Catatan: Lebaran Kuda?

Pasti udah banyak yang tahu dong kalau beberapa hari terakhir ini Lebaran Kuda jadi trending topic di kalangan pengguna sosial media di Indonesia. Kok bisa? Jadi Rabu lalu (2 Nov), Pak SBY mengadakan konfrensi pers Puri Cikeas mengenai rencana demonstrasi tgl 4 November dan dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Dalam konpres tersebut Pak SBY menghimbau agar Ahok diproses hukum sehingga jangan sampai ada tudingan Ahok kebal hukum. Lebih lanjut, jika pemerintah dan penegak hukum mengabaikan the-so-call aspirasi massa maka demonstrasi akan terus ada. “Sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa. Ini pengalaman saya,” begitu kata Pak Beye. Tapi, apa sih “lebaran kuda” itu?

Jadi menurut salah satu pengguna twitter Abi Hasantoso dengan @thereal_abi, ia menjelaskan bahwa  ungkapan Betawi untuk sesuatu yang tak akan bisa diwujudkan. Jadi SBY benar. Demonstrasi tak akan berhasil kalau niatnya buruk.

Tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kata ‘lebaran’ adalah “hari raya umat Islam yang jatuh pada tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri“. Lebih lanjut, KBBI online menunjukkan adanya dua lebaran “Lebaran Haji dan Lebaran Besar” namun tidak ada “Lebaran Kuda”.

Jadi apakah bisa SBY dianggap menistakan agama dengan menggunakan istilah “Lebaran Kuda” atau kebal hukum? (http://kbbi.web.id/Lebaran)

Ride the bus

Catatan: Tanpa Judul

Enggak usah heran kenapa Pilkada Jakarta mainnya kotor banget. Pendapatan daerah Pemprov DKI Jakarta tahun 2015 aja mencapai 44.20 Triliyun Rupiah. Provinsi mana coba yang bisa mendapatkan pendapatan sebesar itu? Jelaslah jadi rebutan. Buat saya, when it comes to politics, it is rarely about serving the society but about how they can get a slice of the political pie. Pilkada Jakarta menjadi topik yang sangat menarik karena ibu kota negara Republik Indonesia, sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Muslim, dipimpin oleh tokoh dari kelompok minoritas, Tionghoa dan Kristen.

Sebagaimana kita tahu bahwa Javasentrisme yang dimiliki oleh masyarakat dan/ atau politisi Indonesia itu masih tinggi banget. Pasti banyak yang masih ingat bahwa jaman Soeharto dulu, selain Indonesia dikuasai dan dipimpin oleh militer, Indonesia juga dikontrol oleh orang-orang dari Jawa Tengah selama 32 tahun lamanya. Bahkan menurut beberapa studi, peristiwa Malari pada tahun 1974 diduga dimotori oleh beberapa jendral dari Jawa Timur yang cemburu dengan jendral berasal dari Jawa Tengah karena selalu mendapatkan kepercayaan dari Soeharto.

Setelah turunnya Soeharto, militer mulai kehilangan kontrol atas negara Indonesia. Indonesia mulai dipimpin oleh masyarakat sipil termasuk Habibie, Gus Dur dan Megawati. Namun hal tersebut enggak berlangsung lama, tokoh militer kembali memimpin Indonesia dan kali ini berasal dari Jawa Timur. Bukan hanya itu saja, tokoh tersebut bisa dibilang outsider, enggak berbau Cendana apalagi Soekarno dan sosok tersebut adalah Susilo Bambang Yudhoyono. SBY berhasil mengambil hati masyarakat Indonesia selama dua kali pemilu dan mempimpin Indonesia selama 10 tahun lamanya. Sayangnya perjalanan karir politik enggak mulus sama sekali di mana Parta Demokrat yang ia dirikan mengalami kejatuhan secara perlahan-lahan termasuk dengan kekalahan Fauzi Bowo dari Partai Demokrat di Pilkada Jakarta 2012 dan kekalahan Partai Demokrat di pemilu 2014 lalu. Namun sayangnya setelah 10 tahun berkuasa, SBY sepertinya kurang menikmati rasanya menjadi rakyat biasa apalagi kali ini yang berkuasa adalah lawan politiknya.

