Indonesia: Negara Boneka dan Aliran Dana

Sejak munculnya Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia, isu Lesbian Gay Bisexual and Transexual (LGBT) jadi salah satu hot topic di masyarakat Indonesia. Berbagai pihak mengeluar pendapatnya masing-masing mulai dari pejabat negara, politisi, aktivis sampai organisasi masyarakat dengan berbagai sudut pandang. Berita tentang adanya ‘aliran dana’ dari Barat untuk kelompok LGBT membuat heboh berbagai kalangan yang kurang piknik. “Kok ya baru heboh sekarang? Selama ini kemana aja? Oh pasti jarang baca laporan organisasi ya. Well, pantes! Ngana pikir organisasi enggak butuh dana dukungan?!

Lagipula, so what?! Toh dana tersebut digunakan untuk mengedukasi masyarakat termasuk pemahaman akan hal sipil masyarakat, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS Prevention dan juga kesetaraan gender. Kan bego banget kalau ada pihak yang meminta aliran dana untuk mengedukasi masyarakat tersebut dihentikan. It’s 2016 buddy!

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita pernah mempertanyakan sumber dana dari kelompok garis geras dan fundamentalis yang ada di Indonesia? Apakah mereka pernah mengeluarkan laporan akhir tahun tentang kegiataan dan pendanaan mereka padahal sekarang eranya keterbukaan informasi? Pernah enggak sih kepikiran kalau mereka mungkin mendapat dana dari Timur-Tengah termasuk Saudi untuk melakukan kegiatan mereka? Lalu, apakah ada yang juga mempertanyakan dan membahas secara blak-bakan kenapa tiba-tiba ada konflik antara Sunni, Syiah dan Ahmadiyah di Indonesia padahal sebelumnya adem ayem. Kalau pun ada sektarian konflik biasanya antar agama. Lalu kenapa trendnya berbeda?

Sebagaimana kita tahu, 85 persen (dari 250 juta jiwa) penduduk Indonesia adalah umat Muslim. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai tempat yang empuk untuk perebutan pengaruh politik atas dua Mazhab Islam Sunni dan Syiah. Apalagi hubungan Saudi dan Iran akhir-akhir kian memanas (You can find it in the Internet. It is googleable!)

Nah dulu, waktu saya sering liputan tentang kekerasan terhadap kelompok minoritas, saya bertanya pada salah satu cendekiawan Muslim, mengapa hal ini bisa terjadi? Sesama umat Islam tetapi saling membunuh, sedangkan dulu tidak seperti itu? Tentu kita masih ingat tentang kejadian Cikeusik di tahun 2011 dan kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang tahun 2012.

Bapak tersebut kemudian menjelaskan bahwa kelompok garis keras tersebut mendapatkan aliran dana dari Saudi untuk berbagai kegiatan, termasuk melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas. Hal itu bukan semata dilakukan karena mereka psikopat selo tetapi akibat dari pengaruh Mazhab Islam di Indonesia antara kubu Sunni (Saudi) dan Syiah (Iran). Sangat masuk akal menurut saya. Sayangnya, si Bapak enggak memiliki bukti tertulis tentang hal tersebut.

Meskipun laju perekonomian Indonesia terus meningkat tetapi kesenjangan sosial pun terus melebar. Semakin banyak masyarakat lapar dan bodoh karena miskin dan tidak berpendidikan. Akhirnya, segelintir kelompok masyarakt tersebut gampang diiming-imingi janji surga dan nasi bungkus untuk melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.

Saya pun jadi ingat pada salah satu percakapan saya dengan seorang anak berusia 17 tahun di Pengadilan Cibinong, saya tanya kenapa ikut merusak masjid Ahmadiyah. Dia mengatakan pada saya bahwa dia hanya ikut-ikut saja karena ramai-ramai, padahal dia enggak tahu kenapa mereka merusak masjid Ahmadiyah. Lagipula toh bisa masuk surga, capek hidup susah terus. Saya miris mendengarnya.

Well, Iya kalau surga ada. Kalau enggak ada? Udah hidup susah di bumi, surga nggak ada lagi. Rugi bandar Bung! I mean, some greedy people are using religion to manipulate people to fight against each other simply to gain power and stay rich without making their own hand dirty? That is so bloody disgusting!

