Photo : Bhutan

_DSC0089

Buddha [2018: EO]

_DSC0083

Foggy [2018:EO]

_DSC0153

Mantra [2018:EO]

_DSC0058

Sharing [2018:EO]

_DSC0067

Playdate [2018:EO]

_DSC0075

Drying and dying [2018:EO]

_DSC0173

Focus [2018:EO]

_DSC0179

The Watcher [2018: EO]

_DSC0205

Say a little prayer [2018: EO]

_DSC0213

Reminder [2018: EO]

_DSC0245

Knitting [2018: EO]

_DSC0298

Dochula Pass [2018: EO]

_DSC0409

Technology and Human [2018:EO]

_DSC0414

Discussion [2018: EO]

_DSC0423

Praying [2018: EO]

_DSC0427

Working [2018: EO]

_DSC0436

Fertility [2018: EO]

_DSC0438

Getting older [2018: EO]

Notes: Recovery

www.It was all started in 2009 when a doctor told me that I would only have another 10 years to live if my liver problem was being treated. He did not give me any choice because he saw me as a poor student and the treatment was expensive. I was only 21 years old university student back then. So he only gave me some dodgy vitamin. I was afraid & terrified.

What would I have achieved by the age of 31 y.o? Would I be a successful woman?” I was terrified. I was in a relationship that time, I told him & gave choices either to stay or to leave. He stood by me, so he said. He did, he still is. He then found one of best doctor in Southeast Asia.

We met her in SG. After test & consultation, she told me that everything would be okay as long as it is treated properly. I was not really convinced but we went ahead with the treatment. It was a strong drug. After 2 years, it showed a significant improvement and the doctor stopped the treatment. I was very happy. I thought the first doctor was full of b.s.

Yet, I was still afraid that I might die at the age of 31. So I worked so hard to achieve everything that I wanted in life. “I only had 10 years, got no time to waste.” That’s what I said to myself. Jakarta’s life was not that easy & it made life circumstances harder. This led me into #depressionand #anxiety.

I must say that time I often felt that I was worthless, no point of living this life and I always kept distance from anyone. I became an unpleasant person to be around with and I built Great Wall from my friends and family. I would not talk to anyone unless I wanted to. It came to the point where I tried to kill myself and landed in hospital several times. Pills, knife and car accident. I was out of my head. And yet, I was still alive.

Nobody told me that I needed a help but I thought that I needed professional help. So I looked around and found one. Unfortunately, some physicists that I saw were being judgmental. It didn’t work. Yet, they prescribed me with anti-depression. I become dependent. From 0.125 mg to 2.5 mg. Higher & higher. The 2.5mg didn’t work anymore.

Out of the unknown, these anti depressant pills were bad for my liver. My problem returned & worse. It got me more depressed. I then started believing what the first doctor said that I am indeed going to die by the age of 31 y.o I was lost & didn’t know what to do. And one day, a friend took me to #running track to cope with my depression for the very first time & it was hard

Ride the bus

Catatan: Dupata

www.catatanfani.comPada suatu kesempatan, seorang kawan laki-laki dari Bangladesh mengatakan pada saya bahwa banyak perempuan Bangladesh tidak menggunakan dupata (scarf) untuk menutupi payudara mereka. Apalagi tak sedikit dari mereka memiliki payudara yang besar. Dia menganggap bahwa hal ini sangat tidak baik karena banyak laki-laki yang akan melihat payudara yang perempuan tersebut dan menimbulkan niat jahat termasuk pelecehan seksual maupun pemerkosaan. Mendengarkan pernyataan tersebut, saya pun mengernyitkan kening.

“Kenapa perempuan yang salah?” tanya saya.

“Karena mereka tidak menutupi payudara mereka,” katanya.

“Lho mereka sudah menggunakan kameez, berlengan panjang dan gombrong pula.” kata saya.

“Ya tetap kurang!” katanya kekeuh.

“Kalau laki-laki yang menjadi bernapsu, kenapa perempuan yang repot? Bukankah kalian harus mengontrol napsu kalian?” kata saya mempertanyakan pendapatnya. Kawan saya pun terdiam.

“Nah, saya selalu datang ke gym ini menggunakan sport bra atau tank top dan celana pendek. Kalau ada yang melecehkan saya, apakah kamu akan bilang itu salah saya?”

Dia kembali diam. Mungkin mengiyakan pendapat saya.

“Dulu saya pernah dijambret. Seorang ibu mengatakan itu salah saya karena saya pakai kutang. Aneh kan? Wong penjambret mau emas kok baju saya yang disalahkan? Lagipula kamu punya dua anak perempuan, suatu saat mereka akan memilih jalan mereka masing-masing. Apakah dengan memberikan baju yang tertutup berarti melindungi mereka dari pelecehan seksual? Tentu tidak! Berapa banyak yang diperkosa karena menggunakan hijab atau burqa?” kawan sayapun tetap diam.

Diam entah karena tidak setuju atau diam karena tidak bisa mengekspresikan pendapatnya dalam bahasa Inggris.

Bagi saya, laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsu mereka tetapi kenapa perempuan yang harus repot. Melihat tetek sedikit ngeceng, ngelihat kaki ngeceng, melihat lengan ngeceng. Hadeeeeh! Percuma beragama tapi berkelakuan seperti binatang. Ya toh? Tentu hal ini tidak hanya terjadi di Bangladesh saja tetapi di tengah masyarakat tradisional mana saja.

