Catatan: Dupata

www.catatanfani.comPada suatu kesempatan, seorang kawan laki-laki dari Bangladesh mengatakan pada saya bahwa banyak perempuan Bangladesh tidak menggunakan dupata (scarf) untuk menutupi payudara mereka. Apalagi tak sedikit dari mereka memiliki payudara yang besar. Dia menganggap bahwa hal ini sangat tidak baik karena banyak laki-laki yang akan melihat payudara yang perempuan tersebut dan menimbulkan niat jahat termasuk pelecehan seksual maupun pemerkosaan. Mendengarkan pernyataan tersebut, saya pun mengernyitkan kening.

“Kenapa perempuan yang salah?” tanya saya.

“Karena mereka tidak menutupi payudara mereka,” katanya.

“Lho mereka sudah menggunakan kameez, berlengan panjang dan gombrong pula.” kata saya.

“Ya tetap kurang!” katanya kekeuh.

“Kalau laki-laki yang menjadi bernapsu, kenapa perempuan yang repot? Bukankah kalian harus mengontrol napsu kalian?” kata saya mempertanyakan pendapatnya. Kawan saya pun terdiam.

“Nah, saya selalu datang ke gym ini menggunakan sport bra atau tank top dan celana pendek. Kalau ada yang melecehkan saya, apakah kamu akan bilang itu salah saya?”

Dia kembali diam. Mungkin mengiyakan pendapat saya.

“Dulu saya pernah dijambret. Seorang ibu mengatakan itu salah saya karena saya pakai kutang. Aneh kan? Wong penjambret mau emas kok baju saya yang disalahkan? Lagipula kamu punya dua anak perempuan, suatu saat mereka akan memilih jalan mereka masing-masing. Apakah dengan memberikan baju yang tertutup berarti melindungi mereka dari pelecehan seksual? Tentu tidak! Berapa banyak yang diperkosa karena menggunakan hijab atau burqa?” kawan sayapun tetap diam.

Diam entah karena tidak setuju atau diam karena tidak bisa mengekspresikan pendapatnya dalam bahasa Inggris.

Bagi saya, laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsu mereka tetapi kenapa perempuan yang harus repot. Melihat tetek sedikit ngeceng, ngelihat kaki ngeceng, melihat lengan ngeceng. Hadeeeeh! Percuma beragama tapi berkelakuan seperti binatang. Ya toh? Tentu hal ini tidak hanya terjadi di Bangladesh saja tetapi di tengah masyarakat tradisional mana saja.

Ride the bus

 

Catatan: Berpolitik

IMG_1560Suasana Pilkada DKI Jakarta 2017 kali ini enggak jauh berbeda dengan Pemilu dan Pilpres 2014 yang lalu, lagi-lagi masyarakat terutama netizen terpecah karena pilihan mereka masing. Kalau dulu, ada yang pro Jokowi karena merupakan sosok baru tetapi ada juga yang pro Prabowo karena masih menganggap bahwa di bawah pemerintahan militer, semuanya akan baik-baik saja. Nah kalau sekarang, ada yang pro Ahok karena dia dianggap membawa perubahan bagi Jakarta dengan cara yang tidak berkenan di hati banyak orang; ada juga yang anti Ahok karena dia bukan Muslim atau dianggap kasar, tidak pro wong cilik apalagi bohir-bohir nakal. And…. everyone is entitled to his/her opinion.

