Tag Archives: Asia

Photo: Yangon’s Sneak Peek

SONY DSC

The famous Thanaka Wood, the ancient natural sun protection from Myanmar [2017:EO]

SONY DSC

Enjoying their lunch on the side walk [2017:EO]

SONY DSC

Myanmar style rickshaw [2017:EO]

SONY DSC

Drying [2017:EO]

SONY DSC

Can I have cosmopolitan please? [2017:EO]

SONY DSC

Visitors [2017:EO]

SONY DSC

Source of life [2017:EO]

SONY DSC

Ain’t bad restaurants [2017:EO]

SONY DSC

Decoration [2017:EO]

SONY DSC

Buddhist Ritual [2017:EO]

signature

signature

Leave a comment

Filed under Photo

Photo: The City of Yangon

SONY DSCSONY DSCSONY DSCSONY DSCSONY DSCSONY DSCSONY DSCSONY DSCSONY DSCSONY DSC

signature

Leave a comment

Filed under Photo, Uncategorized

Catatan: Tentang Identitas

Beberapa waktu yang lalu, saya bertanya pada supir saya mengenai etnisitasnya. Dia menjawab bahwa dia adalah seorang Muslim. Saya bertanya ulang. Dia tetap menjawab hal yang sama. Saya kembali bertanya sekali lagi dan menjelaskan pertanyaan saya. “No, I am not asking about your religion but your ethnicity. I mean, some people are Garo, some Chakma, what about you?” Dia masih memberikan jawaban yang sama. Saya pikir, mungkin hal tersebut dikarenakan keterbatasan pemahaman bahasa. Saya tidak meneruskan pertanyaan saya. Padahal saya sangat penasaran. Kenapa? Karena saya mengenal orang Bangladesh yang memiliki ciri fisik yang sama dengannya (berkulit hitam legam dan hidung mancung) tetapi dia beragama Hindu. Meskipun demikian, saya anggap jawabannya cukup menarik di mana dia lebih menidentifikasinya dirinya dengan aliran kepercayaanya atau agamanya, ketimbang suku atau pekerjaanya.

Bangladesh merupakan sebuah negara kecil yang terletak di antara India dan Myanmar. Bangladesh yang memiliki luas wilayah sebesar 130,168 km2 diperkirakan memiliki jumlah penduduk sebanyak 168 juta jiwa per  tahun 2015. Dari jumlah penduduk yang hampir mencapai 170 juta jiwa tersebut 98.5 persen berasal dari suku Bengali, sedangkan sisanya berasal dari suku Garo, Chakma, Santhal, Biharis, Mundas dan juga Kasi. Dari setiap suku tersebut, asosiasi terhadap aliran kepercayaan atau agama berbeda satu sama lain. Misalnya, mayoritas suku Bengali merupakan pemeluk agama Islam; sedangkan mayoritas suku Chakma merupakan pemeluk agama Buddha, mayoritas suku Manipuri beragama Hindu sedangkan mayoritas suku Garo merupakan pemeluk agama Kristiani

Sebenarnya, hal ini tidak jauh berbeda dengan Indonesia, salah satu agama cenderung menjadi mayoritas di suatu tempat. Di Bali misalnya, mayoritas penduduknya merupakan pemeluk agama Hindu sedangkan di Flores, mayoritas penduduknya merupakan pemeluk agama Katholik. Tetapi yang membedakan antara orang Indonesia dan Bangladesh adalah bagaimana masyarakat Indonesia mengidentifikasi diri mereka, di mana orang Indonesia  lebih cenderung mengidentifikasi dirinya dengan sukunya ketimbang agamanya.

Hal ini benar-benar menarik perhatian saya tentang bagaimana seorang warga negara menidentifikasi dirinya, apakah berdasarkan negara asalanya, agamanya, pekerjaanya atau kesukuannya. Dari semuanya itu, mana yang lebih berbahaya bagi kehidupan manusia? Lalu, siapa yang berperan besar dalam menanamkan identitas tersebut dalam diri seorang warga negara? Apakah pemerintah memiliki peran di dalamnya?

Menurut saya, tentu pemerintah memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk identitas warga negaranya. Sebagai orang Indonesia, kita beruntung karena Bapak negara kita mengakui keberagaman suku, ras, agama dan budaya oleh karena itu kita memiliki slogan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu juga”. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini, banyak gerakan Islam transnasional yang mencoba menghasut masyarakat Indonesia untuk melupakan suku dan rasnya apalagi 85 persen penduduk Indonesia merupakan pemeluk agama Islam. Akan sangat disayangkan apabila masyarakat mulai cenderung mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pemeluk agama tertentu ketimbang kesukuaanya.

