Notes: Good People, Good Heart

www.catatanfani.comSometimes I wonder, where are the good people going? Sometimes, I feel that there are not many good genuinely kind people around. If some are being  too kind, I often think that there must be motivation behind that. Or if some are being too friendly, sometimes I think that they would just blast me in the back. But then, I guess I am wrong. I guess I am too blind to see the fact that actually there are so many genuinely good people around me.

So today, I went to Coldstone, an ice cream shop in Gulshan 1. I went there, not to have ice cream but to have a cup of cappuccino and a piece of brownie. I love their coffee and I love their brownies because it’s not too sweet and very moist. It’s just finger-licking good and it seems that I am addicted to it. “Oh nooo…..! Is it gonna be another coffee cake disaster again?

Anyway, as am in love with their brownies, I somehow become their regular customer for coffee and brownies, not their ice cream. Even one of the waiters started noticing me and always remembering my order. I vividly remember when I ordered coffee and brownies without ice cream for the very first time, he raised his eyes brows and asked “Only brownies?” and I said “Yes, only brownie!

It came across to me that somehow he  found it strange because many of them came to Coldstone to have ice cream but I only ordered coffee. So he tried to assure himself that what he heard was correct and asked me similar question every time I went there. “Ma’am, you don’t want ice cream?” and I answered “No. I just want coffee and brownies please. I love your brownies because it’s not so sweet and very moist,

As I finished having my coffee, I asked for bill and this waiters somehow surprised me by giving me four pieces of free brownies. “Ma’am, this is for you, from me.” He said politely with friendly sweet smile. I was somehow moved by his act of kindness.

I must say that this is not the first that I encountered with this kind of circumstance. Yesterday for instance, my personal trainer gave me a big surprise, one unit of bicycle. I know some people might find it strange but it doesn’t matter to me. Or last year for instance, my nanny gave me a set of clothes for baby A when he was born. It was a set of nice clothes. Or, the day when my driver brought me green coconut or fruit or vegetable from his villages. Or, my Indonesian friends who invited me to have some homemade mouthwatering Indonesian food in the last minute. Or, the day, one of wise Indonesian lady dropped me a package of vegetable.

These occasions got me thinking and reflecting that some of these people are just ordinary people. Some of these people might not earn a fortune. Yet, they always try to give the best to their boss or friends by spending large amount of money to give the best present to their boss as a form of gratitude or the best gift to their friends as an act of kindness.

Although I must say that some of us sometimes might think “Oh, they want more money that’s why they give us this kind of gift,” or “Oh, it’s just a way for them to show their gratitude for giving them job and treating them well as they know that some of their peers are not as lucky as they are. So they are just genuinely being kind,” or they are just simple people with good heart, expect nothing in return. Right?

Meanwhile, we, the upper middle class or the educated people, often time count how much money we want to spend on gift to a family or friend, which is also not bad as we must always be aware with our cash flow. Or, some even have to brag how much money they have spent on a gift to their friend and complained how cheap and worthless gift they got as a return simply because they wanna show how generous they are while the rest are just plain old cheap people. “Ooo boy

As a conclusion, the occasion taught and showed me that many ordinary people tend to have genuine heart than the upper middle class people who tend to be busy counting every penny that they have and/or or being suspicious or being to calculative in their move. Of course, we cannot generalize them all. Yet, I believe that being kind is so easy and it is free of charge. Yet, sometimes I wonder why aren’t we doing that more often?! I asked myself and I don’t know the exact answer. I guess we are too critical or too suspicious or too calculative in our move. Hence we often have trust issue with people around us.