Nah di Pilkada DKI Jakarta kali ini, saya kaget waktu membaca berita bahwa Partai Demokrat mengeluarkan pernyataan bahwa Partai Demokrat ingin agar DKI Jakarta dipimpin oleh sosok yang lebih baik dari Ahok. Kagetnya kenapa? Berita tersebut terdengar seolah SBY membenci Ahok. Tapi apa dosa Ahok pada Partai Demokrat dan SBY? Saya bisa paham sih kalau Prabowo dan Gerindra dendam dan marah pada Ahok karena Prabowo merasa ‘habis manis sepah dibuang’. Nah, kalau Ahok sama SBY? Kok kayaknya benci sampai ke ubun-ubun. Ada apa ya kira-kira?

Bisa jadi, SBY adalah satu politisi yang belum bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh orang di luar militer, di luar ‘Jawa’ dan di luar ‘Islam’. Mungkin beberapa politisi masih bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh masyarakat sipil selama dia Jawa dan Islam. Tapi kalau Tionghoa dan Kristen, banyak orang yang masih kalang kabut dan hal ini menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia yang sebenarnya mentalnya masih terjajah. Sebagaimana dituliskan dalam buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group”, sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Sayangnya, meskipun Indonesia merdeka, hal tersebut masih terus tertanam di kalangan masyarakat Indonesia hingga hari ini.

Oleh karena itu, kalau tokoh dari kelompok minoritas bisa memimpin ibu kota negara Republik Indonesia, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari Indonesia akan dipimpin oleh tokoh dengan latar belakang yang sama (kelompok minoritas) karena masyarakat mulai menilai pemimpin dari kualitasnya dan bukan bungkusnya saja. Tentu saja, orang-orang yang masih menganut Java sentrisme tentu enggak suka dengan hal ini. Hence, they will do anything necessary untuk menjegal orang-orang yang bukan Jawa dan bukan Muslim untuk memimpin Indonesia dan dicintai oleh masyarakatnya. Tapi… namanya juga politik. Isu beginian akan terus dimanfaatkan oleh para politisi yang menginginkan kekuasaan. Apalagi kalau masyarakatnya kurang berpendidikan dan enggak kritis. Laku deh isu beginian. Ya kan?

Masih ingat kasus Antasari Azhar kan? Kalau  Antasari, yang diduga punya bukti kuat kecurangan Pilpres 2009 saja bisa berakhir di penjara dengan vonis 18 tahun penjara (lebih ringan dari tuntutan JPU yang menginginkan hukuman mati), maka cara yang serupa pun dapat dilakukan terhadap Ahok dengan skenario yang berbeda. Ya toh?

FYI, Antasari yang divonis 18 tahun penjara pada tahun 2010 lalu akan akan bebas bersyarat pada tanggal 10 November nanti.

Ride the bus

Catatan: Masih Terjajah

Dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini, lagi-lagi kita disuguhi sentimen anti-Cina. Saya selalu penasaran kenapa banyak masyarakat kita yang tidak menyukai etnis Tionghoa? Apa salah mereka? Saya mendapatkan pencerahan dari buku yang saya baca “Liem Sioe Liong’s Salim Group”.

