Catatan: Aku Ra Po PO

Beberapa hari yang lalu Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kenegaraan ke Bangladesh. Dalam kunjungannya Presiden Jokowi melakukan berbagai pertemuan bilateral termasuk dengan Perdana Menteri Bangladesh Skheih Hasina untuk membicarakan kerja sama di bidang ekonomi di Dhaka. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kunjungannya ke kamp pengungsi Rohingnya di Cox’s Bazar Distric. Sayangnya, Presiden tidak berkesempatan melakukan dialog dengan komunitas Indonesia di Dhaka. Padahal ada kurang lebih 400 WNI di Bangladesh dengan problematika dan kisahnya masing-masing. Well, kita sempat berebut undangan dan berdrama ria untuk ‘penyambutan’ yang ternyata hanya berlangsung kurang dari 5 menit dan hanya untuk bilang “Hallo Pak Presiden” atau “Selamat sore” Ha ha ha What a joke?!– Mungkin beberapa tak masalah yang penting foto dengan Presiden Jokowi tapi tak ada outcome berharga selain sehelai foto.

Saya kemudian menduga, berpikir dan bertanya pada diri saya sendiri “Apakah ini karena profil WNI yang ada di Dhaka sehingga Presiden tidak dijadwalkan untuk berdialog dengan masyarakat? Buat apa?” Boleh dikatakan bahwa sebagian besar WNI yang tinggal di Bangladesh adalah mantan pahlawan devisa yang kemudian menikah dengan sesama pahlawan devisa Bangladesh yang mereka temui di Saudi, Malaysia atau Singapura dan kemudian hijrah ke Bangladesh. Namun berhubung mereka tak lagi berkontribusi bagi negara atau malah bisa jadi beban negara jadi tak penting untuk dilakukan dialog. Ya toh? Buat apa?

Padahal banyak topik yang bisa dibicarakan seperti : banyak sekali dari mereka yang merupakan perempuan tangguh bahkan beberapa dari mereka berusaha memperkenalkan makanan seperti tempe rumahan. Namun karena keterbatasan finansial, usaha mereka hanya itu-itu saja. Sedangkan potensial vegetarian di Asia Selatan pun besar. Akh siapa peduli toh?! Lagipula, dulu saja kabarnya kantin KBRI Dhaka sangat terkenal di antara komunitas ekspatriat karena enaknya makanan Indonesia. Tapi sayang, kabarnya dubes saat itu malah malu karena KBRI Dhaka lebih dikenal kantinnya. Oh well, berarti ada yang salah dong dengan kinerja dubes sampai-sampai yang dikenal hanya kantinnya. Sedangkan banyak negara di dunia maju, KBRI difasilitasi untuk mempromosikan makanan Indonesia. Ingatkan bahwa Pak Presiden ingin makanan Indonesia dikenal. Tapi ya itu, it’s not a million dollar bussines jadi buat apa? Apa untungnya? Belum lagi banyak kisah KDRT.

Dan tentu saja, profil WNI Dhaka tentu sangat berbeda dengan profil diaspora yang berada di Australia atau Amerika di mana sebagian besar merupakan pekerja kantoran atau mahasiswa. Namun tentu juga berbeda dengan profil diaspora Indonesia yang berada di Korea Selatan atau Hong Kong. Tentu menjadi seorang pemimpin negara sangatlah sibuk, mau merem pun susah. Namun jika presiden bisa berdialog dengan komunitas Indonesia di negara maju, kenapa tidak bertemu dengan mereka yang tinggal di negara dunia ketiga? Jangan hanya berinteraksi dengan wong cilik saat kampanye saja atau di dalam negeri, banyak wong cilik kita yang berada di luar negeri. Apalagi sebentar lagi Pemilu 2019, Fadli Zon saja melakukan dialog dengan WNI di sini meskipun kami tak boleh bertanya beberapa hal. Setidaknya ada kekayaan! Jadi jangan diskriminatif. Kalau Bapak membela Rohingnya yang diperlakukan secara diskriminatif oleh pemerintah Myanmar, kenapa juga melakukan yang sama terhadap masyarakatnya sendiri meskipun dalam bentuk yang berbeda. Sederhana saja!

Anyway, ini hanya sebuah buah pikiran, kritik dan masukan bagi pemerintah Indonesia dari segala level. Jangan mudah tersinggung dan dimasukkan dalam hati. Justru seharusnya menjadi masukkan.

Tabik!

Ride the bus

Catatan: Hutang

SONY DSC

Canthing [2016: EO]

Saya selalu percaya karma itu ada di mana ketika orang lain meminta bantuan kepada kita, kita seharusnya bisa membantu semampu kita karena mungkin suatu hari kita akan membutuhkan bantuan orang lain juga. What goes around comes around! Namun adakah batasan di mana kita harus berhenti membantu?

Tak jarang orang datang pada saya meminta bantuan finansial untuk berbagai keperluan baik pinjaman, sumbangan atau berkirim/transfer dana. Kalau pinjaman, mereka akan kembalikan sesuai dengan kemampuan mereka tanpa bertanya apakah saya menyetujui hal tersebut. Lucunya kalau saya katakan tidak, saya justru dicaci macam-macam “Masa sih elu enggak punya duit!” atau “Akh pelit amat!” “Laki lu kan bule, masa elu enggak punya duit sih!” “Gue pinjem tapi balikinnya pakai installment satu tahun ya!” — ebuset! kata saya dalam hati. 

