Catatan: Suratmi dan Problemanya

SONY DSC

SONY DSC

Ini adalah sebuah cerita tentang Suratmi. Suratmi adalah seorang asisten rumah tangga yang enggak kenal lelah. Bahkan, kalau diajak plesir, dia linglung dan bingung karena enggak ada yang dapat dia lakukan secara rutin. Luntang-luntung sana-sini, hanya bermain dengan Bejo, putra Bu Nuning. Asyik memang tapi kalau Bejo sedang tidur, lagi-lagi dia nganggur. Pusing bukan kepalang rasanya. Sebaliknya, dia sangat giat kalau diminta lembur apalagi Bu Nuning enggak enggan memberi upah tambahan.

Hari itu, hari Selasa. Jam dinding menunjukkan pukul 19:38. Suratmi masih berada di rumah Bu Nuning, dua setengah jam sudah dia lembur. Meskipun sudah tak banyak lagi yang harus dia lakukan, rasa lelah mulai menggerogoti tubuhnya. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang. Kebetulan, malam itu Bu Nuning memberinya kepala ikan kakap merah yang bisa ia gunakan untuk membuat kari ikan sayur sebagai santap malam keluarga. Sambil berdendang, Suratmi mengepel lantai dapur.

Kringggg….. kringgggg…..telepon seluler Suratmi berdering kencang. Biasanya Tukijo, suami Suratmi, atau Ratri, adiknya, yang menelepon untuk memastikan bahwa Suratmi baik-baik saja. Maklum, hari sudah mulai gelap. Tanpa melihat siapa si penelepon, Sutami langsung mengangkat teleponnya.

“Hallooo……” sapa Suratmi girang.

“Heee Suratmi…. Aku tahu di mana kamu bekerja sekarang. Jalan Samudera No 50 kan? Nanti, aku akan menunggumu di pengkolan jalan. Tapi jangan berharap kamu akan pulang ke rumah dan bertemu dengan keluargamu kalau suamimu tak segera membayar hutangnya,” kata seorang lelaki di balik telepon Nokia berwarna hitam miliki Suratmi. Suratmi tertegun, terdiam.

“Siapa kamu?” kata Suratmi singkat.

“Kamu tahu siapa aku!”

Suratmi kembali terpaku. Mukanya merah, keringat mulai bercucuran di dahinya. Takut dan bingung, itulah yang Suratmi rasakan.  Dia sangsi apakah ia harus memberitahu kejadian tersebut pada Bu Nuning atau menyimpannya dalam hati. Namun kalau Suratmi tak cerita, dia pun takut pulang. Bagaimana kalau laki-laki tersebut betul-betul menculiknya?

“Nyah… boleh saya bicara? Malam ini saya takut pulang ke rumah,” kata Suratmi memulai perbincangan. Suaranya sedikit bergetar. Bu Nuning hanya mengernyitkan dahi, penasaran. “Lho kenapa Mi?”

Suratmi terdiam sejenak lalu mulai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami dan asal mulanya.

Tukijo adalah suami Suratmi. Dia adalah pemilik sebuah apotek kecil di Mymensingh, sebuah distrik di Bangladesh. Cerita punya cerita, Tukijo ternyata gemar meminjam uang dari renternir sebagai modal menjadi renternir. Sialnya, para peminjam kabur semua dan meninggalkan Tukijo dengan hutang yang cukup besar sebanyak 65 juta rupiah dalam 10 tahun terakhir ini. Meskipun dia berusaha untuk membayarnya, bunganya terlalu besar 40 persen pertahun.. Jadi hutangnya pun tak kunjung lunas.

“Akh… lagi-lagi perkara uang,” pikir Bu Nuning. Bu Nuning pun diam sejenak.

Jujur saja, mendengar cerita tersebut, Bu Nuning enggak langsung percaya. Siapa tahu itu hanya alasan Suratmi untuk meminjam uang. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu Suratmi mencoba meminjam uang dari Bu Nuning dan Pak Prapto, suami Bu Nuning, tetapi mereka menolak permintaan tersebut. Tuman, kalau diiyakan terus. Ya toh?

Tetapi, kalau cerita tersebut memang benar adanya, bagaimana kalau debt kolektor datang ke rumah dan melakukan hal-hal yang enggak diinginkan sama sekali, seperti pembunuhan misalnya. Celaka dua belas bisa-bisa! Memang, Bu Nuning terdengar berlebihan. Namun, belum lama ini, asisten rumah tangga Pak Tebu baru saja dibunuh di rumah Pak Tebu saat Pak Tebu ke warung seberang. Bayangkan saja, hanya ditinggal 20 menit dan mati sudah si asisten rumah tangga! Mengerikan bukan? Jadi enggak salah jika Bu Nuningpun was-was. Ya toh?

