You Never Miss What You Had Until It’s Gone

ORG__DSC6329It was 10:06 p.m. when I stepped into the house last night. I just got home from watching the premiere of Indonesian film “A Copy of My Mind” at 2015 Toronto International Film Festival. I felt restless and extremely exhausted. All I thought about was good night sleep. After I finished the shower and got ready to bed, I heard my phone beeping. It was from a good friend of mine. Yet, I did not answer his message until I woke up this morning.

Beb,” my friend wrote.

Yes,” I answered.

“I want to break up (with my lover). I’m a sex addict and he said to me that if I slept with other guys, we’re done” My friend wrote.

“Well, if it is the best for you then go ahead. But remember, we have a certain condition that everybody cannot just accept it easily. Unless you enjoy being alone and do not need or want to have somebody to come home to or make you feel complete, then you should break up and continue the adventure.” I went on,

“At the end, casual sex only gives us temporary happiness and temporary sense of acceptance. Those hot, rich and handsome guys normally give no shit about us at all. As soon as they’re done, they are just gonna go.” I continued.

“So I think, we have to ask to ourselves ‘Why do we want to trade one great guy with a beautiful personality and most importantly loves us so much, who also can accept us the way we are, with those dickheads? What are we looking for?’. As they say ‘You never miss what you had until it’s gone.'” I said.

True,” he answered.

Sometimes we just take our lives for granted until we lose everything and regret it. When it is gone, it is gone.

PS: This writing was inspired by my conversation with a good friend of mine. Of course, I shared this story with my friend’s permission.

Catatan: Buku atau Internet?

Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Tetapi di jaman modern ini, sebenarnya selain buku, internet juga merupakan jendela dunia. Kita dapat berselancar ke mana pun kita mau tanpa batas. Kita bisa melihat dunia dan mengenyam ilmu hanya dari balik layar komputer selama terhubung dengan koneksi internet.

Saya sendiri berkenalan dengan internet pada tahun 2000. Sejak kenal dengan internet, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses internet, entah untuk berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia atau membaca berbagai macam artikel. Melalui internet, saya dapat mempelajari kehidupan manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk urusan pekerjaan. Saya sangat menyukai internet. Saya gila internet.

Namun sayangnya, informasi di internet terlalu banyak dan berserakan di mana-mana. Tidak terstruktur dan bahkan susah dibuktikan kebenarannya apalagi informasi di internet bisa dipublikasi oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Belum lagi informasi-informasi tersebut bisa dihapus oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Itulah internet sebagai jendela dunia.

Meskipun gila akan internet, saya ternyata lebih menyukai buku ketimbang internet. Kenapa? Karena setidaknya saya tahu siapa yang menulisnya. Tapi sayang saya agak kurang rajin membaca walaupun saya suka membaca.

Sejak kecil, saya suka membaca tapi saya enggak punya banyak koleksi buku. Saya pun jarang pergi ke perpustakaan di sekolah. Tapi….  saya sering ke “Taman Bacaan Tintin”, sebuah perpustakaan keliling yang menyewakan komik. Paling sering saya menyewa komik serial cantik :-).

Menginjak bangku SMA, saya mulai suka membaca novel apalagi sekolah saya dekat dengan Gramedia. Ketika banyak orang suka membaca tulisan Fira Basuki, saya lebih suka baca nover terjemahan karya  novelis Inggris Barbara Cartland. Barbara Cartland menawarkan cerita cinta dengan setting di kerajaan Inggris. Asyik, seru! Tulisannya membawa imajinasi saya ke dalam cerita tersebut.

Selain Barbara Cartland, saya juga suka tulisan Paulo Coelho. Penulis asal Brazil ini menawarkan berbagai refleksi kehidupan dengan tokoh utama perempuan. Menariknya lagi, Coelho selalu membawa sosok Bunda Maria dalam cerita-cerita spiritualnya.

