Catatan: Kau Bilang Aku Lonthe

Aku sudah tahu apa yang wanita tua itu katakan,

tak perlu lagi kau memberitahuku,

tapi kuhargai usahamu.

Rambutnya yang putih,

tubuhnya yang mulai lemah,

sudah mulai bau bau tanah,

tapi masih aneh aneh saja.

Lebih baik kau diam, duduk di situ saja,

atau beristirahat di tempat tidurmu.

Tak perlu kau buka mulutmu,

untuk mengomentaraiku atau orang lain.

Sudah! Diamlah!

Aku bosan dengar keinginanmu itu,

aku bosan dengan tingkah lakumu.

Pura pura baik padaku,

di belakangku kau bilang aku lonte.

Aku tak peduli apa yang kau bilang,

tapi dia peduli, dia pun sampai menangisku.

Apa maumu sebenarnya?

Aku tak butuh uangmu,

jika kamu cuma ingin mencari kawan,

kawan yang kau tusuk dari belakang,

lebih baik cari orang lain saja,

bukan aku!

Tak kusangka kau sebusuk itu,

apalagi kau sudah setua itu.

Keinginan terjahatku,

lebih baik kamu mati saja.

Tak ada yang mengomentariku,

tak ada yang membuatnya menangisiku.

Apa kau mendengarku?

Kau sudah terlalu tua,

mungkin kau ingin berpulang.

Bukannya aku tak menyayangimu,

aku sayang kamu,

aku juga sayang dia.

Tingkahmu dan tingkahnya sama saja!

Tapi, lebih baik kau yang pergi

aku masih membutuhkannya!

Cepat! Sana pergi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s