Ride the bus

 

Catatan: Dupata

www.catatanfani.comPada suatu kesempatan, seorang kawan laki-laki dari Bangladesh mengatakan pada saya bahwa banyak perempuan Bangladesh tidak menggunakan dupata (scarf) untuk menutupi payudara mereka. Apalagi tak sedikit dari mereka memiliki payudara yang besar. Dia menganggap bahwa hal ini sangat tidak baik karena banyak laki-laki yang akan melihat payudara yang perempuan tersebut dan menimbulkan niat jahat termasuk pelecehan seksual maupun pemerkosaan. Mendengarkan pernyataan tersebut, saya pun mengernyitkan kening.

“Kenapa perempuan yang salah?” tanya saya.

“Karena mereka tidak menutupi payudara mereka,” katanya.

“Lho mereka sudah menggunakan kameez, berlengan panjang dan gombrong pula.” kata saya.

“Ya tetap kurang!” katanya kekeuh.

“Kalau laki-laki yang menjadi bernapsu, kenapa perempuan yang repot? Bukankah kalian harus mengontrol napsu kalian?” kata saya mempertanyakan pendapatnya. Kawan saya pun terdiam.

“Nah, saya selalu datang ke gym ini menggunakan sport bra atau tank top dan celana pendek. Kalau ada yang melecehkan saya, apakah kamu akan bilang itu salah saya?”

Dia kembali diam. Mungkin mengiyakan pendapat saya.

“Dulu saya pernah dijambret. Seorang ibu mengatakan itu salah saya karena saya pakai kutang. Aneh kan? Wong penjambret mau emas kok baju saya yang disalahkan? Lagipula kamu punya dua anak perempuan, suatu saat mereka akan memilih jalan mereka masing-masing. Apakah dengan memberikan baju yang tertutup berarti melindungi mereka dari pelecehan seksual? Tentu tidak! Berapa banyak yang diperkosa karena menggunakan hijab atau burqa?” kawan sayapun tetap diam.

Diam entah karena tidak setuju atau diam karena tidak bisa mengekspresikan pendapatnya dalam bahasa Inggris.

Bagi saya, laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsu mereka tetapi kenapa perempuan yang harus repot. Melihat tetek sedikit ngeceng, ngelihat kaki ngeceng, melihat lengan ngeceng. Hadeeeeh! Percuma beragama tapi berkelakuan seperti binatang. Ya toh? Tentu hal ini tidak hanya terjadi di Bangladesh saja tetapi di tengah masyarakat tradisional mana saja.

Ride the bus

 

Notes: Losing Your Body? Nah!

www.catatanfani.com (1)Many people say that once a woman becomes a mother, she will lose her body, become fat and have jiggly yet flabby body especially those who has baby delivered through c-section including me. Don’t even dream to get your body back, so they say. But here I am, I prove them wrong. You can still have a well-shape body even you have many children be it through normal delivery and/or c-section.

I started getting back to my training regime at seventh weeks postpartum. I must say that I didn’t find it easy. Sometimes I got frustrated because I didn’t seem to lose any baby fat after working out for one month. Sometimes I got frustrated or even depressed because l only run at the slow pace. Sometimes I even gave up, just sat down, did no exercises for hours and just played with my phone because I felt that I did not make any progress. 

But one day, I said to myself “Don’t be too hard on yourself. Just started again,” so I started to take it easy that time. I just forgot about the aesthetics result and just focused on the form of my exercise as well as my diet.

At the end, aesthetic result is not my main exercise’s goal but sanity is. As a result, I got my body back faster than I expected as you can see on the picture above. 

Ps: no whey protein is being used. It’s all natural diet.

Ride the bus

Catatan: Melarat

IMG_8309Terlalu banyak manusia takut jadi melarat atau takut hanya dibilang melarat. Mereka merasa tak akan ada yang mau mendekati mereka kalau mereka melarat. Mereka merasa tak keren lagi. Oleh karena itu, mereka berbondong-bondong dan berdesakan ke depan untuk terlihat kaya. Melambaikan tangan pada dunia dan berteriak betapa kayanya mereka padahal mereka … mereka… mereka tidak betul-betul kaya.  “Bah… apa salahnya jadi melarat?” pikirku.

