Notes: Thank You

42369967_10156506191355761_2935482642121883648_nI am going to leave Dhaka to study in the UK in a few minutes. I would like to say thank you to @kamal.fit (Mostofa Kamal Salim)for being very kind, patient, friendly and helpful in introducing Bangladesh to me. Have I not met you or got to know you, I would not enjoy my stay in Bangladesh as much as I have been in these last few months. Thank you for taking me around the town, introducing me to the local delicacies, hospitalities and show me how most people live in BD. It added colour to my stay

I vividly remember when one Bangladeshi lady said to me “Fani… if you want to know Bangladesh. Try to go out of the expat bubble (Gulshan, Banani, Baridhara).” So I asked him to show me around and he agreed. We did that while we did a long distance road running or photography hunting.

Sadly, some people said that I should not hang out with him because we are not at the same level. I just laughed and asked “What is the god damn fvcking level? No matter how much money you make/have, you take the knife and cut yourself, your blood is still the same with the rest, RED. And when you die, you all turn to be dust.”

I am glad that I ignored what they said and followed my value ~Respect and value people not based on their money but their character~. As a result, my BD life is more colourful. Once again, thank you. Take care of yourself and see you soon.
.
Photo by @scholastikasastranegara.
.
Ps: let nobody undervalue you, stay humble and be kind even to those who have done wrong to you. #loveislove #bangladesh #herstory #dhaka

Ride the bus

Catatan: Dupata

www.catatanfani.comPada suatu kesempatan, seorang kawan laki-laki dari Bangladesh mengatakan pada saya bahwa banyak perempuan Bangladesh tidak menggunakan dupata (scarf) untuk menutupi payudara mereka. Apalagi tak sedikit dari mereka memiliki payudara yang besar. Dia menganggap bahwa hal ini sangat tidak baik karena banyak laki-laki yang akan melihat payudara yang perempuan tersebut dan menimbulkan niat jahat termasuk pelecehan seksual maupun pemerkosaan. Mendengarkan pernyataan tersebut, saya pun mengernyitkan kening.

“Kenapa perempuan yang salah?” tanya saya.

“Karena mereka tidak menutupi payudara mereka,” katanya.

“Lho mereka sudah menggunakan kameez, berlengan panjang dan gombrong pula.” kata saya.

“Ya tetap kurang!” katanya kekeuh.

“Kalau laki-laki yang menjadi bernapsu, kenapa perempuan yang repot? Bukankah kalian harus mengontrol napsu kalian?” kata saya mempertanyakan pendapatnya. Kawan saya pun terdiam.

“Nah, saya selalu datang ke gym ini menggunakan sport bra atau tank top dan celana pendek. Kalau ada yang melecehkan saya, apakah kamu akan bilang itu salah saya?”

Dia kembali diam. Mungkin mengiyakan pendapat saya.

“Dulu saya pernah dijambret. Seorang ibu mengatakan itu salah saya karena saya pakai kutang. Aneh kan? Wong penjambret mau emas kok baju saya yang disalahkan? Lagipula kamu punya dua anak perempuan, suatu saat mereka akan memilih jalan mereka masing-masing. Apakah dengan memberikan baju yang tertutup berarti melindungi mereka dari pelecehan seksual? Tentu tidak! Berapa banyak yang diperkosa karena menggunakan hijab atau burqa?” kawan sayapun tetap diam.

Diam entah karena tidak setuju atau diam karena tidak bisa mengekspresikan pendapatnya dalam bahasa Inggris.

Bagi saya, laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsu mereka tetapi kenapa perempuan yang harus repot. Melihat tetek sedikit ngeceng, ngelihat kaki ngeceng, melihat lengan ngeceng. Hadeeeeh! Percuma beragama tapi berkelakuan seperti binatang. Ya toh? Tentu hal ini tidak hanya terjadi di Bangladesh saja tetapi di tengah masyarakat tradisional mana saja.

Ride the bus

 

Catatan: Lebaran Kuda?

Pasti udah banyak yang tahu dong kalau beberapa hari terakhir ini Lebaran Kuda jadi trending topic di kalangan pengguna sosial media di Indonesia. Kok bisa? Jadi Rabu lalu (2 Nov), Pak SBY mengadakan konfrensi pers Puri Cikeas mengenai rencana demonstrasi tgl 4 November dan dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Dalam konpres tersebut Pak SBY menghimbau agar Ahok diproses hukum sehingga jangan sampai ada tudingan Ahok kebal hukum. Lebih lanjut, jika pemerintah dan penegak hukum mengabaikan the-so-call aspirasi massa maka demonstrasi akan terus ada. “Sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa. Ini pengalaman saya,” begitu kata Pak Beye. Tapi, apa sih “lebaran kuda” itu?

