Catatan: Sirna

SONY DSC

Give no shit, take no bullshit and live your life [2016:EO]

Sebelum pindah ke Bangladesh, E sempat berkata “Jangan khawatir tentang bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, sebagian besar dari mereka berbicara bahasa Inggris dan kamu bisa berkawan dengan orang setempat dengan mudah,” Sayangnya, pernyataan tersebut tidak begitu tepat karena saya selalu mengalami miscommunication baik dengan supir, asistan rumah tangga atau karyawan pusat kebugaran but well what do you expect jika saya berkomunikasi dengan mereka, SD pun mereka belum tentu lulus.Saya sempat berpikir ‘Mungkin berbeda cerita jika saya bekerja, pasti saya akan berinteraksi dengan orang-orang yang berpendidikan dengan pengalaman internasional’. Dan jujur saja, hal ini membuat saya cukup frustrasi beberapa bulan pertama di sini. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai berkenalan dengan orang-orang lokal dengan berbagai background. Surprisingly, mereka sangat ‘bright’ and fun. Sesekali waktu, kami mengundang mereka untuk makan malam atau makan siang di rumah kami atau sebaliknya, berbicara ngalor ngidul mulai dari musik, keluarga, gaya hidup sampai politik. Kami bisa tertawa terbahak-bahak atau menjadi sangat serius. Pertemanan dengan mereka membuat Dhaka menjadi tempat yang lebih “liveable”.

Namun beberapa hari yang lalu, kami dikejutkan dengan sebuah berita. Seorang kawan dikabarkan menghilang, menghilang seperti Wiji Thukul atau Petrus Bima Anugrah. Entah, dia akan berakhir seperti Andi Arif atau Mas Nezar Patria kembali dengan selamat atau justru seperti Wiji Thukul yang sampai hari ini masih hilang atau malah seperti Gilang yang ditemukan tewas dengan luka tembak. Entahlah! Kami tidak tahu. Berbagai spekulasi dan teori bermunculan mengingat dia ‘hanya’ seorang akademisi. Kenapa dia? Pesan apa yang ingin disampaikan pelaku? Dan siapa pelaku? Sesaat, saya teringat dengan film Daniel Pearl dan menjadi ketakutan setengah mati. Jika pelakunya sama seperti kasus Pearl, bagaimana kalau kemudian kami? Apalagi mengingat sudah lama tak ada kejadian mengerikan di sini. Akh, tidak mungkin sepertinya. Begitu pikir saya. Saya pun iseng untuk melihat halaman Facebooknya, sesekali akun tersebut nampak online pada dua hari pertama sejak dia diberitakan hilang. Bagi saya, hal tersebut mengkonfirmasi siapa kira-kira pelakunya. Dari sana, saya merasa sedikit lega, kiranya kami aman. Tapi tetap saja, saya merasa sedikit kurang nyaman. Bagaimana tidak? Ini bukan pertama kali, kawan kami menghilang tiba-tiba.

Yang pertama hilang tahun lalu dan hingga hari ini tak ada kabar berita tentang dirinya. Yang kedua, entahlah. Jujur saja, saya sangat sedih karena dia cukup dekat dengan kami. Dia kerap datang untuk makan malam dengan hidangan ayam betutu dan juga urap, saya pun sering menyuguhinya risoles dan dadar gulung jika dia datang pagi atau sore untuk sekedar berbincang. Selain itu, kami sama-sama penggemar Eminem. Terakhir dia datang, dia memakai topi dengan logo E yang dia beli dari konser Eminem di Australia beberapa tahun lalu dan menunjukkan pada saya. Dia pun memberi saya dua buah clutch untuk hadiah ulang tahun. “Akh kawan, semoga kau baik-baik saja. Jika kau kembali, pergilah sejauh mungkin. Saya yakin kawan-kawanmu akan membantumu memulai kehidupan yang baru. Itupun kalau kau mau.”

Sebenarnya kasus penghilangan paksa bukan merupakan hal yang baru di Bangladesh. Di tahun 2016, 90 orang telah dinyatakan hilang; sedangkan dalam lima bulan pertama di tahun 2017, 48 orang telah dinyatakan menghilang secara tiba-tiba. Menurut laporan sejumlah media, ada kemungkinan mereka disiksa selama dalam tahanan. Ini sungguh mengerikan.

signature

About Oktofani

I am an Indonesia journalist, based in Jakarta
This entry was posted in Catatan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Catatan: Sirna

  1. Anna Liwun says:

    Hallo,

    Apakah anda sekarang menetap di Bangladesh? Cerita menarik. Artinya anda paham situasi negara itu bukan karena sudut pandang sedang traveling ‘kan? Anda adalah expat di situ, atau bagaimana?

    Salam,
    Anna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s