Aku jadi ingat ketika aku sempat bilang bahwa aku tak punya uang. Mereka terheran-heran lalu mengernyitkan alis mata dan bertanya “Masa sih?”. Tentu ada kalanya orang tak punya uang karena mereka memiliki prioritas lain. Ya toh? Kalau kita iyakan setiap perkataan orang, tekorlah kita. Ya toh?

Ride the bus

Catatan: Kosong

IMG_0941Waktu malam menjejakkan kaki, tak jarang kekosongan mengekor. Seolah dipanggil, ia selalu ramah menyapa dan aku selalu ingin mengabaikannya. Ia, kekosongan, memaksaku untuk berbicara dengan mereka-mereka yang nun jauh di sana. Basa-basi di balik layar, ngobrol ngalor-ngidul tanpa arah. Malam makin larut, mereka menghilang satu persatu. Dan hanya kekosongan yang lagi-lagi menemaniku.

Ride the bus

Catatan: Aku Ra Po PO

Beberapa hari yang lalu Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kenegaraan ke Bangladesh. Dalam kunjungannya Presiden Jokowi melakukan berbagai pertemuan bilateral termasuk dengan Perdana Menteri Bangladesh Skheih Hasina untuk membicarakan kerja sama di bidang ekonomi di Dhaka. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kunjungannya ke kamp pengungsi Rohingnya di Cox’s Bazar Distric. Sayangnya, Presiden tidak berkesempatan melakukan dialog dengan komunitas Indonesia di Dhaka. Padahal ada kurang lebih 400 WNI di Bangladesh dengan problematika dan kisahnya masing-masing. Well, kita sempat berebut undangan dan berdrama ria untuk ‘penyambutan’ yang ternyata hanya berlangsung kurang dari 5 menit dan hanya untuk bilang “Hallo Pak Presiden” atau “Selamat sore” Ha ha ha What a joke?!– Mungkin beberapa tak masalah yang penting foto dengan Presiden Jokowi tapi tak ada outcome berharga selain sehelai foto.

Saya kemudian menduga, berpikir dan bertanya pada diri saya sendiri “Apakah ini karena profil WNI yang ada di Dhaka sehingga Presiden tidak dijadwalkan untuk berdialog dengan masyarakat? Buat apa?” Boleh dikatakan bahwa sebagian besar WNI yang tinggal di Bangladesh adalah mantan pahlawan devisa yang kemudian menikah dengan sesama pahlawan devisa Bangladesh yang mereka temui di Saudi, Malaysia atau Singapura dan kemudian hijrah ke Bangladesh. Namun berhubung mereka tak lagi berkontribusi bagi negara atau malah bisa jadi beban negara jadi tak penting untuk dilakukan dialog. Ya toh? Buat apa?

Padahal banyak topik yang bisa dibicarakan seperti : banyak sekali dari mereka yang merupakan perempuan tangguh bahkan beberapa dari mereka berusaha memperkenalkan makanan seperti tempe rumahan. Namun karena keterbatasan finansial, usaha mereka hanya itu-itu saja. Sedangkan potensial vegetarian di Asia Selatan pun besar. Akh siapa peduli toh?! Lagipula, dulu saja kabarnya kantin KBRI Dhaka sangat terkenal di antara komunitas ekspatriat karena enaknya makanan Indonesia. Tapi sayang, kabarnya dubes saat itu malah malu karena KBRI Dhaka lebih dikenal kantinnya. Oh well, berarti ada yang salah dong dengan kinerja dubes sampai-sampai yang dikenal hanya kantinnya. Sedangkan banyak negara di dunia maju, KBRI difasilitasi untuk mempromosikan makanan Indonesia. Ingatkan bahwa Pak Presiden ingin makanan Indonesia dikenal. Tapi ya itu, it’s not a million dollar bussines jadi buat apa? Apa untungnya? Belum lagi banyak kisah KDRT.

