Catatan: Belajar dari Petugas Kebersihan Bandara Ahmad Yani

Marilah saling membantu satu sama lain dengan sukarela [Picture: C P]
Ada suatu kejadian yang menarik saat saya berkunjung ke Semarang untuk melakukan liputan khusus tiga minggu lalu. Seorang petugas kebersihan di Bandara Ahmad Yani dengan sabar mengajari pengunjung bandara yang asing dengan kloset duduk.

Hari itu, saya berangkat ke Semarang dengan pesawat Garuda pukul 5:50 pagi. Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam, pesawat mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani pukul 7:00.  Saya enggak tahu apa yang harus saya lakukan di Semarang sepagi itu karena saya baru akan menemui nara sumber saya pada pukul 1 siang.

Mata berat. Saya masih ngantuk. Saya butuh kafein untuk membuat saya tetap terjaga. Namun sayang, saya enggak melihat adanya decent coffee shop di terminal kedatang Bandara Ahmad Yani. Ummm…. Baiklah! Ketimbang saya komplen lebih baik saya cuci muka saja di rest room  agar lebih segar.

Namun lagi-lagi, ada satu hal yang hendak membuat saya kesal. Sa… ngat kesal.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 7: 22 menit. Hari masih pagi namun antrian enam orang perempuan tua sudah mengular di kamar mandi perempuan. Mereka semua berbalutkan baju kebaya sederhana dilengkapi dengan kain selendang sebagai penutup kepala. Dari cara mereka berbicara, mereka sepertinya datang dari Tegal atau Cilacap.

Sedangkan di salah satu bilik toilet, seorang petugas kebersihan sibuk membersihkan salah satu bilik toilet dengan kloset duduk yang basah kuyup di mana-mana, baik dari kloset duduknya sendiri, dinding pembatas, pintu dan juga lantai.

Selesai membersihkan bilik toilet, petugas kebersihan tersebut mendekati salah seorang perempuan tua yang hendak masuk ke dalam bilik toilet.

Bu… ngertos caranipun ngagem wc duduk mboten? (Bu tahu cara pakai wc duduk enggak?)” tanya petugas kebersihan dengan ramah dan sabar.

Yen mboten, kula ajari. (Kalau enggak tahu, saya ajari” tambahnya.

Si ibu yang hendak masuk ke dalam bilik toilet tersebut pun menerima tawaran dari si petugas kebersihan. Dengan ramah dan sabar, petugas kebersihan tersebut mengajarkan ibu tersebut bagaimana menggunakan kloset duduk.

Saya yang tadinya merasa kesal karena panjangnya antrian, terhentak melihat kejadian tersebut. Si petugas kebersihan dengan senang hati dan sabar membatu para pengunjung bandara yang asing dengan penggunaan kloset duduk.

Saya penasaran dengan motivasi si petugas kebersihan. Saat antrian telah habis, saya pun bertanya pada petugas kebersihan tersebut.

“Kenapa Ibu mau ngajari ibu-ibu tadi untuk menggunakan kloset duduk?” tanya saya

“Ya… mereka kan datang dari desa. Mereka asing dengan kloset duduk. Saya lebih baik ngajari mereka satu per satu agar nantinya kalau mereka menemui kloset duduk lagi, mereka tahu cara menggunakannya. Bukan jongkok di kloset duduk atau pipis di lantai.” tuturnya sembari membersihkan wastafel.

“Toh, kita sama-sama perempuan. Jadi ndak masalah.” tambahnya.

Kejadian ini mengajarkan saya untuk berbesar hati membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun, apalagi mengingat gaji mereka yang kecil. Saya yakin, bukan imbalan duniawi yang mereka dapatkan namun imbalan surgawi yang akan mereka dapatkan.

Sayang, saya lupa menanyakan namanya.

signature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s