Catatan: Mabok Agama

Enek enggak sih baca postingan di sosial media yang selalu berkaitan dengan agama? Mulai dari kasus pelecehan seksual, perempuan bekerja dan laki-laki menjadi bapak rumah tangga, orientasi seksual sampai ke urusan politik. Dari urusan selakangan sampai jabatan. Entah makin banyak orang yang mabok agama, entah karena hal ini semakin terkekspos oleh media massa serta media sosial atau mudahnya distribusi informasi hari ini.

Bagi orang yang mempelajari ilmu sosial, pasti banyak yang tahu bahwa agama adalah sebuah bentuk konstruksi sosial yang disusun oleh kelompok tertentu dengan cerita masing-masing. Di mana, bisa jadi kebenarannya bisa dipertanyakan. Meskipun demikian, saya percaya agama apapun memiliki pesan moral yang berguna bagi keharmonisan hidup manusia dan alam semesta. Sayangnya, pesan moral tersebut belum tentu dapat dipahami oleh penganutnya secara menyeluruh. Belum lagi, banyak penganut agama (enggak semua) yang cenderung memilih mendengarkan ceramah pemuka agama saja ketimbang mempelajari agama tersebut secara konstruktif sehingga mereka memiliki tafsiran atau intepretasi yang berbeda-beda satu sama lain. Alhasil, banyak dari mereka yang menjadi fanatik dan suka memaksakan kepercayaan mereka terhadap orang lain dengan harapan bisa masuk surga, sebuah tempat imajiner.

Selain itu, manusia yang katanya makhluk paling sempurna dengan akal, budi dan pikiran tersebut dapat dipecah-belah dengan agama yang notabene merupakan produk konstruksi sosial ciptaan manusia tersebut. Jangankan memecah-belah masyarakat yang berskala besar, agama bisa juga memecah-belah keluarga termasuk hanya karena salah satu anggota keluarga berganti ke agama tertentu, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan orang yang berbeda agama, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan cara agama lain demi kemudahan, dsb. Sebagaimana dikatakan oleh filusuf asal Skotlandia David Hume di mana agama bukan merupakan hasil dari buah pikiran/logika/nalar melainkan perasaan, oleh karena itu enggak ada gunanya untuk beradu dengan penganutnya apalagi yang fanatik. Yang ada malah jadi debat kusir.

Saya jadi teringat cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis tentang Ajo Sidi, pembual desa yang juga merupakan pekerja keras, yang menceritakan kisah Haji Saleh yang rajin beribadah namun tidak masuk surga. Pertama kali saya membaca cerpen tersebut waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya membacanya berulang kali. Akhirnya saya paham bahwa orang boleh saja beriman namun jangan lupa berperikemanusiaan, dengan berperikemanusiaan orang akan lebih mudah masuk surga ketimbang hanya rajin berdoa. Saya pun kemudian melihat di sekeliling saya, saya melihat contoh nyata yang membuat saya enek dengan agama. Misalnya orang yang rajin beribadah tapi berkata-kata menyakitkan terhadap seorang yatim piatu; saudara kandung yang mengejek saudara kandungnya karena memakai kerudung di tengah keluarga Kristiani yang tengah dirundung suasana duka; seorang kriminal yang menjustifikasi perbuatan kriminalnya dengan ayat kitab suci atau seorang pegawai negeri yang tidak dapat menduduki jabatan tertentu hanya karena berbeda agama.

Dari tahun ke tahun saya melihat hal tersebut dari skala kecil sampai besar, saya pun memutuskan untuk tidak beragama tapi saya percaya adanya the higher power. Kenapa? Meskipun saya dulu anak IPA, saya malas untuk mempelajari Big Bang Theory tentang asal-usul semesta atau kemungkinan manusia itu sebenernya berasal dari planet Mars dari kehidupan sebelum planet Mars mengalami doomsday. Males bangetkan mikirnya? Anyway, untuk apa kita beragama tapi tidak bisa memperlakukan sesama manusia dengan semestinya. Itu gila! Tentu saja, itu semua pilihan masing-masing.
 
