Catatan: Berpolitik

IMG_1560Suasana Pilkada DKI Jakarta 2017 kali ini enggak jauh berbeda dengan Pemilu dan Pilpres 2014 yang lalu, lagi-lagi masyarakat terutama netizen terpecah karena pilihan mereka masing. Kalau dulu, ada yang pro Jokowi karena merupakan sosok baru tetapi ada juga yang pro Prabowo karena masih menganggap bahwa di bawah pemerintahan militer, semuanya akan baik-baik saja. Nah kalau sekarang, ada yang pro Ahok karena dia dianggap membawa perubahan bagi Jakarta dengan cara yang tidak berkenan di hati banyak orang; ada juga yang anti Ahok karena dia bukan Muslim atau dianggap kasar, tidak pro wong cilik apalagi bohir-bohir nakal. And…. everyone is entitled to his/her opinion.

Menariknya, di era digital sekarang ini, banyak konstituen bisa menyampaikan pendapat mereka di muka umum melalui media sosial termasuk Facebook dan Twitter sebagai bentuk partisipasi mereka dalam politik Indonesia. Sayangnya, ada juga pengguna media sosial yang merasa jenggah dengan status atau postingan berkaitan dengan politik tersebut. Entah ada yang berkomentar “Ya elah, yang punya KTP Jakarta sih adem ayem aja,“, “Akh lebay deh orang-orang itu,” “analis politik dadakan“,”analis politik online” dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena tersebut, saya bertanya pada diri saya sendiri “Apakah hanya orang tertentu saja yang boleh menyatakan pendapat mereka tentang pemerintah dan politik di negara ini? Siapa sajakah mereka? Lalu, kenapa yang lain dianggap tidak memiliki kualifikasi untuk berpolitik?”  Padahal bagi saya, hal ini menunjukkan adanya kesadaran dan partisipasi politik masyarakat Indonesia di mana selama 32 tahun lamanya masyarakat sudah dibungkam, dininabobokan dengan ‘kesejahteraan’ pada masa pemerintahan Soeharto. Selama ada sandang, pangan dan papan yang cukup, banyak masyarakat yang masa-bodo dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah dan kroni-kroninya. Sedangkan, mereka bisa hidup enak dan bukan hanya cukup. Selain itu, kita juga enggak tahu kebijakan pemerintah apa saja waktu itu apalagi mempertanyakan  atau bersikap kritis terhadap kebijakan tersebut?! Mungkin, ketika anda mau buka suara saja alias bersikap kritis, anda bisa hilang atau mati.

Tetapi sejak turun Presiden Soeharto, pemerintah Indonesia jauh lebih transparan apalagi di era digital ini. Meskipun… ya meskipun…. masih banyak informasi pemerintah yang susah diakses oleh masyarakat walaupun ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Belum lagi banyaknya politisi yang berebut kursi kekuasaan untuk  meningkatkan kesejahteraan masyarakat memperkaya diri sendiri dan kroni-kroninya dengan obral janji selama kampanye. Di mana pada akhirnya masyarakat kadangkala disuguhi dengan pilihan antara buruk atau buruk sekali. Meskipun demikian, masyarakat masih bisa menggunakan hak pilih mereka tanpa tekanan.

Nah… dalam proses menentukan pilihan mereka, mereka akan berdiskusi atau bahkan berdebat dengan keluarga, tetangga, kawan atau rekan kerja tentang  alasan mengapa mereka memilih sosok tertentu sebagai pemimpin mereka; mengapa sosok A jauh lebih baik dari sosok B; mempertanyakan rekam jejak masing-masing dan sebagainya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kadang kala diskusi dan debat tersebut menjadi ajang saling cela, saling hina hanya karena berbeda pendapat saja atau saling memotong satu sama lain sehingga pesan tidak dapat disampaikan dengan sempurna.

Hal tersebut kemudian menunjukkan bahwa masyarakat kita belum dewasa dalam berpolitik dan bersikap kritis terhadap sekeliling kita. Banyak konsitituen yang bersikap apatis dan pragmatis selama ada makanan di meja, sandang yang cukup dan papan untuk berteduh tanpa mempertimbangkan dan atau mempertanyakan matang-matang kualitas pemimpinnya, padahal sebenarnya mereka bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hal tersebut tentu tidak mengejutkan. Kenapa? Well karena banyak politisi yang obral janji aja.

So, menurut saya, biarkan saja orang membuat status tentang pemilu maupun pilkada. Dari situ kita tahu bagaimana masyarakat kita berpartisipasi dalam politik Indonesia; bagaimana peran media dalam politik Indonesia; apakah industri media berhasil mengedukasi masyarakat tentang pemerintah dan politik Indonesia atau justru mereka berpolitik sendiri; bagaimana masyarakat menerima pesan-pesan politik yang disampaikan melalui media; dan juga bagaimana masyarakat mengkonsumsi media di era digital ini.

Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer pernah menuliskan dalam Rumah Kaca dari Tetralogi Pulau Buru “Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik. Selama orang berasa di tengah-tengah masyarakat, betapapun kecil masyarakat itu, dia berorganisasi

Ride the bus

Notes: Liar

DSCF1124Let’s ask ourselves these questions. Do you put heavy make-up to cover your pimple or skin imperfection? Do you need to purchase brand-name products? Do you max out your credit card to purchase fancy things that you cannot afford it? Do you use a photo filter or photoshop before you upload your photo online? Do you work in a company only for a monthly pay-cheque? Do you cheat on your lover or partner and stay in a relationship even you are no longer happy? Do you know that all of those are the form of lie and there are just many more forms of lies out there?

Well, the individual is not the only liar in our society. The governments lie, the companies lie, the religious institutions lie, the politicians lie, the religious leaders lie, the public figures lie and almost all the citizens lie. Eventually, almost all of us are liars.

However, have you ever asked yourself why you need to lie? I believe that we begin to lie because our society often tells us that we are not good enough as individuals. They say “You are not good enough because of your skin colour”;  “You are not good enough because of your ethnicity background”; “You are not good enough because of your weight”; “You are not good enough because of your job”. And you are just not good in so many ways.

Their judgment makes us feeling insecure; their judgment makes us to not accept yourself, and their judgment makes us feel to have the need to fulfil their demand/ requirements. The worse, their judgment makes you stop loving yourself unconditionally.  Ultimately, you have the need to lie. We do it consciously or unconsciously, to other people as well as to ourselves. As a result, we become liars.

We do not know anymore whether we need to keep our mouth shut and tell the truth or we just need to lie. In the end, lying seems to be much easier than being honest and truthful; being perfect seems to be more acceptable than being imperfect and that is what our society wants from us… to be perfect! Hence, we lie. Correct me if I was wrong!

Xoxo

signature

Catatan: Berpendapat

Saya ini… payah! Sejak duduk di bangku sekolah lalu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya selalu takut untuk berpendapat. Saya takut kalau saya salah. Saya takut kalau pendapat saya bodoh. Dua hal tersebut membuat saya cenderung mengunci mulut saya di tengah-tengah diskusi dengan topik menarik. Padahal apa salahnya kalau kita salah, apakah pendapat mereka sudah pasti benar? Lalu kenapa saya berkecil hati…?!

Mungkin karena saya merasa jelek, item, kriting dan krempeng. Kombinasi ideal untuk menjadi jelek untuk masyarakat kita yang mengidealkan bahwa cantik itu, putih, kurus dan berambut lurus panjang. Dari situ, saya kerap berpikir bahwa saya takut untuk diejek. “Udah jelek, bodoh pula!“. Enggak tahu kenapa hal tersebut menjadi suatu masalah besar bagi saya.

Tetapi kebiasaan saya menulis buku harian sejak kecil membuat saya berani berpendapat melalui tulisan. Dari buku harian yang sifatnya pribadi, saya menemukan internet forum lalu kemudian blog saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas (2003/2004).

Waktu itu, internet masih merupakan barang mahal. Untuk mengakses internet, saya harus ke internet cafe dan mengeluarkan Rp 4,000 per jam untuk dapat mengakses internet. Di situ saya menemukan dunia saya, saya bisa berpendapat tanpa orang tahu bagaimana bentuk muka saya, warna kulit saya atau jenis rambut saya. Saya enggak takut diejek karena penampilan fisik saya yang jauh dari definisi cantik.

Toh, orang enggak bisa melihat foto diri saya. Maklum waktu itu kamera digital belum terlalu populer untuk mengambil foto diri ribuan kali. Apalagi  foto selfie, istilah itu pun sepertinya belum ada. Kalau mau foto masih pakai roll film atau harus ke studio atau photo box.

Tahun 2005, saya pun menemukan multiply.com. Saya kembali menemukan ruang di mana saya bisa berbagi tentang berbagai macam hal, mulai dari catatan harian pribadi, pendapat saya tentang topik hangat, foto atau musik. Saya pun membangun pertemanan virtual dengan orang-orang yang sama sekali enggak saya kenal.

Meskipun pertemuan hanya terjadi secara virtual saja tapi saya merasa tahu mereka dari tulisan mereka atau postingan mereka. Ada yang suka traveling, ada yang suka memasak lalu berbagi resep makanan. Ada yang suka nonton film, ada juga yang suka photography. Ada yang suka politik, ada juga yang suka belajar bahasa dan budaya.

