Indonesia: Broken Heart

IMG_0059I am proud of being Indonesian. I even often get easily annoyed whenever foreigners make a bitter criticism about Indonesia or look down on us. However, seeing what happened in Indonesia recently, I feel that this country seems to get backwards.

I am one of the lucky one to be able to leave the country, I can even be Canadian, Brits or both if I want to and never look back. However, I still have my family, Indonesia is my home, I love its cultural diversity, it’s super beautiful. Yet, imported religion slowly ruin it.

The government and coward people make me sick and tired of this country. I know I can leave and always come back but I want to make a contribution one day. How? I don’t know. Perhaps through writing.

The thing is although the Internet penetration is increasing, it does not necessarily inform all Indonesian properly. Instead, it appears as an entertainment. As a result, important issues are neglected.

Pramoedya Ananta Toer wrote “Unsur modern belum lagi mengubah tata pikir pribumi. Dunia pikirnya masih tetap seperti lima abad lalu. Cara menanggapi dunia belum berubah.” (Rumah Kaca).

I hope with the Internet, Indonesian are more well informed about everything including humanity than feared with the future.

Ride the bus

Catatan: Indonesia dan Rohingnya

Dukungan online terhadap pemerintah Indonesia untuk menerima dan menampung etnis Rohingnya terus meningkat setelah mereka tidak mendapatkan tempat di Myanmar, Thailand dan Malaysia.  Sementara itu warga  Syiah di Sampang, warga Ahmadiyah di Lombok dan Jawa Barat dan juga masyarakat Papua, yang notabene adalah warga negara Indonesia, terus usir dari negaranya / tempat tinggal mereka sendiri. Hak konstitusi mereka sebagai warga negara tidak terakomodasi.

Belum lagi politisi dari partai agama yang selama ini cenderung mendukung diskriminasi terhadap warga Syiah dan Ahmadiyah sekarang meminta pemerintah Indonesia untuk membantu warga Rohingnya atas nama Pancasila. Pancasila yang sekarang mungkin hanya tinggal teori semata.

Memang atas dasar kemanusiaan kita harus membantu mereka, tapi seberapa jauh kita harus membantu mereka, seberapa lama kita harus membantu mereka lalu bagaimana dengan saudara kita sendiri yang terusir dari negeri ini? Ironi!

Ride the bus