Jadi menurut salah satu pengguna twitter Abi Hasantoso dengan @thereal_abi, ia menjelaskan bahwa  ungkapan Betawi untuk sesuatu yang tak akan bisa diwujudkan. Jadi SBY benar. Demonstrasi tak akan berhasil kalau niatnya buruk.

Tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kata ‘lebaran’ adalah “hari raya umat Islam yang jatuh pada tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri“. Lebih lanjut, KBBI online menunjukkan adanya dua lebaran “Lebaran Haji dan Lebaran Besar” namun tidak ada “Lebaran Kuda”.

Jadi apakah bisa SBY dianggap menistakan agama dengan menggunakan istilah “Lebaran Kuda” atau kebal hukum? (http://kbbi.web.id/Lebaran)

Ride the bus

Catatan: Tanpa Judul

Enggak usah heran kenapa Pilkada Jakarta mainnya kotor banget. Pendapatan daerah Pemprov DKI Jakarta tahun 2015 aja mencapai 44.20 Triliyun Rupiah. Provinsi mana coba yang bisa mendapatkan pendapatan sebesar itu? Jelaslah jadi rebutan. Buat saya, when it comes to politics, it is rarely about serving the society but about how they can get a slice of the political pie. Pilkada Jakarta menjadi topik yang sangat menarik karena ibu kota negara Republik Indonesia, sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Muslim, dipimpin oleh tokoh dari kelompok minoritas, Tionghoa dan Kristen.

Sebagaimana kita tahu bahwa Javasentrisme yang dimiliki oleh masyarakat dan/ atau politisi Indonesia itu masih tinggi banget. Pasti banyak yang masih ingat bahwa jaman Soeharto dulu, selain Indonesia dikuasai dan dipimpin oleh militer, Indonesia juga dikontrol oleh orang-orang dari Jawa Tengah selama 32 tahun lamanya. Bahkan menurut beberapa studi, peristiwa Malari pada tahun 1974 diduga dimotori oleh beberapa jendral dari Jawa Timur yang cemburu dengan jendral berasal dari Jawa Tengah karena selalu mendapatkan kepercayaan dari Soeharto.

Setelah turunnya Soeharto, militer mulai kehilangan kontrol atas negara Indonesia. Indonesia mulai dipimpin oleh masyarakat sipil termasuk Habibie, Gus Dur dan Megawati. Namun hal tersebut enggak berlangsung lama, tokoh militer kembali memimpin Indonesia dan kali ini berasal dari Jawa Timur. Bukan hanya itu saja, tokoh tersebut bisa dibilang outsider, enggak berbau Cendana apalagi Soekarno dan sosok tersebut adalah Susilo Bambang Yudhoyono. SBY berhasil mengambil hati masyarakat Indonesia selama dua kali pemilu dan mempimpin Indonesia selama 10 tahun lamanya. Sayangnya perjalanan karir politik enggak mulus sama sekali di mana Parta Demokrat yang ia dirikan mengalami kejatuhan secara perlahan-lahan termasuk dengan kekalahan Fauzi Bowo dari Partai Demokrat di Pilkada Jakarta 2012 dan kekalahan Partai Demokrat di pemilu 2014 lalu. Namun sayangnya setelah 10 tahun berkuasa, SBY sepertinya kurang menikmati rasanya menjadi rakyat biasa apalagi kali ini yang berkuasa adalah lawan politiknya.

Nah di Pilkada DKI Jakarta kali ini, saya kaget waktu membaca berita bahwa Partai Demokrat mengeluarkan pernyataan bahwa Partai Demokrat ingin agar DKI Jakarta dipimpin oleh sosok yang lebih baik dari Ahok. Kagetnya kenapa? Berita tersebut terdengar seolah SBY membenci Ahok. Tapi apa dosa Ahok pada Partai Demokrat dan SBY? Saya bisa paham sih kalau Prabowo dan Gerindra dendam dan marah pada Ahok karena Prabowo merasa ‘habis manis sepah dibuang’. Nah, kalau Ahok sama SBY? Kok kayaknya benci sampai ke ubun-ubun. Ada apa ya kira-kira?

