Catatan: Pilihan

27336515_10155917153960761_1938783188027321975_n-e1519796007923.jpgMenjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja adalah sebuah pilihan. Tak ada keharusan di mana setelah memiliki anak, ibu harus di rumah. Tak ada keharusan pula bahwa ibu harus bekerja. Semua itu tergantung pada pilihan masing-masing berdasarkan berbagai macam pertimbangan.

Kalau aku, aku memilih bekerja. Menapa? Selain ingin meraih suatu prestasi baik secara finansial maupun kemampuan, aku juga ingin selalu siap jika bencana menimpa. Aku ingat ketika gempa bumi terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006 lalu. Waktu itu, Bapak baru pensiun, aku akan kuliah, adikku masih SMA dan rumah kami rubuh. Ibaratnya sudah jatuh, tertimpa tangga, tercucuk tai kebo. Akhirnya, aku terpaksa memilih kuliah di UGM hanya karena murah (300,000 rupiah saja) padahal aku tak tertarik dengan teknik pertanian. Untung Bapak punya simpanan dan Ibu masih bekerja sehingga kami dapat terus melanjutkan kehidupan kami meskipun dengan berbagai macam adjustment. Termasuk pindah ke universitas lain, mengambil jurusan yang aku sukai.

Itulah sebabnya mengapa aku pikir penting kiranya untuk berpendidikan tinggi dan bekerja meskipun aku menjadi ibu apalagi mengingat betapa peliknya kompetisi di dunia kerja di era modern ini. Jika terjadi sesuatu, aku sudah siap. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, serangan terorisme, penyakit akut atau kecelakaan dapat menimpa siapa saja dan kapan saja. Pengalaman mengajarkanku bahwa aku harus selalu siap. Seperti Bapak selalu bilang “Sebuah gerobak lebih baik ditarik dua kerbau daripada satu. Kalau satu kerbau sakit atau mati, setidaknya gerobak masih bisa terus berjalan,” dan itulah pilihanku.

Ride the bus

Catatan: Kosong

IMG_0941Waktu malam menjejakkan kaki, tak jarang kekosongan mengekor. Seolah dipanggil, ia selalu ramah menyapa dan aku selalu ingin mengabaikannya. Ia, kekosongan, memaksaku untuk berbicara dengan mereka-mereka yang nun jauh di sana. Basa-basi di balik layar, ngobrol ngalor-ngidul tanpa arah. Malam makin larut, mereka menghilang satu persatu. Dan hanya kekosongan yang lagi-lagi menemaniku.

Ride the bus

Catatan: Aku Ra Po PO

Beberapa hari yang lalu Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kenegaraan ke Bangladesh. Dalam kunjungannya Presiden Jokowi melakukan berbagai pertemuan bilateral termasuk dengan Perdana Menteri Bangladesh Skheih Hasina untuk membicarakan kerja sama di bidang ekonomi di Dhaka. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kunjungannya ke kamp pengungsi Rohingnya di Cox’s Bazar Distric. Sayangnya, Presiden tidak berkesempatan melakukan dialog dengan komunitas Indonesia di Dhaka. Padahal ada kurang lebih 400 WNI di Bangladesh dengan problematika dan kisahnya masing-masing. Well, kita sempat berebut undangan dan berdrama ria untuk ‘penyambutan’ yang ternyata hanya berlangsung kurang dari 5 menit dan hanya untuk bilang “Hallo Pak Presiden” atau “Selamat sore” Ha ha ha What a joke?!– Mungkin beberapa tak masalah yang penting foto dengan Presiden Jokowi tapi tak ada outcome berharga selain sehelai foto.

Saya kemudian menduga, berpikir dan bertanya pada diri saya sendiri “Apakah ini karena profil WNI yang ada di Dhaka sehingga Presiden tidak dijadwalkan untuk berdialog dengan masyarakat? Buat apa?” Boleh dikatakan bahwa sebagian besar WNI yang tinggal di Bangladesh adalah mantan pahlawan devisa yang kemudian menikah dengan sesama pahlawan devisa Bangladesh yang mereka temui di Saudi, Malaysia atau Singapura dan kemudian hijrah ke Bangladesh. Namun berhubung mereka tak lagi berkontribusi bagi negara atau malah bisa jadi beban negara jadi tak penting untuk dilakukan dialog. Ya toh? Buat apa?

