Tag Archives: social media

Catatan: Hedonisme & Penipuan Online 2

They are all talking about money [2014:E O]

They are all talking about money [2014:E O]

Suatu hari, saya punya seorang kenalan yang udah lama banget menikmati uang panas hasil penipuan online dengan investasi bodong. Bahkan dia udah melakukan aksinya di berbagai belahan dunia mulai dari Afrika Barat, India, Dubai dan Indonesia.

Gaya hidupnya hedon. Koleksi baju bermerek fashion terkemuka berderet di lemarinya. Mulai dari Emporio Armani, Dolce & Gabbana, Hugo Boss, Kenzo, Roberto Cavalli bahkan sampai Valentino. Belum lagi koleksi sepatu dan jam tangannya.

Jujur aja ya…. Setiap kali saya ngeliat orang dengan pakaian mahal, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri ‘pekerjaannya apa ya kok bisa beli barang-barang mahal seperti itu?’ Eh usut punya usut ternyata dia adalah seorang scammer yang melakukan bisnis investasi bodong dengan memanfaatkan orang-orang rakus yang ingin kaya instan atau perempuan-perempuan kesepian tapi berduit.

Bahkan dia mengaku bahwa dia kerap memanfaatkan orang-orang tersebut, terutama perempuan Indonesia untuk keuntungan pribadinya mulai dari apartment, mobil, uang bensin, komputer bahkan sepiring makanan. Apalagi dia tampan dan cukup lihai dalam berbicara meskipun dia sangat arogan. Jadi enggak heran kalau kemudian banyak perempuan Indonesia yang jatuh hati padanya dan bersedia memberikan apapun untuknya.

Saya pun kembali bertanya, apa sih sebenernya motivasinya melakukan hal tersebut? Jawabannya kemiskinan, kemalasan dan gaya hidup hedonisme. Dia pengen hidup bak rapper-rapper America dengan uang bergelimang. Belum lagi adanya orang-orang rakus yang ingin kaya instan. So there is a supply and demand.

Saya inget banget saat pertama kali saya mengenalnya. Dia sempat mengatakan pada saya bahwa dia enggak bakal hang out sama saya kalau saya enggak punya uang. Belum lagi, dia mengatakan bahwa koleksi baju saya, yang notabene saya beli di Plaza Semanggi atau Ambassador Mall, adalah koleksi baju murahan.

Dia lalu mengenalkan saya pada merek-merek fashion terkemuka mulai dari Armani Exchange, Massimo Dutti, Calvin & Klein, Dolce & Gabbana bahkan Valentino. Tentu saja bukan barang palsu.

Sejak saat itu, saya enggak pernah lagi membeli baju di Ambassador Mall atau Plaza Semanggi karena takut diejek (feel free to judge me tho). Lihat saja koleksi baju saya mulai dari DKNY, Armani Exchange, Versace, Roberto Cavalli, Manolo Blahnik sampai Christian Louboutins. Yes! You are right! I am also victim of hedonism lifestyle anyhow! Yet, I am changing now :-) Eittss bukan uang dari scammer lho! Uang halal ini mah!

Saya menemukan sebuah kenyamanan dengan pakaian-pakaian mahal tersebut, saya mendapatkan senyuman yang ramah dari pelayan restaurant, high end fashion boutique dan lain-lain. Bahkan kalau saya sedang jalan-jalan di Plaza Indonesia, saya kerap disapa oleh pelayan toko tersebut setiap kali berpapasan. Mereka tahu nama saya.

Bahkan saya kadang-kadang heran ketika menggunakan pakaian tersebut, saya selalu berkata pada diri saya sendiri “Wah gila…. Total rupiah yang saya gunakan dari atas sampai bawah hampir lebih dari 20 juta” (bukan bermaksud pamer tapi saya sendiri juga heran chyin…)

Tapi lama-lama saya capek juga setiap kali dia bicara soal kelas. Dia selalu bicara bahwa kita berbeda dengan mereka yang miskin, tinggal di kos-kosan atau menggunakan pakaian tidak bermerek. Bukankah kebanyakan teman-teman saya hidup demikian? Bukankah narasumber yang saya temui adalah mereka dari kelas menengah ke bawah.

Ah…. Saya tahu, saya bukan orang yang peduli dengan kelas sosial tersebut. Jadi saya enggak pernah pedulikan apa kata dia tentang kelas sosial. Di Jakarta, saya ini hanya pegawai biasa, mencari yang dengan menulis. Pendapatan bulanan lumayanlah tapi enggak bisa untuk beli barang-barang mewah terus terusan. Kapan nabungnya kalau begitu?!

