Catatan: Pilihan

27336515_10155917153960761_1938783188027321975_n-e1519796007923.jpgMenjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja adalah sebuah pilihan. Tak ada keharusan di mana setelah memiliki anak, ibu harus di rumah. Tak ada keharusan pula bahwa ibu harus bekerja. Semua itu tergantung pada pilihan masing-masing berdasarkan berbagai macam pertimbangan.

Kalau aku, aku memilih bekerja. Menapa? Selain ingin meraih suatu prestasi baik secara finansial maupun kemampuan, aku juga ingin selalu siap jika bencana menimpa. Aku ingat ketika gempa bumi terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006 lalu. Waktu itu, Bapak baru pensiun, aku akan kuliah, adikku masih SMA dan rumah kami rubuh. Ibaratnya sudah jatuh, tertimpa tangga, tercucuk tai kebo. Akhirnya, aku terpaksa memilih kuliah di UGM hanya karena murah (300,000 rupiah saja) padahal aku tak tertarik dengan teknik pertanian. Untung Bapak punya simpanan dan Ibu masih bekerja sehingga kami dapat terus melanjutkan kehidupan kami meskipun dengan berbagai macam adjustment. Termasuk pindah ke universitas lain, mengambil jurusan yang aku sukai.

Itulah sebabnya mengapa aku pikir penting kiranya untuk berpendidikan tinggi dan bekerja meskipun aku menjadi ibu apalagi mengingat betapa peliknya kompetisi di dunia kerja di era modern ini. Jika terjadi sesuatu, aku sudah siap. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, serangan terorisme, penyakit akut atau kecelakaan dapat menimpa siapa saja dan kapan saja. Pengalaman mengajarkanku bahwa aku harus selalu siap. Seperti Bapak selalu bilang “Sebuah gerobak lebih baik ditarik dua kerbau daripada satu. Kalau satu kerbau sakit atau mati, setidaknya gerobak masih bisa terus berjalan,” dan itulah pilihanku.

Ride the bus

Catatan: Tentang Mendidik Anak

Jujur saja, saya bukan pecinta anak kecil. Biasanya saya cenderung cuek kalau ada anak kecil di sekeliling saya, mau anak temen atau bahkan saudara, saya cenderung tidak tertarik untuk berinteraksi dengan mereka.

Apalagi yang aleman atau suka cari perhatian. Kalau terpaksa harus berinteraksi, saya pasti kaku dan ingin cepat-cepat menghindar. Buang-buang waktu pikir saya. Tetapi beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan anak kawan saya.

Usianya 8 tahun, keturunan Yahudi. Dia sangat, sangat, sangat cerdas dan pintar. Dia lebih tahu nama jalan dan juga jalur streetcar plus subway di Toronto ketimbang orang tuanya. Dia juga hapal nama negara dan ibu kota nya di seluruh dunia. Bukan cuma itu saja, dia tahu ongoing war/ konflik di negara tersebut. Intinya, dia tahu lebih banyak ketimbang saya yang orang dewasa. Belum lagi dia bisa bernarasi dengan cara yang apik tentang pengetahuannya tersebut. 

Saya tanya pada orang tuanya, kok bisa printer banget sih? Ternyata di dapur di mana mereka makan, si orang tua memasang sebuah atlas karena memang orang tuanya suka traveling. Dari kecil, kedua anaknya selalu bertanya tentang negara-negara di dalam peta tersebut dan bertanya ada apa di sana sehingga mau enggak mau orang tua pun harus belajar lagi.

Saya takjub sekali dengan cara kawan saya mendidik anak mereka, mereka dibekali ilmu pengetahuan sejak kecil dengan berbagai cara sederhana termasuk memasang atlas di dapur, membelikan ensiklopedia dan juga jalan-jalan ke museum.

Ride the bus

Catatan: Berpendapat

Saya ini… payah! Sejak duduk di bangku sekolah lalu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya selalu takut untuk berpendapat. Saya takut kalau saya salah. Saya takut kalau pendapat saya bodoh. Dua hal tersebut membuat saya cenderung mengunci mulut saya di tengah-tengah diskusi dengan topik menarik. Padahal apa salahnya kalau kita salah, apakah pendapat mereka sudah pasti benar? Lalu kenapa saya berkecil hati…?!

