Catatan: Dupata

www.catatanfani.comPada suatu kesempatan, seorang kawan laki-laki dari Bangladesh mengatakan pada saya bahwa banyak perempuan Bangladesh tidak menggunakan dupata (scarf) untuk menutupi payudara mereka. Apalagi tak sedikit dari mereka memiliki payudara yang besar. Dia menganggap bahwa hal ini sangat tidak baik karena banyak laki-laki yang akan melihat payudara yang perempuan tersebut dan menimbulkan niat jahat termasuk pelecehan seksual maupun pemerkosaan. Mendengarkan pernyataan tersebut, saya pun mengernyitkan kening.

“Kenapa perempuan yang salah?” tanya saya.

“Karena mereka tidak menutupi payudara mereka,” katanya.

“Lho mereka sudah menggunakan kameez, berlengan panjang dan gombrong pula.” kata saya.

“Ya tetap kurang!” katanya kekeuh.

“Kalau laki-laki yang menjadi bernapsu, kenapa perempuan yang repot? Bukankah kalian harus mengontrol napsu kalian?” kata saya mempertanyakan pendapatnya. Kawan saya pun terdiam.

“Nah, saya selalu datang ke gym ini menggunakan sport bra atau tank top dan celana pendek. Kalau ada yang melecehkan saya, apakah kamu akan bilang itu salah saya?”

Dia kembali diam. Mungkin mengiyakan pendapat saya.

“Dulu saya pernah dijambret. Seorang ibu mengatakan itu salah saya karena saya pakai kutang. Aneh kan? Wong penjambret mau emas kok baju saya yang disalahkan? Lagipula kamu punya dua anak perempuan, suatu saat mereka akan memilih jalan mereka masing-masing. Apakah dengan memberikan baju yang tertutup berarti melindungi mereka dari pelecehan seksual? Tentu tidak! Berapa banyak yang diperkosa karena menggunakan hijab atau burqa?” kawan sayapun tetap diam.

Diam entah karena tidak setuju atau diam karena tidak bisa mengekspresikan pendapatnya dalam bahasa Inggris.

Bagi saya, laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsu mereka tetapi kenapa perempuan yang harus repot. Melihat tetek sedikit ngeceng, ngelihat kaki ngeceng, melihat lengan ngeceng. Hadeeeeh! Percuma beragama tapi berkelakuan seperti binatang. Ya toh? Tentu hal ini tidak hanya terjadi di Bangladesh saja tetapi di tengah masyarakat tradisional mana saja.

Ride the bus

 

Catatan: Suratmi dan Problemanya

SONY DSC

SONY DSC

Ini adalah sebuah cerita tentang Suratmi. Suratmi adalah seorang asisten rumah tangga yang enggak kenal lelah. Bahkan, kalau diajak plesir, dia linglung dan bingung karena enggak ada yang dapat dia lakukan secara rutin. Luntang-luntung sana-sini, hanya bermain dengan Bejo, putra Bu Nuning. Asyik memang tapi kalau Bejo sedang tidur, lagi-lagi dia nganggur. Pusing bukan kepalang rasanya. Sebaliknya, dia sangat giat kalau diminta lembur apalagi Bu Nuning enggak enggan memberi upah tambahan.

Hari itu, hari Selasa. Jam dinding menunjukkan pukul 19:38. Suratmi masih berada di rumah Bu Nuning, dua setengah jam sudah dia lembur. Meskipun sudah tak banyak lagi yang harus dia lakukan, rasa lelah mulai menggerogoti tubuhnya. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang. Kebetulan, malam itu Bu Nuning memberinya kepala ikan kakap merah yang bisa ia gunakan untuk membuat kari ikan sayur sebagai santap malam keluarga. Sambil berdendang, Suratmi mengepel lantai dapur.

Kringggg….. kringgggg…..telepon seluler Suratmi berdering kencang. Biasanya Tukijo, suami Suratmi, atau Ratri, adiknya, yang menelepon untuk memastikan bahwa Suratmi baik-baik saja. Maklum, hari sudah mulai gelap. Tanpa melihat siapa si penelepon, Sutami langsung mengangkat teleponnya.

“Hallooo……” sapa Suratmi girang.

“Heee Suratmi…. Aku tahu di mana kamu bekerja sekarang. Jalan Samudera No 50 kan? Nanti, aku akan menunggumu di pengkolan jalan. Tapi jangan berharap kamu akan pulang ke rumah dan bertemu dengan keluargamu kalau suamimu tak segera membayar hutangnya,” kata seorang lelaki di balik telepon Nokia berwarna hitam miliki Suratmi. Suratmi tertegun, terdiam.

