Catatan: Tentang Bekerja

SONY DSC

Perempuan yang Bekerja [2016:EO]

Sebagai orang yang enggak bisa anteng dan meneng, saya enggak bisa hanya duduk di rumah dan do nothing sebagai ibu rumah tangga. Bahkan, saya enggak pernah berminat atau bercita-cita untuk menjadi a fulltime housewife. Rasanya ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan saya. Apalagi sebagai wartawan, dulu saya selalu bertemu dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya dan mendapatkan ilmu baru dari mereka. Belum lagi pekerjaan saya dalam dua tahun terakhir ini yang benar-benar membuka mata saya sebagai individu dan citizen di sebuah negara. Tetapi tahun ini saya harus mengambil jalan tersebut, menjadi a fulltime housewife.

Kenapa? Well, sebenernya tahun ini saya akan melanjutkan sekolah untuk program Master of Global Affairs selama dua tahun di Munk School, University of Toronto, Canada. Rencananya, sebelum kelas dimulai di bulan September lalu, saya mau mengikuti suami saya ke Dhaka, Bangladesh untuk beberapa bulan. Tetapi saya terpaksa harus menunda program tersebut karena saya hamil dengan due date 10 January 2017.

Enggak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya banyak perempuan hamil yang masih dapat meneruskan sekolah atau pekerjaan selama musim dingin di belahan bumi utara sana. Tetapi saya memilih untuk mundur kali ini. Kenapa? Well, pertama sebagai first time mom,  I don’t know what to expect during the pregnancy dan saya akan sendirian karena suaminya bertugas di negara lain; bayi akan lahir di musim dingin dan I hate winter, the temperature is unbearable for me; dan yang terakhir saya khawatir saya enggak akan fokus dengan kuliah saya karena dua hal tersebut. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, saya memutuskan untuk mengirimkan deferral request email ke mereka. Thanks God, they approved.

So now, what am I going to do in Bangladesh? A new country which I don’t speak its language and can hardly understand its alphabet. Saya mulai stressed. Ada yang bilang “Ya udah sih, mendingan kamu belajar menerima hal tersebut dan nikmatin aja.” atau ada yang bilang “Kamu sih enak, walaupun jobless setidaknya enggak moneyless.” Well, setiap orang kan berbeda-beda. Saya enggak setuju dengan pendapat tersebut. Kenapa? Karena saya belum memenuhi dua kebutuhan dasar saya sebagai manusia sebagaimana dikemukakan oleh Abraham Maslow, yakni ego/harga diri (esteem) dan aktualisasi diri (self-actualization).

Lagipula, apakah hidup ini hanya melulu tentang uang saja? Uang memang penting apalagi kita enggak akan pernah tahu akan apa yang terjadi suatu hari nanti, tetapi saya menyadari bahwa uang enggak membawa kebahagiaan. I can say this because I have been there. Rocking a lot of the high-end fashion designers stuffs and eating in fancy restaurants/bars, yet I was not happy. It does not mean that I don’t like beautiful things anymore but I value things differently. Dan bisa saya bilang, memang jauh lebih menyenangkan apabila kita membeli sesuatu dengan keringat kita sendiri.

Lagipula, sebagai perempuan Indonesia yang melakukan kawin campur, stigma ‘numpang hidup sama mister‘ akan terus melekat pada mereka kecuali mereka bekerja. Lha wong sudah bekerja keras saja masih dilabeli numpang hidup sama mister kok tapi ya itulah manusia.

Saya jadi ingat kata-kata Bapak saya: rumah tangga itu bagaikan gerobak yang ditarik kerbau di mana gerobak akan bergerak lebih cepat jika ditarik oleh dua ekor kerbau ketimbang satu ekor. Selain itu, ketika salah satu kerbau tersebut sakit atau mati, gerobak masih tetap bisa dijalankan meskipun dengan seekor kerbau saja. Dan saya teringat oleh kata-kata tersebut sampai sekarang.

Jujur saja, sita-cita saya, saya enggak cuma bekerja hanya demi uang tanpa menikmati apa yang saya lakukan. Saya ingin mendapatkan pelajaran dari pekerjaan tersebut juga. Dengan begitu, saya akan terus merasa tertantang untuk terus meningkatkan pekerjaan saya dan pengetahuan saya akan sesuatu. Dan tentu saja dengan harapan enggak mengecewakan perusahaan. Selain itu, saya ingin bisa memberikan manfaat terhadap orang lain. Mungkin saya terlalu optimistis, saya lebih memilih untuk bercita-cita tinggi dan terus belajar untuk menggapainya. There is nothing impossible.

Tetapi kali ini, saya harus mengalah untuk sementara hingga saya melahirkan dan mengisi waktu luang saya dengan membaca buku, mendengarkan kuliah umum dari universitas terkemuka melalui podcast, membuat catatan dari kuliah umum dan buku yang saya baca tersebut, olah raga dan belajar memasak. Dengan demikian, saya terus dapat mengekspresikan diri meskipun secara terbatas. Lha wong Mbah Lindu yang sudah 96 tahun saja masih mengekspresikan dirinya kok, masa saya enggak.

Tentu saja ini adalah sebuah pilihan dan setiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda, ada yang memilih jadi fulltime housewife, ada yang memilih untuk terus bekerja, yang penting selama kita bahagia dengan pilihan tersebut, kenapa tidak? Ya toh?

signature

Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature