Catatan: Sebuah Identitas

IMG_0337Sebagai seorang perempuan yang berasal dari keluarga sederhana di Yogyakarta, saya punya cita-cita untuk menjadi sukses dan hidup berkecukupan, memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang saya miliki sebelumnya serta dapat melihat dunia. Perlahan-lahan, saya menggapai cita-cita saya meskipun tak secepat yang saya inginkan. Dari gaji pertama di tahun 2007, saya bisa terbang ke Bali. Dari beasiswa, saya bisa mengikuti fellowship di luar negeri. Dari gaji-gaji berikutnya, saya bisa membeli mobil meskipun mencicil sampai tuntas – meskipun tak jarang banyak yang menganggap suami yang membelikan. Tak hanya itu, saya pun punya identitas karena pekerjaan saya. Saya adalah penulis. Saya adalah jurnalis. Saya adalah researcher. Saya bangga dengan apa yang saya lakukan. Saya bangga bisa membeli ini itu dengar keringat sendiri. Saya bisa bercerita siapa saya dan apa yang saya lakukan. Sayangnya, semua itu hanya tinggal sejarah meskipun saya percaya itu hanya untuk sementara waktu.

Namun sejak saya pindah ke Bangladesh untuk mengikuti E, rasanya saya tidak punya identitas selain sebagai trailing spouse. Luntang-luntung sana sini, memperkenalkan diri sebagai seorang istri E yang bekerja di sebuah organisasi internasional. Memang, melalui pekerjaannya saya mendapatkan kesempatan untuk datang ke acara-acara istimewa, bertemu ‘pejabat’ atau bahkan konglomerat Bangladesh. Ngobrol sana, ngobrol sini tentang apa yang mereka lakukan over tea, coffee or wine. Namun, setiap kali memperkenalkan diri dengan mereka, saya jadi minder karena saya hanya trailing spouse. Tak banyak yang dapat saya bicarakan. Tak jarang pula dipandang sebelah mata. Saya merasa tak memiliki identitas. Oh betapa bencinya saya memperkenalkan diri dengan embel-embel orang lain, nama pun tak saya ganti. Jadi saya suka heran kalau ada yang pamer pekerjaan suami atau istri mereka seolah-olah mereka tropi!

Kalau dibilang ‘Kamu sih enak, enggak punya kerjaan tapi suamimu bekerja?’ Apa enaknya? Tak ada! Saya tak punya identitas. Tak ada yang bisa saya banggakan. Saya tak dapat menikmatinya dengan sungguh-sungguh simply because that is not me. Nevertheless, saya harus bersyukur dan bersabar karena tahun depan saya akan mulai membangun identitas saya kembali. Oleh karena itu, saya lebih baik fokus untuk hidup sehat, ngurus anak dengan bantuan Mina dan bekerja serabutan kalau pas ada meskipun kadang-kadang takut karena kendala administrasi seperti visa. At the end of the day, menjadi seorang ibu dari baby A juga merupakan suatu identitas. Ya kan? But…
Anyway, tak heran kalau setiap hari yang saya lakukan berolahraga dan masak. Bahkan seorang kawan bilang “Tentu saja dia masak terus karena dia bosan!” dan memang betul begitulah adanya.

Ride the bus

Catatan: Olahraga Waktu Hamil?

SONY DSCBagi beberapa-banyak orang, berolahraga saat hamil adalah ide yang sangat gila. Banyak yang khawatir bahwa olahraga dapat menyebabkan keguguran. Bahkan banyak bapak-bapak atau laki-laki kabur setiap kali melihat saya masuk ke ruangan gym dengan perut besar. Tapi apakah betul bahwa perempuan hamil enggak boleh neko-neko dan lebih baik duduk anteng dan makan sebanyak mungkin? Well, saya ingin berbagi pengalaman saya. Bukan sebagai dokter kandungan ataupun personal trainer tetapi sebagai fitness enthusiast.

Kalau boleh jujur, saya seneng dan juga agak sedih ketika saya tahu bahwa saya hamil. Lho kok gitu? Well, mungkin karena saya sangat egois, saya tidak ingin kehilangan bentuk tubuh yang sudah saya bentuk selama tiga tahun terakhir ini. Mulai dari legs, abs, shoulder, back and also chest. Dibutuhkan disiplin dan ketekunan selama beberapa tahun untuk mendapatkan otot-otot tersebut. Saya enggak mau kehilangan semuanya itu begitu saja. At the same time, I was very excited with the little one inside my womb and I want him to be healthy and happy baby. 

But then again, there was a fear within me. Kenapa? Well, sebagai trailing spouse yang baru saja gave up my job and beradaptasi di tempat baru, saya takut tiba-tiba mendapatkan anxiety attack or even worse depression. Di mana dulu, tak jarang, saya mengkonsumsi xanax ketika kedua hal tersebut menyerang ketika saya tinggal di J-Twon. As a result, saya takut untuk mengkonsumsi obat tersebut. So, how can I have a healthy pregnancy? Being fit and staying sane.

Luckily, seorang kawan memberi saya buku berjudul What To Expect When You’re Expecting yang ditulis oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel.  Pada Chapter 3 buku tersebut yang berjudul Pregnancy Lifestyle, Murkoff dan Mazel menulis “Workouts are not only a-can-do for most pregnant women but a definitely do. In fact, the vast majority of workout work well with the vast majority of pregnancies, which means you can almost certainly count on continuing your usual routine through your 9 months.”  langsung loncat-loncat dong waktu baca chapter tersebut. So that was the answer! Saya enggak perlu anti depressant dan lain-lain untuk tetap waras selama hamil.

IMG_4492Lalu apa keuntungan berolahraga saat hamil? Well, banyak! Baik untuk ibu hamil maupun janin. Untuk ibu hamil, olahraga dapat meningkatkan stamina, kualitas tidur, kesehatan, mood, otot dan punggung serta menjaga sistem  pencernaan agar lancar. Plus, lebih cepat sembuh setelah melahirkan. Sedangkan untuk janin, meningkatkan peredaran oksigen dalam tubuh dan dipercaya akan jauh lebih pintar.

Nah selama hamil, saya justru tidak melakukan yoga tapi tetap melakukan jogging, running dan weightlifting. Saya berolahraga setiap hari dua sampai tiga jam per hari. Hasilnya, saya hampir enggak pernah merasa depressed selama hamil. Boleh dikatakan bahwa olahraga saja enggak cukup. Makan makanan bergizi pun penting terutama buah-buahan, sayur-sayuran, susu dan juga daging-dagingan. Kalau bisa, jangan terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung gula. Selama hamil pun berat badan saya  naik 12 kg dan sekarang tinggal 2 kg. Saya masih punya banyak PR untuk membawa tubuh saya kembali kebentuk semula. Bukan, bukan kurus namun sehat dan berotot.

Tentu banyak orang yang berpendapat berbeda-beda namun saya akan jauh lebih mempercayai hasil riset daripada mitos tentang ibu hamil. Oleh karena itu, kalau ingin sehat dan dapat terus berolahraga selama hamil, alangkah lebih baik jika mulai menyukai olahraga sebelum hamil sehingga badan kita enggak kaget dengan berbagai macam perubahannya. Bagi saya, sembilan bulan hamil bukanlah waktu yang susah, gamping banget! Yang susah justru tiga hari setelah melahirkan apalagi saya melahirkan secara c-section. Bahkan sampai sekarang kalau saya enggak olahraga bekas jahitan malah sakit.

Btw, saya baru bikin akun Instagram yang berisi fitness dan makanan sehat. Follow @ibuksehat yuk!

Ride the bus

Catatan: Playdate

SONY DSCSalah satu alternatif bagi anak-anak ekspatriat yang tinggal di Dhaka untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak seusia adalah dengan mengikuti playdate. Selama ini playdate diorganisir oleh ‘ayah‘ atau ‘baby sitter‘, diadakan dari rumah ke rumah, diikuti oleh anak-anak sepantaran dan diadakan selama dua jam pada hari kerja. Boleh dikatakan, sebagian besar orang tua dari anak-anak tersebut sibuk bekerja atau keluyuran seperti saya sehingga daripada mereka di rumah berdua dengan ‘ayah’ saja maka mereka lebih baik bermain bersama anak-anak seusianya. Lalu bagaimana aturan mainnya?

Well, tidak ada aturan khusus. Hanya saja, orang tua diharapkan menyiapkan ruangan khusus atau playpen sehingga anak-anak tersebut dapat bermain dengan aman. Selain itu, tuan rumah diharapkan untuk menyiapkan snack baik untuk anak-anak maupun ‘ayah’; baby snack untuk anak berupa buah-buahan seperti apel, jeruk atau anggur dapat pula berupa baby biscuit sedangkan untuk ‘ayah’ berupa cookies dan minuman baik teh atau soft drink. Meskipun diorganisir oleh ‘ayah’, ada saja orang tua yang berpartisipasi untuk mengawasi anak-anak yang biasanya berasal dari sang tuan rumah.

Nah sudah satu bulan baby A mengikut playdate dengan anak-anak sepantaran. Sejak ikut playdate, keseharian baby A jadi lebih teratur mulai dari  jam makan, jam istirahat, jam minum susu, jam bermain dan jam tidur. Selain itu, makan lebih lahap, mau berbagi dengan orang lain dan enggak nemplok terus sama Daddy atau Ibu. Akhirnya kami pun bisa istirahat dengan lega hi hi. Selain itu, playdate merupakan stress reliever bagi orang tua karena anak jadi punya aktivitas dan enggak bosan. Meskipun demikian, kadang saya khawatir kalau lagi ada yang meler idungnya bisa ikut ketularan. Tapi sejauh ini hal tersebut belum terjadi.

Bagi saya, playdate adalah cara yang bagus untuk anak-anak dapat bersosialisasi dengan orang baru, belajar berbagi atau berinteraksi serta belajar berkomunikasi lintas budaya. Selain itu, orang tua dapat berbagi informasi dan bukan saing-saingan. Tak ada pula yang peduli dengan embel-embel suku, agama atau kelas sosial. Sayangnya, sebagian besar dari mereka adalah anak laki-laki; hanya ada dua anak perempuan yang kadang-kadang ikut.

Belum lama ini, saya dengar bahwa akan ada satu anak yang akan pergi meninggalkan Bangladesh karena orang tuanya harus pindah tugas ke negara lain. Entah kenapa, saya jadi sedih. Saya jadi membayangkan ketika baby A harus say goodbye dengan mereka. Apa yang akan dia rasakan? Mungkin mereka akan merasa sedih juga? Meskipun boleh dikatakan, mereka terlalu muda untuk mengingat hal tersebut. Jadi mungkin yang sedih ibunya ha ha ha.

Anyway, ini beberapa foto dari playdate hari ini di rumah. Kami sengaja enggak membeli terlalu banyak mainan karena memang belum diperlukan. Selain itu, mainan di sini mahal, kualitasnya tidak begitu bagus dan tidak begitu banyak pilihan educational toys. Saya juga sengaja tidak memposting wajah mereka karena belum tentu orang tua mereka menyetujui kalau foto mereka diunggah.

P.S: Playdate tidak harus dilakukan oleh expat family lho

Ride the bus

Catatan: Sok Nginggris

DSCN0013Dalam suatu  kesempatan, pernah saya dengar kritik terhadap orang-orang Indonesia yang suka bicara dalam bahasa Inggris. Padahal, bahasa Inggrisnya jelek– begitu katanya. Terkadang, saya hanya senyum dan tertawa. Baiklah, mungkin bahasa Inggris mereka sempurna. Jadi mereka nyinyirin orang lain- begitu pikir saya.

Saya jadi teringat ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk bekerja di media berbahasa Inggris. Alasannya, saya ingin memiliki pembaca selain orang Indonesia dan di luar Indonesia. Selain itu, saya juga ingin bisa bekerja di luar negeri suatu saat nanti. Mungkin bagi beberapa orang, saya mimpinya muluk-muluk. Lulusan Sastra Inggris saja bukan kok tapi pengen bekerja di media berbahasa Inggris; belum lagi bahasa Inggris saya pas-pasan baik untuk reading, writing, speaking dan juga listening. Entah berapa score IELTS saya waktu itu. Namun jujur saja, meskipun saya sering minder, hal tersebut sama sekali tidak menghentikan niat saya.

Setelah melamar sana-sini, saya pun akhirnya mendapatkan beberapa kesempatan berharga untuk melakukan magang di Bali dan Jakarta. Saya bertemu banyak orang baru dan belajar banyak hal. Namun, suatu hari, saya tiba-tiba merasa takut karena merasa Bahasa Inggris saya sangat jelek, takut tidak dapat memenuhi target dan takut menjadi beban.  Saya mengungkapkan kegundahan saya tersebut pada atasan saya. Dengan tenang beliau mengatakan “It is okay. We are not native speaker, we have copy editor and you will initially improve it.”  Saya pun selalu mengingat hal tersebut hingga hari ini.

Di lain waktu, saya berbicara dengan salah seorang diplomat Indonesia mengenai perdagang Indonesia di Amerika Utara. Beliau mengatakan bahwa perdagangan Indonesia ke Amerika Utara jauh lebih rendah dibandingkan dengan Thailand. Mengapa? Hal ini disebabkan banyaknya orang Indonesia yang enggak mau repot dengan proses perdagangan dan mereka takut berbahasa Inggris. Padahal kalau boleh jujur, bahasa Inggris orang Indonesia jauh lebih mudah dipahami ketimbang orang Thailand dan Vietnam, begitu katanya.

Jangankan pada sesamanya yang orang biasa, dulu waktu Presiden Jokowi masih menjadi kandidat, kemampuan berbahasa Inggrisnya diejek oleh masyarakat yang merasa Bahasa Inggrisnya jauh lebih bagus daripada Jokowi. Masyarakat kota yang merasa orang desa enggak boleh jadi pemimpin. Katanya malu-maluin punya presiden yang enggak bisa berbahasa Inggris. Lha, Pak Harto? Lucukan. Namun dari sinilah, saya melihat bahwa lebih banyak orang Indonesia gemar memberikan punishment daripada reward kepada orang-orang yang berusaha apalagi menginagat setiap orang pasti mulai dari nol.

Anyway, di era globalisasi ini, penting kiranya kita memiliki kemampuan berbicara dengan lebih dari satu bahasa- mau bahasa Inggris, bahasa Mandarin, Bahasa Arab, Bahasa Perancis atau Bahasa apapun yang sekiranya penting dalam kehidupan masyarakat global. Nah, daripada kita nyinyirin orang lain, ada baiknya kita mengapresiasi orang lain yang sedang berusaha. As they said practice makes perfect.

Ride the bus

Catatan: Simbok

SONY DSC

Hampir lima bulan terakhir ini, saya telah menjadi seorang ibu. Hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya satu tahun lalu karena saya terlalu menikmati pekerjaan dan hobi saya. Belum lagi saya berencana untuk meneruskan kuliah di Kanada setelah saya diterima di University of Toronto. Tapi, apa boleh buat. Kata orang yang percaya dengan adanya Tuhan, Tuhan punya rencana lain. Saya hamil dan lahirlah baby A awal Januari lalu, my monkey fire baby.

Meskipun tidak direncanakan, jujur saja, saya sangat menikmati menjadi seorang ibu apalagi setiap kali menyusui. Somehow, it comes across as a very special moment between myself and him. I even often say to myself “I will do anything to make him happy and healthy. I will always be there for him” As they say, breastfeeding helps a mother bonding with their child. So, I guess it is true.

Kalau boleh berterus terang, awalnya menyusui adalah sebuah momok bagi saya. Mengapa? Well, baby A lahir melalui operasi caesar di mana tim dokter harus memberikan bius lokal di tulang belakang. Efek bius tersebut sangat amat mengerikan, saya terus menerus muntah setelah melahirkan. Bahkan saat saya memberikan asi untuk pertama kali, saya pusing tujuh keliling dan muntah. Bayangkan saja, bukannya saya bahagia melihat baby A untuk pertama kali tapi malah muntah-muntah karena efek obat bius tersebut. “What kind of mother am I?” Saya sangat frustrasi kala itu. Sampai-sampai, sambil menangis, saya bilang pada perawat yang membantu saya malam itu “How can I breastfeed my baby if I cannot even sit up right and I continuously throw up?

Tidak hanya efek obat bius saja yang membuat saya takut menyusui tetapi juga my engorged breasts. Pada hari pertama, payudara saya langsung membengkak karena produksi ASI yang cukup tinggi atau oversupply. I did not know whether I should consider that as a blessing or a curse because it was very painful. I even got angry, “Why nobody told me about this horrible breast engorgement?” Well, it’s easier to blame on other people, right? 😁

Kebayang dong, masih dibawah pengaruh obat bius, payudara membengkak dan harus belajar menyusui baby A. It was very stressful and frustrating. Untungnya, dengan sabar para perawat dan konsultan laktasi terus membantu saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar. Tetapi jujur saja, entah mengapa rasanya sulit sekali untuk menyusui saat itu. Bahkan, saking susahnya, setelah pulang ke rumah, saya sampai harus memanggil doula ke apartment untuk kembali mengajari saya bagaimana untuk menyusui baby A dengan benar.

Lucunya, meskipun baby A belum punya gigi, saya takut digigit; sehinggasaya pun membeli peralatan perang untuk menyusui mulai dari nipple cream sampai nipple shields yang pada akhirnya pun enggak pernah saya pakai.

Boleh dibilang bahwa setidaknya dua minggu lamanya saya mengalami kesulitan dalam belajar bagaimana menyusui baby A dengan benar tanpa menderita. Bukan cuma itu saja, dalam dua minggu pertama tersebut, saya pun sempat kena mastitis dan harus bolak-balik ke konsultan laktasi di rumah sakit. Thankfully, setelah berbagai kesulitan tersebut selama dua minggu pertama, sekarang baby A langsung ‘nemplok’ tanpa digiring setiap kali mau makan. And, I must say that I do enjoy breastfeeding him. Again, it’s a very special moment especially when he looks at me, smiles at me and hold my shirt so tight as if he doesn’t want to let me go. Bahkan, saya kadang takut kalau nanti dia sudah tidak mau minum susu dari saya. I guess, this is the joy of being a mother.

But yeah, I swear to God, it was very difficult at the beginning. I even thought that nine months of pregnancy was actually way easier than the first three days of being a mother. I vividly remember, there was even a moment where I even had a breakdown and cried “I have never been so dependent like this,” because I could hardly do something, I couldn’t even get a glass of water for myself or just take a look at my phone. 

Anyway, boleh dibilang, meskipun saya sangat menikmati setiap detik menjadi seorang ibu karena bisa terus berinteraksi dengan baby A dan juga melihat perkembangannya, saya juga sangat rindu dunia kerja. Entah mengapa saya jadi merasa sedikit dungu akhir-akhir ini. Oh well, I really need to get the wheels turning either by going back to work or doing some study.

Ride the bus

Catatan: Skilled Workers

SONY DSC

I wanna see the world

Sejak melahirkan, saya belum sempat melakukan Brazilian waxing lagi. Selain takut akan rasa sakit di bagian luka operasi caesar, saya juga belum menemukam tempat yang bisa dipercaya kebersihannya di Dhaka. Ada sih tempat waxing tapi sayangnya enggak hygienic di mana mereka menggunakan satu mangkok besar dan satu butter knife untuk semua customers; belum lagi kain blacu yang dipakai sepertinya dicuci ulang -karena saya pernah lihat bulu rambut di kain blacu tersebut-. Ngeri enggak sih? Emang sih lebih ramah lingkungan karena enggak harus cuci mangkok dan buang kain berkali-kali. Tapi, gimana kalau ada salah satu customers yang punya penyakit kulit? Ya kan?

Anyway, kemarin saya baru ingat ternyata adik asisten rumah tangga saya bekerja di salon. Saat libur, dia bekerja sebagai freelancer mulai dari memijat, meni-pedi, scrubbing , eyebrow threading dan juga waxing. Dengan modal gula dan lemon untuk homemade sugar wax, baby powder dan kain blacu, akhirnya saya bisa waxing di rumah. Brazilian waxing dan half legs waxing. Cepet, bersih dan rapi.

Nah, kenapa saya cerita ini? Saya suka dengan orang-orang seperti perempuan bernama Rina ini. Dengan keterampilan yang dimilikinya, dia sangat passionate dalam melakukan pekerjaannya. Hal itu nampak ketika saya memberikan kain katun untuk waxing tetapi ternyata kain katun terlalu tipis, susah untuk angkat bulu rambut sampai ke akar-akarnya. Dia sampai kesal sendiri setiap kali mencobanya. “Huh? What happened?” katanya penasaran karena  tak satu helai rambutpun ketarik. Meskipun demikian, dia terus berusaha dan dengan cekatan, dia menyelesaikan pekerjaannya dalam satu jam saja.

Rina mengingatkan saya pada hairstylist langganan saya. Andre. Dia ‘pegang’ rambut saya dari tahun 2011. Kalau tidak sibuk, hampir setiap bulan saya ke salon. Entah untuk coloring atau haircut. Saya enggak pernah ke salon lain sejak kenal Andre. Atau Mas Boni, penjahit langganan saya di ITC Kuningan. Dia tahu bagaimana memotong batik menjadi dress tanpa mengubah motifnya. Atau Mas Otoy, anak buah Mas Boni, yang tahu bagaimana memermak pakaian tanpa merusaknya dan tetap nyaman dipakai.

Saya suka dengan orang-orang seperti ini,  mereka tak malu dengan apa yang mereka lakukan.  Selain itu, mereka make sure memberikan service yang terbaik untuk customer mereka agar mereka kembali lagi. Dengan demikian, saya sebagai customer tak rugi merogoh kocek untuk kinerja mereka bahkan tak enggak memberikan lebih.

Jujur saja, saya suka iri dengan orang-orang yang memiliki keterampilan seperti ini. Entah memotong rambut, memijat, memasak, menjahit, olah raga atau main musik. Mereka menggunakan kreativitas mereka dalam bekerja dan mereka tidak harus bekerja pada sebuah perusahaan, mereka bisa menjadi pekerja lepas di waktu tenggang misalnya dan dapat menggunakan keterampilan mereka di mana saja mereka berada.

Jadi pengen belajar menjahit..

Ride the bus

Catatan: Pasien Dungu

SONY DSC

Then shall the dust return to the earth as it was: and the spirit shall return unto God who gave it- Ecclesiastes 12:7

Sebelum tahun 2010, saya adalah pasien dungu. Seperti pasien kebanyakan, saya  selalu manut kata dokter setiap kali berkunjung pada tuan/nyonya dokter. Kalau mereka bilang saya sakit flu dan harus mengkonsumsi oseltamivir atau zanamivir sebagai obat sebagaimana ditulis dalam resep, tanpa banyak berpikir saya langsung menebus resep tersebut. Atau, ketika mereka mendiagnosa saya dengan penyakit lambung dan harus mengkonsumsi antibiotik, tanpa berpikir banyak lagi-lagi saya langsung menebus resep tersebut. Jujur saja, saya enggak pernah bertanya apakah obat tersebut hanyalah satu-satunya jalan yang menyembuhkan saya dari penyakit tersebut atau ada alternatif lain. Saya pun juga enggak pernah menanyakan kekurangan dan kelebihan dari obat tersebut. Maklum, dulu saya sering menganggap bahwa tuan dan nyonya dokter adalah satu-satunya kelompok manusia yang tahu bagaimana menyembuhkan penyakit manusia maupun binatang (untuk dokter hewan tentunya), kira-kira sebelas dua belas dengan dewa lah. Apalagi waktu itu saya masih seorang mahasiswa, belum ada kesadaran bagaimana menjadi seorang pasien a.k.a konsumen yang baik atau hidup sehat. Namun hal tersebut berubah sejak tahun 2009 ketika seorang dokter mendiagnosa saya dengan adanya gangguan liver dan “meramalkan” bahwa saya hanya memiliki 10 tahun lagi untuk hidup. “What the phvck? What have I done? What would I have achieved within 10 years?!” kata saya dalam hati. Lalu apa yang saya lakukan?

