Catatan: Olahraga Waktu Hamil?

SONY DSCBagi beberapa-banyak orang, berolahraga saat hamil adalah ide yang sangat gila. Banyak yang khawatir bahwa olahraga dapat menyebabkan keguguran. Bahkan banyak bapak-bapak atau laki-laki kabur setiap kali melihat saya masuk ke ruangan gym dengan perut besar. Tapi apakah betul bahwa perempuan hamil enggak boleh neko-neko dan lebih baik duduk anteng dan makan sebanyak mungkin? Well, saya ingin berbagi pengalaman saya. Bukan sebagai dokter kandungan ataupun personal trainer tetapi sebagai fitness enthusiast.

Kalau boleh jujur, saya seneng dan juga agak sedih ketika saya tahu bahwa saya hamil. Lho kok gitu? Well, mungkin karena saya sangat egois, saya tidak ingin kehilangan bentuk tubuh yang sudah saya bentuk selama tiga tahun terakhir ini. Mulai dari legs, abs, shoulder, back and also chest. Dibutuhkan disiplin dan ketekunan selama beberapa tahun untuk mendapatkan otot-otot tersebut. Saya enggak mau kehilangan semuanya itu begitu saja. At the same time, I was very excited with the little one inside my womb and I want him to be healthy and happy baby. 

But then again, there was a fear within me. Kenapa? Well, sebagai trailing spouse yang baru saja gave up my job and beradaptasi di tempat baru, saya takut tiba-tiba mendapatkan anxiety attack or even worse depression. Di mana dulu, tak jarang, saya mengkonsumsi xanax ketika kedua hal tersebut menyerang ketika saya tinggal di J-Twon. As a result, saya takut untuk mengkonsumsi obat tersebut. So, how can I have a healthy pregnancy? Being fit and staying sane.

Luckily, seorang kawan memberi saya buku berjudul What To Expect When You’re Expecting yang ditulis oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel.  Pada Chapter 3 buku tersebut yang berjudul Pregnancy Lifestyle, Murkoff dan Mazel menulis “Workouts are not only a-can-do for most pregnant women but a definitely do. In fact, the vast majority of workout work well with the vast majority of pregnancies, which means you can almost certainly count on continuing your usual routine through your 9 months.”  langsung loncat-loncat dong waktu baca chapter tersebut. So that was the answer! Saya enggak perlu anti depressant dan lain-lain untuk tetap waras selama hamil.

IMG_4492Lalu apa keuntungan berolahraga saat hamil? Well, banyak! Baik untuk ibu hamil maupun janin. Untuk ibu hamil, olahraga dapat meningkatkan stamina, kualitas tidur, kesehatan, mood, otot dan punggung serta menjaga sistem  pencernaan agar lancar. Plus, lebih cepat sembuh setelah melahirkan. Sedangkan untuk janin, meningkatkan peredaran oksigen dalam tubuh dan dipercaya akan jauh lebih pintar.

Nah selama hamil, saya justru tidak melakukan yoga tapi tetap melakukan jogging, running dan weightlifting. Saya berolahraga setiap hari dua sampai tiga jam per hari. Hasilnya, saya hampir enggak pernah merasa depressed selama hamil. Boleh dikatakan bahwa olahraga saja enggak cukup. Makan makanan bergizi pun penting terutama buah-buahan, sayur-sayuran, susu dan juga daging-dagingan. Kalau bisa, jangan terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung gula. Selama hamil pun berat badan saya  naik 12 kg dan sekarang tinggal 2 kg. Saya masih punya banyak PR untuk membawa tubuh saya kembali kebentuk semula. Bukan, bukan kurus namun sehat dan berotot.

Tentu banyak orang yang berpendapat berbeda-beda namun saya akan jauh lebih mempercayai hasil riset daripada mitos tentang ibu hamil. Oleh karena itu, kalau ingin sehat dan dapat terus berolahraga selama hamil, alangkah lebih baik jika mulai menyukai olahraga sebelum hamil sehingga badan kita enggak kaget dengan berbagai macam perubahannya. Bagi saya, sembilan bulan hamil bukanlah waktu yang susah, gamping banget! Yang susah justru tiga hari setelah melahirkan apalagi saya melahirkan secara c-section. Bahkan sampai sekarang kalau saya enggak olahraga bekas jahitan malah sakit.

Btw, saya baru bikin akun Instagram yang berisi fitness dan makanan sehat. Follow @ibuksehat yuk!