Dan sayangnya, hal tersebut sudah mulai terjadi. Hal ini dapat dilihat dari sebuah  blog berjudul “Membaca Persepsi Jurnalis terhadap Agama (Islam)” oleh Suhadi Cholil, dosen Prodi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM. Suhadi menuliskan bahwa hasil survei yang dilakukan Yayasan Pantau pada tahun 2012 terhadap 600 wartawan di 16 propinsi. Hasil survei tersebut menunjukkan kecenderungan wartawan Indonesia yang menidentifikasi diri sebagai Islam daripada sebagai Indonesia. Tentu saja, hal ini akan berimplikasi terhadap pemberitaan di media massa dan mampu mengiring opini publik.

Padahal, perlu diketahui bahwa banyak tokoh intelektual Bangladesh yang mengapresiasi Indonesia dalam menjaga keharmonisan masyarakat di tengah perbedaan latar belakang masyarakatnya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat luar cenderung hanya melihat Indonesia dari kulitnya saja. Agaknya, pemerintah Indonesia perlu benar-benar bertindak tegas menangkal penyebaran ideologi radikal yang akan mengubah cara berpikir masyarakat kita serta citra Indonesia sebagai negara pluralis; sehingga apa yang selama ini dikampanyekan pada masyarakat internasional bukan hanya sekedar retorika belaka atau pencitraan dan benar-benar mampu menanamkan keharmonisan di antara masyarakat Indonesia sendiri.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Tentang Bekerja

SONY DSC

Perempuan yang Bekerja [2016:EO]

Sebagai orang yang enggak bisa anteng dan meneng, saya enggak bisa hanya duduk di rumah dan do nothing sebagai ibu rumah tangga. Bahkan, saya enggak pernah berminat atau bercita-cita untuk menjadi a fulltime housewife. Rasanya ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan saya. Apalagi sebagai wartawan, dulu saya selalu bertemu dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya dan mendapatkan ilmu baru dari mereka. Belum lagi pekerjaan saya dalam dua tahun terakhir ini yang benar-benar membuka mata saya sebagai individu dan citizen di sebuah negara. Tetapi tahun ini saya harus mengambil jalan tersebut, menjadi a fulltime housewife.

Kenapa? Well, sebenernya tahun ini saya akan melanjutkan sekolah untuk program Master of Global Affairs selama dua tahun di Munk School, University of Toronto, Canada. Rencananya, sebelum kelas dimulai di bulan September lalu, saya mau mengikuti suami saya ke Dhaka, Bangladesh untuk beberapa bulan. Tetapi saya terpaksa harus menunda program tersebut karena saya hamil dengan due date 10 January 2017.

Enggak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya banyak perempuan hamil yang masih dapat meneruskan sekolah atau pekerjaan selama musim dingin di belahan bumi utara sana. Tetapi saya memilih untuk mundur kali ini. Kenapa? Well, pertama sebagai first time mom,  I don’t know what to expect during the pregnancy dan saya akan sendirian karena suaminya bertugas di negara lain; bayi akan lahir di musim dingin dan I hate winter, the temperature is unbearable for me; dan yang terakhir saya khawatir saya enggak akan fokus dengan kuliah saya karena dua hal tersebut. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, saya memutuskan untuk mengirimkan deferral request email ke mereka. Thanks God, they approved.

So now, what am I going to do in Bangladesh? A new country which I don’t speak its language and can hardly understand its alphabet. Saya mulai stressed. Ada yang bilang “Ya udah sih, mendingan kamu belajar menerima hal tersebut dan nikmatin aja.” atau ada yang bilang “Kamu sih enak, walaupun jobless setidaknya enggak moneyless.” Well, setiap orang kan berbeda-beda. Saya enggak setuju dengan pendapat tersebut. Kenapa? Karena saya belum memenuhi dua kebutuhan dasar saya sebagai manusia sebagaimana dikemukakan oleh Abraham Maslow, yakni ego/harga diri (esteem) dan aktualisasi diri (self-actualization).

Lagipula, apakah hidup ini hanya melulu tentang uang saja? Uang memang penting apalagi kita enggak akan pernah tahu akan apa yang terjadi suatu hari nanti, tetapi saya menyadari bahwa uang enggak membawa kebahagiaan. I can say this because I have been there. Rocking a lot of the high-end fashion designers stuffs and eating in fancy restaurants/bars, yet I was not happy. It does not mean that I don’t like beautiful things anymore but I value things differently. Dan bisa saya bilang, memang jauh lebih menyenangkan apabila kita membeli sesuatu dengan keringat kita sendiri.

