin. Saya yakin kawan-kawanmu akan membantumu memulai kehidupan yang baru. Itupun kalau kau mau.”

Sebenarnya kasus penghilangan paksa bukan merupakan hal yang baru di Bangladesh. Di tahun 2016, 90 orang telah dinyatakan hilang; sedangkan dalam lima bulan pertama di tahun 2017, 48 orang telah dinyatakan menghilang secara tiba-tiba. Menurut laporan sejumlah media, ada kemungkinan mereka disiksa selama dalam tahanan. Ini sungguh mengerikan.

Ride the bus

Catatan: Hutang

SONY DSC

Canthing [2016: EO]

Saya selalu percaya karma itu ada di mana ketika orang lain meminta bantuan kepada kita, kita seharusnya bisa membantu semampu kita karena mungkin suatu hari kita akan membutuhkan bantuan orang lain juga. What goes around comes around! Namun adakah batasan di mana kita harus berhenti membantu?

Tak jarang orang datang pada saya meminta bantuan finansial untuk berbagai keperluan baik pinjaman, sumbangan atau berkirim/transfer dana. Kalau pinjaman, mereka akan kembalikan sesuai dengan kemampuan mereka tanpa bertanya apakah saya menyetujui hal tersebut. Lucunya kalau saya katakan tidak, saya justru dicaci macam-macam “Masa sih elu enggak punya duit!” atau “Akh pelit amat!” “Laki lu kan bule, masa elu enggak punya duit sih!” “Gue pinjem tapi balikinnya pakai installment satu tahun ya!” — ebuset! kata saya dalam hati. 

Tetapi ketika ditagih pasti banyak sekali alasannya bahkan tak jarang mereka lebih galak daripada yang kasih pinjam uang. Padahal si pengutang masih bisa bersenang-senang seperti jalan-jalan ke luar negeri, nyalon atau ke restaurant. Lucukan? Seolah-olah saya tidak mempunyai kebutuhan. Hal tersebut membuat saya garuk-garuk kepala.

Pinjam uang melalui bank atau koperasi saja banyak persyaratannya dan ribetnya bukan main di mana salah satu syaratnya kita harus punya pekerjaan. Nah kalau tidak punya penghasilan, bagaimana kita akan mengembalikan uang tersebut? Oleh karena itu semenjak saya tidak mempunyai pekerjaan tetap saya paling takut menggunakan kartu kredit bahkan saya harus menutup kartu kredit saya karena saya takut hutang. Bagaimana kalau saya tidak bisa membayar? Ya kan?!

Sebenernya hutang terhadap institusi memiliki satu sisi yang bagus. Kenapa? Karena kita belajar untuk bertanggung jawab secara finansial. Kalau boleh bercerita, hutang terbesar saya adalah ketika saya membeli mobil Ford Fiesta tahun 2012, setiap bulan saya mempunya cicilan yang harus dibayar. Cicilan ini bagaikan momok yang menghantui setiap akhir bulan sedangkan kalau kita tidak bisa membayar tagihan setelah beberapa bulan, mobil bisa ditarik. Lebih gilanya lagi, meskipun mobil sudah ditarik belum berarti hutang kita lunas. Saat itu saya bekerja sebagai penulis lepas jadi penghasilan tidak menentu. Kalau lagi tinggi, saya bayar 2-3 bulan in advance, kalau tidak ya setidaknya tagihan harus bisa dibayar. Jujur saja, saya baru bisa bernapas lega ketika kembali bekerja fulltime. Setidaknya keuangan saya jadi lebih terprediksi.

Anyway, kembali ke topik utama mengenai hutang personal, apa yang seharusnya kita lakukan terhadap orang-orang yang meminta bantuan terhadap kita selain mengatakan tidak? Haruskah kita menjaga jarak dengan mereka pula?!  What do you think?