Tetapi ketika ditagih pasti banyak sekali alasannya bahkan tak jarang mereka lebih galak daripada yang kasih pinjam uang. Padahal si pengutang masih bisa bersenang-senang seperti jalan-jalan ke luar negeri, nyalon atau ke restaurant. Lucukan? Seolah-olah saya tidak mempunyai kebutuhan. Hal tersebut membuat saya garuk-garuk kepala.

Pinjam uang melalui bank atau koperasi saja banyak persyaratannya dan ribetnya bukan main di mana salah satu syaratnya kita harus punya pekerjaan. Nah kalau tidak punya penghasilan, bagaimana kita akan mengembalikan uang tersebut? Oleh karena itu semenjak saya tidak mempunyai pekerjaan tetap saya paling takut menggunakan kartu kredit bahkan saya harus menutup kartu kredit saya karena saya takut hutang. Bagaimana kalau saya tidak bisa membayar? Ya kan?!

Sebenernya hutang terhadap institusi memiliki satu sisi yang bagus. Kenapa? Karena kita belajar untuk bertanggung jawab secara finansial. Kalau boleh bercerita, hutang terbesar saya adalah ketika saya membeli mobil Ford Fiesta tahun 2012, setiap bulan saya mempunya cicilan yang harus dibayar. Cicilan ini bagaikan momok yang menghantui setiap akhir bulan sedangkan kalau kita tidak bisa membayar tagihan setelah beberapa bulan, mobil bisa ditarik. Lebih gilanya lagi, meskipun mobil sudah ditarik belum berarti hutang kita lunas. Saat itu saya bekerja sebagai penulis lepas jadi penghasilan tidak menentu. Kalau lagi tinggi, saya bayar 2-3 bulan in advance, kalau tidak ya setidaknya tagihan harus bisa dibayar. Jujur saja, saya baru bisa bernapas lega ketika kembali bekerja fulltime. Setidaknya keuangan saya jadi lebih terprediksi.

Anyway, kembali ke topik utama mengenai hutang personal, apa yang seharusnya kita lakukan terhadap orang-orang yang meminta bantuan terhadap kita selain mengatakan tidak? Haruskah kita menjaga jarak dengan mereka pula?!  What do you think?

Ride the bus

Catatan: Sok Nginggris

DSCN0013Dalam suatu  kesempatan, pernah saya dengar kritik terhadap orang-orang Indonesia yang suka bicara dalam bahasa Inggris. Padahal, bahasa Inggrisnya jelek– begitu katanya. Terkadang, saya hanya senyum dan tertawa. Baiklah, mungkin bahasa Inggris mereka sempurna. Jadi mereka nyinyirin orang lain- begitu pikir saya.

Saya jadi teringat ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk bekerja di media berbahasa Inggris. Alasannya, saya ingin memiliki pembaca selain orang Indonesia dan di luar Indonesia. Selain itu, saya juga ingin bisa bekerja di luar negeri suatu saat nanti. Mungkin bagi beberapa orang, saya mimpinya muluk-muluk. Lulusan Sastra Inggris saja bukan kok tapi pengen bekerja di media berbahasa Inggris; belum lagi bahasa Inggris saya pas-pasan baik untuk reading, writing, speaking dan juga listening. Entah berapa score IELTS saya waktu itu. Namun jujur saja, meskipun saya sering minder, hal tersebut sama sekali tidak menghentikan niat saya.

Setelah melamar sana-sini, saya pun akhirnya mendapatkan beberapa kesempatan berharga untuk melakukan magang di Bali dan Jakarta. Saya bertemu banyak orang baru dan belajar banyak hal. Namun, suatu hari, saya tiba-tiba merasa takut karena merasa Bahasa Inggris saya sangat jelek, takut tidak dapat memenuhi target dan takut menjadi beban.  Saya mengungkapkan kegundahan saya tersebut pada atasan saya. Dengan tenang beliau mengatakan “It is okay. We are not native speaker, we have copy editor and you will initially improve it.”  Saya pun selalu mengingat hal tersebut hingga hari ini.

Di lain waktu, saya berbicara dengan salah seorang diplomat Indonesia mengenai perdagang Indonesia di Amerika Utara. Beliau mengatakan bahwa perdagangan Indonesia ke Amerika Utara jauh lebih rendah dibandingkan dengan Thailand. Mengapa? Hal ini disebabkan banyaknya orang Indonesia yang enggak mau repot dengan proses perdagangan dan mereka takut berbahasa Inggris. Padahal kalau boleh jujur, bahasa Inggris orang Indonesia jauh lebih mudah dipahami ketimbang orang Thailand dan Vietnam, begitu katanya.

Jangankan pada sesamanya yang orang biasa, dulu waktu Presiden Jokowi masih menjadi kandidat, kemampuan berbahasa Inggrisnya diejek oleh masyarakat yang merasa Bahasa Inggrisnya jauh lebih bagus daripada Jokowi. Masyarakat kota yang merasa orang desa enggak boleh jadi pemimpin. Katanya malu-maluin punya presiden yang enggak bisa berbahasa Inggris. Lha, Pak Harto? Lucukan. Namun dari sinilah, saya melihat bahwa lebih banyak orang Indonesia gemar memberikan punishment daripada reward kepada orang-orang yang berusaha apalagi menginagat setiap orang pasti mulai dari nol.

Anyway, di era globalisasi ini, penting kiranya kita memiliki kemampuan berbicara dengan lebih dari satu bahasa- mau bahasa Inggris, bahasa Mandarin, Bahasa Arab, Bahasa Perancis atau Bahasa apapun yang sekiranya penting dalam kehidupan masyarakat global. Nah, daripada kita nyinyirin orang lain, ada baiknya kita mengapresiasi orang lain yang sedang berusaha. As they said practice makes perfect.