Well, menurut saya (menurut pendapat saya pribadi lho ya), kalau tren konflik Sunni-Syiah kini dialihkan ke kelompok yang lebih minoritas lagi LGBT karena mereka tidak hanya dari satu kelompok agama tertentu tapi berbagai macam, lagipula negara seperti Iran pun juga memberikan hukuman mati ke kelompok LGBT. Toh orang-orang religius (dari Islam, Kristen, Katholik dan lain-lain) tersebut nanti akan menginterpretasikan ayat dari kitab suci masing-masing. Kan lebih enak tuh?! Kroyokan. Lumayankan kelompok garis keras beserta politisi kampret yang pada cari proyek bisa dapet aliran dana dari Saudi, perut kenyang dan masuk surga lagi? Salah satunya anggota DPD yang sudah ngeblok saya di Twitter. Sekali lagi, iya KALAU surga dan neraka memang ada! Kalau enggak, gimana?!

Ingat ya, konon kabarnya ibu anggota DPD satu “main-main” sama anggota polisi yang katanya suami orang. Kemudian doi yang dulunya enggak suka sama kelompoknya habib, eh sekarang jadi BFF mereka bahkan doi sampai merubah penampilannya. Sebagai politisi di negara dengan tingkat kesenjangan sosial yang tinggi, doi selalu memainkan isu moralitas untuk mencari dukungan dari masyarakat. Ya, ketimbang ngeluarin duit banyak untuk proper education, it’s easier but not necessarily better for the recipient  kalau mereka dikasih janji surga aja toh.

Lagipula, isu moralitas itu enak dijadikan bisnis apalagi doi adalah seorang saudagar. Masak iya isu moralitas untuk melindungi masyarakat kayak udah paling bener aja?! Taik kucinglah itu! Pokoknya yang dilarang di kitab suci, dijadiin bisnis. Tentu saja salah satu duitnya dari onta-onta itu. Coba dia enggak ke Petamburan kalau itu, mungkin ceritanya beda.

“Lalu apa hubungannya aliran dana Timur-Tengah, kelompok garis keras dan LGBT?”

Well… sebagaimana kita tahu bahwa kelompok garis keras telah mengeluarkan pernyataan dengan nada mengancam dan menjijikan. Ancaman yang disebarkan melalui surat dan beredar di internet. Lebih lucunya, ancaman tersebut enggak mendapatkan respon dari pihak berwajib. Yang ada malah politisi kampret yang suka cari proyek pun berwacana untuk membuat undang-undang anti-LGBT.

Ntar mereka mungkin bilang, “Okay kita enggak akan sahkan UU Anti-LGBT, tapi ada fulusnya ye!” Sama halnya kayak UU Anti Alkohol. Lumayankan dapat duit dari sana-sini, dari brands dapet, dari pemerintah asing pun dapet. Kalau enggak percaya, main deh ke Senayan. Pasang kuping lebar-lebar!

Pertanyaan saya adalah sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai tempat perebutan pengaruh kekuasaan negara-negara kaya di dunia? Sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai negara boneka?

Sebagaimana kita tahu bahwa harga minyak dunia sekarang anjlok dari 145 USD per barrel menjadi 32 USD per barrel. Negara-negara penghasil minyak pun sedang pontang-panting dibuatnya. Kenapa? Karena mau enggak mau mereka harus merogoh tabungan mereka. Saudi Arabia misalnya, mereka mulai merogoh tabungan mereka untuk kebutuhan sehari-hari. Lha wong pendapatan mereka saja anjlok and life must go on. Apakah dengan begitu kemudian aliran dana ke kelompok garis keras kemudian dihentikan dan disitulah negara baru bisa melindungi hak sipil masyarakat?!

Well, not that easy baby! A country like Saudi won’t get poor! And they will continue playing their games. Dengan adanya Kaaba di Mekah, Arab Saudi masih bisa mendapatkan memperoleh penghasilan dari perjalanan haji dan umroh yang bernilai lebih dari 20 milliard USD. Tentu saja pendapatan tersebut juga datang dari umat Muslim Indonesia, termasuk mereka yang harus menjual sawah dan tanah di kampung halamannya.