Ride the bus

Catatan: Sebuah Identitas

IMG_0337Sebagai seorang perempuan yang berasal dari keluarga sederhana di Yogyakarta, saya punya cita-cita untuk menjadi sukses dan hidup berkecukupan, memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang saya miliki sebelumnya serta dapat melihat dunia. Perlahan-lahan, saya menggapai cita-cita saya meskipun tak secepat yang saya inginkan. Dari gaji pertama di tahun 2007, saya bisa terbang ke Bali. Dari beasiswa, saya bisa mengikuti fellowship di luar negeri. Dari gaji-gaji berikutnya, saya bisa membeli mobil meskipun mencicil sampai tuntas – meskipun tak jarang banyak yang menganggap suami yang membelikan. Tak hanya itu, saya pun punya identitas karena pekerjaan saya. Saya adalah penulis. Saya adalah jurnalis. Saya adalah researcher. Saya bangga dengan apa yang saya lakukan. Saya bangga bisa membeli ini itu dengar keringat sendiri. Saya bisa bercerita siapa saya dan apa yang saya lakukan. Sayangnya, semua itu hanya tinggal sejarah meskipun saya percaya itu hanya untuk sementara waktu.

Namun sejak saya pindah ke Bangladesh untuk mengikuti E, rasanya saya tidak punya identitas selain sebagai trailing spouse. Luntang-luntung sana sini, memperkenalkan diri sebagai seorang istri E yang bekerja di sebuah organisasi internasional. Memang, melalui pekerjaannya saya mendapatkan kesempatan untuk datang ke acara-acara istimewa, bertemu ‘pejabat’ atau bahkan konglomerat Bangladesh. Ngobrol sana, ngobrol sini tentang apa yang mereka lakukan over tea, coffee or wine. Namun, setiap kali memperkenalkan diri dengan mereka, saya jadi minder karena saya hanya trailing spouse. Tak banyak yang dapat saya bicarakan. Tak jarang pula dipandang sebelah mata. Saya merasa tak memiliki identitas. Oh betapa bencinya saya memperkenalkan diri dengan embel-embel orang lain, nama pun tak saya ganti. Jadi saya suka heran kalau ada yang pamer pekerjaan suami atau istri mereka seolah-olah mereka tropi!

Kalau dibilang ‘Kamu sih enak, enggak punya kerjaan tapi suamimu bekerja?’ Apa enaknya? Tak ada! Saya tak punya identitas. Tak ada yang bisa saya banggakan. Saya tak dapat menikmatinya dengan sungguh-sungguh simply because that is not me. Nevertheless, saya harus bersyukur dan bersabar karena tahun depan saya akan mulai membangun identitas saya kembali. Oleh karena itu, saya lebih baik fokus untuk hidup sehat, ngurus anak dengan bantuan Mina dan bekerja serabutan kalau pas ada meskipun kadang-kadang takut karena kendala administrasi seperti visa. At the end of the day, menjadi seorang ibu dari baby A juga merupakan suatu identitas. Ya kan? But…
Anyway, tak heran kalau setiap hari yang saya lakukan berolahraga dan masak. Bahkan seorang kawan bilang “Tentu saja dia masak terus karena dia bosan!” dan memang betul begitulah adanya.

Ride the bus

Catatan: Sok Nginggris

DSCN0013Dalam suatu  kesempatan, pernah saya dengar kritik terhadap orang-orang Indonesia yang suka bicara dalam bahasa Inggris. Padahal, bahasa Inggrisnya jelek– begitu katanya. Terkadang, saya hanya senyum dan tertawa. Baiklah, mungkin bahasa Inggris mereka sempurna. Jadi mereka nyinyirin orang lain- begitu pikir saya.

Saya jadi teringat ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk bekerja di media berbahasa Inggris. Alasannya, saya ingin memiliki pembaca selain orang Indonesia dan di luar Indonesia. Selain itu, saya juga ingin bisa bekerja di luar negeri suatu saat nanti. Mungkin bagi beberapa orang, saya mimpinya muluk-muluk. Lulusan Sastra Inggris saja bukan kok tapi pengen bekerja di media berbahasa Inggris; belum lagi bahasa Inggris saya pas-pasan baik untuk reading, writing, speaking dan juga listening. Entah berapa score IELTS saya waktu itu. Namun jujur saja, meskipun saya sering minder, hal tersebut sama sekali tidak menghentikan niat saya.