Well, saya pun kemudian mencari second opinion dari seorang dokter penyakit dalam di Yogyakarta. Seorang dokter dengan penampilan sebagai seorang umat beragama yang taat. Nyonya dokter kemudian menanyakan gaya hidup saya, apakah saya suka minum, apakah saya melakukan meggunakan narkoba dengan jarum suntik, apakah saya memiliki pasangan seks banyak dan lain sebagainya. Lucunya, nyonya dokter ini justru menjudge gaya hidup saya sebagai social drinker tanpa bisa membedakannya dengan seorang alcoholic, seorang candu, oleh karena itu saya harus menanggung resikonya. “What the heck?! You orang gila semua!” kata saya dalam hati. Tentu, saya frustrasi, takut.

Saya jadi ragu apakah tuan dan nyonya dokter ini adalah dukun atau orang berpendidikan? They seem having no idea how to interact  and or communicate the problem with their patients. Saya pun kembali ke tuan dokter di Bali. Meskipun tuan dokter telah meramalkan sisa waktu hidup saya, tuan dokter yang memiliki gelar profesor ini mengatakan bahwa saya bisa hidup lebih lama dengan catatan saya harus mengkonsumsi obat seharga 4 juta Rupiah per bulan seumur hidup atau 6 juta Rupiah per minggu. Belum lagi, suatu hari nanti, saya akan membutuhkan liver transplant. “Holy cow! How would I be able to afford it? Other than that, even if I had a good job and earn good money, I would rather to enjoy it!” Interestingly enough, tanpa bertanya ini-itu, tuan dokter akhirnya hanya memberikan vitamin yang konon katanya bisa memperkuat liver karena menganggap saya enggak mampu untuk membeli obat-obatan itu. “Well, that was true that I could not afford it back then. However, he could have asked than just prescribed me with some b.s vitamin kan?” As a result, bukannya semakin baik tapi semakin buruk. “Jesus! Mati beneran gue!”

Setelah melakukan riset sana sini, kita pun memutuskan ke Singapura, the best medical tourism destination in Southeast Asia. Tentu, kami tidak ke Mt. Elizabeth Hospital, mahal bok! Itu kan rumah sakitnya orang berduit. Kami hanya ke National University Hospital, rumah sakit pemerintah yang sekaligus berfungsi universitas yang terus melakukan riset. Selain itu, rumah sakit ini menawarkan servis dengan biaya yang miring bahkan jauh lebih murah dari rumah sakit internasional di Bali atau Jakarta. Kami pun enggak hanya melakukan riset akan biaya rumah sakit tersebut tetapi juga education background tuan/nyonya dokter yang kami temui. Dan ternyata pendekatan nyonya dokter sangat berbeda.

Kami cerita semua pengalaman kami dengan tuan dan nyonya dukun eh dokter dari Indonesia. Nyonya dokter sangat kaget dan heran kok ada dokter yang meramalkan lama hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive liver check up apalagi dia adalah seorang profesor. Dia pun kemudian menjelaskan secara detail tentang gangguan liver tersebut, dia menyarankan saya untuk melakukan sejumlah test dari liver test ulang, usg dan juga liver biopsy. Setelah dua minggu menunggu hasil lab keluar, kami bertemu lagi dengan nyonya dokter. Menariknya, bukannya dia langsung memberikan saya resep tapi justru memberikan beberapa alternatif tentang pengobatan yang bisa saya ambil.

  • Obat A, harganya X, hanya dikonsumsi selama 1 tahun. Nyonya dokter mengatakan bahwa obat A baru digunakan dalam 5 tahun terakhir per 2009. Sejauh ini, hasil riset menunjukkan bahwa meskipun banyak yang sembuh dalam kurun waktu 2 tahun saja tetapi karena ini obat baru maka belum bisa dilihat efek jangka panjangnya.
  • Obat B, harganya Y, dikonsumsi selama 4 tahun berturut-turut dan aman untuk kehamilan. Obat B sudah digunakan sejak tahun 1985 sehingga sejauh ini efektivitasnya telah teruji. Harganya pun jauh lebih murah karena sudah ada versi genericnya.
  • Obat C, harganya XY, dikonsumsi selama 6 bulan dengan efek samping depresi, rambut rontok, kehilangan napsu makan, dll. Obat ini sudah digunakan sejak tahun 1995. Harganya pun tinggi.

Dari sini saya belajar bahwa seorang dokter seharusnya enggak meramalkan hidup seseorang tanpa melakukan comprehensive medical test apalagi menghakimi gaya hidup seseorang tanpa memberikan solusi yang efektif. Solusi yang diberikan pun harus beragam kalau memang ada pilihan sehingga tuan dan nyonya dokter tidak hanya jualan obat saja. Saya jadi ingat akan pembicaraan saya dengan seorang tuan dokter dari asosiasi dokter mengenai isu ini. Menariknya, tuan dokter mengatakan bahwa dokter enggak memiliki waktu yang banyak untuk memberikan penjelasan yang detail karena gaji dokter kecil sehingga alternatif pendapatan adalah dengan menjual obat. Perlu diketahui bahwa penjualan industri farmasi dunia mencapai 1 trillion USD per 2014, tanpa campur tangan dokter perusahaan tersebut tentu target tersebut enggak bisa diraih dengan mudah. Tapi tentu saja, saya enggak bisa mengeneralisasikan hal ini. Saya percaya ada juga tuan/nyonya dokter yang ingin memberguna bagi masyarakatnya.

Sejak saat itu, sebelum saya ke dokter, saya melakukan dekstop research terutama dan scientific journal dan artikel di mainstream media tentang apa yang saya alami termasuk ketika saya hamil sekarang ini. Saya pun lumayan nyinyir dengan dokter apalagi kalau sudah memberikan saya resep yang panjang apalagi kalau enggak memberikan penjelasan tentang obat tersebut.

Sometimes, it is not about how much we spend but also its long-term effect to our health and body esp. liver as well as kidney. What is the point to have a lot of money and adequate insurance tapi sakit melulu hanya karena kita menjadi pasien/konsumen dungu, manut-manut saja dengan tuan/nyonya dokter hanya karena mereka dokter. Ya kan?