Padahal banyak topik yang bisa dibicarakan seperti : banyak sekali dari mereka yang merupakan perempuan tangguh bahkan beberapa dari mereka berusaha memperkenalkan makanan seperti tempe rumahan. Namun karena keterbatasan finansial, usaha mereka hanya itu-itu saja. Sedangkan potensial vegetarian di Asia Selatan pun besar. Akh siapa peduli toh?! Lagipula, dulu saja kabarnya kantin KBRI Dhaka sangat terkenal di antara komunitas ekspatriat karena enaknya makanan Indonesia. Tapi sayang, kabarnya dubes saat itu malah malu karena KBRI Dhaka lebih dikenal kantinnya. Oh well, berarti ada yang salah dong dengan kinerja dubes sampai-sampai yang dikenal hanya kantinnya. Sedangkan banyak negara di dunia maju, KBRI difasilitasi untuk mempromosikan makanan Indonesia. Ingatkan bahwa Pak Presiden ingin makanan Indonesia dikenal. Tapi ya itu, it’s not a million dollar bussines jadi buat apa? Apa untungnya? Belum lagi banyak kisah KDRT.

Dan tentu saja, profil WNI Dhaka tentu sangat berbeda dengan profil diaspora yang berada di Australia atau Amerika di mana sebagian besar merupakan pekerja kantoran atau mahasiswa. Namun tentu juga berbeda dengan profil diaspora Indonesia yang berada di Korea Selatan atau Hong Kong. Tentu menjadi seorang pemimpin negara sangatlah sibuk, mau merem pun susah. Namun jika presiden bisa berdialog dengan komunitas Indonesia di negara maju, kenapa tidak bertemu dengan mereka yang tinggal di negara dunia ketiga? Jangan hanya berinteraksi dengan wong cilik saat kampanye saja atau di dalam negeri, banyak wong cilik kita yang berada di luar negeri. Apalagi sebentar lagi Pemilu 2019, Fadli Zon saja melakukan dialog dengan WNI di sini meskipun kami tak boleh bertanya beberapa hal. Setidaknya ada kekayaan! Jadi jangan diskriminatif. Kalau Bapak membela Rohingnya yang diperlakukan secara diskriminatif oleh pemerintah Myanmar, kenapa juga melakukan yang sama terhadap masyarakatnya sendiri meskipun dalam bentuk yang berbeda. Sederhana saja!

Anyway, ini hanya sebuah buah pikiran, kritik dan masukan bagi pemerintah Indonesia dari segala level. Jangan mudah tersinggung dan dimasukkan dalam hati. Justru seharusnya menjadi masukkan.

Tabik!

Ride the bus

Catatan: Pulang

SONY DSC

Pulang [2016:EO]

Masih ingat beberapa minggu yang lalu saya menulis catatan tentang kawan yang tiba-tiba menghilang. Dia mendadak sirna. Empat puluh empat hari lamanya, keluarga dan kawan dibuat resah. Berbagai media memberitakan tentang kejadian tersebut dengan berbagai teori. Tak hanya media saja yang berteori tetapi juga jaringannya. Dan sebuah kabar, akhirnya kami terima pada hari ke empat puluh lima, adiknya mengabarkan bahwa ia telah kembali. “Syukurlah!”  Betapa senangnya hati ini bahkan saya pun sempat meneteskan air mata.

Jujur saja, hati saya sempat hancur karena  kami sempat mendengar berita bahwa dia tewas. Dan pagi ini, saya menyapanya dan mengungkapkan betapa senangnya dia telah kembali tanpa berharap dia membalas karena mungkin dia masih merenungkan kejadian yang baru saja dia alami. “Aku menyayangi kalian bertiga. Sampai ketemu lagi secepatnya” begitu ucapnya dan saya sempat meneteskan air mata membaca pesan tersebut.

