Indonesia: Negara Boneka dan Aliran Dana

Sejak munculnya Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia, isu Lesbian Gay Bisexual and Transexual (LGBT) jadi salah satu hot topic di masyarakat Indonesia. Berbagai pihak mengeluar pendapatnya masing-masing mulai dari pejabat negara, politisi, aktivis sampai organisasi masyarakat dengan berbagai sudut pandang. Berita tentang adanya ‘aliran dana’ dari Barat untuk kelompok LGBT membuat heboh berbagai kalangan yang kurang piknik. “Kok ya baru heboh sekarang? Selama ini kemana aja? Oh pasti jarang baca laporan organisasi ya. Well, pantes! Ngana pikir organisasi enggak butuh dana dukungan?!

Lagipula, so what?! Toh dana tersebut digunakan untuk mengedukasi masyarakat termasuk pemahaman akan hal sipil masyarakat, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS Prevention dan juga kesetaraan gender. Kan bego banget kalau ada pihak yang meminta aliran dana untuk mengedukasi masyarakat tersebut dihentikan. It’s 2016 buddy!

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita pernah mempertanyakan sumber dana dari kelompok garis geras dan fundamentalis yang ada di Indonesia? Apakah mereka pernah mengeluarkan laporan akhir tahun tentang kegiataan dan pendanaan mereka padahal sekarang eranya keterbukaan informasi? Pernah enggak sih kepikiran kalau mereka mungkin mendapat dana dari Timur-Tengah termasuk Saudi untuk melakukan kegiatan mereka? Lalu, apakah ada yang juga mempertanyakan dan membahas secara blak-bakan kenapa tiba-tiba ada konflik antara Sunni, Syiah dan Ahmadiyah di Indonesia padahal sebelumnya adem ayem. Kalau pun ada sektarian konflik biasanya antar agama. Lalu kenapa trendnya berbeda?

Sebagaimana kita tahu, 85 persen (dari 250 juta jiwa) penduduk Indonesia adalah umat Muslim. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai tempat yang empuk untuk perebutan pengaruh politik atas dua Mazhab Islam Sunni dan Syiah. Apalagi hubungan Saudi dan Iran akhir-akhir kian memanas (You can find it in the Internet. It is googleable!)

Nah dulu, waktu saya sering liputan tentang kekerasan terhadap kelompok minoritas, saya bertanya pada salah satu cendekiawan Muslim, mengapa hal ini bisa terjadi? Sesama umat Islam tetapi saling membunuh, sedangkan dulu tidak seperti itu? Tentu kita masih ingat tentang kejadian Cikeusik di tahun 2011 dan kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang tahun 2012.

Bapak tersebut kemudian menjelaskan bahwa kelompok garis keras tersebut mendapatkan aliran dana dari Saudi untuk berbagai kegiatan, termasuk melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas. Hal itu bukan semata dilakukan karena mereka psikopat selo tetapi akibat dari pengaruh Mazhab Islam di Indonesia antara kubu Sunni (Saudi) dan Syiah (Iran). Sangat masuk akal menurut saya. Sayangnya, si Bapak enggak memiliki bukti tertulis tentang hal tersebut.

Meskipun laju perekonomian Indonesia terus meningkat tetapi kesenjangan sosial pun terus melebar. Semakin banyak masyarakat lapar dan bodoh karena miskin dan tidak berpendidikan. Akhirnya, segelintir kelompok masyarakt tersebut gampang diiming-imingi janji surga dan nasi bungkus untuk melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.

Saya pun jadi ingat pada salah satu percakapan saya dengan seorang anak berusia 17 tahun di Pengadilan Cibinong, saya tanya kenapa ikut merusak masjid Ahmadiyah. Dia mengatakan pada saya bahwa dia hanya ikut-ikut saja karena ramai-ramai, padahal dia enggak tahu kenapa mereka merusak masjid Ahmadiyah. Lagipula toh bisa masuk surga, capek hidup susah terus. Saya miris mendengarnya.

Well, Iya kalau surga ada. Kalau enggak ada? Udah hidup susah di bumi, surga nggak ada lagi. Rugi bandar Bung! I mean, some greedy people are using religion to manipulate people to fight against each other simply to gain power and stay rich without making their own hand dirty? That is so bloody disgusting!

