Catatan: Lelaki Jalang

SONY DSC

Turkish beer, Turkish tea [2014: E O]

Akhir-akhir ini, berita tentang Jennifer Dunn, Shaffa Harris dan Faisal Harris berseliweran di media sosial. Tak hanya itu, berita tentang Sunu, Umi Pipik pun juga berseliweran di mana-mana. Dalam hati saya “Sopo sih Sunu Ki?” Sebenernya saya enggak pernah ngegubris berita tentang selebritis tapi saking banyaknya, saya pun akhirnya iseng ngegugel tentang mereka. Oh ternyata mereka semua tersangkut kasus perselingkuhan. Yang menarik adalah sosok perempuan lah yang selalu disorot sebagai biang keladi hancurnya rumah tangga padahal enggak sedikit family man yang kegatelan bahkan banyak banget. Sayangnya, lagi-lagi perempuan yang disalahkan “Siapa suruh mau?” dan sebagainya dan sebagainya.

Anyway beberapa hari yang lalu, saya pergi sebuah pesta dengan mas bojo. Sayangnya, mas bojo harus pergi di tengah pesta karena akan pergi ke negeri coklat dan meninggalkan saya sendiri di pesta tersebut. Awalnya saya tidak mau ditinggal tapi pestanya cukup asyik, good food, interesting people, fancy venue, welcoming host, groovy music and a lot of wine! Selain itu dapat kesempatan ngobrol ngalor ngidul dengan orang-orang baru dan bertemu dengan beberapa kenalan. Di tengah pesta, seorang laki-laki yang menjabat sebagai direktur mendekati saya ketika saya sedang asyik ngobrol dengan tuan Jendral.

“Hai, mana mas bojo?” tanyanya.
“Dia harus pergi ke bandara karena harus ke Eropa!” jawab saya singkat.
“Wah sibuk sekali pasti? Apa kamu tak pernah merasa kesepian?” tanyanya mulai menjurus pikir saya.
“Akh enggak. Saya ada anak, ada kawan, ada kegiatan. Bagaimana mungkin bisa kesepian? Lagipula kenapa?” Dalam hati, saya sudah menduga bahwa dia pria hidung belang ketika dia tiba-tiba mengajak saya untuk ngobrol di tempat lain padahal saya sedang asyik ngobrol dengan tuan dan nyonya Jendral. Aneh lagi, tuan direktur meminta pelayan menuangkan anggur lagi meski saya sudah menolak.
“Masa?”
“Kau punya istri dan anak?” Saya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya, tetapi mereka tak di sini. Jadi aku merasa kesepian. Mau ke rumahku?”
“Sering pulang ke negaramu?” Tanyaku mencoba mengganti topik.
“Tentu! Kau mau ke sana? Ayo temani aku ke sana! Kau bisa tinggalkan anakmu dengan pengasuh beberapa hari saja. Saya tentu terkejut. “Gemblung betul orang ini” pikir saya.

Enggak lama kemudian tuan Jendral pamit dan bertanya apakah supir saya sudah datang menjemput. Saya pun katakan ya dan saya pun ikut pamit untuk meninggalkan pesta.

“Nona bagaimana kalau kau saya antar pulang saja?” tanya tuan direktur sambil mencoba menarik tangan saya.
“Oo alah gemblung gemblung,” pikir saya. “Maaf tak perlu. Saya sudah ada supir.”
Sayapun segera lari meninggalkan pesta dan pamit pada tuan rumah.

Lucu bukan? Tuan direktur tahu saya datang dengan mas bojo, tuan direktur tak menutupi bahwa punya istri dan mau bermain api demi selangkangannya. Tentu kalau saya tanggapi, saya yang dianggap gatel dan sundal. Seperti yang dikatakan oleh Eddie Griffin dan Dr. dre dalam lagu berjudul Ed-Ucation “Biggest hoes, on planet Earth, are walkin’ through the motherfuckin’ neighborhood || You knew when you got with the man he already had a woman ll You knew he already had a family ll But you fucked him anyway” dalam lirik tersebut perempuan lah yang sundal padahal bisa jadi yang gatel duluan sang laki-laki. Begitu pula dengan tuan direkrut, dia lah seharusnya yang dianggap sebagai the biggest hoe!