Dia adalah seorang kawan. Dia adalah satu dari 55 orang yang mehilang secara misterius di tahun 2017. Dia adalah satu dari 10 orang yang kemudian kembali dengan selamat. Ke mana dia selama ini? Saya tak akan bertanya hari ini.  Yang utama, saya bersyukur akhirnya dia kembali dengan selamat.

Ride the bus

Catatan: Lelaki Jalang

SONY DSC

Turkish beer, Turkish tea [2014: E O]

Akhir-akhir ini, berita tentang Jennifer Dunn, Shaffa Harris dan Faisal Harris berseliweran di media sosial. Tak hanya itu, berita tentang Sunu, Umi Pipik pun juga berseliweran di mana-mana. Dalam hati saya “Sopo sih Sunu Ki?” Sebenernya saya enggak pernah ngegubris berita tentang selebritis tapi saking banyaknya, saya pun akhirnya iseng ngegugel tentang mereka. Oh ternyata mereka semua tersangkut kasus perselingkuhan. Yang menarik adalah sosok perempuan lah yang selalu disorot sebagai biang keladi hancurnya rumah tangga padahal enggak sedikit family man yang kegatelan bahkan banyak banget. Sayangnya, lagi-lagi perempuan yang disalahkan “Siapa suruh mau?” dan sebagainya dan sebagainya.

Anyway beberapa hari yang lalu, saya pergi sebuah pesta dengan mas bojo. Sayangnya, mas bojo harus pergi di tengah pesta karena akan pergi ke negeri coklat dan meninggalkan saya sendiri di pesta tersebut. Awalnya saya tidak mau ditinggal tapi pestanya cukup asyik, good food, interesting people, fancy venue, welcoming host, groovy music and a lot of wine! Selain itu dapat kesempatan ngobrol ngalor ngidul dengan orang-orang baru dan bertemu dengan beberapa kenalan. Di tengah pesta, seorang laki-laki yang menjabat sebagai direktur mendekati saya ketika saya sedang asyik ngobrol dengan tuan Jendral.

“Hai, mana mas bojo?” tanyanya.
“Dia harus pergi ke bandara karena harus ke Eropa!” jawab saya singkat.
“Wah sibuk sekali pasti? Apa kamu tak pernah merasa kesepian?” tanyanya mulai menjurus pikir saya.
“Akh enggak. Saya ada anak, ada kawan, ada kegiatan. Bagaimana mungkin bisa kesepian? Lagipula kenapa?” Dalam hati, saya sudah menduga bahwa dia pria hidung belang ketika dia tiba-tiba mengajak saya untuk ngobrol di tempat lain padahal saya sedang asyik ngobrol dengan tuan dan nyonya Jendral. Aneh lagi, tuan direktur meminta pelayan menuangkan anggur lagi meski saya sudah menolak.
“Masa?”
“Kau punya istri dan anak?” Saya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya, tetapi mereka tak di sini. Jadi aku merasa kesepian. Mau ke rumahku?”
“Sering pulang ke negaramu?” Tanyaku mencoba mengganti topik.
“Tentu! Kau mau ke sana? Ayo temani aku ke sana! Kau bisa tinggalkan anakmu dengan pengasuh beberapa hari saja. Saya tentu terkejut. “Gemblung betul orang ini” pikir saya.

Enggak lama kemudian tuan Jendral pamit dan bertanya apakah supir saya sudah datang menjemput. Saya pun katakan ya dan saya pun ikut pamit untuk meninggalkan pesta.

“Nona bagaimana kalau kau saya antar pulang saja?” tanya tuan direktur sambil mencoba menarik tangan saya.
“Oo alah gemblung gemblung,” pikir saya. “Maaf tak perlu. Saya sudah ada supir.”
Sayapun segera lari meninggalkan pesta dan pamit pada tuan rumah.