Well, menurut saya (menurut pendapat saya pribadi lho ya), kalau tren konflik Sunni-Syiah kini dialihkan ke kelompok yang lebih minoritas lagi LGBT karena mereka tidak hanya dari satu kelompok agama tertentu tapi berbagai macam, lagipula negara seperti Iran pun juga memberikan hukuman mati ke kelompok LGBT. Toh orang-orang religius (dari Islam, Kristen, Katholik dan lain-lain) tersebut nanti akan menginterpretasikan ayat dari kitab suci masing-masing. Kan lebih enak tuh?! Kroyokan. Lumayankan kelompok garis keras beserta politisi kampret yang pada cari proyek bisa dapet aliran dana dari Saudi, perut kenyang dan masuk surga lagi? Salah satunya anggota DPD yang sudah ngeblok saya di Twitter. Sekali lagi, iya KALAU surga dan neraka memang ada! Kalau enggak, gimana?!

Ingat ya, konon kabarnya ibu anggota DPD satu “main-main” sama anggota polisi yang katanya suami orang. Kemudian doi yang dulunya enggak suka sama kelompoknya habib, eh sekarang jadi BFF mereka bahkan doi sampai merubah penampilannya. Sebagai politisi di negara dengan tingkat kesenjangan sosial yang tinggi, doi selalu memainkan isu moralitas untuk mencari dukungan dari masyarakat. Ya, ketimbang ngeluarin duit banyak untuk proper education, it’s easier but not necessarily better for the recipient  kalau mereka dikasih janji surga aja toh.

Lagipula, isu moralitas itu enak dijadikan bisnis apalagi doi adalah seorang saudagar. Masak iya isu moralitas untuk melindungi masyarakat kayak udah paling bener aja?! Taik kucinglah itu! Pokoknya yang dilarang di kitab suci, dijadiin bisnis. Tentu saja salah satu duitnya dari onta-onta itu. Coba dia enggak ke Petamburan kalau itu, mungkin ceritanya beda.

“Lalu apa hubungannya aliran dana Timur-Tengah, kelompok garis keras dan LGBT?”

Well… sebagaimana kita tahu bahwa kelompok garis keras telah mengeluarkan pernyataan dengan nada mengancam dan menjijikan. Ancaman yang disebarkan melalui surat dan beredar di internet. Lebih lucunya, ancaman tersebut enggak mendapatkan respon dari pihak berwajib. Yang ada malah politisi kampret yang suka cari proyek pun berwacana untuk membuat undang-undang anti-LGBT.

Ntar mereka mungkin bilang, “Okay kita enggak akan sahkan UU Anti-LGBT, tapi ada fulusnya ye!” Sama halnya kayak UU Anti Alkohol. Lumayankan dapat duit dari sana-sini, dari brands dapet, dari pemerintah asing pun dapet. Kalau enggak percaya, main deh ke Senayan. Pasang kuping lebar-lebar!

Pertanyaan saya adalah sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai tempat perebutan pengaruh kekuasaan negara-negara kaya di dunia? Sampai kapan Indonesia mau dijadikan sebagai negara boneka?

Sebagaimana kita tahu bahwa harga minyak dunia sekarang anjlok dari 145 USD per barrel menjadi 32 USD per barrel. Negara-negara penghasil minyak pun sedang pontang-panting dibuatnya. Kenapa? Karena mau enggak mau mereka harus merogoh tabungan mereka. Saudi Arabia misalnya, mereka mulai merogoh tabungan mereka untuk kebutuhan sehari-hari. Lha wong pendapatan mereka saja anjlok and life must go on. Apakah dengan begitu kemudian aliran dana ke kelompok garis keras kemudian dihentikan dan disitulah negara baru bisa melindungi hak sipil masyarakat?!

Well, not that easy baby! A country like Saudi won’t get poor! And they will continue playing their games. Dengan adanya Kaaba di Mekah, Arab Saudi masih bisa mendapatkan memperoleh penghasilan dari perjalanan haji dan umroh yang bernilai lebih dari 20 milliard USD. Tentu saja pendapatan tersebut juga datang dari umat Muslim Indonesia, termasuk mereka yang harus menjual sawah dan tanah di kampung halamannya.