“Siapa kamu?” kata Suratmi singkat.

“Kamu tahu siapa aku!”

Suratmi kembali terpaku. Mukanya merah, keringat mulai bercucuran di dahinya. Takut dan bingung, itulah yang Suratmi rasakan.  Dia sangsi apakah ia harus memberitahu kejadian tersebut pada Bu Nuning atau menyimpannya dalam hati. Namun kalau Suratmi tak cerita, dia pun takut pulang. Bagaimana kalau laki-laki tersebut betul-betul menculiknya?

“Nyah… boleh saya bicara? Malam ini saya takut pulang ke rumah,” kata Suratmi memulai perbincangan. Suaranya sedikit bergetar. Bu Nuning hanya mengernyitkan dahi, penasaran. “Lho kenapa Mi?”

Suratmi terdiam sejenak lalu mulai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami dan asal mulanya.

Tukijo adalah suami Suratmi. Dia adalah pemilik sebuah apotek kecil di Mymensingh, sebuah distrik di Bangladesh. Cerita punya cerita, Tukijo ternyata gemar meminjam uang dari renternir sebagai modal menjadi renternir. Sialnya, para peminjam kabur semua dan meninggalkan Tukijo dengan hutang yang cukup besar sebanyak 65 juta rupiah dalam 10 tahun terakhir ini. Meskipun dia berusaha untuk membayarnya, bunganya terlalu besar 40 persen pertahun.. Jadi hutangnya pun tak kunjung lunas.

“Akh… lagi-lagi perkara uang,” pikir Bu Nuning. Bu Nuning pun diam sejenak.

Jujur saja, mendengar cerita tersebut, Bu Nuning enggak langsung percaya. Siapa tahu itu hanya alasan Suratmi untuk meminjam uang. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu Suratmi mencoba meminjam uang dari Bu Nuning dan Pak Prapto, suami Bu Nuning, tetapi mereka menolak permintaan tersebut. Tuman, kalau diiyakan terus. Ya toh?

Tetapi, kalau cerita tersebut memang benar adanya, bagaimana kalau debt kolektor datang ke rumah dan melakukan hal-hal yang enggak diinginkan sama sekali, seperti pembunuhan misalnya. Celaka dua belas bisa-bisa! Memang, Bu Nuning terdengar berlebihan. Namun, belum lama ini, asisten rumah tangga Pak Tebu baru saja dibunuh di rumah Pak Tebu saat Pak Tebu ke warung seberang. Bayangkan saja, hanya ditinggal 20 menit dan mati sudah si asisten rumah tangga! Mengerikan bukan? Jadi enggak salah jika Bu Nuningpun was-was. Ya toh?

Sebenarnya hal ini merupakan hal yang sangat menyedihkan karena meskipun kota tinggal di abad 21 dan berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan dan mengimplementasikan internet finance and banking, masih banyak orang yang tidak memiliki akses ke dunia perbankan atau koperasi. Namun meskipun tak sedikit pula yang memiliki akses ke dunia perbankan, tak sedikit pula yang menyalahgunakan untuk hidup hedon padahal ngutang. Kalau sudah begini, dikejar debt kolektor, mau lari ke mana? Ya toh? Suratmi! Suratmi!

Ride the bus

Catatan: Lelaki Jalang

SONY DSC

Turkish beer, Turkish tea [2014: E O]

Akhir-akhir ini, berita tentang Jennifer Dunn, Shaffa Harris dan Faisal Harris berseliweran di media sosial. Tak hanya itu, berita tentang Sunu, Umi Pipik pun juga berseliweran di mana-mana. Dalam hati saya “Sopo sih Sunu Ki?” Sebenernya saya enggak pernah ngegubris berita tentang selebritis tapi saking banyaknya, saya pun akhirnya iseng ngegugel tentang mereka. Oh ternyata mereka semua tersangkut kasus perselingkuhan. Yang menarik adalah sosok perempuan lah yang selalu disorot sebagai biang keladi hancurnya rumah tangga padahal enggak sedikit family man yang kegatelan bahkan banyak banget. Sayangnya, lagi-lagi perempuan yang disalahkan “Siapa suruh mau?” dan sebagainya dan sebagainya.

Anyway beberapa hari yang lalu, saya pergi sebuah pesta dengan mas bojo. Sayangnya, mas bojo harus pergi di tengah pesta karena akan pergi ke negeri coklat dan meninggalkan saya sendiri di pesta tersebut. Awalnya saya tidak mau ditinggal tapi pestanya cukup asyik, good food, interesting people, fancy venue, welcoming host, groovy music and a lot of wine! Selain itu dapat kesempatan ngobrol ngalor ngidul dengan orang-orang baru dan bertemu dengan beberapa kenalan. Di tengah pesta, seorang laki-laki yang menjabat sebagai direktur mendekati saya ketika saya sedang asyik ngobrol dengan tuan Jendral.