Ride the bus

Indonesia: Negara Boneka dan Aliran Dana

Sejak munculnya Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia, isu Lesbian Gay Bisexual and Transexual (LGBT) jadi salah satu hot topic di masyarakat Indonesia. Berbagai pihak mengeluar pendapatnya masing-masing mulai dari pejabat negara, politisi, aktivis sampai organisasi masyarakat dengan berbagai sudut pandang. Berita tentang adanya ‘aliran dana’ dari Barat untuk kelompok LGBT membuat heboh berbagai kalangan yang kurang piknik. “Kok ya baru heboh sekarang? Selama ini kemana aja? Oh pasti jarang baca laporan organisasi ya. Well, pantes! Ngana pikir organisasi enggak butuh dana dukungan?!

Lagipula, so what?! Toh dana tersebut digunakan untuk mengedukasi masyarakat termasuk pemahaman akan hal sipil masyarakat, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS Prevention dan juga kesetaraan gender. Kan bego banget kalau ada pihak yang meminta aliran dana untuk mengedukasi masyarakat tersebut dihentikan. It’s 2016 buddy!

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita pernah mempertanyakan sumber dana dari kelompok garis geras dan fundamentalis yang ada di Indonesia? Apakah mereka pernah mengeluarkan laporan akhir tahun tentang kegiataan dan pendanaan mereka padahal sekarang eranya keterbukaan informasi? Pernah enggak sih kepikiran kalau mereka mungkin mendapat dana dari Timur-Tengah termasuk Saudi untuk melakukan kegiatan mereka? Lalu, apakah ada yang juga mempertanyakan dan membahas secara blak-bakan kenapa tiba-tiba ada konflik antara Sunni, Syiah dan Ahmadiyah di Indonesia padahal sebelumnya adem ayem. Kalau pun ada sektarian konflik biasanya antar agama. Lalu kenapa trendnya berbeda?

Sebagaimana kita tahu, 85 persen (dari 250 juta jiwa) penduduk Indonesia adalah umat Muslim. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai tempat yang empuk untuk perebutan pengaruh politik atas dua Mazhab Islam Sunni dan Syiah. Apalagi hubungan Saudi dan Iran akhir-akhir kian memanas (You can find it in the Internet. It is googleable!)

Nah dulu, waktu saya sering liputan tentang kekerasan terhadap kelompok minoritas, saya bertanya pada salah satu cendekiawan Muslim, mengapa hal ini bisa terjadi? Sesama umat Islam tetapi saling membunuh, sedangkan dulu tidak seperti itu? Tentu kita masih ingat tentang kejadian Cikeusik di tahun 2011 dan kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang tahun 2012.

Bapak tersebut kemudian menjelaskan bahwa kelompok garis keras tersebut mendapatkan aliran dana dari Saudi untuk berbagai kegiatan, termasuk melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas. Hal itu bukan semata dilakukan karena mereka psikopat selo tetapi akibat dari pengaruh Mazhab Islam di Indonesia antara kubu Sunni (Saudi) dan Syiah (Iran). Sangat masuk akal menurut saya. Sayangnya, si Bapak enggak memiliki bukti tertulis tentang hal tersebut.

Meskipun laju perekonomian Indonesia terus meningkat tetapi kesenjangan sosial pun terus melebar. Semakin banyak masyarakat lapar dan bodoh karena miskin dan tidak berpendidikan. Akhirnya, segelintir kelompok masyarakt tersebut gampang diiming-imingi janji surga dan nasi bungkus untuk melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.

Saya pun jadi ingat pada salah satu percakapan saya dengan seorang anak berusia 17 tahun di Pengadilan Cibinong, saya tanya kenapa ikut merusak masjid Ahmadiyah. Dia mengatakan pada saya bahwa dia hanya ikut-ikut saja karena ramai-ramai, padahal dia enggak tahu kenapa mereka merusak masjid Ahmadiyah. Lagipula toh bisa masuk surga, capek hidup susah terus. Saya miris mendengarnya.

Well, Iya kalau surga ada. Kalau enggak ada? Udah hidup susah di bumi, surga nggak ada lagi. Rugi bandar Bung! I mean, some greedy people are using religion to manipulate people to fight against each other simply to gain power and stay rich without making their own hand dirty? That is so bloody disgusting!

Well, menurut saya (menurut pendapat saya pribadi lho ya), kalau tren konflik Sunni-Syiah kini dialihkan ke kelompok yang lebih minoritas lagi LGBT karena mereka tidak hanya dari satu kelompok agama tertentu tapi berbagai macam, lagipula negara seperti Iran pun juga memberikan hukuman mati ke kelompok LGBT. Toh orang-orang religius (dari Islam, Kristen, Katholik dan lain-lain) tersebut nanti akan menginterpretasikan ayat dari kitab suci masing-masing. Kan lebih enak tuh?! Kroyokan. Lumayankan kelompok garis keras beserta politisi kampret yang pada cari proyek bisa dapet aliran dana dari Saudi, perut kenyang dan masuk surga lagi? Salah satunya anggota DPD yang sudah ngeblok saya di Twitter. Sekali lagi, iya KALAU surga dan neraka memang ada! Kalau enggak, gimana?!