Dan tentu saja, profil WNI Dhaka tentu sangat berbeda dengan profil diaspora yang berada di Australia atau Amerika di mana sebagian besar merupakan pekerja kantoran atau mahasiswa. Namun tentu juga berbeda dengan profil diaspora Indonesia yang berada di Korea Selatan atau Hong Kong. Tentu menjadi seorang pemimpin negara sangatlah sibuk, mau merem pun susah. Namun jika presiden bisa berdialog dengan komunitas Indonesia di negara maju, kenapa tidak bertemu dengan mereka yang tinggal di negara dunia ketiga? Jangan hanya berinteraksi dengan wong cilik saat kampanye saja atau di dalam negeri, banyak wong cilik kita yang berada di luar negeri. Apalagi sebentar lagi Pemilu 2019, Fadli Zon saja melakukan dialog dengan WNI di sini meskipun kami tak boleh bertanya beberapa hal. Setidaknya ada kekayaan! Jadi jangan diskriminatif. Kalau Bapak membela Rohingnya yang diperlakukan secara diskriminatif oleh pemerintah Myanmar, kenapa juga melakukan yang sama terhadap masyarakatnya sendiri meskipun dalam bentuk yang berbeda. Sederhana saja!

Anyway, ini hanya sebuah buah pikiran, kritik dan masukan bagi pemerintah Indonesia dari segala level. Jangan mudah tersinggung dan dimasukkan dalam hati. Justru seharusnya menjadi masukkan.

Tabik!

Ride the bus

Catatan: Suratmi dan Problemanya

SONY DSC

SONY DSC

Ini adalah sebuah cerita tentang Suratmi. Suratmi adalah seorang asisten rumah tangga yang enggak kenal lelah. Bahkan, kalau diajak plesir, dia linglung dan bingung karena enggak ada yang dapat dia lakukan secara rutin. Luntang-luntung sana-sini, hanya bermain dengan Bejo, putra Bu Nuning. Asyik memang tapi kalau Bejo sedang tidur, lagi-lagi dia nganggur. Pusing bukan kepalang rasanya. Sebaliknya, dia sangat giat kalau diminta lembur apalagi Bu Nuning enggak enggan memberi upah tambahan.

Hari itu, hari Selasa. Jam dinding menunjukkan pukul 19:38. Suratmi masih berada di rumah Bu Nuning, dua setengah jam sudah dia lembur. Meskipun sudah tak banyak lagi yang harus dia lakukan, rasa lelah mulai menggerogoti tubuhnya. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang. Kebetulan, malam itu Bu Nuning memberinya kepala ikan kakap merah yang bisa ia gunakan untuk membuat kari ikan sayur sebagai santap malam keluarga. Sambil berdendang, Suratmi mengepel lantai dapur.

Kringggg….. kringgggg…..telepon seluler Suratmi berdering kencang. Biasanya Tukijo, suami Suratmi, atau Ratri, adiknya, yang menelepon untuk memastikan bahwa Suratmi baik-baik saja. Maklum, hari sudah mulai gelap. Tanpa melihat siapa si penelepon, Sutami langsung mengangkat teleponnya.

“Hallooo……” sapa Suratmi girang.

“Heee Suratmi…. Aku tahu di mana kamu bekerja sekarang. Jalan Samudera No 50 kan? Nanti, aku akan menunggumu di pengkolan jalan. Tapi jangan berharap kamu akan pulang ke rumah dan bertemu dengan keluargamu kalau suamimu tak segera membayar hutangnya,” kata seorang lelaki di balik telepon Nokia berwarna hitam miliki Suratmi. Suratmi tertegun, terdiam.

“Siapa kamu?” kata Suratmi singkat.

“Kamu tahu siapa aku!”

