Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature

Review: In a Jakarta Prison “Life Stories of Women Inmates”

Judul         : In a Jakarta Prison “Life Stories of Women Inmates”
Penulis     : Sujinah
Penerbit   : The Lontar Foundation, Jakarta, 2000
Halaman  : 172
Bahasa      : English
Harga       : Rp 72.000,00

Neneng, Inah, Leha, Asmi, Nyonya Hamid, Sri, Ita, Genuk, Checkers, Keling, Nyonya Kasim, Nunung dan Lian adalah beberapa nama perempuan yang hidup di balik jeruji besi bersama Sujinah. Sujinah merupakan mantan anggota Gerwani, yang dijebloskan ke dalam penjara pada masa pemerintahan Suharto.

Keberadaan Sujinah dalam rumah tahanan Tangerang agaknya menjadi corong bagi mereka yang selama ini bungkam akan apa yang sesungguhnya terjadi di balik tembok tinggi dengan jeruji besi yang mengungkung para tahanan dalam sel mereka.

Cerita dari Keling misalnya, seorang narapidana yang ditahan karena kelihaiannya sebagai seorang pencopet dari Sungai Ciliwung yang akhirnya tertangkap di Pasar Senen. Tentu saja, bukan karena tanpa alasan akhirnya Keling kembali ke pekerjaanya sebagai seorang pencopet setelah pernikahannya dengan Bopeng, memaksanya untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang pencopet, namun kehamilannya yang menuntutnya untuk hidup sehat, Mak Isah yang butuh perawatan di usiannya yang sudah senja dan Bopeng yang dipenjara, memaksa Keling untuk kembali beraksi. Terdiam, tertunduk dan merenung, sambil tersenyum Keling berkata pada Sujinah, “Isn’t life a bitch?”

Lain pula dengan Nyonya Hamid, seorang nyonya yang hidup dalam kemewahan namun selalu dirundung kesedihan ketika akhirnya ia memutuskan untuk menikahi Hamid, seorang pemuda sederhana dari keluarga sederhana. Kesuksesan Hamid dalam menjalankan bisnis yang telah diajarkan istrinya, kekayaan yang telah melimpah dalam rekening banknya agakanya telah membutakan Hamid, sanga pemuda sederhana yang akhirnya main gila dengan perempuan lain. Kesetiaannya Nyonya Hamid sebagai seorang istri telah dibalas dengan dusta yang begitu menyakitkan hingga akhirnya Nyonya Hamid memutuskan untuk mengakhiri hidup suaminya di suatu sore.

Dua cerita dari Keling dan Nyonya Hamid kepada Ma, begitulah panggilan akrab Sujinah, telah membuka kabut yang membungkus tembok-tembok penjara yang penuh cerita. Pintu penjara yang berada di balik kabut akan selalu terbuka bagi siapa saja yang telah melakukan kejahatan, tak peduli mereka kaya, tak peduli mereka miskin. Terkadang pula, mereka pun, terkadang tak peduli apakah mereka bersalah atau tidak. Yang ada hanyalah cerita yang tak ceritakan kepada masyarakat, kepada dunia tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Keberanian Sujinah dalam menuangkan pengalamannya dalam tulisan memang perlu diacungi jempol. Seorang tahanan politik yang bersuara akan kebenaran yang tak pernah diketahui orang hingga akhirnya dunia mendengar dan mengerti apa yang sesungguhnya terjadi di balik jeruji besi, ketika mereka mendengar kata penjara. Bukan hanya penjahat yang ada dalam penjara namun ada pula korban kejahatan yang dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan.

signature

Catatan: Surat teruntuk Tuhan

Bali, 26 Juli 2009

Yth: t[T].uhan

Pernah suatu hari kubertanya pada diriku sendiri tentang siapakah Tuhan itu? Ketika aku mempertanyakan hal tersebut kepada mereka yang religious, beberapa dari mereka akan menganggapku orang yang berdosa besar hanya karena aku mempertanyakan pertanyaan tersebut.

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri dan juga mereka yang meragukan suatu konsep yang orang sebut sebagai Tuhan, Siapakah Tuhan itu sebenarnya? Di manakah Ia tinggal? Apakah ada Tuhan yang menciptakan Tuhan sebagaimana Tuhan dikonsepkan sebagai yang mahakuasa? Lalu, jika tidak ada Tuhan, siapa yang menciptkan bumi ini? Apakah betul jika di bumi dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way Galaxy) ada hanya karena letupan besar(Big Bang) di mana terdapat perkembangan ruang dan waktu sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Georges Lemaître, seorang pastur Katholik Roma berdarah Belgia yang mengajar di Universitas Katolik Leuven di Belgia. Lalu bagaimana dengan kehidupan yang menghiasinya?

Aku tak berbicara banyak mengenai konsep yang tidak kupahami tersebut (karena aku memang belum pernah benar-benar mempelajari masalah kosmologi) namun setidaknya konsep tersebut cukup menarik untuk mempertanyakan siapakah Tuhan tersebut.