Ingat ya, konon kabarnya ibu anggota DPD satu “main-main” sama anggota polisi yang katanya suami orang. Kemudian doi yang dulunya enggak suka sama kelompoknya habib, eh sekarang jadi BFF mereka bahkan doi sampai merubah penampilannya. Sebagai politisi di negara dengan tingkat kesenjangan sosial yang tinggi, doi selalu memainkan isu moralitas untuk mencari dukungan dari masyarakat. Ya, ketimbang ngeluarin duit banyak untuk proper education, it’s easier but not necessarily better for the recipient  kalau mereka dikasih janji surga aja toh.

Lagipula, isu moralitas itu enak dijadikan bisnis apalagi doi adalah seorang saudagar. Masak iya isu moralitas untuk melindungi masyarakat kayak udah paling bener aja?! Taik kucinglah itu! Pokoknya yang dilarang di kitab suci, dijadiin bisnis. Tentu saja salah satu duitnya dari onta-onta itu. Coba dia enggak ke Petamburan kalau itu, mungkin ceritanya beda.

“Lalu apa hubungannya aliran dana Timur-Tengah, kelompok garis keras dan LGBT?”

Well… sebagaimana kita tahu bahwa kelompok garis keras telah mengeluarkan pernyataan dengan nada mengancam dan menjijikan. Ancaman yang disebarkan melalui surat dan beredar di internet. Lebih lucunya, ancaman tersebut enggak mendapatkan respon dari pihak berwajib. Yang ada malah politisi kampret yang suka cari proyek pun berwacana untuk membuat undang-undang anti-LGBT.

Ntar mereka mungkin bilang, “Okay kita enggak akan sahkan UU Anti-LGBT, tapi ada fulusnya ye!” Sama halnya kayak UU Anti Alkohol. Lumayankan dapat duit dari sana-sini, dari brands dapet, dari pemerintah asing pun dapet. Kalau enggak percaya, main deh ke Senayan. Pasang kuping lebar-lebar!

Pertanyaan saya adalah sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai tempat perebutan pengaruh kekuasaan negara-negara kaya di dunia? Sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai negara boneka?

Sebagaimana kita tahu bahwa harga minyak dunia sekarang anjlok dari 145 USD per barrel menjadi 32 USD per barrel. Negara-negara penghasil minyak pun sedang pontang-panting dibuatnya. Kenapa? Karena mau enggak mau mereka harus merogoh tabungan mereka. Saudi Arabia misalnya, mereka mulai merogoh tabungan mereka untuk kebutuhan sehari-hari. Lha wong pendapatan mereka saja anjlok and life must go on. Apakah dengan begitu kemudian aliran dana ke kelompok garis keras kemudian dihentikan dan disitulah negara baru bisa melindungi hak sipil masyarakat?!

Well, not that easy baby! A country like Saudi won’t get poor! And they will continue playing their games. Dengan adanya Kaaba di Mekah, Arab Saudi masih bisa mendapatkan memperoleh penghasilan dari perjalanan haji dan umroh yang bernilai lebih dari 20 milliard USD. Tentu saja pendapatan tersebut juga datang dari umat Muslim Indonesia, termasuk mereka yang harus menjual sawah dan tanah di kampung halamannya.

Jujur saja, dulu saya bangga menjadi orang Yogya. Kenapa? Masyarakat Yogya bisa hidup berdampingan dengan harmonis apapun perbedaan yang kita miliki. Bahkan, dulu banyak negara lain yang kagum melihat Indonesia memiliki pesantren untuk waria milik ibu Maryani di Yogya. Saya sempat bertemu dengan Ibu Maryani beberapa kali. Saya kagum dengan beliau karena di pesantren tersebut waria Kristiani pun bisa melakukan ibadah. Dan sekarang mereka diancam akan ditutup. Bahkan perkembangan terakhir, pesantren tersebut telah ditutup sejak tadi malam (February 24).