Ride the bus

Catatan: Skilled Workers

SONY DSC

I wanna see the world

Sejak melahirkan, saya belum sempat melakukan Brazilian waxing lagi. Selain takut akan rasa sakit di bagian luka operasi caesar, saya juga belum menemukam tempat yang bisa dipercaya kebersihannya di Dhaka. Ada sih tempat waxing tapi sayangnya enggak hygienic di mana mereka menggunakan satu mangkok besar dan satu butter knife untuk semua customers; belum lagi kain blacu yang dipakai sepertinya dicuci ulang -karena saya pernah lihat bulu rambut di kain blacu tersebut-. Ngeri enggak sih? Emang sih lebih ramah lingkungan karena enggak harus cuci mangkok dan buang kain berkali-kali. Tapi, gimana kalau ada salah satu customers yang punya penyakit kulit? Ya kan?

Anyway, kemarin saya baru ingat ternyata adik asisten rumah tangga saya bekerja di salon. Saat libur, dia bekerja sebagai freelancer mulai dari memijat, meni-pedi, scrubbing , eyebrow threading dan juga waxing. Dengan modal gula dan lemon untuk homemade sugar wax, baby powder dan kain blacu, akhirnya saya bisa waxing di rumah. Brazilian waxing dan half legs waxing. Cepet, bersih dan rapi.

Nah, kenapa saya cerita ini? Saya suka dengan orang-orang seperti perempuan bernama Rina ini. Dengan keterampilan yang dimilikinya, dia sangat passionate dalam melakukan pekerjaannya. Hal itu nampak ketika saya memberikan kain katun untuk waxing tetapi ternyata kain katun terlalu tipis, susah untuk angkat bulu rambut sampai ke akar-akarnya. Dia sampai kesal sendiri setiap kali mencobanya. “Huh? What happened?” katanya penasaran karena  tak satu helai rambutpun ketarik. Meskipun demikian, dia terus berusaha dan dengan cekatan, dia menyelesaikan pekerjaannya dalam satu jam saja.

Rina mengingatkan saya pada hairstylist langganan saya. Andre. Dia ‘pegang’ rambut saya dari tahun 2011. Kalau tidak sibuk, hampir setiap bulan saya ke salon. Entah untuk coloring atau haircut. Saya enggak pernah ke salon lain sejak kenal Andre. Atau Mas Boni, penjahit langganan saya di ITC Kuningan. Dia tahu bagaimana memotong batik menjadi dress tanpa mengubah motifnya. Atau Mas Otoy, anak buah Mas Boni, yang tahu bagaimana memermak pakaian tanpa merusaknya dan tetap nyaman dipakai.

Saya suka dengan orang-orang seperti ini,  mereka tak malu dengan apa yang mereka lakukan.  Selain itu, mereka make sure memberikan service yang terbaik untuk customer mereka agar mereka kembali lagi. Dengan demikian, saya sebagai customer tak rugi merogoh kocek untuk kinerja mereka bahkan tak enggak memberikan lebih.

Jujur saja, saya suka iri dengan orang-orang yang memiliki keterampilan seperti ini. Entah memotong rambut, memijat, memasak, menjahit, olah raga atau main musik. Mereka menggunakan kreativitas mereka dalam bekerja dan mereka tidak harus bekerja pada sebuah perusahaan, mereka bisa menjadi pekerja lepas di waktu tenggang misalnya dan dapat menggunakan keterampilan mereka di mana saja mereka berada.

Jadi pengen belajar menjahit..

Ride the bus

Catatan: Berpolitik

IMG_1560Suasana Pilkada DKI Jakarta 2017 kali ini enggak jauh berbeda dengan Pemilu dan Pilpres 2014 yang lalu, lagi-lagi masyarakat terutama netizen terpecah karena pilihan mereka masing. Kalau dulu, ada yang pro Jokowi karena merupakan sosok baru tetapi ada juga yang pro Prabowo karena masih menganggap bahwa di bawah pemerintahan militer, semuanya akan baik-baik saja. Nah kalau sekarang, ada yang pro Ahok karena dia dianggap membawa perubahan bagi Jakarta dengan cara yang tidak berkenan di hati banyak orang; ada juga yang anti Ahok karena dia bukan Muslim atau dianggap kasar, tidak pro wong cilik apalagi bohir-bohir nakal. And…. everyone is entitled to his/her opinion.

Menariknya, di era digital sekarang ini, banyak konstituen bisa menyampaikan pendapat mereka di muka umum melalui media sosial termasuk Facebook dan Twitter sebagai bentuk partisipasi mereka dalam politik Indonesia. Sayangnya, ada juga pengguna media sosial yang merasa jenggah dengan status atau postingan berkaitan dengan politik tersebut. Entah ada yang berkomentar “Ya elah, yang punya KTP Jakarta sih adem ayem aja,“, “Akh lebay deh orang-orang itu,” “analis politik dadakan“,”analis politik online” dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena tersebut, saya bertanya pada diri saya sendiri “Apakah hanya orang tertentu saja yang boleh menyatakan pendapat mereka tentang pemerintah dan politik di negara ini? Siapa sajakah mereka? Lalu, kenapa yang lain dianggap tidak memiliki kualifikasi untuk berpolitik?”  Padahal bagi saya, hal ini menunjukkan adanya kesadaran dan partisipasi politik masyarakat Indonesia di mana selama 32 tahun lamanya masyarakat sudah dibungkam, dininabobokan dengan ‘kesejahteraan’ pada masa pemerintahan Soeharto. Selama ada sandang, pangan dan papan yang cukup, banyak masyarakat yang masa-bodo dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah dan kroni-kroninya. Sedangkan, mereka bisa hidup enak dan bukan hanya cukup. Selain itu, kita juga enggak tahu kebijakan pemerintah apa saja waktu itu apalagi mempertanyakan  atau bersikap kritis terhadap kebijakan tersebut?! Mungkin, ketika anda mau buka suara saja alias bersikap kritis, anda bisa hilang atau mati.