Suratmi kembali terpaku. Mukanya merah, keringat mulai bercucuran di dahinya. Takut dan bingung, itulah yang Suratmi rasakan.  Dia sangsi apakah ia harus memberitahu kejadian tersebut pada Bu Nuning atau menyimpannya dalam hati. Namun kalau Suratmi tak cerita, dia pun takut pulang. Bagaimana kalau laki-laki tersebut betul-betul menculiknya?

“Nyah… boleh saya bicara? Malam ini saya takut pulang ke rumah,” kata Suratmi memulai perbincangan. Suaranya sedikit bergetar. Bu Nuning hanya mengernyitkan dahi, penasaran. “Lho kenapa Mi?”

Suratmi terdiam sejenak lalu mulai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami dan asal mulanya.

Tukijo adalah suami Suratmi. Dia adalah pemilik sebuah apotek kecil di Mymensingh, sebuah distrik di Bangladesh. Cerita punya cerita, Tukijo ternyata gemar meminjam uang dari renternir sebagai modal menjadi renternir. Sialnya, para peminjam kabur semua dan meninggalkan Tukijo dengan hutang yang cukup besar sebanyak 65 juta rupiah dalam 10 tahun terakhir ini. Meskipun dia berusaha untuk membayarnya, bunganya terlalu besar 40 persen pertahun.. Jadi hutangnya pun tak kunjung lunas.

“Akh… lagi-lagi perkara uang,” pikir Bu Nuning. Bu Nuning pun diam sejenak.

Jujur saja, mendengar cerita tersebut, Bu Nuning enggak langsung percaya. Siapa tahu itu hanya alasan Suratmi untuk meminjam uang. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu Suratmi mencoba meminjam uang dari Bu Nuning dan Pak Prapto, suami Bu Nuning, tetapi mereka menolak permintaan tersebut. Tuman, kalau diiyakan terus. Ya toh?

Tetapi, kalau cerita tersebut memang benar adanya, bagaimana kalau debt kolektor datang ke rumah dan melakukan hal-hal yang enggak diinginkan sama sekali, seperti pembunuhan misalnya. Celaka dua belas bisa-bisa! Memang, Bu Nuning terdengar berlebihan. Namun, belum lama ini, asisten rumah tangga Pak Tebu baru saja dibunuh di rumah Pak Tebu saat Pak Tebu ke warung seberang. Bayangkan saja, hanya ditinggal 20 menit dan mati sudah si asisten rumah tangga! Mengerikan bukan? Jadi enggak salah jika Bu Nuningpun was-was. Ya toh?

Sebenarnya hal ini merupakan hal yang sangat menyedihkan karena meskipun kota tinggal di abad 21 dan berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan dan mengimplementasikan internet finance and banking, masih banyak orang yang tidak memiliki akses ke dunia perbankan atau koperasi. Namun meskipun tak sedikit pula yang memiliki akses ke dunia perbankan, tak sedikit pula yang menyalahgunakan untuk hidup hedon padahal ngutang. Kalau sudah begini, dikejar debt kolektor, mau lari ke mana? Ya toh? Suratmi! Suratmi!

Ride the bus

Catatan: Lelaki Jalang

SONY DSC

Turkish beer, Turkish tea [2014: E O]

Akhir-akhir ini, berita tentang Jennifer Dunn, Shaffa Harris dan Faisal Harris berseliweran di media sosial. Tak hanya itu, berita tentang Sunu, Umi Pipik pun juga berseliweran di mana-mana. Dalam hati saya “Sopo sih Sunu Ki?” Sebenernya saya enggak pernah ngegubris berita tentang selebritis tapi saking banyaknya, saya pun akhirnya iseng ngegugel tentang mereka. Oh ternyata mereka semua tersangkut kasus perselingkuhan. Yang menarik adalah sosok perempuan lah yang selalu disorot sebagai biang keladi hancurnya rumah tangga padahal enggak sedikit family man yang kegatelan bahkan banyak banget. Sayangnya, lagi-lagi perempuan yang disalahkan “Siapa suruh mau?” dan sebagainya dan sebagainya.