Ride the bus

 

Catatan: Berpolitik

IMG_1560Suasana Pilkada DKI Jakarta 2017 kali ini enggak jauh berbeda dengan Pemilu dan Pilpres 2014 yang lalu, lagi-lagi masyarakat terutama netizen terpecah karena pilihan mereka masing. Kalau dulu, ada yang pro Jokowi karena merupakan sosok baru tetapi ada juga yang pro Prabowo karena masih menganggap bahwa di bawah pemerintahan militer, semuanya akan baik-baik saja. Nah kalau sekarang, ada yang pro Ahok karena dia dianggap membawa perubahan bagi Jakarta dengan cara yang tidak berkenan di hati banyak orang; ada juga yang anti Ahok karena dia bukan Muslim atau dianggap kasar, tidak pro wong cilik apalagi bohir-bohir nakal. And…. everyone is entitled to his/her opinion.

Menariknya, di era digital sekarang ini, banyak konstituen bisa menyampaikan pendapat mereka di muka umum melalui media sosial termasuk Facebook dan Twitter sebagai bentuk partisipasi mereka dalam politik Indonesia. Sayangnya, ada juga pengguna media sosial yang merasa jenggah dengan status atau postingan berkaitan dengan politik tersebut. Entah ada yang berkomentar “Ya elah, yang punya KTP Jakarta sih adem ayem aja,“, “Akh lebay deh orang-orang itu,” “analis politik dadakan“,”analis politik online” dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena tersebut, saya bertanya pada diri saya sendiri “Apakah hanya orang tertentu saja yang boleh menyatakan pendapat mereka tentang pemerintah dan politik di negara ini? Siapa sajakah mereka? Lalu, kenapa yang lain dianggap tidak memiliki kualifikasi untuk berpolitik?”  Padahal bagi saya, hal ini menunjukkan adanya kesadaran dan partisipasi politik masyarakat Indonesia di mana selama 32 tahun lamanya masyarakat sudah dibungkam, dininabobokan dengan ‘kesejahteraan’ pada masa pemerintahan Soeharto. Selama ada sandang, pangan dan papan yang cukup, banyak masyarakat yang masa-bodo dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah dan kroni-kroninya. Sedangkan, mereka bisa hidup enak dan bukan hanya cukup. Selain itu, kita juga enggak tahu kebijakan pemerintah apa saja waktu itu apalagi mempertanyakan  atau bersikap kritis terhadap kebijakan tersebut?! Mungkin, ketika anda mau buka suara saja alias bersikap kritis, anda bisa hilang atau mati.

Tetapi sejak turun Presiden Soeharto, pemerintah Indonesia jauh lebih transparan apalagi di era digital ini. Meskipun… ya meskipun…. masih banyak informasi pemerintah yang susah diakses oleh masyarakat walaupun ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Belum lagi banyaknya politisi yang berebut kursi kekuasaan untuk  meningkatkan kesejahteraan masyarakat memperkaya diri sendiri dan kroni-kroninya dengan obral janji selama kampanye. Di mana pada akhirnya masyarakat kadangkala disuguhi dengan pilihan antara buruk atau buruk sekali. Meskipun demikian, masyarakat masih bisa menggunakan hak pilih mereka tanpa tekanan.

Nah… dalam proses menentukan pilihan mereka, mereka akan berdiskusi atau bahkan berdebat dengan keluarga, tetangga, kawan atau rekan kerja tentang  alasan mengapa mereka memilih sosok tertentu sebagai pemimpin mereka; mengapa sosok A jauh lebih baik dari sosok B; mempertanyakan rekam jejak masing-masing dan sebagainya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kadang kala diskusi dan debat tersebut menjadi ajang saling cela, saling hina hanya karena berbeda pendapat saja atau saling memotong satu sama lain sehingga pesan tidak dapat disampaikan dengan sempurna.

Hal tersebut kemudian menunjukkan bahwa masyarakat kita belum dewasa dalam berpolitik dan bersikap kritis terhadap sekeliling kita. Banyak konsitituen yang bersikap apatis dan pragmatis selama ada makanan di meja, sandang yang cukup dan papan untuk berteduh tanpa mempertimbangkan dan atau mempertanyakan matang-matang kualitas pemimpinnya, padahal sebenarnya mereka bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hal tersebut tentu tidak mengejutkan. Kenapa? Well karena banyak politisi yang obral janji aja.

So, menurut saya, biarkan saja orang membuat status tentang pemilu maupun pilkada. Dari situ kita tahu bagaimana masyarakat kita berpartisipasi dalam politik Indonesia; bagaimana peran media dalam politik Indonesia; apakah industri media berhasil mengedukasi masyarakat tentang pemerintah dan politik Indonesia atau justru mereka berpolitik sendiri; bagaimana masyarakat menerima pesan-pesan politik yang disampaikan melalui media; dan juga bagaimana masyarakat mengkonsumsi media di era digital ini.

Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer pernah menuliskan dalam Rumah Kaca dari Tetralogi Pulau Buru “Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik. Selama orang berasa di tengah-tengah masyarakat, betapapun kecil masyarakat itu, dia berorganisasi

Ride the bus

Catatan: Ternyata….

So the news is that I am currently 32 weeks pregnant and still have 8 more weeks to go until the arrival of our (first) child. Yay! It is very very exciting. Setelah lebih dari delapan tahun bareng with rise and fall, bitter and sweet, tears and laughters, akhirnya kita bakal nambah satu anggota. We are glad that we take it slow. Kenapa? Dengan demikian, kita punya waktu untuk melakukan apa yang kita mau, mulai dari bekerja, traveling, party all day party all night, shopping till drop dan lain-lain. Namun, itu kembali ke diri masing-masing, ada yang pengen buru-buru punya momongan atau ada juga yang take-it-easy. Tapi tahu enggak sih kalau ternyata membesarkan bocah itu enggak murah?

Menurut artikel dari CNN Money biaya untuk membesarkan bocah yang lahir setelah tahun 2013 dari keluarga kelas menengah, rata-rata bisa mencapai hingga 3.3 milliyar Rupiah sampai mereka berusia 18 tahun (rata-rata 183 juta Rupiah per tahun dan itu termasuk biaya tempat tinggal baik sewa maupun nyicil) dan jangan lupakan kemungkinan inflasi di masa mendatang. Itu belum termasuk uang kuliah baik di perguruan tinggi negeri atau swasta. Belum lagi, pada tahun pertama, biaya untuk membesarkan seorang bayi bisa mencapai sampai 162 juta Rupiah. Ditambah lagi, biaya persalinan. Gila ya?! Jadi kalau ada yang bilang banyak anak, banyak rejeki…. Ya dadah bye-bye!