“Hai, mana mas bojo?” tanyanya.
“Dia harus pergi ke bandara karena harus ke Eropa!” jawab saya singkat.
“Wah sibuk sekali pasti? Apa kamu tak pernah merasa kesepian?” tanyanya mulai menjurus pikir saya.
“Akh enggak. Saya ada anak, ada kawan, ada kegiatan. Bagaimana mungkin bisa kesepian? Lagipula kenapa?” Dalam hati, saya sudah menduga bahwa dia pria hidung belang ketika dia tiba-tiba mengajak saya untuk ngobrol di tempat lain padahal saya sedang asyik ngobrol dengan tuan dan nyonya Jendral. Aneh lagi, tuan direktur meminta pelayan menuangkan anggur lagi meski saya sudah menolak.
“Masa?”
“Kau punya istri dan anak?” Saya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya, tetapi mereka tak di sini. Jadi aku merasa kesepian. Mau ke rumahku?”
“Sering pulang ke negaramu?” Tanyaku mencoba mengganti topik.
“Tentu! Kau mau ke sana? Ayo temani aku ke sana! Kau bisa tinggalkan anakmu dengan pengasuh beberapa hari saja. Saya tentu terkejut. “Gemblung betul orang ini” pikir saya.

Enggak lama kemudian tuan Jendral pamit dan bertanya apakah supir saya sudah datang menjemput. Saya pun katakan ya dan saya pun ikut pamit untuk meninggalkan pesta.

“Nona bagaimana kalau kau saya antar pulang saja?” tanya tuan direktur sambil mencoba menarik tangan saya.
“Oo alah gemblung gemblung,” pikir saya. “Maaf tak perlu. Saya sudah ada supir.”
Sayapun segera lari meninggalkan pesta dan pamit pada tuan rumah.

Lucu bukan? Tuan direktur tahu saya datang dengan mas bojo, tuan direktur tak menutupi bahwa punya istri dan mau bermain api demi selangkangannya. Tentu kalau saya tanggapi, saya yang dianggap gatel dan sundal. Seperti yang dikatakan oleh Eddie Griffin dan Dr. dre dalam lagu berjudul Ed-Ucation “Biggest hoes, on planet Earth, are walkin’ through the motherfuckin’ neighborhood || You knew when you got with the man he already had a woman ll You knew he already had a family ll But you fucked him anyway” dalam lirik tersebut perempuan lah yang sundal padahal bisa jadi yang gatel duluan sang laki-laki. Begitu pula dengan tuan direkrut, dia lah seharusnya yang dianggap sebagai the biggest hoe!

Tapi mungkin, kalau saya tanggapi sayalah yang dianggap hoe. Bahkan saya tak akan heran jika dia melakukan hal ini dari pesta ke pesta besar. Sayangnya, tuan direktur tak akan dianggap jalang atau bejat malah dianggap hebat karena bisa menarik perhatian perempuan lain bahkan istri orang di luar istrinya. Ya toh? Perempuan jalang dosa besar, lelaki jalang hebat! Begitu kata masyarakat patriarki kita! Ngehek betulkan?!

Ride the bus

Catatan: Sebuah Identitas

IMG_0337Sebagai seorang perempuan yang berasal dari keluarga sederhana di Yogyakarta, saya punya cita-cita untuk menjadi sukses dan hidup berkecukupan, memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang saya miliki sebelumnya serta dapat melihat dunia. Perlahan-lahan, saya menggapai cita-cita saya meskipun tak secepat yang saya inginkan. Dari gaji pertama di tahun 2007, saya bisa terbang ke Bali. Dari beasiswa, saya bisa mengikuti fellowship di luar negeri. Dari gaji-gaji berikutnya, saya bisa membeli mobil meskipun mencicil sampai tuntas – meskipun tak jarang banyak yang menganggap suami yang membelikan. Tak hanya itu, saya pun punya identitas karena pekerjaan saya. Saya adalah penulis. Saya adalah jurnalis. Saya adalah researcher. Saya bangga dengan apa yang saya lakukan. Saya bangga bisa membeli ini itu dengar keringat sendiri. Saya bisa bercerita siapa saya dan apa yang saya lakukan. Sayangnya, semua itu hanya tinggal sejarah meskipun saya percaya itu hanya untuk sementara waktu.