Jujur saja, dulu saya bangga menjadi orang Yogya. Kenapa? Masyarakat Yogya bisa hidup berdampingan dengan harmonis apapun perbedaan yang kita miliki. Bahkan, dulu banyak negara lain yang kagum melihat Indonesia memiliki pesantren untuk waria milik ibu Maryani di Yogya. Saya sempat bertemu dengan Ibu Maryani beberapa kali. Saya kagum dengan beliau karena di pesantren tersebut waria Kristiani pun bisa melakukan ibadah. Dan sekarang mereka diancam akan ditutup. Bahkan perkembangan terakhir, pesantren tersebut telah ditutup sejak tadi malam (February 24).

Sepertinya para cecunguk tidak suka ketika Indonesia memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan yaitu kerukunan dan keharmonisan. Para cecunguk tersebut tidak ingin masyarakat Indonesia sadar tentang apa itu hak asasi manusia dan paham akan pengtingnya ilmu pengetahuan.Ya maklum, di jaman penjajahan Belanda dulu, mereka pun tidak ingin memberikan pendidikan ke seluruh masyarakat nusantara. Kalau masyarakat nusantara pinter pasti akan ada perlawanan. Makanya yang bisa sekolah sedikit saja. Ya toh? Sadly, itu membudaya.

Lagipula Pak Menteri kan udah bilang, LGBT isu yang seksi. Ya toh?! Ngana pikir isu cuma sekedar isu?! It is about money! Mereka dapet duit banyak, situ dapet nasi bungkus dan rasa dengki. Sadly, the government work for their own welfare than us. It is about them (The bloody politicians) and not about us, the people of Indonesia.

Jujur saja, banyak politisi dan pejabat pemerintahan yang enggak menginginkan masyarakatnya berkembang. Some of them want us to stay foolish so we can be controlled with religion. They love playing God especially when one is hungry. 

Jadi, sebenernya bukanlah pemerintah atau politisi yang bisa memperbaiki kehidupan kita tapi kita sendiri. Dengan cara apa? Mengedukasi diri kita. We need to get ourselves informed properly. We should let nobody controlling us for their own good. Many wanna talk about God but as Macklemore said “God loves all his children” is somehow forgotten.

Eh tapi ya di era teknologi ini, enggak menutup nantinya yang akan melakukan perebutan kekuasaan di Indonesia adalah kubu US dan China, di mana Indonesia lagi-lagi dilihat sebagai market dengan sumber daya manusia yang ‘pas-pasan’ karena banyak orang Indonesia yang tidak mau mengedukasi diri kita sendiri untuk menjadi manusia maju dan sumber daya alam yang melimpah. Coba deh perhatikan sendiri. 

At the end, it’s about the money, it’s about the power. We can choose to be able to stand in our own feet and preserve our culture in the era of globalization, or we let ourselves to be controlled. 

Ride the bus

Indonesia: About LGBT

Image

Goodbye 2012! Hello 2013

You know what makes me upset about LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender) debate these days in Indonesia? Well, let me tell you.

Last night, a good friend of mine sent me a message telling me how concerned (s)he is about all these LGBT debates. (S)he wondered what the government/parliament next step toward it whether they are going to ban it altogether, ban foreign funding for LGBT activity (including reproductive health awareness) or even worse if they plan to stop distributing subsidised ARV in the country. (S)he is wondering. 

Honestly, this condition would not just have a negative impact to the LGBT community but also all the patients, let me repeat myself again ALL PATIENTS, (which also include heterosexual people) who have been getting ARV for free so they can survive and live their lives as a healthy person. So, I said to a good friend of mine that everything will just be fine. Let’s have faith in it.

Since the fall of  President Soeharto in 1998, religion has been used as a political commodity to control people. Sometimes I am wondering whether we, the people of Indonesia, can have a discussion about certain issue without bringing a religious perspective or not.

It is very devastating because I feel that this country is heading to a dark age than moving forward to the future. What about if we discuss what really matters and crucial to citizen’s daily life such as food supply, education, health and infrastructure, instead of the sexual orientation or religious preferences, which are very personal?! Can we?

