Catatan: Perihal Kebahagian

Beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebook salah seorang teman sekelas saat saya masih duduk di bangku SMA. Sebut saja namanya Lestari. Saya nggak pernah mengenalnya dengan dekat. Hanya sebatas nama dan beberapa prestasinya di kelas saja. Dulu bagi saya, dia hanyalah cah ndesa, nggak ada sesuatu yang spesial tentang dirinya. Dan sejak lulus SMA, saya nggak pernah lagi stay in touch dengannya karena berbagai hal.

Namun beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebooknya. Saya merasa iri dengannya. Lestari looks perfectly happy! Dia terlihat bahagia dengan keluarga kecil yang dibangunnya dan pekerjaannya sebagai seorang guru SD. Setelah beberapa menit saya menelusuri akun Facebooknya termasuk membaca status-status nya dan melihat album fotonya, saya melihat bahwa Lestari sepertinya sangat bahagia dengan kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya termenung sejenak. Saya bertanya pada diri saya. Akh apa hebatnya jadi guru SD? Apa enaknya jadi ibu muda? Apa hebatnya tinggal di desa? Apa menariknya kehidupan Lestari? Pasti sangat membosankan! Tentu saja saya berkata demikian karena saya tidak sebahagia Lestari.

Dream and Achievement

Saya pun mendiskusikan hal ini dengan Heirwid, salah seorang sahabat saya dari Yogya yang juga bekerja di Jakarta. Saya bercerita tentang kebahagian Lestari (Heirwid nggak kenal Lestari)

“Aku bukan orang kaya tetapi aku menikmati beberapa kemewahan hidup. Aku punya banyak sepatu mahal dengan harga jutaan, baju bermerk dengan harga jutaan, mobil, pernah travelling ke benua Amerika dan Afrika, pergi ke restaurant mahal dan menginap di hotel berbintang. Tapi sepertinya aku nggak sebahagia Lestari. Rasanya masih banyak yang nggak aku miliki. Rasanya aku nggak begitu bahagia dengan pekerjaanku yang aku lakukan. Tapi kenapa Lestari yang cuman seorang guru, tinggal di desa, sepertinya nampak sangat bahagia?” tutur saya pada Heirwid.

“Well, aku nggak pernah nanya sih apakah Lestari benar-benar happy dengan kehidupan yang dimilikinya. Namun sepertinya dia sangat bahagia. Coba lihat foto-fotonya di Facebook! Kenapa bisa begitu?”

“Mungkin karena mimpi dia menjadi guru dan membangun keluarga sederhana di desa. Mungkin bagi orang lain Lestari ‘hanya’, ‘cuma’, ‘mung’ guru. Tapi buat dia menjadi guru adalah sesuatu yang luar biasa bukan mung guru. Dan saat ini mimpinya udah terwujud, tentu aja dia bahagia. Dia bahagia dengan keluarganya. Dia bahagia dengan pekerjaannya. Sedangkan kita yang punya mimpi yang istilah lebih tinggi masih berusaha mencapai mimpi kita, tentu kita nggak sebahagia dia.” kata Heirwid.

Buat aku say, kebahagian itu bisa dicapai ketika kita telah mewujudkan mimpi kita baik itu cinta, karir atau kekayaan. Terkadang jalannya mulus, kadang berkelok-kelok. Semua tergantung usaha kita. Tapi kalau semua cita-cita udah terwujud pasti kita akan perfectly happy… entah itu besok atau 10 tahun mendatang.

Benar kata Heirwid. Banyak orang enggak terlalu bahagia dengan kehidupannya karena mereka (termasuk saya) mempunya kehidupan yang rumit. Namun tentu saja, mimpi dan cita-cita orang itu beda-beda. Kita nggak boleh merendahan begitu saja karena seserhana apapun mimpi seseorang, mimpi tersebut memiliki arti yang besar bagi mereka.

Bersyukur, Being Grateful

Hari ini Bebek, salah seorang kawan dari Yogya, berkunjung ke apartment. Lagi-lagi saya membicarakan Lestari. Sama dengan Heirwid, Bebek pun enggak kenal Lestari. Bukannya saya nyinyir dan ingin menjelek-jelekkan seseorang. Namun perihal kebahagian ini sangat menarik untuk didiskusikan dengan kawan lain karena mungkin saya nggak sebahagia Lestari dan saya iri dengan kebahagiaannya dalam kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya pun menunjukkan akun Facebook Lestari. Nggak ada yang mentereng dari akun Facebooknya. Hanya foto-foto anaknya atau kegiatannya sebagai guru. Bebek pun berkomentar bahwa Lestari nampaknya sangat bahagia dan dia berkata.

Menurutku, materi bukanlah sumber kebahagiaan. Kadang-kadang materi justru membebani hidup kita. Dulu waktu aku masih punya apa-apa, aku nggak ngerasa sebahagia sekarang. Tapi sekarang saat aku hidup pas-pasan aku justru malah merasa bahagia karena aku punya kebebasan.” kata Bebek.

Sebenernya semuanya itu lebih tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya. Tapi kadang-kadang manusia rakus dan nggak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.” imbuhnya.

Bebek benar. Kita sebagai manusia cenderung enggak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Ketika kita punya uang 100 juta, kita ingin 200 juta. Ketika kita punya 200 juta, kita ingin 300 juta. Dan seterusnya, dan seterusnya. Namun bukan berarti kemudian kita hanya bersyukur dan berhenti berusaha.

Mensyukuri apa yang kita miliki sebenernya mempermudah jalan kita untuk mewujudkan impian dan kebahagiaan kita tanpa beban yang berat. Saya selalu percaya bahwa kita kita mengatakan bahwa kita nggak bisa maka kita akan benar-benar nggak bisa melakukan sesuatu, namun ketika kita yakin bahwa kita mampu maka kita mampu.

Perihal kebahagian bukan tentang bagaimana kita lebih bahagia dari orang lain karena ini bukan kompetisi atau lomba. Bagiku, kebahagian adalah tahu apa yang kita mau, berusaha keras untuk mewujudkan mimpi kita dan terus bersyukur dengan apa yang telah kita capai.

Kita enggak perlu iri dengan kebahagiaan orang lain karena mereka telah mewujudkan cita-cita mereka sendiri dan merasakan kebahagiaan yang mereka inginkan.

*

Buat kawanku yang merasa sebagai Lestari, terima kasih telah menunjukkan sebuah kebahagian dalam keserderhanaan.

signature

Advertisements

Leave a comment

Filed under Catatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s