Namun sejak saya pindah ke Bangladesh untuk mengikuti E, rasanya saya tidak punya identitas selain sebagai trailing spouse. Luntang-luntung sana sini, memperkenalkan diri sebagai seorang istri E yang bekerja di sebuah organisasi internasional. Memang, melalui pekerjaannya saya mendapatkan kesempatan untuk datang ke acara-acara istimewa, bertemu ‘pejabat’ atau bahkan konglomerat Bangladesh. Ngobrol sana, ngobrol sini tentang apa yang mereka lakukan over tea, coffee or wine. Namun, setiap kali memperkenalkan diri dengan mereka, saya jadi minder karena saya hanya trailing spouse. Tak banyak yang dapat saya bicarakan. Tak jarang pula dipandang sebelah mata. Saya merasa tak memiliki identitas. Oh betapa bencinya saya memperkenalkan diri dengan embel-embel orang lain, nama pun tak saya ganti. Jadi saya suka heran kalau ada yang pamer pekerjaan suami atau istri mereka seolah-olah mereka tropi!

Kalau dibilang ‘Kamu sih enak, enggak punya kerjaan tapi suamimu bekerja?’ Apa enaknya? Tak ada! Saya tak punya identitas. Tak ada yang bisa saya banggakan. Saya tak dapat menikmatinya dengan sungguh-sungguh simply because that is not me. Nevertheless, saya harus bersyukur dan bersabar karena tahun depan saya akan mulai membangun identitas saya kembali. Oleh karena itu, saya lebih baik fokus untuk hidup sehat, ngurus anak dengan bantuan Mina dan bekerja serabutan kalau pas ada meskipun kadang-kadang takut karena kendala administrasi seperti visa. At the end of the day, menjadi seorang ibu dari baby A juga merupakan suatu identitas. Ya kan? But…
Anyway, tak heran kalau setiap hari yang saya lakukan berolahraga dan masak. Bahkan seorang kawan bilang “Tentu saja dia masak terus karena dia bosan!” dan memang betul begitulah adanya.

Ride the bus

Catatan: Olahraga Waktu Hamil?

SONY DSCBagi beberapa-banyak orang, berolahraga saat hamil adalah ide yang sangat gila. Banyak yang khawatir bahwa olahraga dapat menyebabkan keguguran. Bahkan banyak bapak-bapak atau laki-laki kabur setiap kali melihat saya masuk ke ruangan gym dengan perut besar. Tapi apakah betul bahwa perempuan hamil enggak boleh neko-neko dan lebih baik duduk anteng dan makan sebanyak mungkin? Well, saya ingin berbagi pengalaman saya. Bukan sebagai dokter kandungan ataupun personal trainer tetapi sebagai fitness enthusiast.

Kalau boleh jujur, saya seneng dan juga agak sedih ketika saya tahu bahwa saya hamil. Lho kok gitu? Well, mungkin karena saya sangat egois, saya tidak ingin kehilangan bentuk tubuh yang sudah saya bentuk selama tiga tahun terakhir ini. Mulai dari legs, abs, shoulder, back and also chest. Dibutuhkan disiplin dan ketekunan selama beberapa tahun untuk mendapatkan otot-otot tersebut. Saya enggak mau kehilangan semuanya itu begitu saja. At the same time, I was very excited with the little one inside my womb and I want him to be healthy and happy baby. 

But then again, there was a fear within me. Kenapa? Well, sebagai trailing spouse yang baru saja gave up my job and beradaptasi di tempat baru, saya takut tiba-tiba mendapatkan anxiety attack or even worse depression. Di mana dulu, tak jarang, saya mengkonsumsi xanax ketika kedua hal tersebut menyerang ketika saya tinggal di J-Twon. As a result, saya takut untuk mengkonsumsi obat tersebut. So, how can I have a healthy pregnancy? Being fit and staying sane.

Luckily, seorang kawan memberi saya buku berjudul What To Expect When You’re Expecting yang ditulis oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel.  Pada Chapter 3 buku tersebut yang berjudul Pregnancy Lifestyle, Murkoff dan Mazel menulis “Workouts are not only a-can-do for most pregnant women but a definitely do. In fact, the vast majority of workout work well with the vast majority of pregnancies, which means you can almost certainly count on continuing your usual routine through your 9 months.”  langsung loncat-loncat dong waktu baca chapter tersebut. So that was the answer! Saya enggak perlu anti depressant dan lain-lain untuk tetap waras selama hamil.

IMG_4492Lalu apa keuntungan berolahraga saat hamil? Well, banyak! Baik untuk ibu hamil maupun janin. Untuk ibu hamil, olahraga dapat meningkatkan stamina, kualitas tidur, kesehatan, mood, otot dan punggung serta menjaga sistem  pencernaan agar lancar. Plus, lebih cepat sembuh setelah melahirkan. Sedangkan untuk janin, meningkatkan peredaran oksigen dalam tubuh dan dipercaya akan jauh lebih pintar.