Sepertinya para cecunguk tidak suka ketika Indonesia memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan yaitu kerukunan dan keharmonisan. Para cecunguk tersebut tidak ingin masyarakat Indonesia sadar tentang apa itu hak asasi manusia dan paham akan pengtingnya ilmu pengetahuan.Ya maklum, di jaman penjajahan Belanda dulu, mereka pun tidak ingin memberikan pendidikan ke seluruh masyarakat nusantara. Kalau masyarakat nusantara pinter pasti akan ada perlawanan. Makanya yang bisa sekolah sedikit saja. Ya toh? Sadly, itu membudaya.

Lagipula Pak Menteri kan udah bilang, LGBT isu yang seksi. Ya toh?! Ngana pikir isu cuma sekedar isu?! It is about money! Mereka dapet duit banyak, situ dapet nasi bungkus dan rasa dengki. Sadly, the government work for their own welfare than us. It is about them (The bloody politicians) and not about us, the people of Indonesia.

Jujur saja, banyak politisi dan pejabat pemerintahan yang enggak menginginkan masyarakatnya berkembang. Some of them want us to stay foolish so we can be controlled with religion. They love playing God especially when one is hungry. 

Jadi, sebenernya bukanlah pemerintah atau politisi yang bisa memperbaiki kehidupan kita tapi kita sendiri. Dengan cara apa? Mengedukasi diri kita. We need to get ourselves informed properly. We should let nobody controlling us for their own good. Many wanna talk about God but as Macklemore said “God loves all his children” is somehow forgotten.

Eh tapi ya di era teknologi ini, enggak menutup nantinya yang akan melakukan perebutan kekuasaan di Indonesia adalah kubu US dan China, di mana Indonesia lagi-lagi dilihat sebagai market dengan sumber daya manusia yang ‘pas-pasan’ karena banyak orang Indonesia yang tidak mau mengedukasi diri kita sendiri untuk menjadi manusia maju dan sumber daya alam yang melimpah. Coba deh perhatikan sendiri. 

At the end, it’s about the money, it’s about the power. We can choose to be able to stand in our own feet and preserve our culture in the era of globalization, or we let ourselves to be controlled. 

Ride the bus

Catatan: Surat teruntuk Tuhan

Bali, 26 Juli 2009

Yth: t[T].uhan

Pernah suatu hari kubertanya pada diriku sendiri tentang siapakah Tuhan itu? Ketika aku mempertanyakan hal tersebut kepada mereka yang religious, beberapa dari mereka akan menganggapku orang yang berdosa besar hanya karena aku mempertanyakan pertanyaan tersebut.

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri dan juga mereka yang meragukan suatu konsep yang orang sebut sebagai Tuhan, Siapakah Tuhan itu sebenarnya? Di manakah Ia tinggal? Apakah ada Tuhan yang menciptakan Tuhan sebagaimana Tuhan dikonsepkan sebagai yang mahakuasa? Lalu, jika tidak ada Tuhan, siapa yang menciptkan bumi ini? Apakah betul jika di bumi dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way Galaxy) ada hanya karena letupan besar(Big Bang) di mana terdapat perkembangan ruang dan waktu sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Georges Lemaître, seorang pastur Katholik Roma berdarah Belgia yang mengajar di Universitas Katolik Leuven di Belgia. Lalu bagaimana dengan kehidupan yang menghiasinya?

Aku tak berbicara banyak mengenai konsep yang tidak kupahami tersebut (karena aku memang belum pernah benar-benar mempelajari masalah kosmologi) namun setidaknya konsep tersebut cukup menarik untuk mempertanyakan siapakah Tuhan tersebut.

Jika Tuhan memang ada dan bumi ini diciptakannya, mengapa kita tidak dapat melihatnya, menemuinya dan berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan sesame kita? Atau mungkin, sesuai dengan lagu One of Us (Joan Osbourne), If God had a name, what would it be? Bagaimana wujudnya? Apa pekerjaannya? Siapakah yang menciptakannya? Dan kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, di manakah Ia tinggal? Siapakah Tuhan itu? Apakah Tuhan hanya sebatas konsep saja? Lalu mengapa orang menulis kata Tuhan dengan T capital dan bukan tuhan? Lalu, jika Tuhan yang mereka konsepkan sebagai YANG MAHABAIK dan YANG MAHAMURAH sehingga membuat manusia menemukan cara untuk memuji dan menyembahnya melalui sebuah jalan bernama agama yang kemudian mengkotak-kotakan manusia melalui agama tersebut untuk menyembah dan memuji Tuhan, mengapa cara yang baik tersebut yang dikonsepkan oleh manusia justru membuat manusia tidak akur sama lain hanya karena jalan mereka berbeda. Tentu saja, aku tak dapat mengatakan bahwa semua manusia yang memiliki agama akan melakukan hal tersebut, namun bagaimana praktek kehidupan sehari-hari orang di sekitar. Tak perlulah aku mengambil contoh akan mereka yang berbeda agama, bagaimana yang memeluk agama yang sama? Terkadang mereka sendiri ribut-ribut dan tak dapat menghargai sesamanya. Menantu yang marah-marah dengan mertuanya atau istri yang menganggap rendah suaminya. Atau, tak perlu sama sekali membawa-bawa nama agama untuk membahas hal tersebut?

