Catatan: Playdate

SONY DSCSalah satu alternatif bagi anak-anak ekspatriat yang tinggal di Dhaka untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak seusia adalah dengan mengikuti playdate. Selama ini playdate diorganisir oleh ‘ayah‘ atau ‘baby sitter‘, diadakan dari rumah ke rumah, diikuti oleh anak-anak sepantaran dan diadakan selama dua jam pada hari kerja. Boleh dikatakan, sebagian besar orang tua dari anak-anak tersebut sibuk bekerja atau keluyuran seperti saya sehingga daripada mereka di rumah berdua dengan ‘ayah’ saja maka mereka lebih baik bermain bersama anak-anak seusianya. Lalu bagaimana aturan mainnya?

Well, tidak ada aturan khusus. Hanya saja, orang tua diharapkan menyiapkan ruangan khusus atau playpen sehingga anak-anak tersebut dapat bermain dengan aman. Selain itu, tuan rumah diharapkan untuk menyiapkan snack baik untuk anak-anak maupun ‘ayah’; baby snack untuk anak berupa buah-buahan seperti apel, jeruk atau anggur dapat pula berupa baby biscuit sedangkan untuk ‘ayah’ berupa cookies dan minuman baik teh atau soft drink. Meskipun diorganisir oleh ‘ayah’, ada saja orang tua yang berpartisipasi untuk mengawasi anak-anak yang biasanya berasal dari sang tuan rumah.

Nah sudah satu bulan baby A mengikut playdate dengan anak-anak sepantaran. Sejak ikut playdate, keseharian baby A jadi lebih teratur mulai dari  jam makan, jam istirahat, jam minum susu, jam bermain dan jam tidur. Selain itu, makan lebih lahap, mau berbagi dengan orang lain dan enggak nemplok terus sama Daddy atau Ibu. Akhirnya kami pun bisa istirahat dengan lega hi hi. Selain itu, playdate merupakan stress reliever bagi orang tua karena anak jadi punya aktivitas dan enggak bosan. Meskipun demikian, kadang saya khawatir kalau lagi ada yang meler idungnya bisa ikut ketularan. Tapi sejauh ini hal tersebut belum terjadi.

Bagi saya, playdate adalah cara yang bagus untuk anak-anak dapat bersosialisasi dengan orang baru, belajar berbagi atau berinteraksi serta belajar berkomunikasi lintas budaya. Selain itu, orang tua dapat berbagi informasi dan bukan saing-saingan. Tak ada pula yang peduli dengan embel-embel suku, agama atau kelas sosial. Sayangnya, sebagian besar dari mereka adalah anak laki-laki; hanya ada dua anak perempuan yang kadang-kadang ikut.

Belum lama ini, saya dengar bahwa akan ada satu anak yang akan pergi meninggalkan Bangladesh karena orang tuanya harus pindah tugas ke negara lain. Entah kenapa, saya jadi sedih. Saya jadi membayangkan ketika baby A harus say goodbye dengan mereka. Apa yang akan dia rasakan? Mungkin mereka akan merasa sedih juga? Meskipun boleh dikatakan, mereka terlalu muda untuk mengingat hal tersebut. Jadi mungkin yang sedih ibunya ha ha ha.

Anyway, ini beberapa foto dari playdate hari ini di rumah. Kami sengaja enggak membeli terlalu banyak mainan karena memang belum diperlukan. Selain itu, mainan di sini mahal, kualitasnya tidak begitu bagus dan tidak begitu banyak pilihan educational toys. Saya juga sengaja tidak memposting wajah mereka karena belum tentu orang tua mereka menyetujui kalau foto mereka diunggah.

P.S: Playdate tidak harus dilakukan oleh expat family lho

signature

About Oktofani

I am an Indonesia journalist, based in Jakarta
This entry was posted in Catatan, Parenthood and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s