Mungkin karena saya merasa jelek, item, kriting dan krempeng. Kombinasi ideal untuk menjadi jelek untuk masyarakat kita yang mengidealkan bahwa cantik itu, putih, kurus dan berambut lurus panjang. Dari situ, saya kerap berpikir bahwa saya takut untuk diejek. “Udah jelek, bodoh pula!“. Enggak tahu kenapa hal tersebut menjadi suatu masalah besar bagi saya.

Tetapi kebiasaan saya menulis buku harian sejak kecil membuat saya berani berpendapat melalui tulisan. Dari buku harian yang sifatnya pribadi, saya menemukan internet forum lalu kemudian blog saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas (2003/2004).

Waktu itu, internet masih merupakan barang mahal. Untuk mengakses internet, saya harus ke internet cafe dan mengeluarkan Rp 4,000 per jam untuk dapat mengakses internet. Di situ saya menemukan dunia saya, saya bisa berpendapat tanpa orang tahu bagaimana bentuk muka saya, warna kulit saya atau jenis rambut saya. Saya enggak takut diejek karena penampilan fisik saya yang jauh dari definisi cantik.

Toh, orang enggak bisa melihat foto diri saya. Maklum waktu itu kamera digital belum terlalu populer untuk mengambil foto diri ribuan kali. Apalagi  foto selfie, istilah itu pun sepertinya belum ada. Kalau mau foto masih pakai roll film atau harus ke studio atau photo box.

Tahun 2005, saya pun menemukan multiply.com. Saya kembali menemukan ruang di mana saya bisa berbagi tentang berbagai macam hal, mulai dari catatan harian pribadi, pendapat saya tentang topik hangat, foto atau musik. Saya pun membangun pertemanan virtual dengan orang-orang yang sama sekali enggak saya kenal.

Meskipun pertemuan hanya terjadi secara virtual saja tapi saya merasa tahu mereka dari tulisan mereka atau postingan mereka. Ada yang suka traveling, ada yang suka memasak lalu berbagi resep makanan. Ada yang suka nonton film, ada juga yang suka photography. Ada yang suka politik, ada juga yang suka belajar bahasa dan budaya.

Bisa dikatakan bahwa berbagai macam diskusi tentang ide dan pikiran pun terbangun di antara para blogger. Yang menarik adalah enggak ada yang 100% benar atau 100% salah. Bahkan, seingat saya jarang netizen yang sangat amat defensive waktu itu atau saya jarang menemukan akun bodong yang bertujuan untuk menipu atau menyerang pihak-pihak tertentu.

Bukan hanya itu, saya pun bisa belajar dari orang lain apalagi kebanyakan dari para blogger tersebut, usianya jauh lebih tua dari saya, jadi mereka sudah banyak makan garam. Saya belajar bahwa pikiran orang itu macam-macam, saya belajar untuk memberi kesempat orang lain untuk berpendapat dan menghargai pendapat orang lain sekalipun saya enggak setuju.

Pada tahun 2006/2007, saya mulai bertemu dengan mpers (blogger pengguna multiply) di Yogya. Pertemanan terbentuk, meskipun kemudian kami jarang bertemu. Belum lagi multiply yang kemudian berubah menjadi e-commerce platform, lalu almarhum alias tutup. Walhasil  saya jarang ngeblog dan berinteraksi dengan kawan-kawan blogger.

Jujur saja, meskipun saya sudah blogging selama satu dekade, saya masih takut membuka mulut saya untuk berpendapat di tengah orang-orang yang enggak saya kenal dekat. Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau saya terdengar bodoh?  Bahkan sebagai kuli tinta, saya lebih memilih melakukan ‘wawancara ekslusif’ dengan narasumber karena saya enggak akan terlihat bodoh di mata orang lain. Payah sekali! Ya…. saya ini payah!

Saya iri dengan mereka yang berani mengungkapkan pendapat tanpa takut mereka salah. Saya iri dengan mereka yang cenderung lantang dan berpikir kritis dalam berdiskusi.

Hal ini membuat saya bertanya, apakah ketakutan saya ini karena saya orang Jawa dan cenderung nrimo? Kalau itu sih enggak ada hubungannya! Atau apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari dunia pendidikan kita yang enggak mengajarkan siswa untuk berdiskusi sejak dini? Apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari pendidikan kita di mana guru atau dosen HARUS digugu dan ditiru serta selalu benar karena mereka adalah guru? Well bisa jadi. Dan ini harus diubah agar siswa enggak takut berpendapat dan dapat membangun diskusi yang kritis di kemudian hari.

Ride the bus