Dan aku pun kembali bertanya mengenai Tuhan.

Jika di sana memang ada Tuhan dan di sana memang ada Dosa dan Setan, berdosakah aku hanya karena mempertanyakan hal ini? Akankah Ia mengirimkanku ke nereka, jika di sana memang ada Tuhan yang memiliki nereka bagi mereka yang berdosa dan tidak mempercayainya? Tidak aku mempercayai keberadaan Tuhan dengan demikian atau seperti katanya ‘aku kesetanan’?

Dan aku pun kemudian tersenyum setelah aku membaca kembali tulisanku ini, lalu berkata ‘Untuk apa aku berpikir keras-keras mengenai hal ini, bagiku semasa hidupku, yang ingin kulakukan adalah melakukan kebaikan dengan siapapun yang ada di sekelilingku. Tak peduli label agama apa yang mereka miliki, tak peduli warna kulitnya, tak peduli dari mana asalanya, tak peduli pula orientasi seks yang ia miliki, yang terpenting adalah aku mau berbuat baik dengannya.

Jika ada yang mengatakan aku kesetanan, katakanlah aku kesetanan. Jika ada yang mengatakan aku gila, katakanlah aku gila. Aku tak akan cukup peduli dengan perkataan tersebut, karena bukan orang lain yang dapat mengatakan hal tersebut hanya karena berbeda pandangan denganku, mengingat setiap orang memiliki akal budi, pikiran, hati dan kehendak yang dapat menentukan ke apa yang seharusnya mereka lakukan.

Memang, aku lahir dari keluarga beragama, menimba ilmu di sekolah yayasan yang membawa label agama dan aku diajarkan tentang berbagai hal tentang agama tersebut. Tak perlulah kusebutkan apa nama agama yang dianut oleh keluargaku, namun dari sinilah aku kemudian mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab dengan benar oleh pihak yang mampu memberikan jawaban tersebut. Tentu saja bukan orang-orang religious yang harus memberikan jawaban atas pertanyaanku atas Tuhan, karena mereka hanya akan menguliahku dengan ajaran-ajaran yang mereka terima, menguliahku dengan sesuatu yang mereka sendiri belum tentu memahaminya.

Aku tak mengatakan bahwa ajaran yang mereka terima adalah sajaran yang salah tidak sama sekali. Ajaran-ajaran agama kebanyakan merupakan ajaran-ajaran positif yang mengajarkan orang untuk berbuat baik karena adanya konsep surga yang mereka bentuk akan tempat di mana mereka akan berada ketika mereka berbuat baik dan berbuat jahat kepada orang lain.

Apakah benar Tuhan, dosa, setan, surga dan neraka hanyalah sebatas konsep semata? Atau, jika Tuhan memang ada, kembali kubertanya padaMu, berdosakah aku hanya karena mempertanyakan keberadaanMu?

Adakah yang mampu memberikanku jawaban atas pertanyaan normalku ini? Tentu saja, aku bukanlah yang pertama bertanya ini padamu, akan apa yang dikonsepkan sebagai Tuhan dan aku rasa pertanyaanku ini adalah pertanyaan wajar. Bukankah demikian?

Namun, lagi. Jika ada yang mengatakan aku sedang kesetanan hanya karena mempertanyakan hal ini, lalu katakanlah! Jika ada yang mengatakan aku gila, katakanlah pula demikian. Karena aku tak cukup peduli dengan pernyataan seperti itu dan yang aku butuhkan hanyalah jawaban dari pertanyaanku.

Bukankah demikian… Tuhan?

Ok…. Tuhan… I am looking forward to hear from you.

Best Regards

E.O

signature