Sebenarnya hal ini merupakan hal yang sangat menyedihkan karena meskipun kota tinggal di abad 21 dan berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan dan mengimplementasikan internet finance and banking, masih banyak orang yang tidak memiliki akses ke dunia perbankan atau koperasi. Namun meskipun tak sedikit pula yang memiliki akses ke dunia perbankan, tak sedikit pula yang menyalahgunakan untuk hidup hedon padahal ngutang. Kalau sudah begini, dikejar debt kolektor, mau lari ke mana? Ya toh? Suratmi! Suratmi!

Ride the bus

Catatan: Pasien Dungu

SONY DSC

Then shall the dust return to the earth as it was: and the spirit shall return unto God who gave it- Ecclesiastes 12:7

Sebelum tahun 2010, saya adalah pasien dungu. Seperti pasien kebanyakan, saya  selalu manut kata dokter setiap kali berkunjung pada tuan/nyonya dokter. Kalau mereka bilang saya sakit flu dan harus mengkonsumsi oseltamivir atau zanamivir sebagai obat sebagaimana ditulis dalam resep, tanpa banyak berpikir saya langsung menebus resep tersebut. Atau, ketika mereka mendiagnosa saya dengan penyakit lambung dan harus mengkonsumsi antibiotik, tanpa berpikir banyak lagi-lagi saya langsung menebus resep tersebut. Jujur saja, saya enggak pernah bertanya apakah obat tersebut hanyalah satu-satunya jalan yang menyembuhkan saya dari penyakit tersebut atau ada alternatif lain. Saya pun juga enggak pernah menanyakan kekurangan dan kelebihan dari obat tersebut. Maklum, dulu saya sering menganggap bahwa tuan dan nyonya dokter adalah satu-satunya kelompok manusia yang tahu bagaimana menyembuhkan penyakit manusia maupun binatang (untuk dokter hewan tentunya), kira-kira sebelas dua belas dengan dewa lah. Apalagi waktu itu saya masih seorang mahasiswa, belum ada kesadaran bagaimana menjadi seorang pasien a.k.a konsumen yang baik atau hidup sehat. Namun hal tersebut berubah sejak tahun 2009 ketika seorang dokter mendiagnosa saya dengan adanya gangguan liver dan “meramalkan” bahwa saya hanya memiliki 10 tahun lagi untuk hidup. “What the phvck? What have I done? What would I have achieved within 10 years?!” kata saya dalam hati. Lalu apa yang saya lakukan?

Well, saya pun kemudian mencari second opinion dari seorang dokter penyakit dalam di Yogyakarta. Seorang dokter dengan penampilan sebagai seorang umat beragama yang taat. Nyonya dokter kemudian menanyakan gaya hidup saya, apakah saya suka minum, apakah saya melakukan meggunakan narkoba dengan jarum suntik, apakah saya memiliki pasangan seks banyak dan lain sebagainya. Lucunya, nyonya dokter ini justru menjudge gaya hidup saya sebagai social drinker tanpa bisa membedakannya dengan seorang alcoholic, seorang candu, oleh karena itu saya harus menanggung resikonya. “What the heck?! You orang gila semua!” kata saya dalam hati. Tentu, saya frustrasi, takut.

Saya jadi ragu apakah tuan dan nyonya dokter ini adalah dukun atau orang berpendidikan? They seem having no idea how to interact  and or communicate the problem with their patients. Saya pun kembali ke tuan dokter di Bali. Meskipun tuan dokter telah meramalkan sisa waktu hidup saya, tuan dokter yang memiliki gelar profesor ini mengatakan bahwa saya bisa hidup lebih lama dengan catatan saya harus mengkonsumsi obat seharga 4 juta Rupiah per bulan seumur hidup atau 6 juta Rupiah per minggu. Belum lagi, suatu hari nanti, saya akan membutuhkan liver transplant. “Holy cow! How would I be able to afford it? Other than that, even if I had a good job and earn good money, I would rather to enjoy it!” Interestingly enough, tanpa bertanya ini-itu, tuan dokter akhirnya hanya memberikan vitamin yang konon katanya bisa memperkuat liver karena menganggap saya enggak mampu untuk membeli obat-obatan itu. “Well, that was true that I could not afford it back then. However, he could have asked than just prescribed me with some b.s vitamin kan?” As a result, bukannya semakin baik tapi semakin buruk. “Jesus! Mati beneran gue!”