Ride the bus

Catatan: Tentang Nama

Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang bingung mikirin nama anak. Saya enggak mau nama yang hanya sekedar keren tetapi nama yang punya arti dan makna. Apalagi kata orang, nama adalah doa. Ya toh? Setelah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mencari nama, saya baru menyadari bahwa mencari nama itu susah apalagi kalau sudah memiliki berbagai macam syarat.

Yang pertama, saya enggak mau kasih nama yang kebarat-baratan. Kenapa? Masak anak hasil kawin campur namanya barat banget, identitas emaknya dikemanakan? Belum lagi nama barat seperti Richard, James, John atau Kevin pasti sudah dipakai oleh sejuta umat. Enggak unik dong apalagi kreatif. Ya kan? Nah berhubung saya enggak punya nama keluarga maka saya memutuskan untuk menggunakan nama keluarganya. It is a form of compromise. Dengan demikian unsur barat sudah ada, tinggal mencari unsur Indonesia.

Yang kedua, nama dengan arti. Awalnya saya pengen kasih nama anak dengan bahasa Yahudi. Huh, Yahudi? Kamu kan bukan orang Yahudi? Hubungannya Yahudi sama Indonesia apa? Enggak ada sih. Cuman karena saya keranjingan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Israel, saya ingin menamai anak saya dengan bahasa Yahudi.

Tapi… ternyata eh ternyata, setelah saya melakukan desktop research, kebanyakan nama bayi dengan bahasa Yahudi seperti nama orang Kristiani. Belum lagi, arti nama Yahudi selalu berkaitan dengan cerita dalam alkitab yang bisa jadi hanya sekedar dongen belaka. Namanya juga tulisan manusia. Sedangkan saya enggak mau anak saya diidentikkan sebagai orang Kristiani atau agama apapun. Oleh karena itu, saya buang ide tersebut.

Beralihlah saya ke Bahasa Sansekerta dan Jawa Kawi. Setelah melakukan riset, akhirnya saya menemukan nama tersebut. Artinya pun tidak terlalu berat untuk disandang dan cukup humanis. Enak pula didengar di telinga dan mudah untuk dieja. Sepertinya belum banyak yang menggunakan. Tapi masih rahasia ya…. 🙂 Nah sekarang adil dong, nama depan Jawa Kawi, nama belakang nama barat.

Sayangnya perdebatan enggak berhenti sampai di situ saja. Kami masih dipusingkan dengan nama panggilan, kalau dia sekolah di Indonesia atau sekitar Asia, mungkin namanya akan mudah dieja oleh kawan-kawannya. Lalu bagaimana kalau kami ke negara barat? Bukankah nama tersebut akan jadi bahan ejekkan atau bullying di sekolah.

O boy… here comes a problem!

Mungkin karena saya enggak pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar di negara barat maka saya enggak paham dengan masalah tersebut dengan baik. Padahal saya sendiri selama ini mengalami kesulitan ketika saya memberi tahu nama saya. Jangankan di negara orang, di negara sendiri pun orang kerap salah mengeja nama saya. Oktofani jadi Oktafani atau Oktaviani atau Oktapani. Saya pun sebenarnya kerap kesal tetapi saya enggak mau ambil pusing. Tapi kan beda cerita kalau hal tersebut terjadi pada anak kecil dan bagaimana kalau jadi bahan bullying?! Apalagi isu school bullying sudah di level yang cukup mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Doh! 

Well, di era globalisasi ini, banyak orang yang bermigrasi. Banyak negara yang perlahan berubah menjadi country of immigrant. Dengan demikian, banyak institusi pendidikan yang memiliki nama murid dengan bahasa negara asal dong. Misalkan saja, orang India atau China. Mereka yang terkenal sebagai immigrant. Komunitas mereka ada di mana-mana dan kebanyakan dari mereka masih menggunakan nama dengan bahasa mereka. Melihat hal tersebut, saya lihat sepertinya enggak masalah kok.

Nah kata orang, di era globalisasi seperti sekarang ini dan sebagai ‘global citizen‘, lebih baik jangan memberi nama berbau etnis, kasihan nantinya, kasihlah nama yang familiar di telinga orang, nama yang internasional. Yaelah, kalau begitu nama barat dong?! Kalau begitu kita dipaksa untuk menanggalkan identitas kita dong?! Apakah berarti globalisasi sama dengan westernisasi?

Oh well, rempong amat ya?! Ternyata memberi nama anak enggak semudah membuatnya sodara-sodara. 

Ride the bus