Lucu bukan? Tuan direktur tahu saya datang dengan mas bojo, tuan direktur tak menutupi bahwa punya istri dan mau bermain api demi selangkangannya. Tentu kalau saya tanggapi, saya yang dianggap gatel dan sundal. Seperti yang dikatakan oleh Eddie Griffin dan Dr. dre dalam lagu berjudul Ed-Ucation “Biggest hoes, on planet Earth, are walkin’ through the motherfuckin’ neighborhood || You knew when you got with the man he already had a woman ll You knew he already had a family ll But you fucked him anyway” dalam lirik tersebut perempuan lah yang sundal padahal bisa jadi yang gatel duluan sang laki-laki. Begitu pula dengan tuan direkrut, dia lah seharusnya yang dianggap sebagai the biggest hoe!

Tapi mungkin, kalau saya tanggapi sayalah yang dianggap hoe. Bahkan saya tak akan heran jika dia melakukan hal ini dari pesta ke pesta besar. Sayangnya, tuan direktur tak akan dianggap jalang atau bejat malah dianggap hebat karena bisa menarik perhatian perempuan lain bahkan istri orang di luar istrinya. Ya toh? Perempuan jalang dosa besar, lelaki jalang hebat! Begitu kata masyarakat patriarki kita! Ngehek betulkan?!

Ride the bus

Catatan: Hutang

SONY DSC

Canthing [2016: EO]

Saya selalu percaya karma itu ada di mana ketika orang lain meminta bantuan kepada kita, kita seharusnya bisa membantu semampu kita karena mungkin suatu hari kita akan membutuhkan bantuan orang lain juga. What goes around comes around! Namun adakah batasan di mana kita harus berhenti membantu?

Tak jarang orang datang pada saya meminta bantuan finansial untuk berbagai keperluan baik pinjaman, sumbangan atau berkirim/transfer dana. Kalau pinjaman, mereka akan kembalikan sesuai dengan kemampuan mereka tanpa bertanya apakah saya menyetujui hal tersebut. Lucunya kalau saya katakan tidak, saya justru dicaci macam-macam “Masa sih elu enggak punya duit!” atau “Akh pelit amat!” “Laki lu kan bule, masa elu enggak punya duit sih!” “Gue pinjem tapi balikinnya pakai installment satu tahun ya!” — ebuset! kata saya dalam hati. 

Tetapi ketika ditagih pasti banyak sekali alasannya bahkan tak jarang mereka lebih galak daripada yang kasih pinjam uang. Padahal si pengutang masih bisa bersenang-senang seperti jalan-jalan ke luar negeri, nyalon atau ke restaurant. Lucukan? Seolah-olah saya tidak mempunyai kebutuhan. Hal tersebut membuat saya garuk-garuk kepala.

Pinjam uang melalui bank atau koperasi saja banyak persyaratannya dan ribetnya bukan main di mana salah satu syaratnya kita harus punya pekerjaan. Nah kalau tidak punya penghasilan, bagaimana kita akan mengembalikan uang tersebut? Oleh karena itu semenjak saya tidak mempunyai pekerjaan tetap saya paling takut menggunakan kartu kredit bahkan saya harus menutup kartu kredit saya karena saya takut hutang. Bagaimana kalau saya tidak bisa membayar? Ya kan?!

Sebenernya hutang terhadap institusi memiliki satu sisi yang bagus. Kenapa? Karena kita belajar untuk bertanggung jawab secara finansial. Kalau boleh bercerita, hutang terbesar saya adalah ketika saya membeli mobil Ford Fiesta tahun 2012, setiap bulan saya mempunya cicilan yang harus dibayar. Cicilan ini bagaikan momok yang menghantui setiap akhir bulan sedangkan kalau kita tidak bisa membayar tagihan setelah beberapa bulan, mobil bisa ditarik. Lebih gilanya lagi, meskipun mobil sudah ditarik belum berarti hutang kita lunas. Saat itu saya bekerja sebagai penulis lepas jadi penghasilan tidak menentu. Kalau lagi tinggi, saya bayar 2-3 bulan in advance, kalau tidak ya setidaknya tagihan harus bisa dibayar. Jujur saja, saya baru bisa bernapas lega ketika kembali bekerja fulltime. Setidaknya keuangan saya jadi lebih terprediksi.

