Tag Archives: pengalaman

Catatan: Simbok

Hampir lima bulan terakhir ini, saya telah menjadi seorang ibu. Hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya satu tahun lalu karena saya terlalu menikmati pekerjaan dan hobi saya. Belum lagi saya berencana untuk meneruskan kuliah di Kanada setelah saya diterima di University of Toronto. Tapi, apa boleh buat. Kata orang yang percaya dengan adanya Tuhan, Tuhan punya rencana lain. Saya hamil dan lahirlah baby A awal Januari lalu, my monkey fire baby.

Meskipun tidak direncanakan, jujur saja, saya sangat menikmati menjadi seorang ibu apalagi setiap kali menyusui. Somehow, it comes across as a very special moment between myself and him. I even often say to myself “I will do anything to make him happy and healthy. I will always be there for him” As they say, breastfeeding helps a mother bonding with their child. So, I guess it is true.

Kalau boleh berterus terang, awalnya menyusui adalah sebuah momok bagi saya. Mengapa? Well, baby A lahir melalui operasi caesar di mana tim dokter harus memberikan bius lokal di tulang belakang. Efek bius tersebut sangat amat mengerikan, saya terus menerus muntah setelah melahirkan. Bahkan saat saya memberikan asi untuk pertama kali, saya pusing tujuh keliling dan muntah. Bayangkan saja, bukannya saya bahagia melihat baby A untuk pertama kali tapi malah muntah-muntah karena efek obat bius tersebut. “What kind of mother am I?” Saya sangat frustrasi kala itu. Sampai-sampai, sambil menangis, saya bilang pada perawat yang membantu saya malam itu “How can I breastfeed my baby if I cannot even sit up right and I continuously throw up?

Tidak hanya efek obat bius saja yang membuat saya takut menyusui tetapi juga my engorged breasts. Pada hari pertama, payudara saya langsung membengkak karena produksi ASI yang cukup tinggi atau oversupply. I did not know whether I should consider that as a blessing or a curse because it was very painful. I even got angry, “Why nobody told me about this horrible breast engorgement?” Well, it’s easier to blame on other people, right? 😁

Kebayang dong, masih dibawah pengaruh obat bius, payudara membengkak dan harus belajar menyusui baby A. It was very stressful and frustrating. Untungnya, dengan sabar para perawat dan konsultan laktasi terus membantu saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar. Tetapi jujur saja, entah mengapa rasanya sulit sekali untuk menyusui saat itu. Bahkan, saking susahnya, setelah pulang ke rumah, saya sampai harus memanggil doula ke apartment untuk kembali mengajari saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar.

Lucunya, meskipun baby A belum punya gigi, saya takut digigit; sehinggasaya pun membeli peralatan perang untuk menyusui mulai dari nipple cream sampai nipple shields yang pada akhirnya pun enggak pernah saya pakai.

Boleh dibilang bahwa setidaknya dua minggu lamanya saya mengalami kesulitan dalam belajar bagaimana menyusui baby A dengan benar tanpa menderita. Bukan cuma itu saja, dalam dua minggu pertama tersebut, saya pun sempat kena mastitis dan harus bolak-balik ke konsultan laktasi di rumah sakit. Thankfully, setelah berbagai kesulitan tersebut selama dua minggu pertama, sekarang baby A langsung ‘nemplok’ tanpa digiring setiap kali mau makan. And, I must say that I do enjoy breastfeeding him. Again, it’s a very special moment especially when he looks at me, smiles at me and hold my shirt so tight as if he doesn’t want to let me go. Bahkan, saya kadang takut kalau nanti dia sudah tidak mau minum susu dari saya. I guess, this is the joy of being a mother.

But yeah, I swear to God, it was very difficult at the beginning. I even thought that nine months of pregnancy was actually way easier than the first three days of being a mother. I vividly remember, there was even a moment where I even had a breakdown and cried “I have never been so dependent like this,” because I could hardly do something, I couldn’t even get a glass of water for myself or just take a look at my phone. 