Dalam buku tersebut, penulis mencatat analisis Pramoedya Ananta Toer tentang sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Padahal sebenarnya imigran China sudah datang ke Sumatera sejak tahun 942, mereka berintegrasi dengan masyarakat setempat, memperkenalkan alat pertanian moderen guna menyempurnakan teknik pertanian yang sudah ada dan masyarakat tidak pernah memiliki masalah dengan mereka sama sekali. Kedekatan dan pertumbuhan jumlah imigran China itulah yang menjadi momok bagiBelanda, maka sejak itu Belanda mulai membuat peraturan yang diskriminatif bagi komunitas Tionghoa, termasuk membatasi jumlah imigran China ke Hindia Belanda. Sayangnya sentimen anti China tersebut tidak berakhir dengan berakhirnya penjajahan Belanda, justru dilestarikan dan terus diterapkan oleh Pemerintah Indonesia yang katanya merdeka dari masa ke masa. Akhirnya masyarakatpun sudah terbiasa untuk ‘membenci’ komunitas Tionghoa

Benar kata Pram di tetralogi Bumi Manusia, orang Indonesia tidak pernah memiliki dan memegang teguh nilai dan prinsip mereka sendiri; alhasil baik Pemerintah (dulu berupa kerajaan) dan rakyat mudah dipengaruhi oleh nilai dan budaya luar. Hal ini dapat dilihat dari perubahan agama di nusantara dari abad ke abad. Ada saudagar Hindu masuk, kerajaan di Nusantara mulai menganut Hindu; Budha masuk, mereka berubah menjadi Buddha; Islam masuk mereka berubah menjadi Islam dan seterusnya. Agama-agama tersebut diadopsi oleh kerajaan (Pemerintah) dan digunakan untuk mengontrol masyarakatnya.

Dari dua poin tersebut, nampak jelas bahwa penggunaan isu SARA terutama agama dan golongan dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini menunjukkan pada kita bahwa kita masih terjajah secara pikiran dan belum dewasa dalam berdemokrasi. Entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi di Indonesia. Sangat disayangkan.

Ride the bus

Catatan: Mabok Agama

Enek enggak sih baca postingan di sosial media yang selalu berkaitan dengan agama? Mulai dari kasus pelecehan seksual, perempuan bekerja dan laki-laki menjadi bapak rumah tangga, orientasi seksual sampai ke urusan politik. Dari urusan selakangan sampai jabatan. Entah makin banyak orang yang mabok agama, entah karena hal ini semakin terkekspos oleh media massa serta media sosial atau mudahnya distribusi informasi hari ini.

Bagi orang yang mempelajari ilmu sosial, pasti banyak yang tahu bahwa agama adalah sebuah bentuk konstruksi sosial yang disusun oleh kelompok tertentu dengan cerita masing-masing. Di mana, bisa jadi kebenarannya bisa dipertanyakan. Meskipun demikian, saya percaya agama apapun memiliki pesan moral yang berguna bagi keharmonisan hidup manusia dan alam semesta. Sayangnya, pesan moral tersebut belum tentu dapat dipahami oleh penganutnya secara menyeluruh. Belum lagi, banyak penganut agama (enggak semua) yang cenderung memilih mendengarkan ceramah pemuka agama saja ketimbang mempelajari agama tersebut secara konstruktif sehingga mereka memiliki tafsiran atau intepretasi yang berbeda-beda satu sama lain. Alhasil, banyak dari mereka yang menjadi fanatik dan suka memaksakan kepercayaan mereka terhadap orang lain dengan harapan bisa masuk surga, sebuah tempat imajiner.

Selain itu, manusia yang katanya makhluk paling sempurna dengan akal, budi dan pikiran tersebut dapat dipecah-belah dengan agama yang notabene merupakan produk konstruksi sosial ciptaan manusia tersebut. Jangankan memecah-belah masyarakat yang berskala besar, agama bisa juga memecah-belah keluarga termasuk hanya karena salah satu anggota keluarga berganti ke agama tertentu, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan orang yang berbeda agama, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan cara agama lain demi kemudahan, dsb. Sebagaimana dikatakan oleh filusuf asal Skotlandia David Hume di mana agama bukan merupakan hasil dari buah pikiran/logika/nalar melainkan perasaan, oleh karena itu enggak ada gunanya untuk beradu dengan penganutnya apalagi yang fanatik. Yang ada malah jadi debat kusir.