Anyway, kembali ke topik utama mengenai hutang personal, apa yang seharusnya kita lakukan terhadap orang-orang yang meminta bantuan terhadap kita selain mengatakan tidak? Haruskah kita menjaga jarak dengan mereka pula?!  What do you think?

Ride the bus

Catatan: Sebuah Identitas

IMG_0337Sebagai seorang perempuan yang berasal dari keluarga sederhana di Yogyakarta, saya punya cita-cita untuk menjadi sukses dan hidup berkecukupan, memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang saya miliki sebelumnya serta dapat melihat dunia. Perlahan-lahan, saya menggapai cita-cita saya meskipun tak secepat yang saya inginkan. Dari gaji pertama di tahun 2007, saya bisa terbang ke Bali. Dari beasiswa, saya bisa mengikuti fellowship di luar negeri. Dari gaji-gaji berikutnya, saya bisa membeli mobil meskipun mencicil sampai tuntas – meskipun tak jarang banyak yang menganggap suami yang membelikan. Tak hanya itu, saya pun punya identitas karena pekerjaan saya. Saya adalah penulis. Saya adalah jurnalis. Saya adalah researcher. Saya bangga dengan apa yang saya lakukan. Saya bangga bisa membeli ini itu dengar keringat sendiri. Saya bisa bercerita siapa saya dan apa yang saya lakukan. Sayangnya, semua itu hanya tinggal sejarah meskipun saya percaya itu hanya untuk sementara waktu.

Namun sejak saya pindah ke Bangladesh untuk mengikuti E, rasanya saya tidak punya identitas selain sebagai trailing spouse. Luntang-luntung sana sini, memperkenalkan diri sebagai seorang istri E yang bekerja di sebuah organisasi internasional. Memang, melalui pekerjaannya saya mendapatkan kesempatan untuk datang ke acara-acara istimewa, bertemu ‘pejabat’ atau bahkan konglomerat Bangladesh. Ngobrol sana, ngobrol sini tentang apa yang mereka lakukan over tea, coffee or wine. Namun, setiap kali memperkenalkan diri dengan mereka, saya jadi minder karena saya hanya trailing spouse. Tak banyak yang dapat saya bicarakan. Tak jarang pula dipandang sebelah mata. Saya merasa tak memiliki identitas. Oh betapa bencinya saya memperkenalkan diri dengan embel-embel orang lain, nama pun tak saya ganti. Jadi saya suka heran kalau ada yang pamer pekerjaan suami atau istri mereka seolah-olah mereka tropi!

Kalau dibilang ‘Kamu sih enak, enggak punya kerjaan tapi suamimu bekerja?’ Apa enaknya? Tak ada! Saya tak punya identitas. Tak ada yang bisa saya banggakan. Saya tak dapat menikmatinya dengan sungguh-sungguh simply because that is not me. Nevertheless, saya harus bersyukur dan bersabar karena tahun depan saya akan mulai membangun identitas saya kembali. Oleh karena itu, saya lebih baik fokus untuk hidup sehat, ngurus anak dengan bantuan Mina dan bekerja serabutan kalau pas ada meskipun kadang-kadang takut karena kendala administrasi seperti visa. At the end of the day, menjadi seorang ibu dari baby A juga merupakan suatu identitas. Ya kan? But…
Anyway, tak heran kalau setiap hari yang saya lakukan berolahraga dan masak. Bahkan seorang kawan bilang “Tentu saja dia masak terus karena dia bosan!” dan memang betul begitulah adanya.

Ride the bus

Catatan: Olahraga Waktu Hamil?

SONY DSCBagi beberapa-banyak orang, berolahraga saat hamil adalah ide yang sangat gila. Banyak yang khawatir bahwa olahraga dapat menyebabkan keguguran. Bahkan banyak bapak-bapak atau laki-laki kabur setiap kali melihat saya masuk ke ruangan gym dengan perut besar. Tapi apakah betul bahwa perempuan hamil enggak boleh neko-neko dan lebih baik duduk anteng dan makan sebanyak mungkin? Well, saya ingin berbagi pengalaman saya. Bukan sebagai dokter kandungan ataupun personal trainer tetapi sebagai fitness enthusiast.

