Puisi: Kau Bilang Aku Lonthe

Aku sudah tahu apa yang wanita tua itu katakan,

tak perlu lagi kau memberitahuku,

tapi kuhargai usahamu.

*

Rambutnya yang putih,

tubuhnya yang mulai lemah,

sudah mulai bau bau tanah,

tapi masih aneh aneh saja.

*

Lebih baik kau diam, duduk di situ saja,

atau beristirahat di tempat tidurmu.

*

Tak perlu kau buka mulutmu,

untuk mengomentaraiku atau orang lain.

*

Sudah! Diamlah!

*

Aku bosan dengar keinginanmu itu,

aku bosan dengan tingkah lakumu.

*

Pura pura baik padaku,

di belakangku kau bilang aku lonte.

*

Aku tak peduli apa yang kau bilang,

tapi dia peduli, dia pun sampai menangisku.

*

Apa maumu sebenarnya?

*

Aku tak butuh uangmu,

jika kamu cuma ingin mencari kawan,

kawan yang kau tusuk dari belakang,

lebih baik cari orang lain saja,

bukan aku!

*

Tak kusangka kau sebusuk itu,

apalagi kau sudah setua itu.

*

Keinginan terjahatku,

lebih baik kamu mati saja.

*

Tak ada yang mengomentariku,

tak ada yang membuatnya menangisiku.

*

Apa kau mendengarku?

*

Kau sudah terlalu tua,

mungkin kau ingin berpulang.

*

Bukannya aku tak menyayangimu,

aku sayang kamu,

aku juga sayang dia.

*

Tingkahmu dan tingkahnya sama saja!

*

Tapi, lebih baik kau yang pergi

aku masih membutuhkannya!

*

Cepat! Sana pergi!

*

Tapi nyatanya, Ia tak mau peduli mengambilmu juga

Elisabeth Oktofani

Yogyakarta, 10 Juni 2008signature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s