Saya jadi teringat cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis tentang Ajo Sidi, pembual desa yang juga merupakan pekerja keras, yang menceritakan kisah Haji Saleh yang rajin beribadah namun tidak masuk surga. Pertama kali saya membaca cerpen tersebut waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya membacanya berulang kali. Akhirnya saya paham bahwa orang boleh saja beriman namun jangan lupa berperikemanusiaan, dengan berperikemanusiaan orang akan lebih mudah masuk surga ketimbang hanya rajin berdoa. Saya pun kemudian melihat di sekeliling saya, saya melihat contoh nyata yang membuat saya enek dengan agama. Misalnya orang yang rajin beribadah tapi berkata-kata menyakitkan terhadap seorang yatim piatu; saudara kandung yang mengejek saudara kandungnya karena memakai kerudung di tengah keluarga Kristiani yang tengah dirundung suasana duka; seorang kriminal yang menjustifikasi perbuatan kriminalnya dengan ayat kitab suci atau seorang pegawai negeri yang tidak dapat menduduki jabatan tertentu hanya karena berbeda agama.

Dari tahun ke tahun saya melihat hal tersebut dari skala kecil sampai besar, saya pun memutuskan untuk tidak beragama tapi saya percaya adanya the higher power. Kenapa? Meskipun saya dulu anak IPA, saya malas untuk mempelajari Big Bang Theory tentang asal-usul semesta atau kemungkinan manusia itu sebenernya berasal dari planet Mars dari kehidupan sebelum planet Mars mengalami doomsday. Males bangetkan mikirnya? Anyway, untuk apa kita beragama tapi tidak bisa memperlakukan sesama manusia dengan semestinya. Itu gila! Tentu saja, itu semua pilihan masing-masing.
 
Ride the bus

Catatan: Tentang Identitas

Beberapa waktu yang lalu, saya bertanya pada supir saya mengenai etnisitasnya. Dia menjawab bahwa dia adalah seorang Muslim. Saya bertanya ulang. Dia tetap menjawab hal yang sama. Saya kembali bertanya sekali lagi dan menjelaskan pertanyaan saya.
No, I am not asking about your religion but your ethnicity. I mean, some people are Garo, some Chakma, what about you?
Dia masih memberikan jawaban yang sama. Saya pikir, mungkin hal tersebut dikarenakan keterbatasan pemahaman bahasa. Saya tidak meneruskan pertanyaan saya. Padahal saya sangat penasaran. Kenapa? Karena saya mengenal orang Bangladesh yang memiliki ciri fisik yang sama dengannya (berkulit hitam legam dan hidung mancung) tetapi dia beragama Hindu. Meskipun demikian, saya anggap jawabannya cukup menarik di mana dia lebih menidentifikasinya dirinya dengan aliran kepercayaanya atau agamanya, ketimbang suku atau pekerjaanya.

 

Bangladesh merupakan sebuah negara kecil yang terletak di antara India dan Myanmar. Bangladesh yang memiliki luas wilayah sebesar 130,168 km2 diperkirakan memiliki jumlah penduduk sebanyak 168 juta jiwa per  tahun 2015. Dari jumlah penduduk yang hampir mencapai 170 juta jiwa tersebut 98.5 persen berasal dari suku Bengali, sedangkan sisanya berasal dari suku Garo, Chakma, Santhal, Biharis, Mundas dan juga Kasi. Dari setiap suku tersebut, asosiasi terhadap aliran kepercayaan atau agama berbeda satu sama lain. Misalnya, mayoritas suku Bengali merupakan pemeluk agama Islam; sedangkan mayoritas suku Chakma merupakan pemeluk agama Buddha, mayoritas suku Manipuri beragama Hindu sedangkan mayoritas suku Garo merupakan pemeluk agama Kristiani