Kalau boleh jujur, saya seneng dan juga agak sedih ketika saya tahu bahwa saya hamil. Lho kok gitu? Well, mungkin karena saya sangat egois, saya tidak ingin kehilangan bentuk tubuh yang sudah saya bentuk selama tiga tahun terakhir ini. Mulai dari legs, abs, shoulder, back and also chest. Dibutuhkan disiplin dan ketekunan selama beberapa tahun untuk mendapatkan otot-otot tersebut. Saya enggak mau kehilangan semuanya itu begitu saja. At the same time, I was very excited with the little one inside my womb and I want him to be healthy and happy baby. 

But then again, there was a fear within me. Kenapa? Well, sebagai trailing spouse yang baru saja gave up my job and beradaptasi di tempat baru, saya takut tiba-tiba mendapatkan anxiety attack or even worse depression. Di mana dulu, tak jarang, saya mengkonsumsi xanax ketika kedua hal tersebut menyerang ketika saya tinggal di J-Twon. As a result, saya takut untuk mengkonsumsi obat tersebut. So, how can I have a healthy pregnancy? Being fit and staying sane.

Luckily, seorang kawan memberi saya buku berjudul What To Expect When You’re Expecting yang ditulis oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel.  Pada Chapter 3 buku tersebut yang berjudul Pregnancy Lifestyle, Murkoff dan Mazel menulis “Workouts are not only a-can-do for most pregnant women but a definitely do. In fact, the vast majority of workout work well with the vast majority of pregnancies, which means you can almost certainly count on continuing your usual routine through your 9 months.”  langsung loncat-loncat dong waktu baca chapter tersebut. So that was the answer! Saya enggak perlu anti depressant dan lain-lain untuk tetap waras selama hamil.

IMG_4492Lalu apa keuntungan berolahraga saat hamil? Well, banyak! Baik untuk ibu hamil maupun janin. Untuk ibu hamil, olahraga dapat meningkatkan stamina, kualitas tidur, kesehatan, mood, otot dan punggung serta menjaga sistem  pencernaan agar lancar. Plus, lebih cepat sembuh setelah melahirkan. Sedangkan untuk janin, meningkatkan peredaran oksigen dalam tubuh dan dipercaya akan jauh lebih pintar.

Nah selama hamil, saya justru tidak melakukan yoga tapi tetap melakukan jogging, running dan weightlifting. Saya berolahraga setiap hari dua sampai tiga jam per hari. Hasilnya, saya hampir enggak pernah merasa depressed selama hamil. Boleh dikatakan bahwa olahraga saja enggak cukup. Makan makanan bergizi pun penting terutama buah-buahan, sayur-sayuran, susu dan juga daging-dagingan. Kalau bisa, jangan terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung gula. Selama hamil pun berat badan saya  naik 12 kg dan sekarang tinggal 2 kg. Saya masih punya banyak PR untuk membawa tubuh saya kembali kebentuk semula. Bukan, bukan kurus namun sehat dan berotot.

Tentu banyak orang yang berpendapat berbeda-beda namun saya akan jauh lebih mempercayai hasil riset daripada mitos tentang ibu hamil. Oleh karena itu, kalau ingin sehat dan dapat terus berolahraga selama hamil, alangkah lebih baik jika mulai menyukai olahraga sebelum hamil sehingga badan kita enggak kaget dengan berbagai macam perubahannya. Bagi saya, sembilan bulan hamil bukanlah waktu yang susah, gamping banget! Yang susah justru tiga hari setelah melahirkan apalagi saya melahirkan secara c-section. Bahkan sampai sekarang kalau saya enggak olahraga bekas jahitan malah sakit.

Btw, saya baru bikin akun Instagram yang berisi fitness dan makanan sehat. Follow @ibuksehat yuk!