Setelah melamar sana-sini, saya pun akhirnya mendapatkan beberapa kesempatan berharga untuk melakukan magang di Bali dan Jakarta. Saya bertemu banyak orang baru dan belajar banyak hal. Namun, suatu hari, saya tiba-tiba merasa takut karena merasa Bahasa Inggris saya sangat jelek, takut tidak dapat memenuhi target dan takut menjadi beban.  Saya mengungkapkan kegundahan saya tersebut pada atasan saya. Dengan tenang beliau mengatakan “It is okay. We are not native speaker, we have copy editor and you will initially improve it.”  Saya pun selalu mengingat hal tersebut hingga hari ini.

Di lain waktu, saya berbicara dengan salah seorang diplomat Indonesia mengenai perdagang Indonesia di Amerika Utara. Beliau mengatakan bahwa perdagangan Indonesia ke Amerika Utara jauh lebih rendah dibandingkan dengan Thailand. Mengapa? Hal ini disebabkan banyaknya orang Indonesia yang enggak mau repot dengan proses perdagangan dan mereka takut berbahasa Inggris. Padahal kalau boleh jujur, bahasa Inggris orang Indonesia jauh lebih mudah dipahami ketimbang orang Thailand dan Vietnam, begitu katanya.

Jangankan pada sesamanya yang orang biasa, dulu waktu Presiden Jokowi masih menjadi kandidat, kemampuan berbahasa Inggrisnya diejek oleh masyarakat yang merasa Bahasa Inggrisnya jauh lebih bagus daripada Jokowi. Masyarakat kota yang merasa orang desa enggak boleh jadi pemimpin. Katanya malu-maluin punya presiden yang enggak bisa berbahasa Inggris. Lha, Pak Harto? Lucukan. Namun dari sinilah, saya melihat bahwa lebih banyak orang Indonesia gemar memberikan punishment daripada reward kepada orang-orang yang berusaha apalagi menginagat setiap orang pasti mulai dari nol.

Anyway, di era globalisasi ini, penting kiranya kita memiliki kemampuan berbicara dengan lebih dari satu bahasa- mau bahasa Inggris, bahasa Mandarin, Bahasa Arab, Bahasa Perancis atau Bahasa apapun yang sekiranya penting dalam kehidupan masyarakat global. Nah, daripada kita nyinyirin orang lain, ada baiknya kita mengapresiasi orang lain yang sedang berusaha. As they said practice makes perfect.

Ride the bus

Notes: My Clothes, Your Clothes

Are you wearing fast fashion products either it is from Zara, Pull & Bear, H&M, Bershka and any other? How often do you buy a new outfit? And….have you ever wondered who makes your clothes, under what condition, how do they make it or where do they make it? Well, let me tell you a story.

SONY DSC

Yesterday, my friends and I went to an interesting yet eye-opening trip. We visited one  ready made garment factories in Bangladesh. This trip gave us the opportunity to see how our clothes are manufactured from the scratch. Located 35 kilometer from Dhaka, the factory is owned and run by Beximco Group, a Bangladeshi multinational company. The company manufactures products for a wide range of clients ranging from Zara, Pull&Bear, Calvin Klein, Tommy Hilfiger to DKNY. According to its official website, currently the company’s Textile & Apparel Division employs more than 5,150 people.

Bangladesh is known as the second largest ready made garment producer after China. The industry has become one of the largest export earning contribution to the country. According to Dhaka based newspaper The Daily Star, the industry has generated export earning up to USD 28.67 billion as of December 2016. The industry hopes to increase to USD 50 billion by 2021.

SONY DSCThe Bangladesh textile and garment industry employs approximately 4 million people. Most of the workers are women. Every month, they earn approximately 7,000 to 10,000 BDT, this figure is actually slightly higher than its minimum wage which is at 5,300 BDT. According to various local media report, the worker union is demanding that the minimum wage should be increased to 16,000 BDT.

SONY DSC

Some of you might remember the 2013 Rana Plaza incident which caused more than 1,100 killed and 2,500 injured; this incident is known as the deadliest industrial disaster ever. Since the incident, the Bangladesh’s textile and apparel industry claims that they have been making effort to improve the factory condition that meet the safety standard. Yet, as we walked around the factory and learnt about its production process, I noticed that many textile and apparel workers are exposed to high level of noise from the machines as well as chemical hazards without any protection which you can see from my pictures. This condition is feared to have a significant impact to the worker’s health. Not forget to mention that many of them spend hours to standing or sitting while doing their work. This made me wonder how much the 2013 Rana Plaza incident has really brought changes to the textile and garment’s industry in Bangladesh.