Ngomong-ngomong soal gaya hidup hedonisme dan uang instan, banyak berita tentang perempuan Indonesia yang menjadi the-so-called business partner para scammer, yang kebetulan orang Afrika, yang bertugas untuk menerima uang hasil kejahatan mereka atau pura-pura menjadi petugas bea cukai.

Dalam pemberitaan tempo.co yang berjudul “Penipuan Online, Komplotan Afrika Punya Cara”, Bapak Komisaris Jerry Raimond yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit III Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bilang bahwa komplotan scammer Afrika enggak bekerja sendirian, biasanya mereka mengajak beberapa perempuan Indonesia dengan cara menikahi atau memacari mereka (walaupun sebenernya ternyata enggak sedikit dari mereka yang ternyata udah nikah di negara mereka chyin)

Anyway, mbak-mbak pacar atau istri scammer ini pun kerap diminta untuk membuat KTP dengan nama palsu, perusahaan fiktif dan juga rekening bank palsu untuk menerima uang hasil penipuan tersebut. Tentu saja, si perempuan akan mendapatkan imbalan dari hal tersebut. Gede lho imbalannya.

Nah… Jakarta, kota metropolitan dengan biaya hidup tinggi dan gaya hidup ‘jetset’ membuat orang-orang mau melakukan apa saja demi uang. Mengutip lagu bang Iwan Fals Opiniku … “Namun kadang kala ada manusia yang seperti binatang bahkan lebih keji dari binatang. ll Tampar kiri kanan, alasan untuk makan. Padahal semua tahu dia serba kecukupan. Himpit kiri kanan, lalu curi jatah orang peduli sahabat kental kurus kering kelaparan”

Bahkan the-so-called business partner scammer ini ada juga yang rela meninggalakn pekerjaan mereka demi investasi bodong ni. Heran deh demi uang instan yang enggak tahu berapa lama akan mengalir. Ya toh? Apa yang bisa dibanggakan dengan melakukan kejahatan ini? Uang?

Nah belum lama ini, saya mendapatkan kabar bahwa polisi menangkap seorang perempuan Indonesia yang selama ini bekerja sebagai business partner scammer orang Afrika.

Kabarnya, sejak penangkapannya, si pacar enggak pernah menggunjunginya sama sekali sampai-sampai si mbak ini mengalami depresi berat di penjara dan akhirnya meninggal dunia dalam waktu kurang dari dua bulan. (May she rest in peace) Bukankah itu menyedihkan?

…. bersambung

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Hedonisme & Penipuan Online 1

Teknologi mempermudah terjadinya cyber crime [2014:EO]

Teknologi mempermudah terjadinya cyber crime [2014:EO]

Pernah enggak sih kamu denggar  istilah romance scam, Nigerian scam, military scam, Facebook scam atau black money? Atau… pernah enggak sih kamu dapet email berisi tawaran bisnis bernilai jutaan dollar Amerika Serikat?

Atau…. pernah juga dapet friend request seorang warga negara asing yang mengaku anggota militer atau pebisnis dengan wajah yang sangat amat tampan? Well…. semuanya merupakan sebagian kecil  bentuk  dari internet fraud atau penipuan online yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia. Pelaku penipuan tersebut biasanya disebut sebagai scammer.

Dari berbagai bentuk internet fraud yang terjadi, romance scam merupakan bentuk penipuan online yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir ini dengan sasaran korban yang mayoritas adalah perempuan. Maklum bagi scammer, perempuan adalah obyek paling mudah untuk dimanipulasi, apalagi manipulasi perasaan. Walaupun ada juga laki-laki yang menjadi korban.

Menurut informasi dari berbagai sumber di internet, romance scam adalah sebuah penipuan yang dilakukan oleh seseorang dengan memanipulasi perasaan seseorang yang sedang membutuhkan kasih sayang dari seseorang untuk mendapatkan keuntungan finansial sehingga si pelaku dapat mendapatkan akses keuangan, rekening bank atau kartu kredit seseorang. Tapi perlu dicatet nih bahwa sebenernya romance scam bukanlah modus penipuan baru.

Sejak masyarakat memiliki akses internet dan melek teknologi, social media dan dating site kerap dijadakan sarana  oleh para pelaku romance scam. Biasanya si scammer bakal nyolong foto bule tampan dengan seragam tentara, foto artis Hollywood atau bahkan foto polisi Indonesia yang ganteng dari internet (so hati-hati kalau upload foto ya!), lalu  menggunakan foto hasil curian dengan untuk melakukan aksinya.