Sebenarnya, hal ini tidak jauh berbeda dengan Indonesia, salah satu agama cenderung menjadi mayoritas di suatu tempat. Di Bali misalnya, mayoritas penduduknya merupakan pemeluk agama Hindu sedangkan di Flores, mayoritas penduduknya merupakan pemeluk agama Katholik. Tetapi yang membedakan antara orang Indonesia dan Bangladesh adalah bagaimana masyarakat Indonesia mengidentifikasi diri mereka, di mana orang Indonesia  lebih cenderung mengidentifikasi dirinya dengan sukunya ketimbang agamanya.

Hal ini benar-benar menarik perhatian saya tentang bagaimana seorang warga negara menidentifikasi dirinya, apakah berdasarkan negara asalanya, agamanya, pekerjaanya atau kesukuannya. Dari semuanya itu, mana yang lebih berbahaya bagi kehidupan manusia? Lalu, siapa yang berperan besar dalam menanamkan identitas tersebut dalam diri seorang warga negara? Apakah pemerintah memiliki peran di dalamnya?

Menurut saya, tentu pemerintah memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk identitas warga negaranya. Sebagai orang Indonesia, kita beruntung karena Bapak negara kita mengakui keberagaman suku, ras, agama dan budaya oleh karena itu kita memiliki slogan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu juga”. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini, banyak gerakan Islam transnasional yang mencoba menghasut masyarakat Indonesia untuk melupakan suku dan rasnya apalagi 85 persen penduduk Indonesia merupakan pemeluk agama Islam. Akan sangat disayangkan apabila masyarakat mulai cenderung mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pemeluk agama tertentu ketimbang kesukuaanya.

Dan sayangnya, hal tersebut sudah mulai terjadi. Hal ini dapat dilihat dari sebuah  blog berjudul “Membaca Persepsi Jurnalis terhadap Agama (Islam)” oleh Suhadi Cholil, dosen Prodi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM. Suhadi menuliskan bahwa hasil survei yang dilakukan Yayasan Pantau pada tahun 2012 terhadap 600 wartawan di 16 propinsi. Hasil survei tersebut menunjukkan kecenderungan wartawan Indonesia yang menidentifikasi diri sebagai Islam daripada sebagai Indonesia. Tentu saja, hal ini akan berimplikasi terhadap pemberitaan di media massa dan mampu mengiring opini publik.

Padahal, perlu diketahui bahwa banyak tokoh intelektual Bangladesh yang mengapresiasi Indonesia dalam menjaga keharmonisan masyarakat di tengah perbedaan latar belakang masyarakatnya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat luar cenderung hanya melihat Indonesia dari kulitnya saja. Agaknya, pemerintah Indonesia perlu benar-benar bertindak tegas menangkal penyebaran ideologi radikal yang akan mengubah cara berpikir masyarakat kita serta citra Indonesia sebagai negara pluralis; sehingga apa yang selama ini dikampanyekan pada masyarakat internasional bukan hanya sekedar retorika belaka atau pencitraan dan benar-benar mampu menanamkan keharmonisan di antara masyarakat Indonesia sendiri.

Ride the bus

Catatan: Tentang Nama

Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang bingung mikirin nama anak. Saya enggak mau nama yang hanya sekedar keren tetapi nama yang punya arti dan makna. Apalagi kata orang, nama adalah doa. Ya toh? Setelah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mencari nama, saya baru menyadari bahwa mencari nama itu susah apalagi kalau sudah memiliki berbagai macam syarat.

Yang pertama, saya enggak mau kasih nama yang kebarat-baratan. Kenapa? Masak anak hasil kawin campur namanya barat banget, identitas emaknya dikemanakan? Belum lagi nama barat seperti Richard, James, John atau Kevin pasti sudah dipakai oleh sejuta umat. Enggak unik dong apalagi kreatif. Ya kan? Nah berhubung saya enggak punya nama keluarga maka saya memutuskan untuk menggunakan nama keluarganya. It is a form of compromise. Dengan demikian unsur barat sudah ada, tinggal mencari unsur Indonesia.

