Catatan: Melarat

Terlalu banyak manusia takut jadi melarat atau takut hanya dibilang melarat. Mereka merasa tak akan ada yang mau mendekati mereka kalau mereka melarat. Mereka merasa tak keren lagi. Oleh karena itu, mereka berbondong-bondong dan berdesakan ke depan untuk terlihat kaya. Melambaikan tangan pada dunia dan berteriak betapa kayanya mereka padahal mereka … mereka… mereka tidak betul-betul kaya.  “Bah… apa salahnya jadi melarat?” pikirku.

Aku jadi ingat ketika aku sempat bilang bahwa aku tak punya uang. Mereka terheran-heran lalu mengernyitkan alis mata dan bertanya “Masa sih?”. Tentu ada kalanya orang tak punya uang karena mereka memiliki prioritas lain. Ya toh? Kalau kita iyakan setiap perkataan orang, tekorlah kita. Ya toh?

Ride the bus

2 thoughts on “Catatan: Melarat

  1. Anna Liwun says:

    Hallo mbak Fani,

    Saya pernah menulis bahwa kenyataannya banyak orang lebih percaya pura-pura kaya ketimbang pura-pura miskin. Dan itu kenyataannya, bagaimana menurut pendapat mbak Fani?

    Salam,
    Anna

    • Oktofani says:

      Hallo Mbak Anna….

      Saya setuju sekali mbak Anna. Orang rela berhutang demi terlihat kaya tetapi ketika mereka harus membayar hutang, mereka lari kalang kabut. Menjadi benar-benar kaya saja belum tentu bahagia apalagi kalau pura-pura kaya. Nah beda mungkin kalau pura-pura miskin, orang kaya lelah dengan perhatian ekstra hanya karena mereka kaya. Mereka ingin bisa kemana saja tanpa dilihat sebagai orang punya atau bahkan dielu-elukan. Tapi berapa banyak yang mau pura-pura miskin karena lelah dengan kemewahan? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s