Tapi mungkin, kalau saya tanggapi sayalah yang dianggap hoe. Bahkan saya tak akan heran jika dia melakukan hal ini dari pesta ke pesta besar. Sayangnya, tuan direktur tak akan dianggap jalang atau bejat malah dianggap hebat karena bisa menarik perhatian perempuan lain bahkan istri orang di luar istrinya. Ya toh? Perempuan jalang dosa besar, lelaki jalang hebat! Begitu kata masyarakat patriarki kita! Ngehek betulkan?!

Ride the bus

Notes: Working in Isolated Place

ORG__DSC5072Sometimes I wonder why some people working in isolated places such as conflict zone and mining site tend to be cold and alcoholic. When they fall in love, they hardly know to express their feelings even by a simple touch, hug and a nice word like “I am here for you” or “I got your back“.

As they make a lot of money, they love their lover or partner with money, plenty of money. Interestingly enough, when they get mad or jealous, they would tell you how much money they have spent on you. And, when you refuse their money, they go nuts. Why? I think it is because they feel that their love has been rejected and somehow have no power to control them. I somehow believe that some of them fail to understand that not everyone wants to be loved with money. Right?

As some of you might be aware that those who work in an isolated area would have R&R time so they can either spend time by themselves, family or the loved one. Unfortunately, sometimes their focus will not be 100 per cent on the loved one because they tend to be tired from travelling and work.

As they recovery from all the tiredness and R&R days only a few days left before heading back to the working place and somehow their mind is already in the working place. I wonder whether it happens to men only or also women?!

Ride the bus

Indonesia: Negara Boneka dan Aliran Dana

Sejak munculnya Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia, isu Lesbian Gay Bisexual and Transexual (LGBT) jadi salah satu hot topic di masyarakat Indonesia. Berbagai pihak mengeluar pendapatnya masing-masing mulai dari pejabat negara, politisi, aktivis sampai organisasi masyarakat dengan berbagai sudut pandang. Berita tentang adanya ‘aliran dana’ dari Barat untuk kelompok LGBT membuat heboh berbagai kalangan yang kurang piknik. “Kok ya baru heboh sekarang? Selama ini kemana aja? Oh pasti jarang baca laporan organisasi ya. Well, pantes! Ngana pikir organisasi enggak butuh dana dukungan?!

Lagipula, so what?! Toh dana tersebut digunakan untuk mengedukasi masyarakat termasuk pemahaman akan hal sipil masyarakat, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS Prevention dan juga kesetaraan gender. Kan bego banget kalau ada pihak yang meminta aliran dana untuk mengedukasi masyarakat tersebut dihentikan. It’s 2016 buddy!

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita pernah mempertanyakan sumber dana dari kelompok garis geras dan fundamentalis yang ada di Indonesia? Apakah mereka pernah mengeluarkan laporan akhir tahun tentang kegiataan dan pendanaan mereka padahal sekarang eranya keterbukaan informasi? Pernah enggak sih kepikiran kalau mereka mungkin mendapat dana dari Timur-Tengah termasuk Saudi untuk melakukan kegiatan mereka? Lalu, apakah ada yang juga mempertanyakan dan membahas secara blak-bakan kenapa tiba-tiba ada konflik antara Sunni, Syiah dan Ahmadiyah di Indonesia padahal sebelumnya adem ayem. Kalau pun ada sektarian konflik biasanya antar agama. Lalu kenapa trendnya berbeda?

Sebagaimana kita tahu, 85 persen (dari 250 juta jiwa) penduduk Indonesia adalah umat Muslim. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai tempat yang empuk untuk perebutan pengaruh politik atas dua Mazhab Islam Sunni dan Syiah. Apalagi hubungan Saudi dan Iran akhir-akhir kian memanas (You can find it in the Internet. It is googleable!)

Nah dulu, waktu saya sering liputan tentang kekerasan terhadap kelompok minoritas, saya bertanya pada salah satu cendekiawan Muslim, mengapa hal ini bisa terjadi? Sesama umat Islam tetapi saling membunuh, sedangkan dulu tidak seperti itu? Tentu kita masih ingat tentang kejadian Cikeusik di tahun 2011 dan kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang tahun 2012.