Yang kedua, nama dengan arti. Awalnya saya pengen kasih nama anak dengan bahasa Yahudi. Huh, Yahudi? Kamu kan bukan orang Yahudi? Hubungannya Yahudi sama Indonesia apa? Enggak ada sih. Cuman karena saya keranjingan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Israel, saya ingin menamai anak saya dengan bahasa Yahudi.

Tapi… ternyata eh ternyata, setelah saya melakukan desktop research, kebanyakan nama bayi dengan bahasa Yahudi seperti nama orang Kristiani. Belum lagi, arti nama Yahudi selalu berkaitan dengan cerita dalam alkitab yang bisa jadi hanya sekedar dongen belaka. Namanya juga tulisan manusia. Sedangkan saya enggak mau anak saya diidentikkan sebagai orang Kristiani atau agama apapun. Oleh karena itu, saya buang ide tersebut.

Beralihlah saya ke Bahasa Sansekerta dan Jawa Kawi. Setelah melakukan riset, akhirnya saya menemukan nama tersebut. Artinya pun tidak terlalu berat untuk disandang dan cukup humanis. Enak pula didengar di telinga dan mudah untuk dieja. Sepertinya belum banyak yang menggunakan. Tapi masih rahasia ya…. 🙂 Nah sekarang adil dong, nama depan Jawa Kawi, nama belakang nama barat.

Sayangnya perdebatan enggak berhenti sampai di situ saja. Kami masih dipusingkan dengan nama panggilan, kalau dia sekolah di Indonesia atau sekitar Asia, mungkin namanya akan mudah dieja oleh kawan-kawannya. Lalu bagaimana kalau kami ke negara barat? Bukankah nama tersebut akan jadi bahan ejekkan atau bullying di sekolah.

O boy… here comes a problem!

Mungkin karena saya enggak pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar di negara barat maka saya enggak paham dengan masalah tersebut dengan baik. Padahal saya sendiri selama ini mengalami kesulitan ketika saya memberi tahu nama saya. Jangankan di negara orang, di negara sendiri pun orang kerap salah mengeja nama saya. Oktofani jadi Oktafani atau Oktaviani atau Oktapani. Saya pun sebenarnya kerap kesal tetapi saya enggak mau ambil pusing. Tapi kan beda cerita kalau hal tersebut terjadi pada anak kecil dan bagaimana kalau jadi bahan bullying?! Apalagi isu school bullying sudah di level yang cukup mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Doh! 

Well, di era globalisasi ini, banyak orang yang bermigrasi. Banyak negara yang perlahan berubah menjadi country of immigrant. Dengan demikian, banyak institusi pendidikan yang memiliki nama murid dengan bahasa negara asal dong. Misalkan saja, orang India atau China. Mereka yang terkenal sebagai immigrant. Komunitas mereka ada di mana-mana dan kebanyakan dari mereka masih menggunakan nama dengan bahasa mereka. Melihat hal tersebut, saya lihat sepertinya enggak masalah kok.

Nah kata orang, di era globalisasi seperti sekarang ini dan sebagai ‘global citizen‘, lebih baik jangan memberi nama berbau etnis, kasihan nantinya, kasihlah nama yang familiar di telinga orang, nama yang internasional. Yaelah, kalau begitu nama barat dong?! Kalau begitu kita dipaksa untuk menanggalkan identitas kita dong?! Apakah berarti globalisasi sama dengan westernisasi?

Oh well, rempong amat ya?! Ternyata memberi nama anak enggak semudah membuatnya sodara-sodara. 