Jujur saja, dulu saya bangga menjadi orang Yogya. Kenapa? Masyarakat Yogya bisa hidup berdampingan dengan harmonis apapun perbedaan yang kita miliki. Bahkan, dulu banyak negara lain yang kagum melihat Indonesia memiliki pesantren untuk waria milik ibu Maryani di Yogya. Saya sempat bertemu dengan Ibu Maryani beberapa kali. Saya kagum dengan beliau karena di pesantren tersebut waria Kristiani pun bisa melakukan ibadah. Dan sekarang mereka diancam akan ditutup. Bahkan perkembangan terakhir, pesantren tersebut telah ditutup sejak tadi malam (February 24).

Sepertinya para cecunguk tidak suka ketika Indonesia memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan yaitu kerukunan dan keharmonisan. Para cecunguk tersebut tidak ingin masyarakat Indonesia sadar tentang apa itu hak asasi manusia dan paham akan pengtingnya ilmu pengetahuan.Ya maklum, di jaman penjajahan Belanda dulu, mereka pun tidak ingin memberikan pendidikan ke seluruh masyarakat nusantara. Kalau masyarakat nusantara pinter pasti akan ada perlawanan. Makanya yang bisa sekolah sedikit saja. Ya toh? Sadly, itu membudaya.

Lagipula Pak Menteri kan udah bilang, LGBT isu yang seksi. Ya toh?! Ngana pikir isu cuma sekedar isu?! It is about money! Mereka dapet duit banyak, situ dapet nasi bungkus dan rasa dengki. Sadly, the government work for their own welfare than us. It is about them (The bloody politicians) and not about us, the people of Indonesia.

Jujur saja, banyak politisi dan pejabat pemerintahan yang enggak menginginkan masyarakatnya berkembang. Some of them want us to stay foolish so we can be controlled with religion. They love playing God especially when one is hungry. 

Jadi, sebenernya bukanlah pemerintah atau politisi yang bisa memperbaiki kehidupan kita tapi kita sendiri. Dengan cara apa? Mengedukasi diri kita. We need to get ourselves informed properly. We should let nobody controlling us for their own good. Many wanna talk about God but as Macklemore said “God loves all his children” is somehow forgotten.

Eh tapi ya di era teknologi ini, enggak menutup nantinya yang akan melakukan perebutan kekuasaan di Indonesia adalah kubu US dan China, di mana Indonesia lagi-lagi dilihat sebagai market dengan sumber daya manusia yang ‘pas-pasan’ karena banyak orang Indonesia yang tidak mau mengedukasi diri kita sendiri untuk menjadi manusia maju dan sumber daya alam yang melimpah. Coba deh perhatikan sendiri. 

At the end, it’s about the money, it’s about the power. We can choose to be able to stand in our own feet and preserve our culture in the era of globalization, or we let ourselves to be controlled. 

Ride the bus

Indonesia: About LGBT

Image

Goodbye 2012! Hello 2013

You know what makes me upset about LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender) debate these days in Indonesia? Well, let me tell you.

Last night, a good friend of mine sent me a message telling me how concerned (s)he is about all these LGBT debates. (S)he wondered what the government/parliament next step toward it whether they are going to ban it altogether, ban foreign funding for LGBT activity (including reproductive health awareness) or even worse if they plan to stop distributing subsidised ARV in the country. (S)he is wondering. 

Honestly, this condition would not just have a negative impact to the LGBT community but also all the patients, let me repeat myself again ALL PATIENTS, (which also include heterosexual people) who have been getting ARV for free so they can survive and live their lives as a healthy person. So, I said to a good friend of mine that everything will just be fine. Let’s have faith in it.

Since the fall of  President Soeharto in 1998, religion has been used as a political commodity to control people. Sometimes I am wondering whether we, the people of Indonesia, can have a discussion about certain issue without bringing a religious perspective or not.

It is very devastating because I feel that this country is heading to a dark age than moving forward to the future. What about if we discuss what really matters and crucial to citizen’s daily life such as food supply, education, health and infrastructure, instead of the sexual orientation or religious preferences, which are very personal?! Can we?

PS: If you do not know what ARV is, you can search on the internet. It is very googleable.