Tetapi sejak turun Presiden Soeharto, pemerintah Indonesia jauh lebih transparan apalagi di era digital ini. Meskipun… ya meskipun…. masih banyak informasi pemerintah yang susah diakses oleh masyarakat walaupun ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Belum lagi banyaknya politisi yang berebut kursi kekuasaan untuk  meningkatkan kesejahteraan masyarakat memperkaya diri sendiri dan kroni-kroninya dengan obral janji selama kampanye. Di mana pada akhirnya masyarakat kadangkala disuguhi dengan pilihan antara buruk atau buruk sekali. Meskipun demikian, masyarakat masih bisa menggunakan hak pilih mereka tanpa tekanan.

Nah… dalam proses menentukan pilihan mereka, mereka akan berdiskusi atau bahkan berdebat dengan keluarga, tetangga, kawan atau rekan kerja tentang  alasan mengapa mereka memilih sosok tertentu sebagai pemimpin mereka; mengapa sosok A jauh lebih baik dari sosok B; mempertanyakan rekam jejak masing-masing dan sebagainya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kadang kala diskusi dan debat tersebut menjadi ajang saling cela, saling hina hanya karena berbeda pendapat saja atau saling memotong satu sama lain sehingga pesan tidak dapat disampaikan dengan sempurna.

Hal tersebut kemudian menunjukkan bahwa masyarakat kita belum dewasa dalam berpolitik dan bersikap kritis terhadap sekeliling kita. Banyak konsitituen yang bersikap apatis dan pragmatis selama ada makanan di meja, sandang yang cukup dan papan untuk berteduh tanpa mempertimbangkan dan atau mempertanyakan matang-matang kualitas pemimpinnya, padahal sebenarnya mereka bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hal tersebut tentu tidak mengejutkan. Kenapa? Well karena banyak politisi yang obral janji aja.

So, menurut saya, biarkan saja orang membuat status tentang pemilu maupun pilkada. Dari situ kita tahu bagaimana masyarakat kita berpartisipasi dalam politik Indonesia; bagaimana peran media dalam politik Indonesia; apakah industri media berhasil mengedukasi masyarakat tentang pemerintah dan politik Indonesia atau justru mereka berpolitik sendiri; bagaimana masyarakat menerima pesan-pesan politik yang disampaikan melalui media; dan juga bagaimana masyarakat mengkonsumsi media di era digital ini.

Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer pernah menuliskan dalam Rumah Kaca dari Tetralogi Pulau Buru “Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik. Selama orang berasa di tengah-tengah masyarakat, betapapun kecil masyarakat itu, dia berorganisasi

Ride the bus

Catatan: Lebaran Kuda?

Pasti udah banyak yang tahu dong kalau beberapa hari terakhir ini Lebaran Kuda jadi trending topic di kalangan pengguna sosial media di Indonesia. Kok bisa? Jadi Rabu lalu (2 Nov), Pak SBY mengadakan konfrensi pers Puri Cikeas mengenai rencana demonstrasi tgl 4 November dan dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Dalam konpres tersebut Pak SBY menghimbau agar Ahok diproses hukum sehingga jangan sampai ada tudingan Ahok kebal hukum. Lebih lanjut, jika pemerintah dan penegak hukum mengabaikan the-so-call aspirasi massa maka demonstrasi akan terus ada. “Sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa. Ini pengalaman saya,” begitu kata Pak Beye. Tapi, apa sih “lebaran kuda” itu?

Jadi menurut salah satu pengguna twitter Abi Hasantoso dengan @thereal_abi, ia menjelaskan bahwa  ungkapan Betawi untuk sesuatu yang tak akan bisa diwujudkan. Jadi SBY benar. Demonstrasi tak akan berhasil kalau niatnya buruk.

Tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kata ‘lebaran’ adalah “hari raya umat Islam yang jatuh pada tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri“. Lebih lanjut, KBBI online menunjukkan adanya dua lebaran “Lebaran Haji dan Lebaran Besar” namun tidak ada “Lebaran Kuda”.

Jadi apakah bisa SBY dianggap menistakan agama dengan menggunakan istilah “Lebaran Kuda” atau kebal hukum? (http://kbbi.web.id/Lebaran)

Ride the bus

Catatan: Tanpa Judul

Enggak usah heran kenapa Pilkada Jakarta mainnya kotor banget. Pendapatan daerah Pemprov DKI Jakarta tahun 2015 aja mencapai 44.20 Triliyun Rupiah. Provinsi mana coba yang bisa mendapatkan pendapatan sebesar itu? Jelaslah jadi rebutan. Buat saya, when it comes to politics, it is rarely about serving the society but about how they can get a slice of the political pie. Pilkada Jakarta menjadi topik yang sangat menarik karena ibu kota negara Republik Indonesia, sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Muslim, dipimpin oleh tokoh dari kelompok minoritas, Tionghoa dan Kristen.