I must say that this trip has reflected upon me that despite the fact that Bangladesh has become a centre of ready-made garment manufacturing for many global fashion brands, the country is still severely underdeveloped. Additionally, workers tend to have terrible conditions while others get massive profits. Yet, without this sector millions would be unemployed.

SONY DSCSONY DSCSONY DSC

Ride the bus

Catatan: Pasien Dungu

SONY DSC

Then shall the dust return to the earth as it was: and the spirit shall return unto God who gave it- Ecclesiastes 12:7

Sebelum tahun 2010, saya adalah pasien dungu. Seperti pasien kebanyakan, saya  selalu manut kata dokter setiap kali berkunjung pada tuan/nyonya dokter. Kalau mereka bilang saya sakit flu dan harus mengkonsumsi oseltamivir atau zanamivir sebagai obat sebagaimana ditulis dalam resep, tanpa banyak berpikir saya langsung menebus resep tersebut. Atau, ketika mereka mendiagnosa saya dengan penyakit lambung dan harus mengkonsumsi antibiotik, tanpa berpikir banyak lagi-lagi saya langsung menebus resep tersebut. Jujur saja, saya enggak pernah bertanya apakah obat tersebut hanyalah satu-satunya jalan yang menyembuhkan saya dari penyakit tersebut atau ada alternatif lain. Saya pun juga enggak pernah menanyakan kekurangan dan kelebihan dari obat tersebut. Maklum, dulu saya sering menganggap bahwa tuan dan nyonya dokter adalah satu-satunya kelompok manusia yang tahu bagaimana menyembuhkan penyakit manusia maupun binatang (untuk dokter hewan tentunya), kira-kira sebelas dua belas dengan dewa lah. Apalagi waktu itu saya masih seorang mahasiswa, belum ada kesadaran bagaimana menjadi seorang pasien a.k.a konsumen yang baik atau hidup sehat. Namun hal tersebut berubah sejak tahun 2009 ketika seorang dokter mendiagnosa saya dengan adanya gangguan liver dan “meramalkan” bahwa saya hanya memiliki 10 tahun lagi untuk hidup. “What the phvck? What have I done? What would I have achieved within 10 years?!” kata saya dalam hati. Lalu apa yang saya lakukan?

Well, saya pun kemudian mencari second opinion dari seorang dokter penyakit dalam di Yogyakarta. Seorang dokter dengan penampilan sebagai seorang umat beragama yang taat. Nyonya dokter kemudian menanyakan gaya hidup saya, apakah saya suka minum, apakah saya melakukan meggunakan narkoba dengan jarum suntik, apakah saya memiliki pasangan seks banyak dan lain sebagainya. Lucunya, nyonya dokter ini justru menjudge gaya hidup saya sebagai social drinker tanpa bisa membedakannya dengan seorang alcoholic, seorang candu, oleh karena itu saya harus menanggung resikonya. “What the heck?! You orang gila semua!” kata saya dalam hati. Tentu, saya frustrasi, takut.

Saya jadi ragu apakah tuan dan nyonya dokter ini adalah dukun atau orang berpendidikan? They seem having no idea how to interact  and or communicate the problem with their patients. Saya pun kembali ke tuan dokter di Bali. Meskipun tuan dokter telah meramalkan sisa waktu hidup saya, tuan dokter yang memiliki gelar profesor ini mengatakan bahwa saya bisa hidup lebih lama dengan catatan saya harus mengkonsumsi obat seharga 4 juta Rupiah per bulan seumur hidup atau 6 juta Rupiah per minggu. Belum lagi, suatu hari nanti, saya akan membutuhkan liver transplant. “Holy cow! How would I be able to afford it? Other than that, even if I had a good job and earn good money, I would rather to enjoy it!” Interestingly enough, tanpa bertanya ini-itu, tuan dokter akhirnya hanya memberikan vitamin yang konon katanya bisa memperkuat liver karena menganggap saya enggak mampu untuk membeli obat-obatan itu. “Well, that was true that I could not afford it back then. However, he could have asked than just prescribed me with some b.s vitamin kan?” As a result, bukannya semakin baik tapi semakin buruk. “Jesus! Mati beneran gue!”