Bisa jadi, SBY adalah satu politisi yang belum bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh orang di luar militer, di luar ‘Jawa’ dan di luar ‘Islam’. Mungkin beberapa politisi masih bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh masyarakat sipil selama dia Jawa dan Islam. Tapi kalau Tionghoa dan Kristen, banyak orang yang masih kalang kabut dan hal ini menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia yang sebenarnya mentalnya masih terjajah. Sebagaimana dituliskan dalam buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group”, sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Sayangnya, meskipun Indonesia merdeka, hal tersebut masih terus tertanam di kalangan masyarakat Indonesia hingga hari ini.

Oleh karena itu, kalau tokoh dari kelompok minoritas bisa memimpin ibu kota negara Republik Indonesia, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari Indonesia akan dipimpin oleh tokoh dengan latar belakang yang sama (kelompok minoritas) karena masyarakat mulai menilai pemimpin dari kualitasnya dan bukan bungkusnya saja. Tentu saja, orang-orang yang masih menganut Java sentrisme tentu enggak suka dengan hal ini. Hence, they will do anything necessary untuk menjegal orang-orang yang bukan Jawa dan bukan Muslim untuk memimpin Indonesia dan dicintai oleh masyarakatnya. Tapi… namanya juga politik. Isu beginian akan terus dimanfaatkan oleh para politisi yang menginginkan kekuasaan. Apalagi kalau masyarakatnya kurang berpendidikan dan enggak kritis. Laku deh isu beginian. Ya kan?

Masih ingat kasus Antasari Azhar kan? Kalau  Antasari, yang diduga punya bukti kuat kecurangan Pilpres 2009 saja bisa berakhir di penjara dengan vonis 18 tahun penjara (lebih ringan dari tuntutan JPU yang menginginkan hukuman mati), maka cara yang serupa pun dapat dilakukan terhadap Ahok dengan skenario yang berbeda. Ya toh?

FYI, Antasari yang divonis 18 tahun penjara pada tahun 2010 lalu akan akan bebas bersyarat pada tanggal 10 November nanti.

Ride the bus

Catatan: Masih Terjajah

Dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini, lagi-lagi kita disuguhi sentimen anti-Cina. Saya selalu penasaran kenapa banyak masyarakat kita yang tidak menyukai etnis Tionghoa? Apa salah mereka? Saya mendapatkan pencerahan dari buku yang saya baca “Liem Sioe Liong’s Salim Group”.

Dalam buku tersebut, penulis mencatat analisis Pramoedya Ananta Toer tentang sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Padahal sebenarnya imigran China sudah datang ke Sumatera sejak tahun 942, mereka berintegrasi dengan masyarakat setempat, memperkenalkan alat pertanian moderen guna menyempurnakan teknik pertanian yang sudah ada dan masyarakat tidak pernah memiliki masalah dengan mereka sama sekali. Kedekatan dan pertumbuhan jumlah imigran China itulah yang menjadi momok bagiBelanda, maka sejak itu Belanda mulai membuat peraturan yang diskriminatif bagi komunitas Tionghoa, termasuk membatasi jumlah imigran China ke Hindia Belanda. Sayangnya sentimen anti China tersebut tidak berakhir dengan berakhirnya penjajahan Belanda, justru dilestarikan dan terus diterapkan oleh Pemerintah Indonesia yang katanya merdeka dari masa ke masa. Akhirnya masyarakatpun sudah terbiasa untuk ‘membenci’ komunitas Tionghoa

Benar kata Pram di tetralogi Bumi Manusia, orang Indonesia tidak pernah memiliki dan memegang teguh nilai dan prinsip mereka sendiri; alhasil baik Pemerintah (dulu berupa kerajaan) dan rakyat mudah dipengaruhi oleh nilai dan budaya luar. Hal ini dapat dilihat dari perubahan agama di nusantara dari abad ke abad. Ada saudagar Hindu masuk, kerajaan di Nusantara mulai menganut Hindu; Budha masuk, mereka berubah menjadi Buddha; Islam masuk mereka berubah menjadi Islam dan seterusnya. Agama-agama tersebut diadopsi oleh kerajaan (Pemerintah) dan digunakan untuk mengontrol masyarakatnya.

Dari dua poin tersebut, nampak jelas bahwa penggunaan isu SARA terutama agama dan golongan dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini menunjukkan pada kita bahwa kita masih terjajah secara pikiran dan belum dewasa dalam berdemokrasi. Entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi di Indonesia. Sangat disayangkan.

Ride the bus