Jika Tuhan memang ada dan bumi ini diciptakannya, mengapa kita tidak dapat melihatnya, menemuinya dan berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan sesame kita? Atau mungkin, sesuai dengan lagu One of Us (Joan Osbourne), If God had a name, what would it be? Bagaimana wujudnya? Apa pekerjaannya? Siapakah yang menciptakannya? Dan kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, di manakah Ia tinggal? Siapakah Tuhan itu? Apakah Tuhan hanya sebatas konsep saja? Lalu mengapa orang menulis kata Tuhan dengan T capital dan bukan tuhan? Lalu, jika Tuhan yang mereka konsepkan sebagai YANG MAHABAIK dan YANG MAHAMURAH sehingga membuat manusia menemukan cara untuk memuji dan menyembahnya melalui sebuah jalan bernama agama yang kemudian mengkotak-kotakan manusia melalui agama tersebut untuk menyembah dan memuji Tuhan, mengapa cara yang baik tersebut yang dikonsepkan oleh manusia justru membuat manusia tidak akur sama lain hanya karena jalan mereka berbeda. Tentu saja, aku tak dapat mengatakan bahwa semua manusia yang memiliki agama akan melakukan hal tersebut, namun bagaimana praktek kehidupan sehari-hari orang di sekitar. Tak perlulah aku mengambil contoh akan mereka yang berbeda agama, bagaimana yang memeluk agama yang sama? Terkadang mereka sendiri ribut-ribut dan tak dapat menghargai sesamanya. Menantu yang marah-marah dengan mertuanya atau istri yang menganggap rendah suaminya. Atau, tak perlu sama sekali membawa-bawa nama agama untuk membahas hal tersebut?

Dan aku pun kembali bertanya mengenai Tuhan.

Jika di sana memang ada Tuhan dan di sana memang ada Dosa dan Setan, berdosakah aku hanya karena mempertanyakan hal ini? Akankah Ia mengirimkanku ke nereka, jika di sana memang ada Tuhan yang memiliki nereka bagi mereka yang berdosa dan tidak mempercayainya? Tidak aku mempercayai keberadaan Tuhan dengan demikian atau seperti katanya ‘aku kesetanan’?

Dan aku pun kemudian tersenyum setelah aku membaca kembali tulisanku ini, lalu berkata ‘Untuk apa aku berpikir keras-keras mengenai hal ini, bagiku semasa hidupku, yang ingin kulakukan adalah melakukan kebaikan dengan siapapun yang ada di sekelilingku. Tak peduli label agama apa yang mereka miliki, tak peduli warna kulitnya, tak peduli dari mana asalanya, tak peduli pula orientasi seks yang ia miliki, yang terpenting adalah aku mau berbuat baik dengannya.

Jika ada yang mengatakan aku kesetanan, katakanlah aku kesetanan. Jika ada yang mengatakan aku gila, katakanlah aku gila. Aku tak akan cukup peduli dengan perkataan tersebut, karena bukan orang lain yang dapat mengatakan hal tersebut hanya karena berbeda pandangan denganku, mengingat setiap orang memiliki akal budi, pikiran, hati dan kehendak yang dapat menentukan ke apa yang seharusnya mereka lakukan.

Memang, aku lahir dari keluarga beragama, menimba ilmu di sekolah yayasan yang membawa label agama dan aku diajarkan tentang berbagai hal tentang agama tersebut. Tak perlulah kusebutkan apa nama agama yang dianut oleh keluargaku, namun dari sinilah aku kemudian mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab dengan benar oleh pihak yang mampu memberikan jawaban tersebut. Tentu saja bukan orang-orang religious yang harus memberikan jawaban atas pertanyaanku atas Tuhan, karena mereka hanya akan menguliahku dengan ajaran-ajaran yang mereka terima, menguliahku dengan sesuatu yang mereka sendiri belum tentu memahaminya.

Aku tak mengatakan bahwa ajaran yang mereka terima adalah sajaran yang salah tidak sama sekali. Ajaran-ajaran agama kebanyakan merupakan ajaran-ajaran positif yang mengajarkan orang untuk berbuat baik karena adanya konsep surga yang mereka bentuk akan tempat di mana mereka akan berada ketika mereka berbuat baik dan berbuat jahat kepada orang lain.

Apakah benar Tuhan, dosa, setan, surga dan neraka hanyalah sebatas konsep semata? Atau, jika Tuhan memang ada, kembali kubertanya padaMu, berdosakah aku hanya karena mempertanyakan keberadaanMu?

Adakah yang mampu memberikanku jawaban atas pertanyaan normalku ini? Tentu saja, aku bukanlah yang pertama bertanya ini padamu, akan apa yang dikonsepkan sebagai Tuhan dan aku rasa pertanyaanku ini adalah pertanyaan wajar. Bukankah demikian?

Namun, lagi. Jika ada yang mengatakan aku sedang kesetanan hanya karena mempertanyakan hal ini, lalu katakanlah! Jika ada yang mengatakan aku gila, katakanlah pula demikian. Karena aku tak cukup peduli dengan pernyataan seperti itu dan yang aku butuhkan hanyalah jawaban dari pertanyaanku.

Bukankah demikian… Tuhan?

Ok…. Tuhan… I am looking forward to hear from you.

Best Regards

E.O

signature