Nah selama hamil, saya justru tidak melakukan yoga tapi tetap melakukan jogging, running dan weightlifting. Saya berolahraga setiap hari dua sampai tiga jam per hari. Hasilnya, saya hampir enggak pernah merasa depressed selama hamil. Boleh dikatakan bahwa olahraga saja enggak cukup. Makan makanan bergizi pun penting terutama buah-buahan, sayur-sayuran, susu dan juga daging-dagingan. Kalau bisa, jangan terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung gula. Selama hamil pun berat badan saya  naik 12 kg dan sekarang tinggal 2 kg. Saya masih punya banyak PR untuk membawa tubuh saya kembali kebentuk semula. Bukan, bukan kurus namun sehat dan berotot.

Tentu banyak orang yang berpendapat berbeda-beda namun saya akan jauh lebih mempercayai hasil riset daripada mitos tentang ibu hamil. Oleh karena itu, kalau ingin sehat dan dapat terus berolahraga selama hamil, alangkah lebih baik jika mulai menyukai olahraga sebelum hamil sehingga badan kita enggak kaget dengan berbagai macam perubahannya. Bagi saya, sembilan bulan hamil bukanlah waktu yang susah, gamping banget! Yang susah justru tiga hari setelah melahirkan apalagi saya melahirkan secara c-section. Bahkan sampai sekarang kalau saya enggak olahraga bekas jahitan malah sakit.

Btw, saya baru bikin akun Instagram yang berisi fitness dan makanan sehat. Follow @ibuksehat yuk!

Ride the bus

Catatan: Simbok

SONY DSC

Hampir lima bulan terakhir ini, saya telah menjadi seorang ibu. Hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya satu tahun lalu karena saya terlalu menikmati pekerjaan dan hobi saya. Belum lagi saya berencana untuk meneruskan kuliah di Kanada setelah saya diterima di University of Toronto. Tapi, apa boleh buat. Kata orang yang percaya dengan adanya Tuhan, Tuhan punya rencana lain. Saya hamil dan lahirlah baby A awal Januari lalu, my monkey fire baby.

Meskipun tidak direncanakan, jujur saja, saya sangat menikmati menjadi seorang ibu apalagi setiap kali menyusui. Somehow, it comes across as a very special moment between myself and him. I even often say to myself “I will do anything to make him happy and healthy. I will always be there for him” As they say, breastfeeding helps a mother bonding with their child. So, I guess it is true.

Kalau boleh berterus terang, awalnya menyusui adalah sebuah momok bagi saya. Mengapa? Well, baby A lahir melalui operasi caesar di mana tim dokter harus memberikan bius lokal di tulang belakang. Efek bius tersebut sangat amat mengerikan, saya terus menerus muntah setelah melahirkan. Bahkan saat saya memberikan asi untuk pertama kali, saya pusing tujuh keliling dan muntah. Bayangkan saja, bukannya saya bahagia melihat baby A untuk pertama kali tapi malah muntah-muntah karena efek obat bius tersebut. “What kind of mother am I?” Saya sangat frustrasi kala itu. Sampai-sampai, sambil menangis, saya bilang pada perawat yang membantu saya malam itu “How can I breastfeed my baby if I cannot even sit up right and I continuously throw up?

Tidak hanya efek obat bius saja yang membuat saya takut menyusui tetapi juga my engorged breasts. Pada hari pertama, payudara saya langsung membengkak karena produksi ASI yang cukup tinggi atau oversupply. I did not know whether I should consider that as a blessing or a curse because it was very painful. I even got angry, “Why nobody told me about this horrible breast engorgement?” Well, it’s easier to blame on other people, right? 😁

Kebayang dong, masih dibawah pengaruh obat bius, payudara membengkak dan harus belajar menyusui baby A. It was very stressful and frustrating. Untungnya, dengan sabar para perawat dan konsultan laktasi terus membantu saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar. Tetapi jujur saja, entah mengapa rasanya sulit sekali untuk menyusui saat itu. Bahkan, saking susahnya, setelah pulang ke rumah, saya sampai harus memanggil doula ke apartment untuk kembali mengajari saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar.

Lucunya, meskipun baby A belum punya gigi, saya takut digigit; sehinggasaya pun membeli peralatan perang untuk menyusui mulai dari nipple cream sampai nipple shields yang pada akhirnya pun enggak pernah saya pakai.