Setelah melakukan riset sana sini, kita pun memutuskan ke Singapura, the best medical tourism destination in Southeast Asia. Tentu, kami tidak ke Mt. Elizabeth Hospital, mahal bok! Itu kan rumah sakitnya orang berduit. Kami hanya ke National University Hospital, rumah sakit pemerintah yang sekaligus berfungsi universitas yang terus melakukan riset. Selain itu, rumah sakit ini menawarkan servis dengan biaya yang miring bahkan jauh lebih murah dari rumah sakit internasional di Bali atau Jakarta. Kami pun enggak hanya melakukan riset akan biaya rumah sakit tersebut tetapi juga education background tuan/nyonya dokter yang kami temui. Dan ternyata pendekatan nyonya dokter sangat berbeda.

Kami cerita semua pengalaman kami dengan tuan dan nyonya dukun eh dokter dari Indonesia. Nyonya dokter sangat kaget dan heran kok ada dokter yang meramalkan lama hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive liver check up apalagi dia adalah seorang profesor. Dia pun kemudian menjelaskan secara detail tentang gangguan liver tersebut, dia menyarankan saya untuk melakukan sejumlah test dari liver test ulang, usg dan juga liver biopsy. Setelah dua minggu menunggu hasil lab keluar, kami bertemu lagi dengan nyonya dokter. Menariknya, bukannya dia langsung memberikan saya resep tapi justru memberikan beberapa alternatif tentang pengobatan yang bisa saya ambil.

  • Obat A, harganya X, hanya dikonsumsi selama 1 tahun. Nyonya dokter mengatakan bahwa obat A baru digunakan dalam 5 tahun terakhir per 2009. Sejauh ini, hasil riset menunjukkan bahwa meskipun banyak yang sembuh dalam kurun waktu 2 tahun saja tetapi karena ini obat baru maka belum bisa dilihat efek jangka panjangnya.
  • Obat B, harganya Y, dikonsumsi selama 4 tahun berturut-turut dan aman untuk kehamilan. Obat B sudah digunakan sejak tahun 1985 sehingga sejauh ini efektivitasnya telah teruji. Harganya pun jauh lebih murah karena sudah ada versi genericnya.
  • Obat C, harganya XY, dikonsumsi selama 6 bulan dengan efek samping depresi, rambut rontok, kehilangan napsu makan, dll. Obat ini sudah digunakan sejak tahun 1995. Harganya pun tinggi.

Dari sini saya belajar bahwa seorang dokter seharusnya enggak meramalkan hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive medical test apalagi menghakimi gaya hidup seseorang tanpa memberikan solusi yang efektif. Solusi yang diberikan pun harus beragam kalau memang ada pilihan sehingga tuan dan nyonya dokter tidak hanya jualan obat saja. Saya jadi ingat akan pembicaraan saya dengan seorang tuan dokter dari asosiasi dokter mengenai isu ini. Menariknya, tuan dokter mengatakan bahwa dokter enggak memiliki waktu yang banyak untuk memberikan penjelasan yang detail karena gaji dokter kecil sehingga alternatif pendapatan adalah dengan menjual obat. Perlu diketahui bahwa penjualan industri farmasi dunia mencapai 1 trillion USD per 2014, tanpa campur tangan dokter perusahaan tersebut tentu target tersebut enggak bisa diraih dengan mudah. Tapi tentu saja, saya enggak bisa mengeneralisasikan hal ini. Saya percaya ada juga tuan/nyonya dokter yang ingin memberguna bagi masyarakatnya.

Sejak saat itu, sebelum saya ke dokter, saya melakukan dekstop research terutama dan scientific journal dan artikel di mainstream media tentang apa yang saya alami termasuk ketika saya hamil sekarang ini. Saya pun lumayan nyinyir dengan dokter apalagi kalau sudah memberikan saya resep yang panjang apalagi kalau enggak memberikan penjelasan tentang obat tersebut.

Sometimes, it is not about how much we spend but also its long-term effect to our health and body esp. liver as well as kidney. What is the point to have a lot of money and adequate insurance tapi sakit melulu hanya karena kita menjadi pasien/konsumen dungu, manut-manut saja dengan tuan/nyonya dokter hanya karena mereka dokter. Ya kan?

Ride the bus