Anyway beberapa hari yang lalu, saya pergi sebuah pesta dengan mas bojo. Sayangnya, mas bojo harus pergi di tengah pesta karena akan pergi ke negeri coklat dan meninggalkan saya sendiri di pesta tersebut. Awalnya saya tidak mau ditinggal tapi pestanya cukup asyik, good food, interesting people, fancy venue, welcoming host, groovy music and a lot of wine! Selain itu dapat kesempatan ngobrol ngalor ngidul dengan orang-orang baru dan bertemu dengan beberapa kenalan. Di tengah pesta, seorang laki-laki yang menjabat sebagai direktur mendekati saya ketika saya sedang asyik ngobrol dengan tuan Jendral.

“Hai, mana mas bojo?” tanyanya.
“Dia harus pergi ke bandara karena harus ke Eropa!” jawab saya singkat.
“Wah sibuk sekali pasti? Apa kamu tak pernah merasa kesepian?” tanyanya mulai menjurus pikir saya.
“Akh enggak. Saya ada anak, ada kawan, ada kegiatan. Bagaimana mungkin bisa kesepian? Lagipula kenapa?” Dalam hati, saya sudah menduga bahwa dia pria hidung belang ketika dia tiba-tiba mengajak saya untuk ngobrol di tempat lain padahal saya sedang asyik ngobrol dengan tuan dan nyonya Jendral. Aneh lagi, tuan direktur meminta pelayan menuangkan anggur lagi meski saya sudah menolak.
“Masa?”
“Kau punya istri dan anak?” Saya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya, tetapi mereka tak di sini. Jadi aku merasa kesepian. Mau ke rumahku?”
“Sering pulang ke negaramu?” Tanyaku mencoba mengganti topik.
“Tentu! Kau mau ke sana? Ayo temani aku ke sana! Kau bisa tinggalkan anakmu dengan pengasuh beberapa hari saja. Saya tentu terkejut. “Gemblung betul orang ini” pikir saya.

Enggak lama kemudian tuan Jendral pamit dan bertanya apakah supir saya sudah datang menjemput. Saya pun katakan ya dan saya pun ikut pamit untuk meninggalkan pesta.

“Nona bagaimana kalau kau saya antar pulang saja?” tanya tuan direktur sambil mencoba menarik tangan saya.
“Oo alah gemblung gemblung,” pikir saya. “Maaf tak perlu. Saya sudah ada supir.”
Sayapun segera lari meninggalkan pesta dan pamit pada tuan rumah.

Lucu bukan? Tuan direktur tahu saya datang dengan mas bojo, tuan direktur tak menutupi bahwa punya istri dan mau bermain api demi selangkangannya. Tentu kalau saya tanggapi, saya yang dianggap gatel dan sundal. Seperti yang dikatakan oleh Eddie Griffin dan Dr. dre dalam lagu berjudul Ed-Ucation “Biggest hoes, on planet Earth, are walkin’ through the motherfuckin’ neighborhood || You knew when you got with the man he already had a woman ll You knew he already had a family ll But you fucked him anyway” dalam lirik tersebut perempuan lah yang sundal padahal bisa jadi yang gatel duluan sang laki-laki. Begitu pula dengan tuan direkrut, dia lah seharusnya yang dianggap sebagai the biggest hoe!

Tapi mungkin, kalau saya tanggapi sayalah yang dianggap hoe. Bahkan saya tak akan heran jika dia melakukan hal ini dari pesta ke pesta besar. Sayangnya, tuan direktur tak akan dianggap jalang atau bejat malah dianggap hebat karena bisa menarik perhatian perempuan lain bahkan istri orang di luar istrinya. Ya toh? Perempuan jalang dosa besar, lelaki jalang hebat! Begitu kata masyarakat patriarki kita! Ngehek betulkan?!

