Catatan: Uang Instan

Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) saat menggelar barang bukti dan tersangka di gedung BNN, Cawang, Jakarta, Selasa (13/11/2012). Selain berhasil mengamankan narkotika jenis shabu seberat 2,5 kg, BNN juga berhasil mengamankan dua box uang palsu dalam pecahan 100 USD dan 100 Euro bernilai milliaran rupiah dari oknum wartawan. Foto: VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

Dua hari yang lalu, saya terkejut membaca sebuah press release yang diterbitkan oleh Mabes POLRI dengan judul ‘Wartawati Terlibat Jaringan Pengedaran Narkoba’ pada hari Rabu, 14 November 2012.

Saya bukan terkejut dengan keterlibatan oknum wartawan dengan jaringan narkoba internasional, namun saya lebih terkejut pada temuan polisi atas dua box besar yang berisi uang palsu dengan pecahan 100 USD and 100 euro dengan kualitas menyerupai uang asli.

Pasalnya, saya pernah berkenalan dengan seseorang yang kemudian menawari saya untuk melakukan ‘bisnis’ uang palsu tersebut. Sebut saja dia Carl. Saya lupa namanya. Kami udah lama enggak berkomunikasi lagi. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi.

Di awal tahun 2011, saya mengenal Carl di salah satu tempat hiburan malam di Jakarta Selatan. Kami berdansa dan kemudian bertukar nomor handphone. Carl adalah seorang warga negara asing, dia sopan dan menarik. Katanya, dia adalah lulusan fakultas hukum di salah satu universitas di Amerika Serikat. Benar atau enggak, saya juga enggak tahu. Tetapi dia terdengar pintar.

Setelah dua minggu kami saling mengenal, Carl mengirim pesan singkat melalui BBM bahwa ia ingin menemui saya untuk menawarkan sebuah bisnis.

“Hum… bisnis? Bisnis apa?” pikir saya.

Singkat cerita, kami pun bertemu di suatu tempat. Carl membawa selembar kertas putih dan beberapa botol cairan. Sim sala bim ….. kertas putih tersebut berubah menjadi satu lembar uang 100 USD.

Saya terkejut. Saya belum pernah melihat hal tersebut. Dan… saya pun penasaran apakah uang tersebut asli atau enggak. Carl menjelaskan bahwa uang tersebut asli, jika saya tertarik… maka saya harus membayar sekitar Rp 300 juta untuk membeli cairan tersebut.

Wow! Saya terdiam! Saya enggak bisa ngomong apa-apa! Saya hanya mengatakan padanya “Let’s see!” dan sejak itu kami enggak lagi berteman.

Anyway, banyak orang mengatakan ‘Jakarta ini kejam bung!’

Ya… enggak heran kalau banyak orang maling, nipu, korupsi, ngebunuh, dan lain-lain hanya demi uang. Manusia lupa nilai-nilai kemanusiaan karena mahalnya biaya hidup di ibu kota ini. Belum lagi dengan gaya hidup hedonis dan kosumtif yang sangat sulit dihindari membuat manusia ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin dengan cara yang instan. Tetapi, mana ada uang instan yang enggak berisiko?!

Sampai detik ini, saya hanya bisa tersenyum mengingat keterlibatan sang wartawati dengan jaringan narkotika internasional sekaligus jaringan pengedar uang palsu.

Untung saja, saya enggak tergiur dengan tawaran ‘bisnis’ yang ditawarkan oleh Carl. Kalau YA, waduh! Bisa-bisa saya kehilangan uang ratusan juta yang bisa saya pakai buat beli rumah atau mobil.

signature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s