Setelah melakukan riset sana sini, kita pun memutuskan ke Singapura, the best medical tourism destination in Southeast Asia. Tentu, kami tidak ke Mt. Elizabeth Hospital, mahal bok! Itu kan rumah sakitnya orang berduit. Kami hanya ke National University Hospital, rumah sakit pemerintah yang sekaligus berfungsi universitas yang terus melakukan riset. Selain itu, rumah sakit ini menawarkan servis dengan biaya yang miring bahkan jauh lebih murah dari rumah sakit internasional di Bali atau Jakarta. Kami pun enggak hanya melakukan riset akan biaya rumah sakit tersebut tetapi juga education background tuan/nyonya dokter yang kami temui. Dan ternyata pendekatan nyonya dokter sangat berbeda.

Kami cerita semua pengalaman kami dengan tuan dan nyonya dukun eh dokter dari Indonesia. Nyonya dokter sangat kaget dan heran kok ada dokter yang meramalkan lama hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive liver check up apalagi dia adalah seorang profesor. Dia pun kemudian menjelaskan secara detail tentang gangguan liver tersebut, dia menyarankan saya untuk melakukan sejumlah test dari liver test ulang, usg dan juga liver biopsy. Setelah dua minggu menunggu hasil lab keluar, kami bertemu lagi dengan nyonya dokter. Menariknya, bukannya dia langsung memberikan saya resep tapi justru memberikan beberapa alternatif tentang pengobatan yang bisa saya ambil.

  • Obat A, harganya X, hanya dikonsumsi selama 1 tahun. Nyonya dokter mengatakan bahwa obat A baru digunakan dalam 5 tahun terakhir per 2009. Sejauh ini, hasil riset menunjukkan bahwa meskipun banyak yang sembuh dalam kurun waktu 2 tahun saja tetapi karena ini obat baru maka belum bisa dilihat efek jangka panjangnya.
  • Obat B, harganya Y, dikonsumsi selama 4 tahun berturut-turut dan aman untuk kehamilan. Obat B sudah digunakan sejak tahun 1985 sehingga sejauh ini efektivitasnya telah teruji. Harganya pun jauh lebih murah karena sudah ada versi genericnya.
  • Obat C, harganya XY, dikonsumsi selama 6 bulan dengan efek samping depresi, rambut rontok, kehilangan napsu makan, dll. Obat ini sudah digunakan sejak tahun 1995. Harganya pun tinggi.

Dari sini saya belajar bahwa seorang dokter seharusnya enggak meramalkan hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive medical test apalagi menghakimi gaya hidup seseorang tanpa memberikan solusi yang efektif. Solusi yang diberikan pun harus beragam kalau memang ada pilihan sehingga tuan dan nyonya dokter tidak hanya jualan obat saja. Saya jadi ingat akan pembicaraan saya dengan seorang tuan dokter dari asosiasi dokter mengenai isu ini. Menariknya, tuan dokter mengatakan bahwa dokter enggak memiliki waktu yang banyak untuk memberikan penjelasan yang detail karena gaji dokter kecil sehingga alternatif pendapatan adalah dengan menjual obat. Perlu diketahui bahwa penjualan industri farmasi dunia mencapai 1 trillion USD per 2014, tanpa campur tangan dokter perusahaan tersebut tentu target tersebut enggak bisa diraih dengan mudah. Tapi tentu saja, saya enggak bisa mengeneralisasikan hal ini. Saya percaya ada juga tuan/nyonya dokter yang ingin memberguna bagi masyarakatnya.

Sejak saat itu, sebelum saya ke dokter, saya melakukan dekstop research terutama dan scientific journal dan artikel di mainstream media tentang apa yang saya alami termasuk ketika saya hamil sekarang ini. Saya pun lumayan nyinyir dengan dokter apalagi kalau sudah memberikan saya resep yang panjang apalagi kalau enggak memberikan penjelasan tentang obat tersebut.

Sometimes, it is not about how much we spend but also its long-term effect to our health and body esp. liver as well as kidney. What is the point to have a lot of money and adequate insurance tapi sakit melulu hanya karena kita menjadi pasien/konsumen dungu, manut-manut saja dengan tuan/nyonya dokter hanya karena mereka dokter. Ya kan?

Ride the bus