Menariknya, di era digital sekarang ini, banyak konstituen bisa menyampaikan pendapat mereka di muka umum melalui media sosial termasuk Facebook dan Twitter sebagai bentuk partisipasi mereka dalam politik Indonesia. Sayangnya, ada juga pengguna media sosial yang merasa jenggah dengan status atau postingan berkaitan dengan politik tersebut. Entah ada yang berkomentar “Ya elah, yang punya KTP Jakarta sih adem ayem aja,“, “Akh lebay deh orang-orang itu,” “analis politik dadakan“,”analis politik online” dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena tersebut, saya bertanya pada diri saya sendiri “Apakah hanya orang tertentu saja yang boleh menyatakan pendapat mereka tentang pemerintah dan politik di negara ini? Siapa sajakah mereka? Lalu, kenapa yang lain dianggap tidak memiliki kualifikasi untuk berpolitik?”  Padahal bagi saya, hal ini menunjukkan adanya kesadaran dan partisipasi politik masyarakat Indonesia di mana selama 32 tahun lamanya masyarakat sudah dibungkam, dininabobokan dengan ‘kesejahteraan’ pada masa pemerintahan Soeharto. Selama ada sandang, pangan dan papan yang cukup, banyak masyarakat yang masa-bodo dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah dan kroni-kroninya. Sedangkan, mereka bisa hidup enak dan bukan hanya cukup. Selain itu, kita juga enggak tahu kebijakan pemerintah apa saja waktu itu apalagi mempertanyakan  atau bersikap kritis terhadap kebijakan tersebut?! Mungkin, ketika anda mau buka suara saja alias bersikap kritis, anda bisa hilang atau mati.

Tetapi sejak turun Presiden Soeharto, pemerintah Indonesia jauh lebih transparan apalagi di era digital ini. Meskipun… ya meskipun…. masih banyak informasi pemerintah yang susah diakses oleh masyarakat walaupun ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Belum lagi banyaknya politisi yang berebut kursi kekuasaan untuk  meningkatkan kesejahteraan masyarakat memperkaya diri sendiri dan kroni-kroninya dengan obral janji selama kampanye. Di mana pada akhirnya masyarakat kadangkala disuguhi dengan pilihan antara buruk atau buruk sekali. Meskipun demikian, masyarakat masih bisa menggunakan hak pilih mereka tanpa tekanan.

Nah… dalam proses menentukan pilihan mereka, mereka akan berdiskusi atau bahkan berdebat dengan keluarga, tetangga, kawan atau rekan kerja tentang  alasan mengapa mereka memilih sosok tertentu sebagai pemimpin mereka; mengapa sosok A jauh lebih baik dari sosok B; mempertanyakan rekam jejak masing-masing dan sebagainya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kadang kala diskusi dan debat tersebut menjadi ajang saling cela, saling hina hanya karena berbeda pendapat saja atau saling memotong satu sama lain sehingga pesan tidak dapat disampaikan dengan sempurna.

Hal tersebut kemudian menunjukkan bahwa masyarakat kita belum dewasa dalam berpolitik dan bersikap kritis terhadap sekeliling kita. Banyak konsitituen yang bersikap apatis dan pragmatis selama ada makanan di meja, sandang yang cukup dan papan untuk berteduh tanpa mempertimbangkan dan atau mempertanyakan matang-matang kualitas pemimpinnya, padahal sebenarnya mereka bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hal tersebut tentu tidak mengejutkan. Kenapa? Well karena banyak politisi yang obral janji aja.

So, menurut saya, biarkan saja orang membuat status tentang pemilu maupun pilkada. Dari situ kita tahu bagaimana masyarakat kita berpartisipasi dalam politik Indonesia; bagaimana peran media dalam politik Indonesia; apakah industri media berhasil mengedukasi masyarakat tentang pemerintah dan politik Indonesia atau justru mereka berpolitik sendiri; bagaimana masyarakat menerima pesan-pesan politik yang disampaikan melalui media; dan juga bagaimana masyarakat mengkonsumsi media di era digital ini.

Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer pernah menuliskan dalam Rumah Kaca dari Tetralogi Pulau Buru “Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik. Selama orang berasa di tengah-tengah masyarakat, betapapun kecil masyarakat itu, dia berorganisasi

Ride the bus

Catatan: Mabok Agama

Enek enggak sih baca postingan di sosial media yang selalu berkaitan dengan agama? Mulai dari kasus pelecehan seksual, perempuan bekerja dan laki-laki menjadi bapak rumah tangga, orientasi seksual sampai ke urusan politik. Dari urusan selakangan sampai jabatan. Entah makin banyak orang yang mabok agama, entah karena hal ini semakin terkekspos oleh media massa serta media sosial atau mudahnya distribusi informasi hari ini.