Boleh dibilang bahwa setidaknya dua minggu lamanya saya mengalami kesulitan dalam belajar bagaimana menyusui baby A dengan benar tanpa menderita. Bukan cuma itu saja, dalam dua minggu pertama tersebut, saya pun sempat kena mastitis dan harus bolak-balik ke konsultan laktasi di rumah sakit. Thankfully, setelah berbagai kesulitan tersebut selama dua minggu pertama, sekarang baby A langsung ‘nemplok’ tanpa digiring setiap kali mau makan. And, I must say that I do enjoy breastfeeding him. Again, it’s a very special moment especially when he looks at me, smiles at me and hold my shirt so tight as if he doesn’t want to let me go. Bahkan, saya kadang takut kalau nanti dia sudah tidak mau minum susu dari saya. I guess, this is the joy of being a mother.

But yeah, I swear to God, it was very difficult at the beginning. I even thought that nine months of pregnancy was actually way easier than the first three days of being a mother. I vividly remember, there was even a moment where I even had a breakdown and cried “I have never been so dependent like this,” because I could hardly do something, I couldn’t even get a glass of water for myself or just take a look at my phone. 

Anyway, boleh dibilang, meskipun saya sangat menikmati setiap detik menjadi seorang ibu karena bisa terus berinteraksi dengan baby A dan juga melihat perkembangannya, saya juga sangat rindu dunia kerja. Entah mengapa saya jadi merasa sedikit dungu akhir-akhir ini. Oh well, I really need to get the wheels turning either by going back to work or doing some study.

Ride the bus

Catatan: Skilled Workers

SONY DSC

I wanna see the world

Sejak melahirkan, saya belum sempat melakukan Brazilian waxing lagi. Selain takut akan rasa sakit di bagian luka operasi caesar, saya juga belum menemukam tempat yang bisa dipercaya kebersihannya di Dhaka. Ada sih tempat waxing tapi sayangnya enggak hygienic di mana mereka menggunakan satu mangkok besar dan satu butter knife untuk semua customers; belum lagi kain blacu yang dipakai sepertinya dicuci ulang -karena saya pernah lihat bulu rambut di kain blacu tersebut-. Ngeri enggak sih? Emang sih lebih ramah lingkungan karena enggak harus cuci mangkok dan buang kain berkali-kali. Tapi, gimana kalau ada salah satu customers yang punya penyakit kulit? Ya kan?

Anyway, kemarin saya baru ingat ternyata adik asisten rumah tangga saya bekerja di salon. Saat libur, dia bekerja sebagai freelancer mulai dari memijat, meni-pedi, scrubbing , eyebrow threading dan juga waxing. Dengan modal gula dan lemon untuk homemade sugar wax, baby powder dan kain blacu, akhirnya saya bisa waxing di rumah. Brazilian waxing dan half legs waxing. Cepet, bersih dan rapi.

Nah, kenapa saya cerita ini? Saya suka dengan orang-orang seperti perempuan bernama Rina ini. Dengan keterampilan yang dimilikinya, dia sangat passionate dalam melakukan pekerjaannya. Hal itu nampak ketika saya memberikan kain katun untuk waxing tetapi ternyata kain katun terlalu tipis, susah untuk angkat bulu rambut sampai ke akar-akarnya. Dia sampai kesal sendiri setiap kali mencobanya. “Huh? What happened?” katanya penasaran karena  tak satu helai rambutpun ketarik. Meskipun demikian, dia terus berusaha dan dengan cekatan, dia menyelesaikan pekerjaannya dalam satu jam saja.

Rina mengingatkan saya pada hairstylist langganan saya. Andre. Dia ‘pegang’ rambut saya dari tahun 2011. Kalau tidak sibuk, hampir setiap bulan saya ke salon. Entah untuk coloring atau haircut. Saya enggak pernah ke salon lain sejak kenal Andre. Atau Mas Boni, penjahit langganan saya di ITC Kuningan. Dia tahu bagaimana memotong batik menjadi dress tanpa mengubah motifnya. Atau Mas Otoy, anak buah Mas Boni, yang tahu bagaimana memermak pakaian tanpa merusaknya dan tetap nyaman dipakai.

Saya suka dengan orang-orang seperti ini,  mereka tak malu dengan apa yang mereka lakukan.  Selain itu, mereka make sure memberikan service yang terbaik untuk customer mereka agar mereka kembali lagi. Dengan demikian, saya sebagai customer tak rugi merogoh kocek untuk kinerja mereka bahkan tak enggak memberikan lebih.