Bapak tersebut kemudian menjelaskan bahwa kelompok garis keras tersebut mendapatkan aliran dana dari Saudi untuk berbagai kegiatan, termasuk melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas. Hal itu bukan semata dilakukan karena mereka psikopat selo tetapi akibat dari pengaruh Mazhab Islam di Indonesia antara kubu Sunni (Saudi) dan Syiah (Iran). Sangat masuk akal menurut saya. Sayangnya, si Bapak enggak memiliki bukti tertulis tentang hal tersebut.

Meskipun laju perekonomian Indonesia terus meningkat tetapi kesenjangan sosial pun terus melebar. Semakin banyak masyarakat lapar dan bodoh karena miskin dan tidak berpendidikan. Akhirnya, segelintir kelompok masyarakt tersebut gampang diiming-imingi janji surga dan nasi bungkus untuk melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.

Saya pun jadi ingat pada salah satu percakapan saya dengan seorang anak berusia 17 tahun di Pengadilan Cibinong, saya tanya kenapa ikut merusak masjid Ahmadiyah. Dia mengatakan pada saya bahwa dia hanya ikut-ikut saja karena ramai-ramai, padahal dia enggak tahu kenapa mereka merusak masjid Ahmadiyah. Lagipula toh bisa masuk surga, capek hidup susah terus. Saya miris mendengarnya.

Well, Iya kalau surga ada. Kalau enggak ada? Udah hidup susah di bumi, surga nggak ada lagi. Rugi bandar Bung! I mean, some greedy people are using religion to manipulate people to fight against each other simply to gain power and stay rich without making their own hand dirty? That is so bloody disgusting!

Well, menurut saya (menurut pendapat saya pribadi lho ya), kalau tren konflik Sunni-Syiah kini dialihkan ke kelompok yang lebih minoritas lagi LGBT karena mereka tidak hanya dari satu kelompok agama tertentu tapi berbagai macam, lagipula negara seperti Iran pun juga memberikan hukuman mati ke kelompok LGBT. Toh orang-orang religius (dari Islam, Kristen, Katholik dan lain-lain) tersebut nanti akan menginterpretasikan ayat dari kitab suci masing-masing. Kan lebih enak tuh?! Kroyokan. Lumayankan kelompok garis keras beserta politisi kampret yang pada cari proyek bisa dapet aliran dana dari Saudi, perut kenyang dan masuk surga lagi? Salah satunya anggota DPD yang sudah ngeblok saya di Twitter. Sekali lagi, iya KALAU surga dan neraka memang ada! Kalau enggak, gimana?!

Ingat ya, konon kabarnya ibu anggota DPD satu “main-main” sama anggota polisi yang katanya suami orang. Kemudian doi yang dulunya enggak suka sama kelompoknya habib, eh sekarang jadi BFF mereka bahkan doi sampai merubah penampilannya. Sebagai politisi di negara dengan tingkat kesenjangan sosial yang tinggi, doi selalu memainkan isu moralitas untuk mencari dukungan dari masyarakat. Ya, ketimbang ngeluarin duit banyak untuk proper education, it’s easier but not necessarily better for the recipient  kalau mereka dikasih janji surga aja toh.

Lagipula, isu moralitas itu enak dijadikan bisnis apalagi doi adalah seorang saudagar. Masak iya isu moralitas untuk melindungi masyarakat kayak udah paling bener aja?! Taik kucinglah itu! Pokoknya yang dilarang di kitab suci, dijadiin bisnis. Tentu saja salah satu duitnya dari onta-onta itu. Coba dia enggak ke Petamburan kalau itu, mungkin ceritanya beda.

“Lalu apa hubungannya aliran dana Timur-Tengah, kelompok garis keras dan LGBT?”

Well… sebagaimana kita tahu bahwa kelompok garis keras telah mengeluarkan pernyataan dengan nada mengancam dan menjijikan. Ancaman yang disebarkan melalui surat dan beredar di internet. Lebih lucunya, ancaman tersebut enggak mendapatkan respon dari pihak berwajib. Yang ada malah politisi kampret yang suka cari proyek pun berwacana untuk membuat undang-undang anti-LGBT.

Ntar mereka mungkin bilang, “Okay kita enggak akan sahkan UU Anti-LGBT, tapi ada fulusnya ye!” Sama halnya kayak UU Anti Alkohol. Lumayankan dapat duit dari sana-sini, dari brands dapet, dari pemerintah asing pun dapet. Kalau enggak percaya, main deh ke Senayan. Pasang kuping lebar-lebar!