Menurut saya, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, internet merupakan sebuah dolanan baru. Masyarakat belum teredukasi secara baik bagaimana menggunakan internet. Masyarakat masih cenederung menggunakan internet untuk ‘bermain’ social media untuk berkawan ketimbang menggunakannya sebagai media pembelajaran. Walaupun perlu dicatet bahwa enggak semuanya begitu.

Jadi bisa dibilang, perempuan mana yang yang berbunga-bunga kalau dapat friend request dari cowok ganteng. Belum lagi kalau si cowok ternyata single, romantis dan kaya pula? Siapa yang enggak klepek-klepek? Ya kan…?

Setelah berkenalan, si pelaku akan melakukan aksinya dengan bersikap romantis, memberikan panggilan sayang seperti ‘baby, honey, sweetheart, sayang atau cinta’; memberikan harapan palsu akan sebuah pernikahan yang sempurna bak dalam film Hollywood.

Biasanya pelaku mengatakan pada si korban bahwa mereka akan mengirimkan sebuah hadiah bernilai ratusan sampai jutaan USD namun korban diminta untuk membayar bea cukai. Di sinilah para pelaku mulai melakukan aksi penipuan mereka.

Tahun lalu tempo.co melansir beberapa berita tentang penipuan online di Indonesia. Pada bulan Maret 2013, Polisi Polda Metro Jaya menangkap sepasang suami istri, Mathias Udhie (25)  warga negara Nigeria, dan Waraswati (36) yang telah melakukan penipuan terhadap seorang pengusaha garmen asal Indonesia dengan total kerugian Rp 1,78 miliar.

Menariknya Komisaris Jerry Raimond yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit III Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bilang bahwa komplotan penipuan online banyak dilakukan oleh warga negara Afrika yang sebagian besar adalah warga negara Nigeria, Liberia dan Kamerun.

Selain itu, Komisaris Jerry juga menyebutkan bahwa komplotan penipu tersebut biasanya tidak bekerja sendirian namun mengajak beberapa perempuan asli Indonesia. Eng… ing… eng!

Meskipun perlu diakui bahwa akhir-akhir ini marak pula penipuan online yang juga dilakukan oleh warga negara Indonesia yang menggunakan foto perwira TNI, anggota POLRI, dokter atau pilot.

Ngeliat fenomena ini, saya enggak mau menggunakan religious approach, bahasa akademik ketinggian atau bahkan membully untuk mengkomentari si korban. Saya jadi penasaran aja, mengapa mereka alias pelaku melakukan hal ini? Mengapa mereka rela menyakiti orang lain demi keuntungan sendiri? Apa motivasi mereka?

Di satu sisi, saya berpikir…. “Well… bukankah kehidupan memang seperti itu? Kita, manusia, akan melakukan apapun untuk perut kita. Namanya juga manusia. Namun namanya juga manusia, rakus. Sekalinya berhasil mereka akan ketagihan terus dan terus. Lalu pada akhirnya, bukan lagi urusan perut tapi urusan gaya hidup.

Saya jadi teringat salah satu lagu bang Iwan Fals berjudul Opiniku. Pernah dengar lagu tersebut?  Begini liriknya.

Manusia sama saja dengan binatang selalu perlu makan. Namun cara berbeda dalam memperoleh makanan ll Binatang tak mempunyai akal dan pikiran segara cara halalkan demi perut kenyang. Binatang tak pernah tau rasa belas kasihan, padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang ll Namun kadanhkala ada manusia yang seperti binatang bahkan lebih keji dari binatang. ll Tampar kiri kanan, alasan untuk makan. Padahal semua tahu dia serba kecukupan. Himpit kiri kanan, lalu curi jatah orang peduli sahabat kental kurus kering kelaparan.

Bisa dibilang bahwa saya menyalahkan media yang kerap mempromosikan atau menggembar-gemborkan gaya hidup hedonisme yang cenderung yang tidak dapat dibayar oleh masyarakat pada umumnya. Mulai dari pakaian seharga 1,000 USD sampai jam tangan seharga 130,000 USD. Orang-orang seolah-olah bangga menggunakan uang dan merek pada tubuh mereka, tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki.

Brengsek betul media, ya toh? Mulai dari televisi, majalah, film bahkan sampai musik. Mereka tidak henti-hentinya bicara masalah uang. Kita, manusia, jadi budak uang! Eittts… saya sendiri juga pekerja di industri media lho!