Jakarta: Pasar Pocong

Mrs. Atun has been a traditional herbal drinking beverage jamu seller for decades in Pasar Pocong, Jakarta [2015: EO]

Mrs. Atun has been a traditional herbal drinking beverage jamu seller for decades in Pasar Pocong, Jakarta [2015: EO]

Selama lima tahun tinggal di Jakarta, baru beberapa bulan terakhir ini saya dolan ke Pasar Pocong, sebuah pasar tradisional di Kelurahan Menteng Atas. Hampir setiap pagi saya ke Pasar Pocong untuk  berbelanja kebutuhan sayur dan buah-buahan. Selain untuk mendapatkan sayuran dengan harga lebih murah, saya pun bisa berinteraksi dengan para pedagang dan mengetahui cerita masyarakat yang bekerja di luar gedung perkantoran maupun pusat perbelanjaan di Jakarta. Cerita masyarakat biasa yang mungkin jarang saya dengar di food-hall shopping center, bar atau restaurant-restaurant di Ibu Kota.

Enggak jarang para pedagang bertanya pada saya mengapa saya lebih memilih untuk ke pasar seorang diri ketimbang meminta pembantu saya untuk berbelanja, termasuk Mbak Tatik, seorang pedagang buah asal Klaten, Jawa Tengah “Ngapain mbak ke pasar? Kan bisa nyuruh pembantunya ke sini.

Saya bilang ke Mbak Tatik bahwa dari dulu saya memang suka ke pasar tradisional untuk berinteraksi dengan masyarakat pada umumnya. Selain karena harganya lebih murah ketimbang belanja di supermarket seperti FoodHall atau Farmer Market, saya pun juga bisa kenal mbak Sri pedagang sayur, Bu Atun penjual jamu dan Mbak Gethuk penjual tiwul.

Dari mereka, saya bisa tahu kapan harga pangan naik dan turun, saya bisa tahu apakah akan mempengaruhi penjualan mereka dan lebih tahu kehidupan orang-orang yang mencari uang di luar gedung kantor atau shopping center.Mana bisa saya berinteraksi dengan para pelayan di supermarket yang cenderung jutek setiap kali melayani pelanggan.

Memang sayuran di pasar tradisional enggak seindah atau sebersih sayuran di supermarket. Bahkan saya harus mencucinya berulang kali saking kotornya. Belum lagi, akhir-akhir ini saya mulai kecewa karena brokoli, daun mint, cilantro dan beet roots cepat busuk. Sayangkan kalau dibuang begitu saja?

Jujur aja, saya sebenernya sempat berpikir untuk berhenti belanja di pasar tradisional karena buang-buang uang. Harga murah tapi cepat busuk. Buat apa? Namun, saya tahu bahwa saya tetap ingin ke sana untuk mendengarkan cerita para pedagang Pasar Pocong.

Untung aja setelah berbagi cerita ini melalui Facebook, beberapa kawan saya di Facebook menyarankan agar saya merendam sayuran tersebut ke dalam air es selama satu jam. Sayuran tersebut kemudian dibungkus di dalam koran lalu di lemari es. Dengan begitu, sayuran akan tetap segar.

Nah dengan begitu, saya enggak perlu khawatir untuk belanja sayuran di pasar tradisional lagi dan terus mendengarkan cerita para pedagang pasar yang diiringi dengan lantunan musik dangdut dari pedagang MP3 di Pasar Pocong.

signature

Notes: Women’s Voices

Bali Undercover by Malcolm Scott [2015:EO]

Bali Undercover by Malcolm Scott [2015:EO]

When I published “Bule Hunter: Money, Sex and Love”  in September 2014, I received a stream of criticism in the net from many people. I would have understood that they criticized my book after they read it but they have not. They criticized it based on some media coverages. Those are including many Indonesian  women, who are in relationship with Western Men and feel offended with my writing as well as other people are who simply narrow minded.

Some of them said that it was just a bunch of gossip, some of them said that it’s not a journalism work because it’s very subjective yadda yadda yadda (Well honey, it’s hard to find an objective journalism work these days. Media is controlled by companies who are linked to govt). Anyway, there were big wave of nasty comments coming toward me. It was terrifying! 

Frankly, I was shocked reading those comments. I refused to read further for few weeks. But I must say that I am grateful because  those haters actually  inspired me  to write my next book.

So when I went to  Times Bookstore in Plaza Singapura, I saw this book and purchased one. I read nearly half of the book within few hours over few glasses of Chardonnay. Since I read the title, I already assumed that it would have similar content to my book Bule Hunter. And YES IT IS!

It talks about Indonesian women, Western men, Indonesian men, western women,money, sex and  relationship. However, it seems nobody attacking the Australian author Malcolm Scott. At least, I didn’t hear about it.