Sebagaimana kita tahu bahwa Javasentrisme yang dimiliki oleh masyarakat dan/ atau politisi Indonesia itu masih tinggi banget. Pasti banyak yang masih ingat bahwa jaman Soeharto dulu, selain Indonesia dikuasai dan dipimpin oleh militer, Indonesia juga dikontrol oleh orang-orang dari Jawa Tengah selama 32 tahun lamanya. Bahkan menurut beberapa studi, peristiwa Malari pada tahun 1974 diduga dimotori oleh beberapa jendral dari Jawa Timur yang cemburu dengan jendral berasal dari Jawa Tengah karena selalu mendapatkan kepercayaan dari Soeharto.

Setelah turunnya Soeharto, militer mulai kehilangan kontrol atas negara Indonesia. Indonesia mulai dipimpin oleh masyarakat sipil termasuk Habibie, Gus Dur dan Megawati. Namun hal tersebut enggak berlangsung lama, tokoh militer kembali memimpin Indonesia dan kali ini berasal dari Jawa Timur. Bukan hanya itu saja, tokoh tersebut bisa dibilang outsider, enggak berbau Cendana apalagi Soekarno dan sosok tersebut adalah Susilo Bambang Yudhoyono. SBY berhasil mengambil hati masyarakat Indonesia selama dua kali pemilu dan mempimpin Indonesia selama 10 tahun lamanya. Sayangnya perjalanan karir politik enggak mulus sama sekali di mana Parta Demokrat yang ia dirikan mengalami kejatuhan secara perlahan-lahan termasuk dengan kekalahan Fauzi Bowo dari Partai Demokrat di Pilkada Jakarta 2012 dan kekalahan Partai Demokrat di pemilu 2014 lalu. Namun sayangnya setelah 10 tahun berkuasa, SBY sepertinya kurang menikmati rasanya menjadi rakyat biasa apalagi kali ini yang berkuasa adalah lawan politiknya.

Nah di Pilkada DKI Jakarta kali ini, saya kaget waktu membaca berita bahwa Partai Demokrat mengeluarkan pernyataan bahwa Partai Demokrat ingin agar DKI Jakarta dipimpin oleh sosok yang lebih baik dari Ahok. Kagetnya kenapa? Berita tersebut terdengar seolah SBY membenci Ahok. Tapi apa dosa Ahok pada Partai Demokrat dan SBY? Saya bisa paham sih kalau Prabowo dan Gerindra dendam dan marah pada Ahok karena Prabowo merasa ‘habis manis sepah dibuang’. Nah, kalau Ahok sama SBY? Kok kayaknya benci sampai ke ubun-ubun. Ada apa ya kira-kira?

Bisa jadi, SBY adalah satu politisi yang belum bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh orang di luar militer, di luar ‘Jawa’ dan di luar ‘Islam’. Mungkin beberapa politisi masih bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh masyarakat sipil selama dia Jawa dan Islam. Tapi kalau Tionghoa dan Kristen, banyak orang yang masih kalang kabut dan hal ini menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia yang sebenarnya mentalnya masih terjajah. Sebagaimana dituliskan dalam buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group”, sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Sayangnya, meskipun Indonesia merdeka, hal tersebut masih terus tertanam di kalangan masyarakat Indonesia hingga hari ini.

Oleh karena itu, kalau tokoh dari kelompok minoritas bisa memimpin ibu kota negara Republik Indonesia, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari Indonesia akan dipimpin oleh tokoh dengan latar belakang yang sama (kelompok minoritas) karena masyarakat mulai menilai pemimpin dari kualitasnya dan bukan bungkusnya saja. Tentu saja, orang-orang yang masih menganut Java sentrisme tentu enggak suka dengan hal ini. Hence, they will do anything necessary untuk menjegal orang-orang yang bukan Jawa dan bukan Muslim untuk memimpin Indonesia dan dicintai oleh masyarakatnya. Tapi… namanya juga politik. Isu beginian akan terus dimanfaatkan oleh para politisi yang menginginkan kekuasaan. Apalagi kalau masyarakatnya kurang berpendidikan dan enggak kritis. Laku deh isu beginian. Ya kan?

Masih ingat kasus Antasari Azhar kan? Kalau  Antasari, yang diduga punya bukti kuat kecurangan Pilpres 2009 saja bisa berakhir di penjara dengan vonis 18 tahun penjara (lebih ringan dari tuntutan JPU yang menginginkan hukuman mati), maka cara yang serupa pun dapat dilakukan terhadap Ahok dengan skenario yang berbeda. Ya toh?

FYI, Antasari yang divonis 18 tahun penjara pada tahun 2010 lalu akan akan bebas bersyarat pada tanggal 10 November nanti.

Ride the bus

Catatan: Masih Terjajah

Dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini, lagi-lagi kita disuguhi sentimen anti-Cina. Saya selalu penasaran kenapa banyak masyarakat kita yang tidak menyukai etnis Tionghoa? Apa salah mereka? Saya mendapatkan pencerahan dari buku yang saya baca “Liem Sioe Liong’s Salim Group”.