Ride the bus

Catatan: Sok Nginggris

DSCN0013Dalam suatu  kesempatan, pernah saya dengar kritik terhadap orang-orang Indonesia yang suka bicara dalam bahasa Inggris. Padahal, bahasa Inggrisnya jelek– begitu katanya. Terkadang, saya hanya senyum dan tertawa. Baiklah, mungkin bahasa Inggris mereka sempurna. Jadi mereka nyinyirin orang lain- begitu pikir saya.

Saya jadi teringat ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk bekerja di media berbahasa Inggris. Alasannya, saya ingin memiliki pembaca selain orang Indonesia dan di luar Indonesia. Selain itu, saya juga ingin bisa bekerja di luar negeri suatu saat nanti. Mungkin bagi beberapa orang, saya mimpinya muluk-muluk. Lulusan Sastra Inggris saja bukan kok tapi pengen bekerja di media berbahasa Inggris; belum lagi bahasa Inggris saya pas-pasan baik untuk reading, writing, speaking dan juga listening. Entah berapa score IELTS saya waktu itu. Namun jujur saja, meskipun saya sering minder, hal tersebut sama sekali tidak menghentikan niat saya.

Setelah melamar sana-sini, saya pun akhirnya mendapatkan beberapa kesempatan berharga untuk melakukan magang di Bali dan Jakarta. Saya bertemu banyak orang baru dan belajar banyak hal. Namun, suatu hari, saya tiba-tiba merasa takut karena merasa Bahasa Inggris saya sangat jelek, takut tidak dapat memenuhi target dan takut menjadi beban.  Saya mengungkapkan kegundahan saya tersebut pada atasan saya. Dengan tenang beliau mengatakan “It is okay. We are not native speaker, we have copy editor and you will initially improve it.”  Saya pun selalu mengingat hal tersebut hingga hari ini.

Di lain waktu, saya berbicara dengan salah seorang diplomat Indonesia mengenai perdagang Indonesia di Amerika Utara. Beliau mengatakan bahwa perdagangan Indonesia ke Amerika Utara jauh lebih rendah dibandingkan dengan Thailand. Mengapa? Hal ini disebabkan banyaknya orang Indonesia yang enggak mau repot dengan proses perdagangan dan mereka takut berbahasa Inggris. Padahal kalau boleh jujur, bahasa Inggris orang Indonesia jauh lebih mudah dipahami ketimbang orang Thailand dan Vietnam, begitu katanya.

Jangankan pada sesamanya yang orang biasa, dulu waktu Presiden Jokowi masih menjadi kandidat, kemampuan berbahasa Inggrisnya diejek oleh masyarakat yang merasa Bahasa Inggrisnya jauh lebih bagus daripada Jokowi. Masyarakat kota yang merasa orang desa enggak boleh jadi pemimpin. Katanya malu-maluin punya presiden yang enggak bisa berbahasa Inggris. Lha, Pak Harto? Lucukan. Namun dari sinilah, saya melihat bahwa lebih banyak orang Indonesia gemar memberikan punishment daripada reward kepada orang-orang yang berusaha apalagi menginagat setiap orang pasti mulai dari nol.

Anyway, di era globalisasi ini, penting kiranya kita memiliki kemampuan berbicara dengan lebih dari satu bahasa- mau bahasa Inggris, bahasa Mandarin, Bahasa Arab, Bahasa Perancis atau Bahasa apapun yang sekiranya penting dalam kehidupan masyarakat global. Nah, daripada kita nyinyirin orang lain, ada baiknya kita mengapresiasi orang lain yang sedang berusaha. As they said practice makes perfect.

Ride the bus

Catatan: Simbok

SONY DSC

Hampir lima bulan terakhir ini, saya telah menjadi seorang ibu. Hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya satu tahun lalu karena saya terlalu menikmati pekerjaan dan hobi saya. Belum lagi saya berencana untuk meneruskan kuliah di Kanada setelah saya diterima di University of Toronto. Tapi, apa boleh buat. Kata orang yang percaya dengan adanya Tuhan, Tuhan punya rencana lain. Saya hamil dan lahirlah baby A awal Januari lalu, my monkey fire baby.