Jujur saja, saya enggak terlalu banyak membaca tulisan anak bangsa saat itu. Kenapa? Saya enggak tahu mana yang bagus. Saya enggak tahu siapa penulis Indonesia yang bagus.

Suatu hari, saya mulai berkenalan dengan tulisan anak bangsa. London Wild Rose karya Kusuma Andrianto. Dari situ saya baru menyadari bahwa tulisan orang Indonesia enggak kalah hebatnya dengan tulisan orang asing. Saya pun mulai membaca tulisan karya Rendra, Ahmad Tohari, A.A Navis, Ayu Utami dan juga Djenar Maesa Ayu.

Tapi seperti yang sayang bilang tadi, saya kurang rajin membaca. Kadang baca, kadang enggak. Saya lebih banyak mengakses internet daripada baca buku. Nah belum lama ini, saya mulai berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer. Saya baru berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer di usia saya yang ke 27. Ke mana saja selama ini? Payah ya?! Biarlah!

Meskipun demikian enggak ada kata terlambat. Saya pun keranjingan mebaca tulisan Pram… Seru! Asyik! Menarik!  Sayangnya buku-buku Pram yang asli susah didapatkan. Kalaupun ada, saya harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Tapi enggak masalah, saya enggak suka membaca buku palsu. Sebagai penulis, saya enggak suka buku saya dipalsukan. He he he.

Bisa dibilang bahwa, tulisan Pram membuat saya mengenal Indonesia lebih baik. Tulisannya dikemas secara apik dan sederhana tapi penuh makna. Apa artinya mengenal dunia luar kalau saya enggak mengenal Indonesia sama sekali?! Ya toh?! Tapi ya tapi…. saya juga harus mengerti apa yang terjadi di luar sana secara seimbang.

Bagi saya buku dan internet adalah sumber informasi yang saling melengkapi. Internet merupakan sumber referensi akan informasi sedangkan buku memberikan penjelasan akan suatu isu secara mendalam. Di jaman modern ini, mau tak mau kita harus menggunakan internet, si jendela dunia, to keep ourself updated. Tapi bukan berarti kita harus melupakan buku sebagai jendela dunia untuk memahami isu secara mendalam. FYI, I don’t like reading ebook : -) 

Kalau belum suka membaca buku, mulailah dari sekarang. Enggak ada kata terlambat.

signature

Indonesia: First Lady vs Myself Part II

Warning: Please read about before you read the rest of the blog and leave comment. Thank you!

 

And... I was blocked by the Indonesia's First Lady [2014: E O]

And… I was blocked by the Indonesia’s First Lady [2014: E O]

Ayo… I just want to post a very short blog and interesting one about Indonesia’s First Lady Ani Yudhoyono. Many of you might have noticed that the Indonesia’s First Lady is a drama queen and could not handle any “negative” comment or criticism from her followers in Instagram.

Her actions in Instagram have made headline in media for number of occasions simply because she could not deal with any “negative” comment or criticism. Once I experienced it by myself when I made comment about her burberry scarf and she was overly defensive about herself.

Oh well even though she is the Indonesia’s First Lady, it doesn’t mean that she is correct, always right and never made any mistake at all. So here I was today, sent a simple comment about the picture that she posted yesterday. In that photo, the caption said “Byeee as well…” so I replied “Mana ada Byeeee as well Bu @Aniyudhoyono”. My English might not be  as good as I expected but come on… it’s Indonesia’s First Lady or her staff…. They should know better.

“Byeee as well” Ibu Ani (team) said [2014:E O]

Anyway, just within 2 minutes, I checked her instagram again and guess what? I was BLOCKED by her! What does that mean? It means that Ibu Ani has recognised all my “negative” comments and got irritated with them all. So in order to avoid the chronicle stressed, she or her team decided to block me.

I would consider her action as an achievement for me. It seems to me that she is ANI-CRITICISM! Well… well… well!  It’s not surprising for me as well as for many Indonesian citizens to see her silly action.  I guess she shouldn’t be in social media at all!

Ride the bus