Belum lagi dengan adanya social media. Orang-orang berlomba-lomba memamerkan apa yang mereka uang yang mereka kenakan melalui foto-foto mereka, baik sengaja maupun enggak sengaja -alesan banget ya?-. Oh don’t get me wrong .. I am no saint, I’ve done that too before or sometimes still. I am only human dawg :-).

Tapi saya menyadari bahwa hal tersebut menimbulkan kecemburuan sosial, membuat kawan  jadi lawan; membuat kita jadi musuh bersama karena kemewahan.

Terus apa kaitannya gaya hidup hedonisme dengan penipuan online termasuk romance scam? Kaitannya adalah baik pelaku maupun korban keduanya telah menjadi korban gaya hidup hedonisme yang selama ini ditawarkan oleh media, yang cenderung berupa imaginative life.

….. bersambung

2 Comments

Filed under Catatan

Indonesia: First Lady vs Myself Part II

Warning: Please read about before you read the rest of the blog and leave comment. Thank you!

 

And... I was blocked by the Indonesia's First Lady [2014: E O]

And… I was blocked by the Indonesia’s First Lady [2014: E O]

Ayo… I just want to post a very short blog and interesting one about Indonesia’s First Lady Ani Yudhoyono. Many of you might have noticed that the Indonesia’s First Lady is a drama queen and could not handle any “negative” comment or criticism from her followers in Instagram.

Her actions in Instagram have made headline in media for number of occasions simply because she could not deal with any “negative” comment or criticism. Once I experienced it by myself when I made comment about her burberry scarf and she was overly defensive about herself.

Oh well even though she is the Indonesia’s First Lady, it doesn’t mean that she is correct, always right and never made any mistake at all. So here I was today, sent a simple comment about the picture that she posted yesterday. In that photo, the caption said “Byeee as well…” so I replied “Mana ada Byeeee as well Bu @Aniyudhoyono”. My English might not be  as good as I expected but come on… it’s Indonesia’s First Lady or her staff…. They should know better.

"Byeee as well" Ibu Ani (team) said [2014:E O]

“Byeee as well” Ibu Ani (team) said [2014:E O]

Anyway, just within 2 minutes, I checked her instagram again and guess what? I was BLOCKED by her! What does that mean? It means that Ibu Ani has recognised all my “negative” comments and got irritated with them all. So in order to avoid the chronicle stressed, she or her team decided to block me.

I would consider her action as an achievement for me. It seems to me that she is ANI-CRITICISM! Well… well… well!  It’s not surprising for me as well as for many Indonesian citizens to see her silly action.  I guess she shouldn’t be in social media at all!

signature

Leave a comment

Filed under Indonesia

Indonesia: Indonesia’s First Lady vs Myself

1

1

2

2

I love fashion and I am allergic to counterfeit. Fashion is a piece of art that is why it is very important for designer to register their trademark, therefore it would not be copied. But apparently the Indonesia’s First Lady Ani Yudhoyono loves to wear FAKE Burberry. She said that she purchased her scarf in factory outlet and the real stuff is not sold in the factory outlet but authorised shop in Senayan City or Plaza Indonesia. It is way better that she is wearing batik than fake burberry scarf.  Am I right?

I think Ibu Ani needs to learn about fashion from her daughter in-law Annisa Pohan, who is a former model. What do you think?

.signature

1 Comment

Filed under Indonesia

Notes: Two Side Of A Coin

Somebody asked me “Aren’t you feeling ashamed to air your dirty laundry here?” So I answered “I often display the beautiful part of my life, today I air my dirty laundry at the same place. Why? Because I just wanna be a real person, there are two sides of a coin. Right?

signature

Leave a comment

Filed under Notes

Science: The Benefit of Social Media Narcissism

signature

Leave a comment

Filed under Science

Notes: Social Media Detox

Gadget freak [2012: E O]

Gadget freak [2012: E O]

When you go out to restaurant, bar or coffee shop, you might often see that a group of friends are hanging out together, sitting at the same table but they are just busy with their own gadget. Have you ever seen that? Or do you do as well?

Well, I have to admit that I do that also when I hang out with my friends because they do it as well. I am not trying to justify my action.

So few days ago I met Anita, my former colleague. We had an interesting conversation about social media detox. Well, we actually talked about digital detox but I would narrow it down to social media detox. What? Social media detox? What is it all about?

Well, let me start by saying that gadget and social media is very addictive for some people, including myself. I have been actively using social media, e.g Friendster, Facebook, Twitter, Instagram and Path , since 2005 when I knew Friendster.com.