Jujur saja, saya suka iri dengan orang-orang yang memiliki keterampilan seperti ini. Entah memotong rambut, memijat, memasak, menjahit, olah raga atau main musik. Mereka menggunakan kreativitas mereka dalam bekerja dan mereka tidak harus bekerja pada sebuah perusahaan, mereka bisa menjadi pekerja lepas di waktu tenggang misalnya dan dapat menggunakan keterampilan mereka di mana saja mereka berada.

Jadi pengen belajar menjahit..

Ride the bus

Catatan: Tentang Bekerja

SONY DSC

Perempuan yang Bekerja [2016:EO]

Sebagai orang yang enggak bisa anteng dan meneng, saya enggak bisa hanya duduk di rumah dan do nothing sebagai ibu rumah tangga. Bahkan, saya enggak pernah berminat atau bercita-cita untuk menjadi a fulltime housewife. Rasanya ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan saya. Apalagi sebagai wartawan, dulu saya selalu bertemu dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya dan mendapatkan ilmu baru dari mereka. Belum lagi pekerjaan saya dalam dua tahun terakhir ini yang benar-benar membuka mata saya sebagai individu dan citizen di sebuah negara. Tetapi tahun ini saya harus mengambil jalan tersebut, menjadi a fulltime housewife.

Kenapa? Well, sebenernya tahun ini saya akan melanjutkan sekolah untuk program Master of Global Affairs selama dua tahun di Munk School, University of Toronto, Canada. Rencananya, sebelum kelas dimulai di bulan September lalu, saya mau mengikuti suami saya ke Dhaka, Bangladesh untuk beberapa bulan. Tetapi saya terpaksa harus menunda program tersebut karena saya hamil dengan due date 10 January 2017.

Enggak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya banyak perempuan hamil yang masih dapat meneruskan sekolah atau pekerjaan selama musim dingin di belahan bumi utara sana. Tetapi saya memilih untuk mundur kali ini. Kenapa? Well, pertama sebagai first time mom,  I don’t know what to expect during the pregnancy dan saya akan sendirian karena suaminya bertugas di negara lain; bayi akan lahir di musim dingin dan I hate winter, the temperature is unbearable for me; dan yang terakhir saya khawatir saya enggak akan fokus dengan kuliah saya karena dua hal tersebut. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, saya memutuskan untuk mengirimkan deferral request email ke mereka. Thanks God, they approved.

So now, what am I going to do in Bangladesh? A new country which I don’t speak its language and can hardly understand its alphabet. Saya mulai stressed. Ada yang bilang “Ya udah sih, mendingan kamu belajar menerima hal tersebut dan nikmatin aja.” atau ada yang bilang “Kamu sih enak, walaupun jobless setidaknya enggak moneyless.” Well, setiap orang kan berbeda-beda. Saya enggak setuju dengan pendapat tersebut. Kenapa? Karena saya belum memenuhi dua kebutuhan dasar saya sebagai manusia sebagaimana dikemukakan oleh Abraham Maslow, yakni ego/harga diri (esteem) dan aktualisasi diri (self-actualization).

Lagipula, apakah hidup ini hanya melulu tentang uang saja? Uang memang penting apalagi kita enggak akan pernah tahu akan apa yang terjadi suatu hari nanti, tetapi saya menyadari bahwa uang enggak membawa kebahagiaan. I can say this because I have been there. Rocking a lot of the high-end fashion designers stuffs and eating in fancy restaurants/bars, yet I was not happy. It does not mean that I don’t like beautiful things anymore but I value things differently. Dan bisa saya bilang, memang jauh lebih menyenangkan apabila kita membeli sesuatu dengan keringat kita sendiri.

Lagipula, sebagai perempuan Indonesia yang melakukan kawin campur, stigma ‘numpang hidup sama mister‘ akan terus melekat pada mereka kecuali mereka bekerja. Lha wong sudah bekerja keras saja masih dilabeli numpang hidup sama mister kok tapi ya itulah manusia.

Saya jadi ingat kata-kata Bapak saya: rumah tangga itu bagaikan gerobak yang ditarik kerbau di mana gerobak akan bergerak lebih cepat jika ditarik oleh dua ekor kerbau ketimbang satu ekor. Selain itu, ketika salah satu kerbau tersebut sakit atau mati, gerobak masih tetap bisa dijalankan meskipun dengan seekor kerbau saja. Dan saya teringat oleh kata-kata tersebut sampai sekarang.

Jujur saja, sita-cita saya, saya enggak cuma bekerja hanya demi uang tanpa menikmati apa yang saya lakukan. Saya ingin mendapatkan pelajaran dari pekerjaan tersebut juga. Dengan begitu, saya akan terus merasa tertantang untuk terus meningkatkan pekerjaan saya dan pengetahuan saya akan sesuatu. Dan tentu saja dengan harapan enggak mengecewakan perusahaan. Selain itu, saya ingin bisa memberikan manfaat terhadap orang lain. Mungkin saya terlalu optimistis, saya lebih memilih untuk bercita-cita tinggi dan terus belajar untuk menggapainya. There is nothing impossible.