Pertanyaan saya adalah sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai tempat perebutan pengaruh kekuasaan negara-negara kaya di dunia? Sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai negara boneka?

Sebagaimana kita tahu bahwa harga minyak dunia sekarang anjlok dari 145 USD per barrel menjadi 32 USD per barrel. Negara-negara penghasil minyak pun sedang pontang-panting dibuatnya. Kenapa? Karena mau enggak mau mereka harus merogoh tabungan mereka. Saudi Arabia misalnya, mereka mulai merogoh tabungan mereka untuk kebutuhan sehari-hari. Lha wong pendapatan mereka saja anjlok and life must go on. Apakah dengan begitu kemudian aliran dana ke kelompok garis keras kemudian dihentikan dan disitulah negara baru bisa melindungi hak sipil masyarakat?!

Well, not that easy baby! A country like Saudi won’t get poor! And they will continue playing their games. Dengan adanya Kaaba di Mekah, Arab Saudi masih bisa mendapatkan memperoleh penghasilan dari perjalanan haji dan umroh yang bernilai lebih dari 20 milliard USD. Tentu saja pendapatan tersebut juga datang dari umat Muslim Indonesia, termasuk mereka yang harus menjual sawah dan tanah di kampung halamannya.

Jujur saja, dulu saya bangga menjadi orang Yogya. Kenapa? Masyarakat Yogya bisa hidup berdampingan dengan harmonis apapun perbedaan yang kita miliki. Bahkan, dulu banyak negara lain yang kagum melihat Indonesia memiliki pesantren untuk waria milik ibu Maryani di Yogya. Saya sempat bertemu dengan Ibu Maryani beberapa kali. Saya kagum dengan beliau karena di pesantren tersebut waria Kristiani pun bisa melakukan ibadah. Dan sekarang mereka diancam akan ditutup. Bahkan perkembangan terakhir, pesantren tersebut telah ditutup sejak tadi malam (February 24).

Sepertinya para cecunguk tidak suka ketika Indonesia memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan yaitu kerukunan dan keharmonisan. Para cecunguk tersebut tidak ingin masyarakat Indonesia sadar tentang apa itu hak asasi manusia dan paham akan pengtingnya ilmu pengetahuan.Ya maklum, di jaman penjajahan Belanda dulu, mereka pun tidak ingin memberikan pendidikan ke seluruh masyarakat nusantara. Kalau masyarakat nusantara pinter pasti akan ada perlawanan. Makanya yang bisa sekolah sedikit saja. Ya toh? Sadly, itu membudaya.

Lagipula Pak Menteri kan udah bilang, LGBT isu yang seksi. Ya toh?! Ngana pikir isu cuma sekedar isu?! It is about money! Mereka dapet duit banyak, situ dapet nasi bungkus dan rasa dengki. Sadly, the government work for their own welfare than us. It is about them (The bloody politicians) and not about us, the people of Indonesia.

Jujur saja, banyak politisi dan pejabat pemerintahan yang enggak menginginkan masyarakatnya berkembang. Some of them want us to stay foolish so we can be controlled with religion. They love playing God especially when one is hungry. 

Jadi, sebenernya bukanlah pemerintah atau politisi yang bisa memperbaiki kehidupan kita tapi kita sendiri. Dengan cara apa? Mengedukasi diri kita. We need to get ourselves informed properly. We should let nobody controlling us for their own good. Many wanna talk about God but as Macklemore said “God loves all his children” is somehow forgotten.

Eh tapi ya di era teknologi ini, enggak menutup nantinya yang akan melakukan perebutan kekuasaan di Indonesia adalah kubu US dan China, di mana Indonesia lagi-lagi dilihat sebagai market dengan sumber daya manusia yang ‘pas-pasan’ karena banyak orang Indonesia yang tidak mau mengedukasi diri kita sendiri untuk menjadi manusia maju dan sumber daya alam yang melimpah. Coba deh perhatikan sendiri. 

At the end, it’s about the money, it’s about the power. We can choose to be able to stand in our own feet and preserve our culture in the era of globalization, or we let ourselves to be controlled. 

Ride the bus

Notes: Faith and Relationsh!t

LRG__DSC6447I often heard people saying “I cannot marry this person because we do not have same religion” or “I cannot marry this person because (s)he doesn’t wanna convert into x religion”. It got me thinking and wondering what love really is.