As time passed by, there are more and more interesting social media in the internet from hi5, Facebook, Twitter, Instagram and now Path.  The worse is the development of technology, especially smartphone and tablet which provide us with  web-ready mobile phones and various of social media application. It makes me just want to check out what the latest news, gossip or whats going on with my friends on the social media.

But the question is do I really need those updates? Why do I need those updates?

I come to realize that since I have been using smartphone and addicted to social media, I no longer have a meaningful conversation with my friends and people around me. Even though, we are still hanging out together for lunch or dinner but we are just busy with our smartphone and check out what’s on the social media. We don’t really care why we are here together.

Other than that, social media creates a jealousy and makes people being mean ass toward their own friend without really knowing the truth. It also leads us to an ugly competition because of jealousy toward our own friend, simply because what we see in social media and people love to show off or share their experience or lifestyle in social media.

For instance “Oh how come she can get a Christian Louboutin shoes? What does she do? She must be a whore or slut. She must be a prostitute.”  or “O My God… doesn’t she know that she is ugly? She shouldn’t take that kind of selfie picture.” Or Oh… She travelled to Paris. It must be her boyfriend financed it.  This and that….

There are just so many negative comments from my head about other people’s life, which I actually don’t really know what is going on exactly and not one of them is our business.

So after having conversation with Anita, I decided to do a social media detox. But what is a social media detox? According to my understanding, social media detox is a therapy to remove our addiction to social media by turning off all social media account. Hence during my unpaid leave for my medication, I deactivated my Facebook, Twitter, singed out from path and deleted Instagram account. What? Delete? Yes, you read it right! I DELETE it. (Surely I would miss the silly comment of Indonesia’s First Lady, Ibu Ani Yudhoyono, in Instagram who gets irritated easily with her follower comments)

Not just that, I also deleted those social media application from my Blackberry and iPhone as well as iPad. And. I start to go out with book to read; meet up with people to have a fruitful conversation about anything.

So now the question is what is the purpose of having smartphone then? I even have two. Well….  I still can use my smartphone for receiving email and sending email plus blogging. I love blogging, I have been blogging since 2005 even though it’s not really general issue but more into personal matter but I enjoyed it anyway.

Other than that, I also can read other blogger’s post, which can inspire me in so many different ways. Be it about life, fashion, business, traveling and also Hollywood gossip.

Beside that, I also have a new hobby now, which is watching YouTube channel. I have subscribed to some interesting channel such as CrashCourse, BrainCraft, It’s Okay to Be Smart and also spacerip. When I get bored with all those scientific channel, I usually will watch my favorite singer vevo channel from Rihanna, Eminem, T.I, Tupac to Snoop Dogg.

I just have so much fun enjoying those YouTube channel. It really helps me to exercise my brain, entertain myself in different kind of way and enlarge my knowledge.

Meanwhile two weeks ago, I met my former editor. We had a very interesting conversation about life. She gave a very wise advice to turn off my social media accounts. Instead, I should read more books, newspaper and magazine to exercise my brains. She lent me a couple of Indonesia literature books, written by Umar Kayam and Leila Chudori. It was very kind of her

She also said to me “Look around you. Try to connect face to face with people, as much as you can. Look them in the eye when you talk to them. Do as much good as you can, when you can.

As I reflected to what she said to me, I think she is 100 percent correct. I look back into my life in these last couple of years, I just live my life in the gadget and social media, while I only hang around with small circle of people. But still we are being busy with our gadget, either reading email, chatting with instant messenger or fart around on social media while hang out with other people. We really have been disconnecting with real world and real life. We just live behind the screen.

The question is now being despite the fact technology/gadget has been helping our work efficiently, when will we get tired to use our gadget in our daily life and want to get back into out real life as social being? Will we be able to sit down together with other to have a meaningful conversation again without carrying our gadget and being busy with all those social media?

But wait…. the obstacles remain. Even though I enjoyed this whole social media detox  for one week,  as a media worker I actually really need to use social media, especially twitter to get myself aware of the current issue. It sucks when I don’t get myself updated with the latest current issue and it’s embarrassing.

I didn’t even know when Anas Urbaningrum was arrested by KPK or I didn’t even know that the Indonesian tycoon Bakrie Family invested their money on PATH. What? I usually get myself updated and know the latest information. So what should I do now? Should I activate my twitter and Facebook again? (Well I just did anyway because of work purpose. )

In the end of the day, it actually comes down to how we use  social media. Doesn’t it? It has been a week since I did social media detox. So should I get back to use so social media again but change how the way I use it? Or should I stay doing the social media detox? What do you think?

Perhaps next I will do digital detox? We’ll see

signature

Leave a comment

Filed under Notes