Ride the bus

Kitchen: Ayam Betutu Gilimanuk

Ayam Betutu Gilimanuk [2016:EO]

Ayam Betutu Gilimanuk [2016:EO]

One of my favorite chicken dish is Ayam Betutu Gilimanuk, it is a Balinese spiced roasted chicken which is served with boiled spinach water (kangkung), fried peanuts, Balinese raw chili (sambal matah) and plain white rice. I must say that I had it quite regularly when I lived in Jakarta because it is very tasty and filling. When I lived in Jakarta, I normally went to Ayam Betutu Gilimanuk in Jalan Wolter Mongisidi, Kebayoran Baru which was close to both my office as well as my home. I never tried to make one at home. However, since I got pregnant and have been craving for various Indonesian cuisines including Ayam Betutu Gilimanuk, I decided to give a shot and the result is pretty good. It is very easy but it takes sometimes.

Ingredients 

  1. 1  whole chicken
  2. 2  stems of lemon grass (crush)
  3. 2  bay leaves
  4. 1 large banana leaves to wrap the chicken
  5. aluminium foil
  6. 80 ml of vegetable oil
  7. 15 chili
  8. 4 cm of fresh ginger
  9. 4 cm of fresh turmeric (roasted)
  10. 4 cm of fresh galangal
  11. 2 stems of lemon grass (chopped)
  12. 10 shallots
  13. 6 garlic
  14. 4 candlenut
  15. 1 tsp of coriander seed
  16. 4 kaffir lime leaves
  17. 1/2 tsp black-pepper
  18. 2 tsp salt

Ingredients for Sambal Matah 

  1. 2  garlic (finely chopped)
  2. 8 shallot (finely chopped)
  3. 1/2 tsp of dried shrimp paste (quickly grilled)
  4. 10 red chilli (finely chopped)
  5. 2 stems of lemon grass (finely chopped)
  6. 2 kaffir lime leaves (finely chopped)
  7. 1/2 tbs sugar
  8. 1/2 tsp salt
  9. 1 tbs lemon juice
  10. 3 tbs coconut oil

Directions:

  1. Wash the chicken, pat it dry and place it aside;
  2. Seasoning paste: In food processor, process chili, ginger, turmeric, galangal, lemon grass, shallot, garlic, candlenut, coriander seed, kaffir lime leaves, blackener and salt until finely ground;
  3. In frying pan, heat the vegetable oil over medium heat, add the seasoning paste and cook it for 4 minutes;
  4. Over banana leaves, place the chicken and spread the cooked seasoning paste evenly over the chicken, including inside the chicken;
  5. Wrap in banana leaves and wrap it again in aluminum foil;
  6. Steam the chicken over medium-high heat for 2 hours;
  7. After being steamed, roast the chicken at 185 C for 2 hours.
  8. Sambal Matah: place all sambal matah ingredients into a small bowl and mix it together; heat the coconut oil over medium heat for 3 minutes; pour the heated coconut oil into the mixed ingredients and stir it all the ingredients well.
  9. Serve Ayam Betutu Gilimanuk with plain rice, sambal matah, fried peanuts and boiled spinach water.

Happy cooking!

Ride the bus

Kitchen: Veggie Egg Noodle

Homemade Veggie Egg Noodle [2016:EO]

Homemade Veggie Egg Noodle [2016:EO]

Noodle has always been my favorite food because it is quite light and filling at the same time. However, I must say that I am not really big fans of instant noodle. I don’t deny that I eat it sometimes because they taste very good but whenever I eat instant noodle, I often feel sick (throwing up). Therefore, sometimes I like to make my noodle bowl with vermicelli noodle or egg noodle as soup or stir fried. So today, I would like to share the recipe of Veggie Egg Noodle. It is very easy.