Tetapi kali ini, saya harus mengalah untuk sementara hingga saya melahirkan dan mengisi waktu luang saya dengan membaca buku, mendengarkan kuliah umum dari universitas terkemuka melalui podcast, membuat catatan dari kuliah umum dan buku yang saya baca tersebut, olah raga dan belajar memasak. Dengan demikian, saya terus dapat mengekspresikan diri meskipun secara terbatas. Lha wong Mbah Lindu yang sudah 96 tahun saja masih mengekspresikan dirinya kok, masa saya enggak.

Tentu saja ini adalah sebuah pilihan dan setiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda, ada yang memilih jadi fulltime housewife, ada yang memilih untuk terus bekerja, yang penting selama kita bahagia dengan pilihan tersebut, kenapa tidak? Ya toh?

signature

Review: In a Jakarta Prison “Life Stories of Women Inmates”

Judul         : In a Jakarta Prison “Life Stories of Women Inmates”
Penulis     : Sujinah
Penerbit   : The Lontar Foundation, Jakarta, 2000
Halaman  : 172
Bahasa      : English
Harga       : Rp 72.000,00

Neneng, Inah, Leha, Asmi, Nyonya Hamid, Sri, Ita, Genuk, Checkers, Keling, Nyonya Kasim, Nunung dan Lian adalah beberapa nama perempuan yang hidup di balik jeruji besi bersama Sujinah. Sujinah merupakan mantan anggota Gerwani, yang dijebloskan ke dalam penjara pada masa pemerintahan Suharto.

Keberadaan Sujinah dalam rumah tahanan Tangerang agaknya menjadi corong bagi mereka yang selama ini bungkam akan apa yang sesungguhnya terjadi di balik tembok tinggi dengan jeruji besi yang mengungkung para tahanan dalam sel mereka.

Cerita dari Keling misalnya, seorang narapidana yang ditahan karena kelihaiannya sebagai seorang pencopet dari Sungai Ciliwung yang akhirnya tertangkap di Pasar Senen. Tentu saja, bukan karena tanpa alasan akhirnya Keling kembali ke pekerjaanya sebagai seorang pencopet setelah pernikahannya dengan Bopeng, memaksanya untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang pencopet, namun kehamilannya yang menuntutnya untuk hidup sehat, Mak Isah yang butuh perawatan di usiannya yang sudah senja dan Bopeng yang dipenjara, memaksa Keling untuk kembali beraksi. Terdiam, tertunduk dan merenung, sambil tersenyum Keling berkata pada Sujinah, “Isn’t life a bitch?”

Lain pula dengan Nyonya Hamid, seorang nyonya yang hidup dalam kemewahan namun selalu dirundung kesedihan ketika akhirnya ia memutuskan untuk menikahi Hamid, seorang pemuda sederhana dari keluarga sederhana. Kesuksesan Hamid dalam menjalankan bisnis yang telah diajarkan istrinya, kekayaan yang telah melimpah dalam rekening banknya agakanya telah membutakan Hamid, sanga pemuda sederhana yang akhirnya main gila dengan perempuan lain. Kesetiaannya Nyonya Hamid sebagai seorang istri telah dibalas dengan dusta yang begitu menyakitkan hingga akhirnya Nyonya Hamid memutuskan untuk mengakhiri hidup suaminya di suatu sore.

Dua cerita dari Keling dan Nyonya Hamid kepada Ma, begitulah panggilan akrab Sujinah, telah membuka kabut yang membungkus tembok-tembok penjara yang penuh cerita. Pintu penjara yang berada di balik kabut akan selalu terbuka bagi siapa saja yang telah melakukan kejahatan, tak peduli mereka kaya, tak peduli mereka miskin. Terkadang pula, mereka pun, terkadang tak peduli apakah mereka bersalah atau tidak. Yang ada hanyalah cerita yang tak ceritakan kepada masyarakat, kepada dunia tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Keberanian Sujinah dalam menuangkan pengalamannya dalam tulisan memang perlu diacungi jempol. Seorang tahanan politik yang bersuara akan kebenaran yang tak pernah diketahui orang hingga akhirnya dunia mendengar dan mengerti apa yang sesungguhnya terjadi di balik jeruji besi, ketika mereka mendengar kata penjara. Bukan hanya penjahat yang ada dalam penjara namun ada pula korban kejahatan yang dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan.

signature