Is it because the author is a man? Is it because the author is a Westerner? Or is it because he choose a soft title instead of Bule Hunter?! Or is it because it’s written in English and doesn’t get a lot of media exposure in Indonesia (if I understand correctly)?

Oh well, we are still living in an era and place where women can hardly say their voices loudly and bluntly! 

signature

Notes: Sustainable Business Practice in Indonesia

ORG__DSC5792.JPGDuring Soeharto administration, the Indonesian government had little or no interest in sustainable business practice because it was just gonna benefit the ordinary people, and it would not help the elites.

Meanwhile, the elites did not care about the condition of workers, environment, jungle, the local community or the urban poor *reflection from Indonesian Haze problem and conversation with former Adidas’s sweatshop worker.

Indonesia: Foreign Investors and Sustainable Business

It seems that the Indonesia government doesn’t want to or cannot impose sustainable business practices tomorrow because foreign investors would not come meanwhile Indonesia wanst to have foreign investment in the country because it helps to create job.

On the other hand, Indonesia government desperately wants sustainable business practice appear because unsustainable business practice damages the country and harm the workers. Dilemma!

signature

Brief: Why Religious Violence Occured in Indonesia

This is an interesting analysis about the possibility of Saudi Arabia and ISIS merger. It actually reminds me of my interview with prominent scholar a year ago. We talked about who might have been financing extremist group in Indonesia.

Indonesian media outlets have been reporting about the attack and the execution of  Ahmadiyya and Shia community in these past five years. Some of them also attacked the Christian community throughout the country.

He pointed out that Saudi Arabia has funded those extremist group with purpose to have many Wahabi and/or Sunni followers because the majority of Indonesia population is Islam followers. However he does not have the written evidence about it but he had a chance to see it with his own eyes.

Having said that it is good to know how the extremist got finance at the first and how the religious violence has been fabricated at the first place. The following questions are how much they get funded? Who received the money?

Sadly, religion is just a political tool to obtain as well gain power for certain group of people so they can get both financial and political benefit. Meanwhile religion actually offers a plenty of good teaching and its follower taking it seriously.  Ironic!
signature

Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature

Catatan: Buku atau Internet?

Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Tetapi di jaman modern ini, sebenarnya selain buku, internet juga merupakan jendela dunia. Kita dapat berselancar ke mana pun kita mau tanpa batas. Kita bisa melihat dunia dan mengenyam ilmu hanya dari balik layar komputer selama terhubung dengan koneksi internet.

Saya sendiri berkenalan dengan internet pada tahun 2000. Sejak kenal dengan internet, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses internet, entah untuk berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia atau membaca berbagai macam artikel. Melalui internet, saya dapat mempelajari kehidupan manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk urusan pekerjaan. Saya sangat menyukai internet. Saya gila internet.

Namun sayangnya, informasi di internet terlalu banyak dan berserakan di mana-mana. Tidak terstruktur dan bahkan susah dibuktikan kebenarannya apalagi informasi di internet bisa dipublikasi oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Belum lagi informasi-informasi tersebut bisa dihapus oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Itulah internet sebagai jendela dunia.

Meskipun gila akan internet, saya ternyata lebih menyukai buku ketimbang internet. Kenapa? Karena setidaknya saya tahu siapa yang menulisnya. Tapi sayang saya agak kurang rajin membaca walaupun saya suka membaca.

Sejak kecil, saya suka membaca tapi saya enggak punya banyak koleksi buku. Saya pun jarang pergi ke perpustakaan di sekolah. Tapi….  saya sering ke “Taman Bacaan Tintin”, sebuah perpustakaan keliling yang menyewakan komik. Paling sering saya menyewa komik serial cantik :-).

Menginjak bangku SMA, saya mulai suka membaca novel apalagi sekolah saya dekat dengan Gramedia. Ketika banyak orang suka membaca tulisan Fira Basuki, saya lebih suka baca nover terjemahan karya  novelis Inggris Barbara Cartland. Barbara Cartland menawarkan cerita cinta dengan setting di kerajaan Inggris. Asyik, seru! Tulisannya membawa imajinasi saya ke dalam cerita tersebut.

Selain Barbara Cartland, saya juga suka tulisan Paulo Coelho. Penulis asal Brazil ini menawarkan berbagai refleksi kehidupan dengan tokoh utama perempuan. Menariknya lagi, Coelho selalu membawa sosok Bunda Maria dalam cerita-cerita spiritualnya.