Lagipula, sebagai perempuan Indonesia yang melakukan kawin campur, stigma ‘numpang hidup sama mister‘ akan terus melekat pada mereka kecuali mereka bekerja. Lha wong sudah bekerja keras saja masih dilabeli numpang hidup sama mister kok tapi ya itulah manusia.

Saya jadi ingat kata-kata Bapak saya: rumah tangga itu bagaikan gerobak yang ditarik kerbau di mana gerobak akan bergerak lebih cepat jika ditarik oleh dua ekor kerbau ketimbang satu ekor. Selain itu, ketika salah satu kerbau tersebut sakit atau mati, gerobak masih tetap bisa dijalankan meskipun dengan seekor kerbau saja. Dan saya teringat oleh kata-kata tersebut sampai sekarang.

Jujur saja, sita-cita saya, saya enggak cuma bekerja hanya demi uang tanpa menikmati apa yang saya lakukan. Saya ingin mendapatkan pelajaran dari pekerjaan tersebut juga. Dengan begitu, saya akan terus merasa tertantang untuk terus meningkatkan pekerjaan saya dan pengetahuan saya akan sesuatu. Dan tentu saja dengan harapan enggak mengecewakan perusahaan. Selain itu, saya ingin bisa memberikan manfaat terhadap orang lain. Mungkin saya terlalu optimistis, saya lebih memilih untuk bercita-cita tinggi dan terus belajar untuk menggapainya. There is nothing impossible.

Tetapi kali ini, saya harus mengalah untuk sementara hingga saya melahirkan dan mengisi waktu luang saya dengan membaca buku, mendengarkan kuliah umum dari universitas terkemuka melalui podcast, membuat catatan dari kuliah umum dan buku yang saya baca tersebut, olah raga dan belajar memasak. Dengan demikian, saya terus dapat mengekspresikan diri meskipun secara terbatas. Lha wong Mbah Lindu yang sudah 96 tahun saja masih mengekspresikan dirinya kok, masa saya enggak.

Tentu saja ini adalah sebuah pilihan dan setiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda, ada yang memilih jadi fulltime housewife, ada yang memilih untuk terus bekerja, yang penting selama kita bahagia dengan pilihan tersebut, kenapa tidak? Ya toh?

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Photo: Bangkok’s Foodie

SONY DSC

The Glorious Stink [2016:EO]

SONY DSC

Bangkok’s Street Foods are The Best [2016:EO]

SONY DSC

Lek & Rut Seafood in Yaowarat, Bangkok’s Chinatown [2016:EO]

SONY DSC

Papaya Salad’s Ingredients [2016:EO]

SONY DSC

Yaowarat’s Vegetarian Food Festival [2016:EO]

SONY DSC

Sago [2016:EO]

Leave a comment

Filed under Photo

Photo: Bangkok

SONY DSC

Parking [2016:EO]

SONY DSC

The Chao Phraya River [2016:EO]

SONY DSC

Riverfront Residences [2016:EO]

SONY DSC

Fallen [2016:EO]

SONY DSC

Motor [2016:EO]

SONY DSC

Under construction [2016:EO]

SONY DSC

Ingredients [2016:EO]

SONY DSC

Uncle [2016:EO]

SONY DSC

Glitters [2016:EO]

SONY DSC

The Almighty Pork [2016:EO]

SONY DSC

Broken Bangkok [2016:EO]

signature

Leave a comment

Filed under Photo

Kitchen: Thai Basil Chicken

13590495_10154224339680761_8731297260258292188_n-1

Homemade Thai Basil Chicken with Yellow Pepper [2016:EO]

Ingredients:

  1. 500 gr of ground chicken
  2. 6 cloves of garlic
  3. 8 thai chilies
  4. 2 tbs of vegetable oil
  5. 1 tbs of oyster sauce
  6. 1 tbs of light soy sauce
  7. 1/2 tsp of sugar
  8. 1 tsp of salt
  9. a bunch of fresh basil
Directions:
  1. In a food processor, place garlic as well as thai chilies, process them until finely ground;
  2. In a frying pan, heat the vegetable oil over the medium high heat for 30 seconds; place the garlic and chili paste;
  3. Add the ground chicken and stir them together over medium low heat for 2 minutes;
  4. Add oyster sauce, light soy sauce, sugar, salt and basil; stir them well quickly and let it cook over medium heat for 8 minutes;
  5. Turn off the heat and transfer it to serving plate;
  6. Serve the Thai basil chicken with hot rice, over easy egg and slice of cucumber.

PS: You can also add some vegetable such as  yellow pepper, asparagus, string bean or sweet bean into the Thai basil chicken.

Happy cooking!

signature

Leave a comment

Filed under kitchen