Frankly, I just do not understand when a lover asks, demands or even worse sometimes FORCES their partner to convert into certain religion or belief simply to get married, simply to prove that (s)he loves him/her.

What is the point to make them convert into certain religion, has it on the paper but they just do not believe it. Even worse, it is not uncommon that some of them would make fun of it and disrespect it because they do not believe it.

Meanwhile, if (s)he does not convert, one of them will consider her/him for not sincerely loving them. And sometimes, if (s)he does not convert, it is often translated or concluded or defined that their lover does not respect one’s parents. Really?! 

First of all, your love should not be measured based on their belief, race or social status. Secondly, you marry her/him and not her/his parents. And last but not least, you just cannot force one to convert into something that they do not believe in. I just find this dumb and stupid!

Sadly, it is pretty common practice in Indonesia because regulation only allows the legalization of marriage to be done in a religious institution. You cannot just go to the civil registry. Even worse, those religions are imported religions in this country.

Forcing an individual to convert into certain religion means that one forces others to lie to themselves. If one can lie to themselves, it is not impossible that (s)he will lie to their partner too.

You see how religions play with people’s mind. Lovers forget what love is. Lovers forget that when you love someone, you must love them unconditionally.

Notes: To Sacrifice or Not To ?

ORG__DSC5026.JPGAs I scrolled down my Facebook’s news feed this morning, I came across to a piece titled “I didn’t realize my husband was depressed until we divorced“. It was published by British media outlet Telegraph. It is a very interesting piece. Worth reading. And when I read it, I feel like deja vu.

Over the years, I learnt that the key to understanding that other people are being depressed is by looking into ourselves first. Whether are we at the right stage of mind or not? And then, we will be able to see other people’s problem.

When we are in a serious long term relationship be it being married or engaged, communication is very important to keep the relationship going. It is true that we should not ignore any behaviour-changing of our partner as humanely as possible. However, it is not as easy as it is said especially when both of them are not at the right state of mind.

In that situation, the couple then normally will not be able to communicate rationally, the couple will not be able to see things clearly. The woman will always sound nagging and the man will always sound angry all the time. And if the couple is not willing to see it within themselves and admit it (that they are not at the right stage of mind or depressed), it’s hard to change the situation.

The thing is many people do not want to accept or admit that themselves or their partner are being depressed because many still consider or associate depression with mental illness, which is embarrassing for many.

It then causes depression rooted in oneself and makes the situation worse because of ignorance. Screaming. Yelling. Glass shattered. Hospital. Self-harm. Committing suicide. Getting drunk. Saying nasty things to each other. Etc. It can be very horrible and traumatic.

For me, the only solution is that I have to learn to love myself before I love other people. “Loving yourself” might sound easy but if you are an ambitious person and living in the fast-moving world yet competitive, it’s just not easy.

Why? You just want to achieve more and more for yourself. And when two ambitious people get together, “loving yourself” becomes difficult because the individuals have to sacrifice one thing and another for the sake of the relationship. The question is are we ready to do so, place the relationship before the career?

signature

Notes: The Wanderer

IMG_5977This morning, I came across to an eye-opening article written by Sridhar Pappu titled “Meet the New York Bachelors Who Yearn for Something More” in the New York Times. It was published on January 7.  As a woman, I often wonder why many men (especially good looking and successful one) stay single and just like to sleep around –I am not saying that there are no women who sleep around as well-. I also often wonder whether they want to be a relationship and build a family or not. If not, why? If yes, why do they still stay single?

As I read this article, I somehow found the answers that I have been looking for that many of them actually long for something more.

It then got me thinking. When we are young, engaging in serial dating can be fun sometimes until we realize that it is just wasting our time and energy. But the sad truth is we are not getting younger.

There will be a time where we want to have someone to come home to and share our story about anything even the silliest thing. However, being in a relationship is not easy, getting married is not a magical as Cinderella story either. Why? It is because there are so many things that we have to give up and sacrifice. It even gets harder when both of them are ambitious people.

Even sometimes, you might come across to the point where your marriage or your relationship does not work anymore and it must be ended. But then again, leaving the one that we loved and started another relationship is not as easy as changing your clothes. It requires a lot of efforts. It is just very tiring.

In our life, we often long for an intimate relationship with the right one but finding the right one seems to be hard. Yet, the good news is there is no deadline to find the right one.