Jujur saja, saya enggak terlalu banyak membaca tulisan anak bangsa saat itu. Kenapa? Saya enggak tahu mana yang bagus. Saya enggak tahu siapa penulis Indonesia yang bagus.

Suatu hari, saya mulai berkenalan dengan tulisan anak bangsa. London Wild Rose karya Kusuma Andrianto. Dari situ saya baru menyadari bahwa tulisan orang Indonesia enggak kalah hebatnya dengan tulisan orang asing. Saya pun mulai membaca tulisan karya Rendra, Ahmad Tohari, A.A Navis, Ayu Utami dan juga Djenar Maesa Ayu.

Tapi seperti yang sayang bilang tadi, saya kurang rajin membaca. Kadang baca, kadang enggak. Saya lebih banyak mengakses internet daripada baca buku. Nah belum lama ini, saya mulai berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer. Saya baru berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer di usia saya yang ke 27. Ke mana saja selama ini? Payah ya?! Biarlah!

Meskipun demikian enggak ada kata terlambat. Saya pun keranjingan mebaca tulisan Pram… Seru! Asyik! Menarik!  Sayangnya buku-buku Pram yang asli susah didapatkan. Kalaupun ada, saya harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Tapi enggak masalah, saya enggak suka membaca buku palsu. Sebagai penulis, saya enggak suka buku saya dipalsukan. He he he.

Bisa dibilang bahwa, tulisan Pram membuat saya mengenal Indonesia lebih baik. Tulisannya dikemas secara apik dan sederhana tapi penuh makna. Apa artinya mengenal dunia luar kalau saya enggak mengenal Indonesia sama sekali?! Ya toh?! Tapi ya tapi…. saya juga harus mengerti apa yang terjadi di luar sana secara seimbang.

Bagi saya buku dan internet adalah sumber informasi yang saling melengkapi. Internet merupakan sumber referensi akan informasi sedangkan buku memberikan penjelasan akan suatu isu secara mendalam. Di jaman modern ini, mau tak mau kita harus menggunakan internet, si jendela dunia, to keep ourself updated. Tapi bukan berarti kita harus melupakan buku sebagai jendela dunia untuk memahami isu secara mendalam. FYI, I don’t like reading ebook : -) 

Kalau belum suka membaca buku, mulailah dari sekarang. Enggak ada kata terlambat.

signature

Catatan: Berpendapat

Saya ini… payah! Sejak duduk di bangku sekolah lalu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya selalu takut untuk berpendapat. Saya takut kalau saya salah. Saya takut kalau pendapat saya bodoh. Dua hal tersebut membuat saya cenderung mengunci mulut saya di tengah-tengah diskusi dengan topik menarik. Padahal apa salahnya kalau kita salah, apakah pendapat mereka sudah pasti benar? Lalu kenapa saya berkecil hati…?!

Mungkin karena saya merasa jelek, item, kriting dan krempeng. Kombinasi ideal untuk menjadi jelek untuk masyarakat kita yang mengidealkan bahwa cantik itu, putih, kurus dan berambut lurus panjang. Dari situ, saya kerap berpikir bahwa saya takut untuk diejek. “Udah jelek, bodoh pula!“. Enggak tahu kenapa hal tersebut menjadi suatu masalah besar bagi saya.

Tetapi kebiasaan saya menulis buku harian sejak kecil membuat saya berani berpendapat melalui tulisan. Dari buku harian yang sifatnya pribadi, saya menemukan internet forum lalu kemudian blog saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas (2003/2004).

Waktu itu, internet masih merupakan barang mahal. Untuk mengakses internet, saya harus ke internet cafe dan mengeluarkan Rp 4,000 per jam untuk dapat mengakses internet. Di situ saya menemukan dunia saya, saya bisa berpendapat tanpa orang tahu bagaimana bentuk muka saya, warna kulit saya atau jenis rambut saya. Saya enggak takut diejek karena penampilan fisik saya yang jauh dari definisi cantik.

Toh, orang enggak bisa melihat foto diri saya. Maklum waktu itu kamera digital belum terlalu populer untuk mengambil foto diri ribuan kali. Apalagi  foto selfie, istilah itu pun sepertinya belum ada. Kalau mau foto masih pakai roll film atau harus ke studio atau photo box.