Bisa dikatakan bahwa berbagai macam diskusi tentang ide dan pikiran pun terbangun di antara para blogger. Yang menarik adalah enggak ada yang 100% benar atau 100% salah. Bahkan, seingat saya jarang netizen yang sangat amat defensive waktu itu atau saya jarang menemukan akun bodong yang bertujuan untuk menipu atau menyerang pihak-pihak tertentu.

Bukan hanya itu, saya pun bisa belajar dari orang lain apalagi kebanyakan dari para blogger tersebut, usianya jauh lebih tua dari saya, jadi mereka sudah banyak makan garam. Saya belajar bahwa pikiran orang itu macam-macam, saya belajar untuk memberi kesempat orang lain untuk berpendapat dan menghargai pendapat orang lain sekalipun saya enggak setuju.

Pada tahun 2006/2007, saya mulai bertemu dengan mpers (blogger pengguna multiply) di Yogya. Pertemanan terbentuk, meskipun kemudian kami jarang bertemu. Belum lagi multiply yang kemudian berubah menjadi e-commerce platform, lalu almarhum alias tutup. Walhasil  saya jarang ngeblog dan berinteraksi dengan kawan-kawan blogger.

Jujur saja, meskipun saya sudah blogging selama satu dekade, saya masih takut membuka mulut saya untuk berpendapat di tengah orang-orang yang enggak saya kenal dekat. Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau saya terdengar bodoh?  Bahkan sebagai kuli tinta, saya lebih memilih melakukan ‘wawancara ekslusif’ dengan narasumber karena saya enggak akan terlihat bodoh di mata orang lain. Payah sekali! Ya…. saya ini payah!

Saya iri dengan mereka yang berani mengungkapkan pendapat tanpa takut mereka salah. Saya iri dengan mereka yang cenderung lantang dan berpikir kritis dalam berdiskusi.

Hal ini membuat saya bertanya, apakah ketakutan saya ini karena saya orang Jawa dan cenderung nrimo? Kalau itu sih enggak ada hubungannya! Atau apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari dunia pendidikan kita yang enggak mengajarkan siswa untuk berdiskusi sejak dini? Apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari pendidikan kita di mana guru atau dosen HARUS digugu dan ditiru serta selalu benar karena mereka adalah guru? Well bisa jadi. Dan ini harus diubah agar siswa enggak takut berpendapat dan dapat membangun diskusi yang kritis di kemudian hari.

Ride the bus

Jakarta: Are Human Beings Less Valuable than Money?

SONY DSCSince I moved to Jakarta for the very first time, I always become very sensitive with the money issue. It is because I feel that we, as a human being, as a social being, are often being appreciated and valued according to the money that we have by others. It is very different comparing the time when I lived in Yogyakarta, my hometown.

Here in Jakarta, we tend to be appreciated and valued according to the money that we have, the money that we wear, the money that we live, the money that we drive, the money that we eat and the money that we earn. It makes us, as a human being and social being is less valuable than others unless they have money.

No wonder… there is much corruption in every institution, be it government institution or private company. It has become a social disease because people value others according to the money that we have, the money that we wear. No wonder… there are many women look for a rich man to keep up with the ‘social requirement’ so they can be accepted. There are many men look for a rich vulnerable woman to get money from them so they can keep up with their lifestyle even they cannot afford it. I don’t mean to judge but people try to do anything to generate a lot of money without using a ‘normal process’.

I used to be terrified with it. Honestly, I was… I used to think what about if I don’t have a friend here because I don’t have money? What about if this…? What about that…? But as time passed by… I realised that I should not have cared about how people value me, how people judge me, how people think about me. It is because others will never be satisfied with who you are, with what you have. They will ask for more and more and more.

For this… I blamed it to the media and business corporation, which try to brainwash people’s mindset with material stuff on a daily basis through news, song, film, advertising, magazine and books. They try to decide the definition of beauty for its audience so the audience, which is us, are buying their shit to meet up with the social requirement. Good job!

If we cannot afford it, we will force ourselves to get it by using credit card that we cannot pay every month; by committing  into a corruption be it small or big; by marrying or dating a rich man or woman; by exploiting other to work hard and earning money; or even by stealing. There are just many methods that people do to make money simply because they want to meet up with the ‘social requirement’, which has been shaped by the media.

In the end, we value ourself less, we don’t appreciate our own hard work. Yet, it is not done everyone and I cannot generalise it. I really feel sick with it. I know it does not only happen in Jakarta but in the majority of a big city and metropolitan city. Yet, as I am living here… I just want to share my thought about this issue in Jakarta.

Oh Jakarta…. would you be less arrogant? I love living here because I love my job but ‘those social requirement’ and ‘those definitions of beauty’, which have been implemented by many business sectors, have forced its citizen to be fake individual. I feel like living in a fake world.

PS: This is my personal reflection, you can agree or disagree 🙂