Meskipun tidak direncanakan, jujur saja, saya sangat menikmati menjadi seorang ibu apalagi setiap kali menyusui. Somehow, it comes across as a very special moment between myself and him. I even often say to myself “I will do anything to make him happy and healthy. I will always be there for him” As they say, breastfeeding helps a mother bonding with their child. So, I guess it is true.

Kalau boleh berterus terang, awalnya menyusui adalah sebuah momok bagi saya. Mengapa? Well, baby A lahir melalui operasi caesar di mana tim dokter harus memberikan bius lokal di tulang belakang. Efek bius tersebut sangat amat mengerikan, saya terus menerus muntah setelah melahirkan. Bahkan saat saya memberikan asi untuk pertama kali, saya pusing tujuh keliling dan muntah. Bayangkan saja, bukannya saya bahagia melihat baby A untuk pertama kali tapi malah muntah-muntah karena efek obat bius tersebut. “What kind of mother am I?” Saya sangat frustrasi kala itu. Sampai-sampai, sambil menangis, saya bilang pada perawat yang membantu saya malam itu “How can I breastfeed my baby if I cannot even sit up right and I continuously throw up?

Tidak hanya efek obat bius saja yang membuat saya takut menyusui tetapi juga my engorged breasts. Pada hari pertama, payudara saya langsung membengkak karena produksi ASI yang cukup tinggi atau oversupply. I did not know whether I should consider that as a blessing or a curse because it was very painful. I even got angry, “Why nobody told me about this horrible breast engorgement?” Well, it’s easier to blame on other people, right? 😁

Kebayang dong, masih dibawah pengaruh obat bius, payudara membengkak dan harus belajar menyusui baby A. It was very stressful and frustrating. Untungnya, dengan sabar para perawat dan konsultan laktasi terus membantu saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar. Tetapi jujur saja, entah mengapa rasanya sulit sekali untuk menyusui saat itu. Bahkan, saking susahnya, setelah pulang ke rumah, saya sampai harus memanggil doula ke apartment untuk kembali mengajari saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar.

Lucunya, meskipun baby A belum punya gigi, saya takut digigit; sehinggasaya pun membeli peralatan perang untuk menyusui mulai dari nipple cream sampai nipple shields yang pada akhirnya pun enggak pernah saya pakai.

Boleh dibilang bahwa setidaknya dua minggu lamanya saya mengalami kesulitan dalam belajar bagaimana menyusui baby A dengan benar tanpa menderita. Bukan cuma itu saja, dalam dua minggu pertama tersebut, saya pun sempat kena mastitis dan harus bolak-balik ke konsultan laktasi di rumah sakit. Thankfully, setelah berbagai kesulitan tersebut selama dua minggu pertama, sekarang baby A langsung ‘nemplok’ tanpa digiring setiap kali mau makan. And, I must say that I do enjoy breastfeeding him. Again, it’s a very special moment especially when he looks at me, smiles at me and hold my shirt so tight as if he doesn’t want to let me go. Bahkan, saya kadang takut kalau nanti dia sudah tidak mau minum susu dari saya. I guess, this is the joy of being a mother.

But yeah, I swear to God, it was very difficult at the beginning. I even thought that nine months of pregnancy was actually way easier than the first three days of being a mother. I vividly remember, there was even a moment where I even had a breakdown and cried “I have never been so dependent like this,” because I could hardly do something, I couldn’t even get a glass of water for myself or just take a look at my phone. 

Anyway, boleh dibilang, meskipun saya sangat menikmati setiap detik menjadi seorang ibu karena bisa terus berinteraksi dengan baby A dan juga melihat perkembangannya, saya juga sangat rindu dunia kerja. Entah mengapa saya jadi merasa sedikit dungu akhir-akhir ini. Oh well, I really need to get the wheels turning either by going back to work or doing some study.

Ride the bus