Ride the bus

Catatan: Hutang

SONY DSC

Canthing [2016: EO]

Saya selalu percaya karma itu ada di mana ketika orang lain meminta bantuan kepada kita, kita seharusnya bisa membantu semampu kita karena mungkin suatu hari kita akan membutuhkan bantuan orang lain juga. What goes around comes around! Namun adakah batasan di mana kita harus berhenti membantu?

Tak jarang orang datang pada saya meminta bantuan finansial untuk berbagai keperluan baik pinjaman, sumbangan atau berkirim/transfer dana. Kalau pinjaman, mereka akan kembalikan sesuai dengan kemampuan mereka tanpa bertanya apakah saya menyetujui hal tersebut. Lucunya kalau saya katakan tidak, saya justru dicaci macam-macam “Masa sih elu enggak punya duit!” atau “Akh pelit amat!” “Laki lu kan bule, masa elu enggak punya duit sih!” “Gue pinjem tapi balikinnya pakai installment satu tahun ya!” — ebuset! kata saya dalam hati. 

Tetapi ketika ditagih pasti banyak sekali alasannya bahkan tak jarang mereka lebih galak daripada yang kasih pinjam uang. Padahal si pengutang masih bisa bersenang-senang seperti jalan-jalan ke luar negeri, nyalon atau ke restaurant. Lucukan? Seolah-olah saya tidak mempunyai kebutuhan. Hal tersebut membuat saya garuk-garuk kepala.

Pinjam uang melalui bank atau koperasi saja banyak persyaratannya dan ribetnya bukan main di mana salah satu syaratnya kita harus punya pekerjaan. Nah kalau tidak punya penghasilan, bagaimana kita akan mengembalikan uang tersebut? Oleh karena itu semenjak saya tidak mempunyai pekerjaan tetap saya paling takut menggunakan kartu kredit bahkan saya harus menutup kartu kredit saya karena saya takut hutang. Bagaimana kalau saya tidak bisa membayar? Ya kan?!

Sebenernya hutang terhadap institusi memiliki satu sisi yang bagus. Kenapa? Karena kita belajar untuk bertanggung jawab secara finansial. Kalau boleh bercerita, hutang terbesar saya adalah ketika saya membeli mobil Ford Fiesta tahun 2012, setiap bulan saya mempunya cicilan yang harus dibayar. Cicilan ini bagaikan momok yang menghantui setiap akhir bulan sedangkan kalau kita tidak bisa membayar tagihan setelah beberapa bulan, mobil bisa ditarik. Lebih gilanya lagi, meskipun mobil sudah ditarik belum berarti hutang kita lunas. Saat itu saya bekerja sebagai penulis lepas jadi penghasilan tidak menentu. Kalau lagi tinggi, saya bayar 2-3 bulan in advance, kalau tidak ya setidaknya tagihan harus bisa dibayar. Jujur saja, saya baru bisa bernapas lega ketika kembali bekerja fulltime. Setidaknya keuangan saya jadi lebih terprediksi.

Anyway, kembali ke topik utama mengenai hutang personal, apa yang seharusnya kita lakukan terhadap orang-orang yang meminta bantuan terhadap kita selain mengatakan tidak? Haruskah kita menjaga jarak dengan mereka pula?!  What do you think?

Ride the bus

Catatan: Olahraga Waktu Hamil?

SONY DSCBagi beberapa-banyak orang, berolahraga saat hamil adalah ide yang sangat gila. Banyak yang khawatir bahwa olahraga dapat menyebabkan keguguran. Bahkan banyak bapak-bapak atau laki-laki kabur setiap kali melihat saya masuk ke ruangan gym dengan perut besar. Tapi apakah betul bahwa perempuan hamil enggak boleh neko-neko dan lebih baik duduk anteng dan makan sebanyak mungkin? Well, saya ingin berbagi pengalaman saya. Bukan sebagai dokter kandungan ataupun personal trainer tetapi sebagai fitness enthusiast.