Memang sih, angka tersebut merupakan angka yang diperoleh dari hasil hitung-hitungan yang dilakukan USDA alias Departemen Pertanian Amerika Serikat (Kok Departmen Pertanian ya yang melakukan survey ini?). Sayangnya, saya belum menemukan survei seperti ini yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Stastitik ) untuk Indonesia. Meskipun demikian, saya percaya bahwa angka tersebut enggak hanya berlaku di Amerika Serikat saja tetapi di berbagai negara termasuk di berbagai kota besar di Indonesia.

Di Jakarta misalnya, harga apartment yang terletak di tengah kota sudah mencapai lebih dari 1 M, itupun sangat kecil; di Bali, rumah dengan luas tanah 100 m2 sudah mencapai 1.5 M; di Yogya, rumah dengan luas tanah 100 m2 pun sudah lebih dari 400 juta Rupiah. Belum, biaya makanan, transportasi dan pendidikan yang katanya sekarang sudah menjadi bisnis. Sedangkan gaji juga segitu-segitu aja. Belum lagi, enggak semua perusahaan memberikan tunjangan yang pas untuk keluarga begitu juga dengan program pemerintah.

Oleh karena itu, saya ragu bagaimana orang tua bisa memberikan kehidupan yang layak dengan gaji (termasuk combined salary) di bawah dua digit apalagi yang tinggal di kota besar?  Tentu, pasti bakal banyak yang bilang, “Itu kan tergantung gaya hidup kita saja,” “Ya… nanti pasti diberi jalan oleh Tuhan,”  dan sebagainya.OK-lah!

However, at the end of the day, everyone has different goal, different lifestyle and perspective. Ya kan? In a perfect world, I believe pasti banyak yang ingin menjadi orang tua yang independent (dari bantuan orang tua, mertua, saudara atau kawan, debt-free, memiliki emergency money yang cukup dan adequate health insurance because we never know what will happen). 

Lalu, apa intinya dari semua ini? Well, membesarkan bocah itu ternyata mahal ya?! Mahal banget! … Dan emak (saya) butuh sekolah S2 setelah baby A lahir biar dapat ilmu dan gelar dari universitas yang bisa dimanfaatkan untuk mencari seceting berlian sehingga emak sama bapak saling membantu dalam memberikan kehidupan yang layak dan pengalaman yang luas bagi baby A. Memang untuk berpatisipasi dalam membiayai anak tidak harus bekerja dengan orang lain tetapi bisa juga menjadi wirausaha. Tapi tentu saja, itu pilihan masing-masing. Ya kan? Cuman ya itu tadi… ternyata membesarkan bocah mahal banget ya?!

Ride the bus

Catatan: Lebaran Kuda?

Pasti udah banyak yang tahu dong kalau beberapa hari terakhir ini Lebaran Kuda jadi trending topic di kalangan pengguna sosial media di Indonesia. Kok bisa? Jadi Rabu lalu (2 Nov), Pak SBY mengadakan konfrensi pers Puri Cikeas mengenai rencana demonstrasi tgl 4 November dan dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Dalam konpres tersebut Pak SBY menghimbau agar Ahok diproses hukum sehingga jangan sampai ada tudingan Ahok kebal hukum. Lebih lanjut, jika pemerintah dan penegak hukum mengabaikan the-so-call aspirasi massa maka demonstrasi akan terus ada. “Sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa. Ini pengalaman saya,” begitu kata Pak Beye. Tapi, apa sih “lebaran kuda” itu?

Jadi menurut salah satu pengguna twitter Abi Hasantoso dengan @thereal_abi, ia menjelaskan bahwa  ungkapan Betawi untuk sesuatu yang tak akan bisa diwujudkan. Jadi SBY benar. Demonstrasi tak akan berhasil kalau niatnya buruk.

Tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kata ‘lebaran’ adalah “hari raya umat Islam yang jatuh pada tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri“. Lebih lanjut, KBBI online menunjukkan adanya dua lebaran “Lebaran Haji dan Lebaran Besar” namun tidak ada “Lebaran Kuda”.

Jadi apakah bisa SBY dianggap menistakan agama dengan menggunakan istilah “Lebaran Kuda” atau kebal hukum? (http://kbbi.web.id/Lebaran)

Ride the bus

Catatan: Tanpa Judul

Enggak usah heran kenapa Pilkada Jakarta mainnya kotor banget. Pendapatan daerah Pemprov DKI Jakarta tahun 2015 aja mencapai 44.20 Triliyun Rupiah. Provinsi mana coba yang bisa mendapatkan pendapatan sebesar itu? Jelaslah jadi rebutan. Buat saya, when it comes to politics, it is rarely about serving the society but about how they can get a slice of the political pie. Pilkada Jakarta menjadi topik yang sangat menarik karena ibu kota negara Republik Indonesia, sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Muslim, dipimpin oleh tokoh dari kelompok minoritas, Tionghoa dan Kristen.

Sebagaimana kita tahu bahwa Javasentrisme yang dimiliki oleh masyarakat dan/ atau politisi Indonesia itu masih tinggi banget. Pasti banyak yang masih ingat bahwa jaman Soeharto dulu, selain Indonesia dikuasai dan dipimpin oleh militer, Indonesia juga dikontrol oleh orang-orang dari Jawa Tengah selama 32 tahun lamanya. Bahkan menurut beberapa studi, peristiwa Malari pada tahun 1974 diduga dimotori oleh beberapa jendral dari Jawa Timur yang cemburu dengan jendral berasal dari Jawa Tengah karena selalu mendapatkan kepercayaan dari Soeharto.