Bagi orang yang mempelajari ilmu sosial, pasti banyak yang tahu bahwa agama adalah sebuah bentuk konstruksi sosial yang disusun oleh kelompok tertentu dengan cerita masing-masing. Di mana, bisa jadi kebenarannya bisa dipertanyakan. Meskipun demikian, saya percaya agama apapun memiliki pesan moral yang berguna bagi keharmonisan hidup manusia dan alam semesta. Sayangnya, pesan moral tersebut belum tentu dapat dipahami oleh penganutnya secara menyeluruh. Belum lagi, banyak penganut agama (enggak semua) yang cenderung memilih mendengarkan ceramah pemuka agama saja ketimbang mempelajari agama tersebut secara konstruktif sehingga mereka memiliki tafsiran atau intepretasi yang berbeda-beda satu sama lain. Alhasil, banyak dari mereka yang menjadi fanatik dan suka memaksakan kepercayaan mereka terhadap orang lain dengan harapan bisa masuk surga, sebuah tempat imajiner.

Selain itu, manusia yang katanya makhluk paling sempurna dengan akal, budi dan pikiran tersebut dapat dipecah-belah dengan agama yang notabene merupakan produk konstruksi sosial ciptaan manusia tersebut. Jangankan memecah-belah masyarakat yang berskala besar, agama bisa juga memecah-belah keluarga termasuk hanya karena salah satu anggota keluarga berganti ke agama tertentu, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan orang yang berbeda agama, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan cara agama lain demi kemudahan, dsb. Sebagaimana dikatakan oleh filusuf asal Skotlandia David Hume di mana agama bukan merupakan hasil dari buah pikiran/logika/nalar melainkan perasaan, oleh karena itu enggak ada gunanya untuk beradu dengan penganutnya apalagi yang fanatik. Yang ada malah jadi debat kusir.

Saya jadi teringat cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis tentang Ajo Sidi, pembual desa yang juga merupakan pekerja keras, yang menceritakan kisah Haji Saleh yang rajin beribadah namun tidak masuk surga. Pertama kali saya membaca cerpen tersebut waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya membacanya berulang kali. Akhirnya saya paham bahwa orang boleh saja beriman namun jangan lupa berperikemanusiaan, dengan berperikemanusiaan orang akan lebih mudah masuk surga ketimbang hanya rajin berdoa. Saya pun kemudian melihat di sekeliling saya, saya melihat contoh nyata yang membuat saya enek dengan agama. Misalnya orang yang rajin beribadah tapi berkata-kata menyakitkan terhadap seorang yatim piatu; saudara kandung yang mengejek saudara kandungnya karena memakai kerudung di tengah keluarga Kristiani yang tengah dirundung suasana duka; seorang kriminal yang menjustifikasi perbuatan kriminalnya dengan ayat kitab suci atau seorang pegawai negeri yang tidak dapat menduduki jabatan tertentu hanya karena berbeda agama.

Dari tahun ke tahun saya melihat hal tersebut dari skala kecil sampai besar, saya pun memutuskan untuk tidak beragama tapi saya percaya adanya the higher power. Kenapa? Meskipun saya dulu anak IPA, saya malas untuk mempelajari Big Bang Theory tentang asal-usul semesta atau kemungkinan manusia itu sebenernya berasal dari planet Mars dari kehidupan sebelum planet Mars mengalami doomsday. Males bangetkan mikirnya? Anyway, untuk apa kita beragama tapi tidak bisa memperlakukan sesama manusia dengan semestinya. Itu gila! Tentu saja, itu semua pilihan masing-masing.
 
Ride the bus