Tahun 2005, saya pun menemukan multiply.com. Saya kembali menemukan ruang di mana saya bisa berbagi tentang berbagai macam hal, mulai dari catatan harian pribadi, pendapat saya tentang topik hangat, foto atau musik. Saya pun membangun pertemanan virtual dengan orang-orang yang sama sekali enggak saya kenal.

Meskipun pertemuan hanya terjadi secara virtual saja tapi saya merasa tahu mereka dari tulisan mereka atau postingan mereka. Ada yang suka traveling, ada yang suka memasak lalu berbagi resep makanan. Ada yang suka nonton film, ada juga yang suka photography. Ada yang suka politik, ada juga yang suka belajar bahasa dan budaya.

Bisa dikatakan bahwa berbagai macam diskusi tentang ide dan pikiran pun terbangun di antara para blogger. Yang menarik adalah enggak ada yang 100% benar atau 100% salah. Bahkan, seingat saya jarang netizen yang sangat amat defensive waktu itu atau saya jarang menemukan akun bodong yang bertujuan untuk menipu atau menyerang pihak-pihak tertentu.

Bukan hanya itu, saya pun bisa belajar dari orang lain apalagi kebanyakan dari para blogger tersebut, usianya jauh lebih tua dari saya, jadi mereka sudah banyak makan garam. Saya belajar bahwa pikiran orang itu macam-macam, saya belajar untuk memberi kesempat orang lain untuk berpendapat dan menghargai pendapat orang lain sekalipun saya enggak setuju.

Pada tahun 2006/2007, saya mulai bertemu dengan mpers (blogger pengguna multiply) di Yogya. Pertemanan terbentuk, meskipun kemudian kami jarang bertemu. Belum lagi multiply yang kemudian berubah menjadi e-commerce platform, lalu almarhum alias tutup. Walhasil  saya jarang ngeblog dan berinteraksi dengan kawan-kawan blogger.

Jujur saja, meskipun saya sudah blogging selama satu dekade, saya masih takut membuka mulut saya untuk berpendapat di tengah orang-orang yang enggak saya kenal dekat. Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau saya terdengar bodoh?  Bahkan sebagai kuli tinta, saya lebih memilih melakukan ‘wawancara ekslusif’ dengan narasumber karena saya enggak akan terlihat bodoh di mata orang lain. Payah sekali! Ya…. saya ini payah!

Saya iri dengan mereka yang berani mengungkapkan pendapat tanpa takut mereka salah. Saya iri dengan mereka yang cenderung lantang dan berpikir kritis dalam berdiskusi.

Hal ini membuat saya bertanya, apakah ketakutan saya ini karena saya orang Jawa dan cenderung nrimo? Kalau itu sih enggak ada hubungannya! Atau apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari dunia pendidikan kita yang enggak mengajarkan siswa untuk berdiskusi sejak dini? Apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari pendidikan kita di mana guru atau dosen HARUS digugu dan ditiru serta selalu benar karena mereka adalah guru? Well bisa jadi. Dan ini harus diubah agar siswa enggak takut berpendapat dan dapat membangun diskusi yang kritis di kemudian hari.

Ride the bus

Catatan: Indonesia dan Rohingnya

Dukungan online terhadap pemerintah Indonesia untuk menerima dan menampung etnis Rohingnya terus meningkat setelah mereka tidak mendapatkan tempat di Myanmar, Thailand dan Malaysia.  Sementara itu warga  Syiah di Sampang, warga Ahmadiyah di Lombok dan Jawa Barat dan juga masyarakat Papua, yang notabene adalah warga negara Indonesia, terus usir dari negaranya / tempat tinggal mereka sendiri. Hak konstitusi mereka sebagai warga negara tidak terakomodasi.

Belum lagi politisi dari partai agama yang selama ini cenderung mendukung diskriminasi terhadap warga Syiah dan Ahmadiyah sekarang meminta pemerintah Indonesia untuk membantu warga Rohingnya atas nama Pancasila. Pancasila yang sekarang mungkin hanya tinggal teori semata.

Memang atas dasar kemanusiaan kita harus membantu mereka, tapi seberapa jauh kita harus membantu mereka, seberapa lama kita harus membantu mereka lalu bagaimana dengan saudara kita sendiri yang terusir dari negeri ini? Ironi!

Ride the bus