PS: If you do not know what ARV is, you can search on the internet. It is very googleable.

Notes: Faith and Relationsh!t

LRG__DSC6447I often heard people saying “I cannot marry this person because we do not have same religion” or “I cannot marry this person because (s)he doesn’t wanna convert into x religion”. It got me thinking and wondering what love really is.

Frankly, I just do not understand when a lover asks, demands or even worse sometimes FORCES their partner to convert into certain religion or belief simply to get married, simply to prove that (s)he loves him/her.

What is the point to make them convert into certain religion, has it on the paper but they just do not believe it. Even worse, it is not uncommon that some of them would make fun of it and disrespect it because they do not believe it.

Meanwhile, if (s)he does not convert, one of them will consider her/him for not sincerely loving them. And sometimes, if (s)he does not convert, it is often translated or concluded or defined that their lover does not respect one’s parents. Really?! 

First of all, your love should not be measured based on their belief, race or social status. Secondly, you marry her/him and not her/his parents. And last but not least, you just cannot force one to convert into something that they do not believe in. I just find this dumb and stupid!

Sadly, it is pretty common practice in Indonesia because regulation only allows the legalization of marriage to be done in a religious institution. You cannot just go to the civil registry. Even worse, those religions are imported religions in this country.

Forcing an individual to convert into certain religion means that one forces others to lie to themselves. If one can lie to themselves, it is not impossible that (s)he will lie to their partner too.

You see how religions play with people’s mind. Lovers forget what love is. Lovers forget that when you love someone, you must love them unconditionally.

Notes: Liar

DSCF1124Let’s ask ourselves these questions. Do you put heavy make-up to cover your pimple or skin imperfection? Do you need to purchase brand-name products? Do you max out your credit card to purchase fancy things that you cannot afford it? Do you use a photo filter or photoshop before you upload your photo online? Do you work in a company only for a monthly pay-cheque? Do you cheat on your lover or partner and stay in a relationship even you are no longer happy? Do you know that all of those are the form of lie and there are just many more forms of lies out there?

Well, the individual is not the only liar in our society. The governments lie, the companies lie, the religious institutions lie, the politicians lie, the religious leaders lie, the public figures lie and almost all the citizens lie. Eventually, almost all of us are liars.

However, have you ever asked yourself why you need to lie? I believe that we begin to lie because our society often tells us that we are not good enough as individuals. They say “You are not good enough because of your skin colour”;  “You are not good enough because of your ethnicity background”; “You are not good enough because of your weight”; “You are not good enough because of your job”. And you are just not good in so many ways.

Their judgment makes us feeling insecure; their judgment makes us to not accept yourself, and their judgment makes us feel to have the need to fulfil their demand/ requirements. The worse, their judgment makes you stop loving yourself unconditionally.  Ultimately, you have the need to lie. We do it consciously or unconsciously, to other people as well as to ourselves. As a result, we become liars.

We do not know anymore whether we need to keep our mouth shut and tell the truth or we just need to lie. In the end, lying seems to be much easier than being honest and truthful; being perfect seems to be more acceptable than being imperfect and that is what our society wants from us… to be perfect! Hence, we lie. Correct me if I was wrong!

Xoxo

signature

Brief: Why Religious Violence Occured in Indonesia

This is an interesting analysis about the possibility of Saudi Arabia and ISIS merger. It actually reminds me of my interview with prominent scholar a year ago. We talked about who might have been financing extremist group in Indonesia.

Indonesian media outlets have been reporting about the attack and the execution of  Ahmadiyya and Shia community in these past five years. Some of them also attacked the Christian community throughout the country.

He pointed out that Saudi Arabia has funded those extremist group with purpose to have many Wahabi and/or Sunni followers because the majority of Indonesia population is Islam followers. However he does not have the written evidence about it but he had a chance to see it with his own eyes.

Having said that it is good to know how the extremist got finance at the first and how the religious violence has been fabricated at the first place. The following questions are how much they get funded? Who received the money?

Sadly, religion is just a political tool to obtain as well gain power for certain group of people so they can get both financial and political benefit. Meanwhile religion actually offers a plenty of good teaching and its follower taking it seriously.  Ironic!
signature