Dalam buku tersebut, penulis mencatat analisis Pramoedya Ananta Toer tentang sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Padahal sebenarnya imigran China sudah datang ke Sumatera sejak tahun 942, mereka berintegrasi dengan masyarakat setempat, memperkenalkan alat pertanian moderen guna menyempurnakan teknik pertanian yang sudah ada dan masyarakat tidak pernah memiliki masalah dengan mereka sama sekali. Kedekatan dan pertumbuhan jumlah imigran China itulah yang menjadi momok bagiBelanda, maka sejak itu Belanda mulai membuat peraturan yang diskriminatif bagi komunitas Tionghoa, termasuk membatasi jumlah imigran China ke Hindia Belanda. Sayangnya sentimen anti China tersebut tidak berakhir dengan berakhirnya penjajahan Belanda, justru dilestarikan dan terus diterapkan oleh Pemerintah Indonesia yang katanya merdeka dari masa ke masa. Akhirnya masyarakatpun sudah terbiasa untuk ‘membenci’ komunitas Tionghoa

Benar kata Pram di tetralogi Bumi Manusia, orang Indonesia tidak pernah memiliki dan memegang teguh nilai dan prinsip mereka sendiri; alhasil baik Pemerintah (dulu berupa kerajaan) dan rakyat mudah dipengaruhi oleh nilai dan budaya luar. Hal ini dapat dilihat dari perubahan agama di nusantara dari abad ke abad. Ada saudagar Hindu masuk, kerajaan di Nusantara mulai menganut Hindu; Budha masuk, mereka berubah menjadi Buddha; Islam masuk mereka berubah menjadi Islam dan seterusnya. Agama-agama tersebut diadopsi oleh kerajaan (Pemerintah) dan digunakan untuk mengontrol masyarakatnya.

Dari dua poin tersebut, nampak jelas bahwa penggunaan isu SARA terutama agama dan golongan dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini menunjukkan pada kita bahwa kita masih terjajah secara pikiran dan belum dewasa dalam berdemokrasi. Entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi di Indonesia. Sangat disayangkan.

Ride the bus

Catatan: Mabok Agama

Enek enggak sih baca postingan di sosial media yang selalu berkaitan dengan agama? Mulai dari kasus pelecehan seksual, perempuan bekerja dan laki-laki menjadi bapak rumah tangga, orientasi seksual sampai ke urusan politik. Dari urusan selakangan sampai jabatan. Entah makin banyak orang yang mabok agama, entah karena hal ini semakin terkekspos oleh media massa serta media sosial atau mudahnya distribusi informasi hari ini.

Bagi orang yang mempelajari ilmu sosial, pasti banyak yang tahu bahwa agama adalah sebuah bentuk konstruksi sosial yang disusun oleh kelompok tertentu dengan cerita masing-masing. Di mana, bisa jadi kebenarannya bisa dipertanyakan. Meskipun demikian, saya percaya agama apapun memiliki pesan moral yang berguna bagi keharmonisan hidup manusia dan alam semesta. Sayangnya, pesan moral tersebut belum tentu dapat dipahami oleh penganutnya secara menyeluruh. Belum lagi, banyak penganut agama (enggak semua) yang cenderung memilih mendengarkan ceramah pemuka agama saja ketimbang mempelajari agama tersebut secara konstruktif sehingga mereka memiliki tafsiran atau intepretasi yang berbeda-beda satu sama lain. Alhasil, banyak dari mereka yang menjadi fanatik dan suka memaksakan kepercayaan mereka terhadap orang lain dengan harapan bisa masuk surga, sebuah tempat imajiner.

Selain itu, manusia yang katanya makhluk paling sempurna dengan akal, budi dan pikiran tersebut dapat dipecah-belah dengan agama yang notabene merupakan produk konstruksi sosial ciptaan manusia tersebut. Jangankan memecah-belah masyarakat yang berskala besar, agama bisa juga memecah-belah keluarga termasuk hanya karena salah satu anggota keluarga berganti ke agama tertentu, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan orang yang berbeda agama, hanya karena salah seorang anggota keluarga akan menikah dengan cara agama lain demi kemudahan, dsb. Sebagaimana dikatakan oleh filusuf asal Skotlandia David Hume di mana agama bukan merupakan hasil dari buah pikiran/logika/nalar melainkan perasaan, oleh karena itu enggak ada gunanya untuk beradu dengan penganutnya apalagi yang fanatik. Yang ada malah jadi debat kusir.

Saya jadi teringat cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis tentang Ajo Sidi, pembual desa yang juga merupakan pekerja keras, yang menceritakan kisah Haji Saleh yang rajin beribadah namun tidak masuk surga. Pertama kali saya membaca cerpen tersebut waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya membacanya berulang kali. Akhirnya saya paham bahwa orang boleh saja beriman namun jangan lupa berperikemanusiaan, dengan berperikemanusiaan orang akan lebih mudah masuk surga ketimbang hanya rajin berdoa. Saya pun kemudian melihat di sekeliling saya, saya melihat contoh nyata yang membuat saya enek dengan agama. Misalnya orang yang rajin beribadah tapi berkata-kata menyakitkan terhadap seorang yatim piatu; saudara kandung yang mengejek saudara kandungnya karena memakai kerudung di tengah keluarga Kristiani yang tengah dirundung suasana duka; seorang kriminal yang menjustifikasi perbuatan kriminalnya dengan ayat kitab suci atau seorang pegawai negeri yang tidak dapat menduduki jabatan tertentu hanya karena berbeda agama.