Ride the bus

 

Notes: Losing Your Body? Nah!

www.catatanfani.com (1)Many people say that once a woman becomes a mother, she will lose her body, become fat and have jiggly yet flabby body especially those who has baby delivered through c-section including me. Don’t even dream to get your body back, so they say. But here I am, I prove them wrong. You can still have a well-shape body even you have many children be it through normal delivery and/or c-section.

I started getting back to my training regime at seventh weeks postpartum. I must say that I didn’t find it easy. Sometimes I got frustrated because I didn’t seem to lose any baby fat after working out for one month. Sometimes I got frustrated or even depressed because l only run at the slow pace. Sometimes I even gave up, just sat down, did no exercises for hours and just played with my phone because I felt that I did not make any progress. 

But one day, I said to myself “Don’t be too hard on yourself. Just started again,” so I started to take it easy that time. I just forgot about the aesthetics result and just focused on the form of my exercise as well as my diet.

At the end, aesthetic result is not my main exercise’s goal but sanity is. As a result, I got my body back faster than I expected as you can see on the picture above. 

Ps: no whey protein is being used. It’s all natural diet.

Ride the bus

Catatan: Aku Ra Po PO

Beberapa hari yang lalu Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kenegaraan ke Bangladesh. Dalam kunjungannya Presiden Jokowi melakukan berbagai pertemuan bilateral termasuk dengan Perdana Menteri Bangladesh Skheih Hasina untuk membicarakan kerja sama di bidang ekonomi di Dhaka. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kunjungannya ke kamp pengungsi Rohingnya di Cox’s Bazar Distric. Sayangnya, Presiden tidak berkesempatan melakukan dialog dengan komunitas Indonesia di Dhaka. Padahal ada kurang lebih 400 WNI di Bangladesh dengan problematika dan kisahnya masing-masing. Well, kita sempat berebut undangan dan berdrama ria untuk ‘penyambutan’ yang ternyata hanya berlangsung kurang dari 5 menit dan hanya untuk bilang “Hallo Pak Presiden” atau “Selamat sore” Ha ha ha What a joke?!– Mungkin beberapa tak masalah yang penting foto dengan Presiden Jokowi tapi tak ada outcome berharga selain sehelai foto.

Saya kemudian menduga, berpikir dan bertanya pada diri saya sendiri “Apakah ini karena profil WNI yang ada di Dhaka sehingga Presiden tidak dijadwalkan untuk berdialog dengan masyarakat? Buat apa?” Boleh dikatakan bahwa sebagian besar WNI yang tinggal di Bangladesh adalah mantan pahlawan devisa yang kemudian menikah dengan sesama pahlawan devisa Bangladesh yang mereka temui di Saudi, Malaysia atau Singapura dan kemudian hijrah ke Bangladesh. Namun berhubung mereka tak lagi berkontribusi bagi negara atau malah bisa jadi beban negara jadi tak penting untuk dilakukan dialog. Ya toh? Buat apa?

Padahal banyak topik yang bisa dibicarakan seperti : banyak sekali dari mereka yang merupakan perempuan tangguh bahkan beberapa dari mereka berusaha memperkenalkan makanan seperti tempe rumahan. Namun karena keterbatasan finansial, usaha mereka hanya itu-itu saja. Sedangkan potensial vegetarian di Asia Selatan pun besar. Akh siapa peduli toh?! Lagipula, dulu saja kabarnya kantin KBRI Dhaka sangat terkenal di antara komunitas ekspatriat karena enaknya makanan Indonesia. Tapi sayang, kabarnya dubes saat itu malah malu karena KBRI Dhaka lebih dikenal kantinnya. Oh well, berarti ada yang salah dong dengan kinerja dubes sampai-sampai yang dikenal hanya kantinnya. Sedangkan banyak negara di dunia maju, KBRI difasilitasi untuk mempromosikan makanan Indonesia. Ingatkan bahwa Pak Presiden ingin makanan Indonesia dikenal. Tapi ya itu, it’s not a million dollar bussines jadi buat apa? Apa untungnya? Belum lagi banyak kisah KDRT.

Dan tentu saja, profil WNI Dhaka tentu sangat berbeda dengan profil diaspora yang berada di Australia atau Amerika di mana sebagian besar merupakan pekerja kantoran atau mahasiswa. Namun tentu juga berbeda dengan profil diaspora Indonesia yang berada di Korea Selatan atau Hong Kong. Tentu menjadi seorang pemimpin negara sangatlah sibuk, mau merem pun susah. Namun jika presiden bisa berdialog dengan komunitas Indonesia di negara maju, kenapa tidak bertemu dengan mereka yang tinggal di negara dunia ketiga? Jangan hanya berinteraksi dengan wong cilik saat kampanye saja atau di dalam negeri, banyak wong cilik kita yang berada di luar negeri. Apalagi sebentar lagi Pemilu 2019, Fadli Zon saja melakukan dialog dengan WNI di sini meskipun kami tak boleh bertanya beberapa hal. Setidaknya ada kekayaan! Jadi jangan diskriminatif. Kalau Bapak membela Rohingnya yang diperlakukan secara diskriminatif oleh pemerintah Myanmar, kenapa juga melakukan yang sama terhadap masyarakatnya sendiri meskipun dalam bentuk yang berbeda. Sederhana saja!

Anyway, ini hanya sebuah buah pikiran, kritik dan masukan bagi pemerintah Indonesia dari segala level. Jangan mudah tersinggung dan dimasukkan dalam hati. Justru seharusnya menjadi masukkan.

Tabik!

Ride the bus