Kalau boleh jujur, saya seneng dan juga agak sedih ketika saya tahu bahwa saya hamil. Lho kok gitu? Well, mungkin karena saya sangat egois, saya tidak ingin kehilangan bentuk tubuh yang sudah saya bentuk selama tiga tahun terakhir ini. Mulai dari legs, abs, shoulder, back and also chest. Dibutuhkan disiplin dan ketekunan selama beberapa tahun untuk mendapatkan otot-otot tersebut. Saya enggak mau kehilangan semuanya itu begitu saja. At the same time, I was very excited with the little one inside my womb and I want him to be healthy and happy baby. 

But then again, there was a fear within me. Kenapa? Well, sebagai trailing spouse yang baru saja gave up my job and beradaptasi di tempat baru, saya takut tiba-tiba mendapatkan anxiety attack or even worse depression. Di mana dulu, tak jarang, saya mengkonsumsi xanax ketika kedua hal tersebut menyerang ketika saya tinggal di J-Twon. As a result, saya takut untuk mengkonsumsi obat tersebut. So, how can I have a healthy pregnancy? Being fit and staying sane.

Luckily, seorang kawan memberi saya buku berjudul What To Expect When You’re Expecting yang ditulis oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel.  Pada Chapter 3 buku tersebut yang berjudul Pregnancy Lifestyle, Murkoff dan Mazel menulis “Workouts are not only a-can-do for most pregnant women but a definitely do. In fact, the vast majority of workout work well with the vast majority of pregnancies, which means you can almost certainly count on continuing your usual routine through your 9 months.”  langsung loncat-loncat dong waktu baca chapter tersebut. So that was the answer! Saya enggak perlu anti depressant dan lain-lain untuk tetap waras selama hamil.

IMG_4492Lalu apa keuntungan berolahraga saat hamil? Well, banyak! Baik untuk ibu hamil maupun janin. Untuk ibu hamil, olahraga dapat meningkatkan stamina, kualitas tidur, kesehatan, mood, otot dan punggung serta menjaga sistem  pencernaan agar lancar. Plus, lebih cepat sembuh setelah melahirkan. Sedangkan untuk janin, meningkatkan peredaran oksigen dalam tubuh dan dipercaya akan jauh lebih pintar.

Nah selama hamil, saya justru tidak melakukan yoga tapi tetap melakukan jogging, running dan weightlifting. Saya berolahraga setiap hari dua sampai tiga jam per hari. Hasilnya, saya hampir enggak pernah merasa depressed selama hamil. Boleh dikatakan bahwa olahraga saja enggak cukup. Makan makanan bergizi pun penting terutama buah-buahan, sayur-sayuran, susu dan juga daging-dagingan. Kalau bisa, jangan terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung gula. Selama hamil pun berat badan saya  naik 12 kg dan sekarang tinggal 2 kg. Saya masih punya banyak PR untuk membawa tubuh saya kembali kebentuk semula. Bukan, bukan kurus namun sehat dan berotot.

Tentu banyak orang yang berpendapat berbeda-beda namun saya akan jauh lebih mempercayai hasil riset daripada mitos tentang ibu hamil. Oleh karena itu, kalau ingin sehat dan dapat terus berolahraga selama hamil, alangkah lebih baik jika mulai menyukai olahraga sebelum hamil sehingga badan kita enggak kaget dengan berbagai macam perubahannya. Bagi saya, sembilan bulan hamil bukanlah waktu yang susah, gamping banget! Yang susah justru tiga hari setelah melahirkan apalagi saya melahirkan secara c-section. Bahkan sampai sekarang kalau saya enggak olahraga bekas jahitan malah sakit.

Btw, saya baru bikin akun Instagram yang berisi fitness dan makanan sehat. Follow @ibuksehat yuk!

Ride the bus