Dari tahun ke tahun saya melihat hal tersebut dari skala kecil sampai besar, saya pun memutuskan untuk tidak beragama tapi saya percaya adanya the higher power. Kenapa? Meskipun saya dulu anak IPA, saya malas untuk mempelajari Big Bang Theory tentang asal-usul semesta atau kemungkinan manusia itu sebenernya berasal dari planet Mars dari kehidupan sebelum planet Mars mengalami doomsday. Males bangetkan mikirnya? Anyway, untuk apa kita beragama tapi tidak bisa memperlakukan sesama manusia dengan semestinya. Itu gila! Tentu saja, itu semua pilihan masing-masing.
 
Ride the bus

Catatan: Tentang Bekerja

SONY DSC

Perempuan yang Bekerja [2016:EO]

Sebagai orang yang enggak bisa anteng dan meneng, saya enggak bisa hanya duduk di rumah dan do nothing sebagai ibu rumah tangga. Bahkan, saya enggak pernah berminat atau bercita-cita untuk menjadi a fulltime housewife. Rasanya ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan saya. Apalagi sebagai wartawan, dulu saya selalu bertemu dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya dan mendapatkan ilmu baru dari mereka. Belum lagi pekerjaan saya dalam dua tahun terakhir ini yang benar-benar membuka mata saya sebagai individu dan citizen di sebuah negara. Tetapi tahun ini saya harus mengambil jalan tersebut, menjadi a fulltime housewife.

Kenapa? Well, sebenernya tahun ini saya akan melanjutkan sekolah untuk program Master of Global Affairs selama dua tahun di Munk School, University of Toronto, Canada. Rencananya, sebelum kelas dimulai di bulan September lalu, saya mau mengikuti suami saya ke Dhaka, Bangladesh untuk beberapa bulan. Tetapi saya terpaksa harus menunda program tersebut karena saya hamil dengan due date 10 January 2017.

Enggak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya banyak perempuan hamil yang masih dapat meneruskan sekolah atau pekerjaan selama musim dingin di belahan bumi utara sana. Tetapi saya memilih untuk mundur kali ini. Kenapa? Well, pertama sebagai first time mom,  I don’t know what to expect during the pregnancy dan saya akan sendirian karena suaminya bertugas di negara lain; bayi akan lahir di musim dingin dan I hate winter, the temperature is unbearable for me; dan yang terakhir saya khawatir saya enggak akan fokus dengan kuliah saya karena dua hal tersebut. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, saya memutuskan untuk mengirimkan deferral request email ke mereka. Thanks God, they approved.

So now, what am I going to do in Bangladesh? A new country which I don’t speak its language and can hardly understand its alphabet. Saya mulai stressed. Ada yang bilang “Ya udah sih, mendingan kamu belajar menerima hal tersebut dan nikmatin aja.” atau ada yang bilang “Kamu sih enak, walaupun jobless setidaknya enggak moneyless.” Well, setiap orang kan berbeda-beda. Saya enggak setuju dengan pendapat tersebut. Kenapa? Karena saya belum memenuhi dua kebutuhan dasar saya sebagai manusia sebagaimana dikemukakan oleh Abraham Maslow, yakni ego/harga diri (esteem) dan aktualisasi diri (self-actualization).

Lagipula, apakah hidup ini hanya melulu tentang uang saja? Uang memang penting apalagi kita enggak akan pernah tahu akan apa yang terjadi suatu hari nanti, tetapi saya menyadari bahwa uang enggak membawa kebahagiaan. I can say this because I have been there. Rocking a lot of the high-end fashion designers stuffs and eating in fancy restaurants/bars, yet I was not happy. It does not mean that I don’t like beautiful things anymore but I value things differently. Dan bisa saya bilang, memang jauh lebih menyenangkan apabila kita membeli sesuatu dengan keringat kita sendiri.

Lagipula, sebagai perempuan Indonesia yang melakukan kawin campur, stigma ‘numpang hidup sama mister‘ akan terus melekat pada mereka kecuali mereka bekerja. Lha wong sudah bekerja keras saja masih dilabeli numpang hidup sama mister kok tapi ya itulah manusia.

Saya jadi ingat kata-kata Bapak saya: rumah tangga itu bagaikan gerobak yang ditarik kerbau di mana gerobak akan bergerak lebih cepat jika ditarik oleh dua ekor kerbau ketimbang satu ekor. Selain itu, ketika salah satu kerbau tersebut sakit atau mati, gerobak masih tetap bisa dijalankan meskipun dengan seekor kerbau saja. Dan saya teringat oleh kata-kata tersebut sampai sekarang.

Jujur saja, sita-cita saya, saya enggak cuma bekerja hanya demi uang tanpa menikmati apa yang saya lakukan. Saya ingin mendapatkan pelajaran dari pekerjaan tersebut juga. Dengan begitu, saya akan terus merasa tertantang untuk terus meningkatkan pekerjaan saya dan pengetahuan saya akan sesuatu. Dan tentu saja dengan harapan enggak mengecewakan perusahaan. Selain itu, saya ingin bisa memberikan manfaat terhadap orang lain. Mungkin saya terlalu optimistis, saya lebih memilih untuk bercita-cita tinggi dan terus belajar untuk menggapainya. There is nothing impossible.

Tetapi kali ini, saya harus mengalah untuk sementara hingga saya melahirkan dan mengisi waktu luang saya dengan membaca buku, mendengarkan kuliah umum dari universitas terkemuka melalui podcast, membuat catatan dari kuliah umum dan buku yang saya baca tersebut, olah raga dan belajar memasak. Dengan demikian, saya terus dapat mengekspresikan diri meskipun secara terbatas. Lha wong Mbah Lindu yang sudah 96 tahun saja masih mengekspresikan dirinya kok, masa saya enggak.

Tentu saja ini adalah sebuah pilihan dan setiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda, ada yang memilih jadi fulltime housewife, ada yang memilih untuk terus bekerja, yang penting selama kita bahagia dengan pilihan tersebut, kenapa tidak? Ya toh?

signature

Indonesia: Death Row and Drug World

Indonesia will soon make another international headline as the Attorney General Office has been preparing the execution of drug convicts after executing 14 drug convicts last year. Despite the fact AGO has not published the names and the dates,  Beritasatu TV has reported the names of nine drug convicts who would be executed within weeks.

As many of you might be aware that under President Joko “Jokowi” Widodo’s administration, the Indonesia government has declared war on drugs. President Jokowi stated that he refuses to grant any presidential clemency requested by drug convicts. As a result, any drug convicts, who have been sentenced to death by the court, would be executed. The government believe that capital punishment would give a deterrent impact and eventually stop drug trafficking in Indonesia. Nevertheless, this step has triggered controversy both in the national and international level.

Many argue that capital punishment is not the answer to the drug problem in the country and it is considered against human right. The government ignores the noise and carries the punishment anyway. As a sovereign state, Indonesia has its rules and regulations which could be implemented. The only way to stop capital punishment is by urging the government to revoke the capital punishment from the regulation. Yet, as I listened to the national radio program, many people actually also support the government decision to execute the drug convicts to tackle the drug problem because it is worrying.

Interestingly enough, some media reported how inhumane Indonesian government is because the government of Indonesia did not give notification about their execution to the convicts as well as the family. Is it true? I doubt it. Hence, it got me wondering “If some want to defend the drug dealers and trafficker from being executed, what do we really know about those drugs convicts? Should we have sympathy toward them?” I do not know.

So last month, I came across to two books titled “Hotel K: The Shocking Inside Story of Bali’s Notorious Jail” and “Snowing in Bali: The Incredible Inside Account of Bali’s Hidden Drug World” at a bookstore in Ngurah Rai Airport Bali. I found the title and cover very interesting. I read the blurb. It seems to be juicy, it is about crimes, drugs, sex and politics in Indonesia. I decided to buy two of them.

Yet, I was actually bit sceptical because of this book was part of a trilogy written by Australian author Kathryn Bonella who wrote “No More Tomorrows Schapelle Corby“. You might wonder “And so?

Well, Schapelle Corby was a convicted drug runner, who was found guilty of smuggling 4.2 kg of marijuana into Bali in 2004.  Denpasar District Court sentenced Corby 20 years imprisonment on May 2005. Since then, she has consistently claimed that she was innocent and fought for her release by filing appeals, judicial reviews as well as request for presidential clemency. On March 2010, she filed presidential clemency claiming that she has been suffering from mental illness. She eventually won the presidential pardon under the administration of President Susilo Bambang Yudhoyono on February 2012. She was then released on February 2014 but must remain in Indonesia to July 2017.

The thing is rumour has it that the release of Corby was actually part of government deal whereby the SBY government had struck a deal with the Australian government to extradite an Indonesian fugitive Adrian Kiki Ariawan, a graft convict who fled to Australia in 2003. However, former Vice Minister of Law and Human Rights Denny Indrayana denied that the extradition of Adrian Kiki Ariawan had something to do with the release of Schapelle Corby.

Unfortunately, I have a conspiratorial mind and I was suspicious. I said to myself, perhaps these books are actually forms of pressure to the Indonesian government to release Corby. Is it possible? But who is Corby? How important she is?  Was she a mule or a horse? Was she really a victim? Or did she play a victim? Is it a way for a convict drug dealer to escaping heavy punishment by claiming that they are suffering from mental illness?

And by the way, one of her lawyers was Hotman Paris. How much did she pay him? Is she coming from a filthy rich family? How could she afford him? Where is the money coming from? Or is this book just a form of comprehensive criticism to the Indonesian justice system?

I must say that it is hard to tell. Everyone has their own story. Everyone has their own agenda. We cannot just buy her stories through media, including books. Right?

So I began to read these books to find the answers and the red line. Instead of finding the answers, I actually start to have more questions. Yet, I must say that these books are eye-opening and easy to read for non-English speaker. If you want to know further, you can check my upcoming post on “Hotel K: The Shocking Inside Story of Bali’s Notorious Jail” and “Snowing in Bali: The Incredible Inside Account of Bali’s Hidden Drug World“‘s review.

Ride the bus

Indonesia: Broken Heart

IMG_0059I am proud of being Indonesian. I even often get easily annoyed whenever foreigners make a bitter criticism about Indonesia or look down on us. However, seeing what happened in Indonesia recently, I feel that this country seems to get backwards.

I am one of the lucky one to be able to leave the country, I can even be Canadian, Brits or both if I want to and never look back. However, I still have my family, Indonesia is my home, I love its cultural diversity, it’s super beautiful. Yet, imported religion slowly ruin it.

The government and coward people make me sick and tired of this country. I know I can leave and always come back but I want to make a contribution one day. How? I don’t know. Perhaps through writing.

The thing is although the Internet penetration is increasing, it does not necessarily inform all Indonesian properly. Instead, it appears as an entertainment. As a result, important issues are neglected.

Pramoedya Ananta Toer wrote “Unsur modern belum lagi mengubah tata pikir pribumi. Dunia pikirnya masih tetap seperti lima abad lalu. Cara menanggapi dunia belum berubah.” (Rumah Kaca).

I hope with the Internet, Indonesian are more well informed about everything including humanity than feared with the future.

Ride the bus