Setelah turunnya Soeharto, militer mulai kehilangan kontrol atas negara Indonesia. Indonesia mulai dipimpin oleh masyarakat sipil termasuk Habibie, Gus Dur dan Megawati. Namun hal tersebut enggak berlangsung lama, tokoh militer kembali memimpin Indonesia dan kali ini berasal dari Jawa Timur. Bukan hanya itu saja, tokoh tersebut bisa dibilang outsider, enggak berbau Cendana apalagi Soekarno dan sosok tersebut adalah Susilo Bambang Yudhoyono. SBY berhasil mengambil hati masyarakat Indonesia selama dua kali pemilu dan mempimpin Indonesia selama 10 tahun lamanya. Sayangnya perjalanan karir politik enggak mulus sama sekali di mana Parta Demokrat yang ia dirikan mengalami kejatuhan secara perlahan-lahan termasuk dengan kekalahan Fauzi Bowo dari Partai Demokrat di Pilkada Jakarta 2012 dan kekalahan Partai Demokrat di pemilu 2014 lalu. Namun sayangnya setelah 10 tahun berkuasa, SBY sepertinya kurang menikmati rasanya menjadi rakyat biasa apalagi kali ini yang berkuasa adalah lawan politiknya.

Nah di Pilkada DKI Jakarta kali ini, saya kaget waktu membaca berita bahwa Partai Demokrat mengeluarkan pernyataan bahwa Partai Demokrat ingin agar DKI Jakarta dipimpin oleh sosok yang lebih baik dari Ahok. Kagetnya kenapa? Berita tersebut terdengar seolah SBY membenci Ahok. Tapi apa dosa Ahok pada Partai Demokrat dan SBY? Saya bisa paham sih kalau Prabowo dan Gerindra dendam dan marah pada Ahok karena Prabowo merasa ‘habis manis sepah dibuang’. Nah, kalau Ahok sama SBY? Kok kayaknya benci sampai ke ubun-ubun. Ada apa ya kira-kira?

Bisa jadi, SBY adalah satu politisi yang belum bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh orang di luar militer, di luar ‘Jawa’ dan di luar ‘Islam’. Mungkin beberapa politisi masih bisa menerima bahwa Indonesia dipimpin oleh masyarakat sipil selama dia Jawa dan Islam. Tapi kalau Tionghoa dan Kristen, banyak orang yang masih kalang kabut dan hal ini menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia yang sebenarnya mentalnya masih terjajah. Sebagaimana dituliskan dalam buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group”, sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Sayangnya, meskipun Indonesia merdeka, hal tersebut masih terus tertanam di kalangan masyarakat Indonesia hingga hari ini.

Oleh karena itu, kalau tokoh dari kelompok minoritas bisa memimpin ibu kota negara Republik Indonesia, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari Indonesia akan dipimpin oleh tokoh dengan latar belakang yang sama (kelompok minoritas) karena masyarakat mulai menilai pemimpin dari kualitasnya dan bukan bungkusnya saja. Tentu saja, orang-orang yang masih menganut Java sentrisme tentu enggak suka dengan hal ini. Hence, they will do anything necessary untuk menjegal orang-orang yang bukan Jawa dan bukan Muslim untuk memimpin Indonesia dan dicintai oleh masyarakatnya. Tapi… namanya juga politik. Isu beginian akan terus dimanfaatkan oleh para politisi yang menginginkan kekuasaan. Apalagi kalau masyarakatnya kurang berpendidikan dan enggak kritis. Laku deh isu beginian. Ya kan?

Masih ingat kasus Antasari Azhar kan? Kalau  Antasari, yang diduga punya bukti kuat kecurangan Pilpres 2009 saja bisa berakhir di penjara dengan vonis 18 tahun penjara (lebih ringan dari tuntutan JPU yang menginginkan hukuman mati), maka cara yang serupa pun dapat dilakukan terhadap Ahok dengan skenario yang berbeda. Ya toh?

FYI, Antasari yang divonis 18 tahun penjara pada tahun 2010 lalu akan akan bebas bersyarat pada tanggal 10 November nanti.

Ride the bus

Catatan: Masih Terjajah

Dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini, lagi-lagi kita disuguhi sentimen anti-Cina. Saya selalu penasaran kenapa banyak masyarakat kita yang tidak menyukai etnis Tionghoa? Apa salah mereka? Saya mendapatkan pencerahan dari buku yang saya baca “Liem Sioe Liong’s Salim Group”.

Dalam buku tersebut, penulis mencatat analisis Pramoedya Ananta Toer tentang sentimen anti-China di mana sentimen anti-Cina muncul dan berkembang di kalangan pribumi terjadi sejak masa penjajahan Belanda. Saat itu, Belanda merasa terancam dengan kehadiran dan pertumbuhan jumlah imigran dari China ke Hindia Belanda. Padahal sebenarnya imigran China sudah datang ke Sumatera sejak tahun 942, mereka berintegrasi dengan masyarakat setempat, memperkenalkan alat pertanian moderen guna menyempurnakan teknik pertanian yang sudah ada dan masyarakat tidak pernah memiliki masalah dengan mereka sama sekali. Kedekatan dan pertumbuhan jumlah imigran China itulah yang menjadi momok bagiBelanda, maka sejak itu Belanda mulai membuat peraturan yang diskriminatif bagi komunitas Tionghoa, termasuk membatasi jumlah imigran China ke Hindia Belanda. Sayangnya sentimen anti China tersebut tidak berakhir dengan berakhirnya penjajahan Belanda, justru dilestarikan dan terus diterapkan oleh Pemerintah Indonesia yang katanya merdeka dari masa ke masa. Akhirnya masyarakatpun sudah terbiasa untuk ‘membenci’ komunitas Tionghoa

Benar kata Pram di tetralogi Bumi Manusia, orang Indonesia tidak pernah memiliki dan memegang teguh nilai dan prinsip mereka sendiri; alhasil baik Pemerintah (dulu berupa kerajaan) dan rakyat mudah dipengaruhi oleh nilai dan budaya luar. Hal ini dapat dilihat dari perubahan agama di nusantara dari abad ke abad. Ada saudagar Hindu masuk, kerajaan di Nusantara mulai menganut Hindu; Budha masuk, mereka berubah menjadi Buddha; Islam masuk mereka berubah menjadi Islam dan seterusnya. Agama-agama tersebut diadopsi oleh kerajaan (Pemerintah) dan digunakan untuk mengontrol masyarakatnya.

Dari dua poin tersebut, nampak jelas bahwa penggunaan isu SARA terutama agama dan golongan dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini menunjukkan pada kita bahwa kita masih terjajah secara pikiran dan belum dewasa dalam berdemokrasi. Entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi di Indonesia. Sangat disayangkan.

Ride the bus