Ingredients:

  1. 300 gr of thin egg noodle
  2. 2 stem of green onion
  3. 1/2 chicken breast
  4. 100 gr of pak choi
  5. 1 carrot (thinly slice into matchstick)
  6. 4 shallot
  7. 3 cloves of garlic
  8. 1 tsp white paper
  9. 1 tsp salt
  10. 3 cloves of candle nut
  11. 1 tbs vegetable oil
  12. 2 tbs of sweet soy sauce
  13. 3 tbs of salted soy sauce
  14. 2 tbs of oyster sauce

Steps

  1. Place the thin egg noodle into a large bowl, pour boiling water over the noodle and let it sit for 6 minutes until the noodle are soft. Drain and pat it dry;
  2. As the noodle get cold, mix the noodle with sweet and salted soy sauce as well as oyster sauce until the noodle are coated entirely;
  3. Place shallot, garlic and candlenut into food processor; pulse it until it become paste;
  4. Heat the vegetable oil in a large frying pan and add the spiced paste into the pan for 2 minutes;
  5. Place the noodle into the pan and mix it spiced paste;
  6. Add chopped pak choi, carrot, salt as well as white paper;
  7. Stir all the ingredients for 5 minutes;
  8. Transfer the stir-fry noodle into a serving dish and serve it immediately while it is hot.

Ride the bus

Kitchen: Soto Ayam

Soto Ayam [2016:EO]

Soto Ayam [2016:EO]

Soto is one of Indonesian version of soup with spiced chicken or beef broth. It is normally served with hard boiled egg, rice, thin vermicelli noodle, fried shallot, chopped celery leaves, lime and sambal. There are many version of Indonesian soto, it depends on the place of origin. The differences normally can be seen through the type of broth, coconut milk broth or clear broth, as well as the type of meat which can be chicken, beef as well as offal.

I believe that there are more than 10 type of Indonesian soto. Those are including Soto Betawi with beef and coconut milk based broth, Soto Lamongan, Soto Kudus, Soto Mie Bogor, Soto Sulung Surabaya and also Soto Banjar. And today, I would like to share the recipe of Soto Ayam Yogya.

Ingredients: 

  1. 2 stalks of fresh lemon grass – crush
  2. 6 pieces of kefir lime leaves
  3. 3 pieces of bay leaves
  4. 5 pieces of candlenut (kemiri)
  5. 5 pieces of garlic
  6. 6 pieces of shallot
  7. 5 cm of turmeric
  8. 5 cm of  ginger (crush)
  9. 5 cm of galangal (crush)
  10. 1 tsp of  ground black pepper
  11. 1 tsp of coriander seeds
  12. 2 tbs of salt
  13. 1 tbs of sugar
  14. 1 chicken breast with bone
  15. 1 thin vermicelli noodle
  16. 1 cup of chopped celery celery
  17. 1.5 L of water
  18. 3 pieces of hard boiled egg
  19. 2 cup of bean sprout
  20. 2 cup of chopped white cabbage
  21. 1 lime  (slice it)
  22. 2 tomato (slice it)
  23. Chopped chilli

Soto's spices and herbs [2016:EO]

Soto’s spices and herbs [2016:EO]

Steps

  1. Place chicken in a saucepan. Add water, lemon grass, kefir lime leave, bay leaves, galangal and coriander seed.  Boil the chicken over medium-high heat. Reduce to medium-low heat. Cover and simmer it for 15 minutes;
  2. Place turmeric, ginger, shallot, garlic and candle nut into food processor and pulse them into thick paste;
  3. Add spiced paste, salt, sugar and ground black pepper into the boiled chicken and continue to boil it for 20 minutes. Remove the chicken and shred it;
  4. Steam the bean sprout and white cabbage;
  5. Soak the vermicelli noodle into hot water for 5 minutes. Drain and pat it dry

How Serve Soto Ayam

  1. Place vermicelli noodle into a bowl. Add shredded chicken, bean sprout, white cabbage and slice tomato;
  2. Add filtered spiced chicken broth into the bowl;
  3. Add sliced hard boiled egg, chopped celery and fried shallot as topping;
  4. Serve it with chopped chili and lime.

Ride the bus