Anyway, boleh dibilang, meskipun saya sangat menikmati setiap detik menjadi seorang ibu karena bisa terus berinteraksi dengan baby A dan juga melihat perkembangannya, saya juga sangat rindu dunia kerja. Entah mengapa saya jadi merasa sedikit dungu akhir-akhir ini. Oh well, I really need to get the wheels turning either by going back to work or doing some study.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Uang Instan

Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) saat menggelar barang bukti dan tersangka di gedung BNN, Cawang, Jakarta, Selasa (13/11/2012). Selain berhasil mengamankan narkotika jenis shabu seberat 2,5 kg, BNN juga berhasil mengamankan dua box uang palsu dalam pecahan 100 USD dan 100 Euro bernilai milliaran rupiah dari oknum wartawan. Foto: VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

Dua hari yang lalu, saya terkejut membaca sebuah press release yang diterbitkan oleh Mabes POLRI dengan judul ‘Wartawati Terlibat Jaringan Pengedaran Narkoba’ pada hari Rabu, 14 November 2012.

Saya bukan terkejut dengan keterlibatan oknum wartawan dengan jaringan narkoba internasional, namun saya lebih terkejut pada temuan polisi atas dua box besar yang berisi uang palsu dengan pecahan 100 USD and 100 euro dengan kualitas menyerupai uang asli.

Pasalnya, saya pernah berkenalan dengan seseorang yang kemudian menawari saya untuk melakukan ‘bisnis’ uang palsu tersebut. Sebut saja dia Carl. Saya lupa namanya. Kami udah lama enggak berkomunikasi lagi. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi.

Di awal tahun 2011, saya mengenal Carl di salah satu tempat hiburan malam di Jakarta Selatan. Kami berdansa dan kemudian bertukar nomor handphone. Carl adalah seorang warga negara asing, dia sopan dan menarik. Katanya, dia adalah lulusan fakultas hukum di salah satu universitas di Amerika Serikat. Benar atau enggak, saya juga enggak tahu. Tetapi dia terdengar pintar.

Setelah dua minggu kami saling mengenal, Carl mengirim pesan singkat melalui BBM bahwa ia ingin menemui saya untuk menawarkan sebuah bisnis.

“Hum… bisnis? Bisnis apa?” pikir saya.

Singkat cerita, kami pun bertemu di suatu tempat. Carl membawa selembar kertas putih dan beberapa botol cairan. Sim sala bim ….. kertas putih tersebut berubah menjadi satu lembar uang 100 USD.

Saya terkejut. Saya belum pernah melihat hal tersebut. Dan… saya pun penasaran apakah uang tersebut asli atau enggak. Carl menjelaskan bahwa uang tersebut asli, jika saya tertarik… maka saya harus membayar sekitar Rp 300 juta untuk membeli cairan tersebut.

Wow! Saya terdiam! Saya enggak bisa ngomong apa-apa! Saya hanya mengatakan padanya “Let’s see!” dan sejak itu kami enggak lagi berteman.

Anyway, banyak orang mengatakan ‘Jakarta ini kejam bung!’

Ya… enggak heran kalau banyak orang maling, nipu, korupsi, ngebunuh, dan lain-lain hanya demi uang. Manusia lupa nilai-nilai kemanusiaan karena mahalnya biaya hidup di ibu kota ini. Belum lagi dengan gaya hidup hedonis dan kosumtif yang sangat sulit dihindari membuat manusia ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin dengan cara yang instan. Tetapi, mana ada uang instan yang enggak berisiko?!

Sampai detik ini, saya hanya bisa tersenyum mengingat keterlibatan sang wartawati dengan jaringan narkotika internasional sekaligus jaringan pengedar uang palsu.

Untung saja, saya enggak tergiur dengan tawaran ‘bisnis’ yang ditawarkan oleh Carl. Kalau YA, waduh! Bisa-bisa saya kehilangan uang ratusan juta yang bisa saya pakai buat beli rumah atau mobil.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan