Tag Archives: Jakarta

BJ: The Power of Prayer

Have no anxiety at all, but in everything, by prayer and petition, with thanksgiving, make your requests known to God – Philippians 4:6

signature

Leave a comment

Filed under Bible Journal

Coretan: Delapan Ribu Dollar Melayang Karena e-Warisan

Belum lama ini, saya menemukan sebuah artikel yang dimuat oleh detik.com pada tanggal 27 Mei 2006 dengan judul “Tertipu Rp 80 Juta Gara-Gara Dapat Warisan via Email“. Artikel yang menarik, pikir saya.

Tertipu Rp 80 Juta Gara-Gara Dapat Warisan via Email

Ahmad Yunus-detiknews

Bandung – Hati-hati jika Anda menerima kiriman email tidak jelas. Hendra, seorang wiraswasta asal Bandung tertipu Rp 80 juta gara-gara menerima sebuah email tak jelas. Penipuan ini bermula ketika dirinya membuka email yang isinya telah menerima uang sebesar US 38 juta dolar.

Uang ini berasal dari sisa pembagian warisan seorang pengusaha asal Italia, Mario Julio. Pasalnya, dalam 2 bulan mendatang, dirinya, dikabarkan akan meninggal dunia. Mario berpesan agar uang tersebut dibagikan untuk dana sosial di Indonesia.

“Uang 80 juta itu untuk kebutuhan administrasi pengiriman dan sudah diberikan. Ini adalah kejahatan jaringan,” ungkap Kasatreskrim Polres Bandung Barat, AKP Suciptono saat menggelar jumpa pers di Mapolres Bandung Barat, Jalan Sukajadi, Bandung, Jum’at (26/05/2006).

Saat ini Mapolres Bandung Barat telah membekuk tersangka yang melakukan penipuan tersebut. Tersangka ini adalah pria asal Liberia, Walter Lordgate, 36 tahun. Ia ditangkap di Hotel Le’Meridien, Jakarta, Kamis sore (25/05/2006).

Walter Lordgate ditangkap aparat kepolisian ketika tengah terjadi pertemuan dengan Hendra. Pada pertemuan tersebut, tersangka sempat memperlihatkan sebagian uang warisan tersebut sebanyak US 500 dolar. Uang warisan tersebut seluruhnya dalam bentuk kertas berwarna hitam. Tersangka kemudian mencucinya dengan cairan khusus. Bak sulap, uang 100 Dollar Amerika tersebut pun muncul.

“Namun setelah diselidiki sisanya cuma uang kertas karton hitam saja,” ungkapnya. Saat ini Mapolres Bandung Barat mengamankan barang bukti berupa satu kotak hitam. Isinya, kertas karton hitam seukuran uang dollar. Kertas hitam seukuran uang dolar tersebut diikat dengan pita kuning bertuliskan “100 USD Defaced Bills”. Tersangka saat ini masih dalam pemeriksaan aparat polisi.

“Untuk mencairkan seluruh uang tersebut, tersangka juga sempat meminta uang sebesar 180 ribu dolar,” ungkapnya. Hendra, si korban penipuan pun mesti gigit jari. Pasalnya, dari uang US 500 dolar yang sudah disulap tersebut dirinya hanya kebagian sekitar US 200 dolar saja. Sisanya diambil oleh kawan Walter Lordgate.

**

Saya tersenyum simpul. Bukan karena familiar dengan beritanya tapi saya merasa familiar dengan nama si pelaku, Walter Lordgate. Saya pernah melihat nama tersebut. Nama yang tertera dalam kartu United Nation palsu yang saya temukan di meja makan beberapa waktu lalu. Nama yang juga tertera di kartu keanggotaan fitness center di Kelapa Gading.

Apakah Walter Lordgate yang ada di dalam berita adalah Walter Lordgate yang saya kenal? Apakah Walter Lordgate dalam berita adalah Jordan? Apalagi Jordan pernah bercerita bahwa dulu dia sempat tinggal di Bandung dan sangat mengenal Bandung dengan baik. Ummmm….. sayang berita tersebut enggak dilengkapi dengan foto dan hanya detik.com saja yang memberitakan kejadian tersebut.

Jakarta, 19 Januari 2015

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Coretan: Teori Pertama, Mugu

Fictional writing

Awalnya saya enggak berpikiran bahwa Jeanny Tan adalah potential client Jordan. Saya sama sekali enggak kepikiran sampai hal itu hinggu suatu hari Jeanny Tan sendiri memposting sebuah twitter yang mengatakan bahwa saya adalah clientnya Jordan. Akh yang benar saja? Well bisa jadi.

Saya pun sering merasa bahwa Jordan dekat dengan saya karena keuangan saya. Memang, saya enggak kaya tapi saya cukup murah hati dalam memberikan uang atau barang pada orang yang saya anggap baik pada saya atau kekurangan. Namun setiap kali saya menanyakan hal tersebut pada Jordan, dia selalu marah dan membantah. Tapi mana ada maling ngaku, ya toh?

Saya masih ingat ketika Jordan menunjukkan black money scam pada pertemuan kami kedua. Malam itu, Jordan membawa selembar kertas putih yang kemudian berubah menjadi selembar uang 100 USD. Saya mengernyitkan dahi saya. Apakah betul itu uang asli?

Saya pun menanyakan pada rekan kerja saya yang bertugas di kejaksaan agung. Mas Budi tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita saya dan menasehati saya untuk berhati-hati. Bahkan lebih baik menyingkir. Hanya orang rakuslah yang bisa jadi korban akan penipuan tersebut. Saya pun menolak tawaran the-so-called business opportunity dari Jordan tersebut.

Nah ketika saya mencoba menanyakan apakah dia mencoba menipu saya dengan black money scam, Jordan mengatakan pada saya bahwa dia hanya memberitahu saya agar berhati-hati dengan penipuan tersebut. Akh… apakah saya percaya begitu saja? Tentu saja enggak. Lagipula sekali lagi saya katakan mana ada maling ngaku!

Namun sepertinya Jordan pun enggak menyerah. Dia pun kembali mendekati saya dengan cara yang sangat manis. Saya masih ingat Jordan pernah mengatakan pada saya pada awal pertemuan kami bahwa dia enggak akan berteman dengan saya kalau saya enggak punya apa-apa. Lalu enggak lama setelah itu, Jordan pun pernah mengatakan pada saya bahwa dia sangat senang berteman dengan saya because he still can maintain his lifestyle.

Meskipun enggak dinyatakan secara blak-blakan, saya paham maksud dia apalagi hampir enggak pernah dia mengeluarkan uang sepeserpun ketika kami makan malam. Bahkan untuk membayar juru parkir, saya pun harus merogok kocek saya. Gila! Tapi enggak tahu kenapa it’s always fine by me to spend the money. Mungkin saya menemukan suatu kenyamanan dengan Jordan. Well, bisa dibilang mungkin saya sudah menyewa a male escort alias gigolo selama ini.

Nah bicara soal Jeanny Tan, ada kemungkinan bahwa Jeanny Tan adalah mugu alias client alias korban. Namun kali ini, sepertinya Jordan menggunakan romance scam untuk mendapatkan uang dari perempuan ini. Entah apa yang akan Jordan dapatkan dari Jeanny Tan. Saya belum tahu. Namun hal ini mengingatkan saya pada salah satu client Jordan bernama Melani Hoang dari Vietnam pada awal tahun 2014.

Setiap kali  Jordan menerima telepon dari perempuan berusia 50 tahun tersebut, ia bersikap sangat manis sekali pada perempuan tersebut melalui telepon. Saya pun mulai cemburu. Saya mencoba mencari tahu bisnis apa yang dia lakukan. Saya pun mensabotase bisnis kotornya tersebut. Sejak saat itu, Jordan enggak pernah menceritakan tentang clientnya kembali.

Tapi kalai melihat Jeanny Tan, dia punya apa? Sepertinya duitnya enggak banyak. Itu pun hanya kesimpulan yang saya buat dengan bertemu dengannya sekali di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Begitu pula dengan outfit yang dia gunakan, she does not seem to have a good sense of fashion.  Bahkan dia belanja tas palsu di Mall Artha Gading di salah satu counter milik adik ipar Jordan.

Atau mungkin keluarganya lah yang jadi target Jordan? Well, itupun enggak menutup kemungkinan. Apalagi melihat dari beberapa foto Facebook miliknya dan adiknya. Apakah Jeanny pemilik mobil Camry itu? Bisa. Bisa jadi. Itulah alasan Jordan dekat dengan Jeanny Tan. Enggak lain enggak bukan untuk urusan uang semata. Enggak mungkin urusan hati.

Hal ini pun dikuatkan dengan pernyataan Michael, adik Jordan pemilik Bag Wardrobe Shop, yang mengatakan bahwa Jeanny Tan hanyalah customer yang selama tiga tahun terakhir ini membeli tas di toko istrinya. Enggak lebih dari itu.

Well, saya semakin yakin bahwa Jeanny Tan adalah mugu Jordan. Selama tiga tahun lebih saya jalan sama Jordan, saya tahu selera Jordan. Jordan enggak akan dating dengan the-so-called ibu-ibu kalau untuk urusan hati dan ranjang. At least, itulah yang berulang kali dia katakan pada saya. Dia sudah punya satu ibu-ibu di rumah yaitu Stephanie. Istrinya. Ibu dari Princeton dan Michaelangelo.

Bahkan untuk urusan hati, Jordan mengatakan bahwa Stephanie is the love of his life and will never leave her no matter what. Saya menghargai kejujurannya akan hal itu. Saya enggak bisa memaksa orang lain untuk bersama saya atau mencintai saya ketika saya mendengar hal itu dari mulutnya. Namun saya jadi merasa kasihan dengan Jeanny Tan yang sepertinya memang jatuh hati pada Jordan sampai-sampai dia mengirim SMS teror pada saya berulang kali, mencaci saya, memaki saya tanpa kenal siapa saya.

Lebih parahnya, Jeanny Tan sepertinya merasa insecure dengan kepribadian saya karena saya bisa bertahan dengan Jordan hingga lebih drai tiga tahun lamanya. Dia mencoba melakukan apa yang saya lakukan mulai dari memasak untuk Jordan, berolah raga bersama, pergi ke tempat saya clubbing bahkan sampai berpakaian yang mini-mini dan terus menerus mengutib ayat alkitab.

Come on… Why do you have to feel insecure? All those ugly details are in your life, it is a proof that you are a human. It shows that you are a real person. So you should be proud with who you are and your own capability. You don’t need to copy me or anybody. Be yourself! You can easily find a man, who know your worth and love you sincerely. 

Bukan cuma itu saja, saya melihat bahwa Jeanny Tan baru saja ngeadd Novita Obasanjo, istri Michael yang notabene adalah pemilik Bag Wardrobe Shop. Menurut analisis saya, mungkin Jeanny Tan ingin paham kehidupan mereka. Mungkin Jeanny ingin punya nama lengkap Jeanny Tan Obasanjo juga. Mungkin. Mungkin saja. Namanya juga cinta. Seorang perempuan cenderung mengharapkan suatu outcome positive ketika mereka menjalin sebuah intimate relationship.

Jujur saja, saya bukan cemburu melihat Jeanny Tan jalan dengan Jordan tapi saya merasa kasihan. Toh saya melihat sendiri bagaimana Stephanie berulang kali mengingatkan Jordan bahwa dia memiliki anak dan istri yang menunggunya di Lagos. Jeanny Tan enggak lebih dari sekedar mugu.

Saya paham betul dengan apa yang disebut dengan romance scam setelah ngobrol dengan beberapa korban romance scam yang saya temui di kantor polisi beberapa waktu yang lalu. It’s a heartless game. Romance scam is a betrayal of trust game. In the end of the day, you would lose a lot of things that you have worked for and have your heart broken. You heart and your love, you will lose it. Trust me!

Scammer akan menunjukkan bahwa dia adalah sesosok yang nyata dan apa adanya. Dia menunjukkan bahwa dia adalah sesosok yang karismatik. Bukan cuma itu saja, dia juga akan mengundang si korban ke apartmenynya untuk menunjukkan jati dirinya. Setelah berada digenggamnnya, Jordan akan mengatakan pada si korban bahwa jangan sampai ada yang tahu di mana mereka kerap menginap as it is their comfort zone, enggak akan ada perempuan lain yang datang ke sana.

Yang menarik adalah baik security maupun management enggak tahu identitas asli Jordan. Maklum kartu identitasnya banyak bak intel aja. Nah…. setelah mendapatkan kepercayaannya, Jordan akan mulai menggerogoti harta si korban.

Lebih gila lagi, Jordan akan memastikan bahwa si korban, dalam hal ini Jeanny Tan, agar terpisah dari kawan-kawannya yang mungkin akan mempengaruhi dia. Dari situlah Jordan akan terus menerus menguasai pikiran si korban untuk memberikan sesuatu untuknya, apalagi kata-kata Jordan kerap pedas. Saya akui bahwa Jordan memiliki kemampuan komunikasi persuasif yang luar biasa.

Pernah suatu kali saya mendengar bahwa Jordan mengatakan pada Jeanny Tan bahwa dia akan selalu melindunginya. Ya tentu saja, dia akan melindungi korbannya dari scammer yang lain demi keuntungannya sendiri. Sekalipun Jordan enggak mendapatkan banyak uang tapi dia akan mendapatkan beberapa barang yang bisa diuangkan. Uang tersebutlah yang akan dikirim pada istrinya di sana.

Well, well, well! Apa yang telah dilakukan Jeanny Tan selama ini pada saya memang sangat keterlaluan. Kalau dia diduakan dan dijanjikan surga oleh Jordan, kenapa marahnya pada saya? Kenapa saya yang dianggap pengganggu? Ya begitulah perempuan kalau dibutakan oleh cinta. Padahal cinta si lelaki hanyalah cinta palsu. Banyak sekali perempuan Indonesia yang telah jadi korban romance scam baik dilakukan oleh orang kita sendiri maupun orang asing, tapi mereka enggak mau diingatkan.

Saya jadi teringat sebuah film berjudul “The Other Woman” yang dibintangi oleh Cameron Diaz. Dalam film tersebut, tiga orang perempuan dipermainkan oleh seorang playboy yang notabene sudah menikah. Ia menjanjikan surga pada mereka semua. Make a long story short, ketiga perempuan tersebut akhirnya memberi pelajaran pada si playboy sang penipu. Perempuan mana yang mau dimadu. Ya toh?

Tapi sepertinya perempuan rasional seperti itu jarang dalam kehidupan nyata. Walaupun kalau saya diajak untuk ngerjain Jordan, tentu saja saya mau. Jadi, kalau Jordan memang playboy dan bajingan seharusnya kami memberinya pelajaran. Oh well but love is blind. 

Banyak perempuan lebih memilih jahat pada perempuan lain karena cemburu dan egois. Jadi mungkin dalam pikiran Jeanny Tan buat apa ngerjain Jordan karena dia cinta mati sama Jordan. Pertanyaan saya adalah apakah Jordan mau diadd di Facebook oleh Jeanny Tan, tentu saja melalui akun Facebook Jordan yang asli? Apakah pernah Jordan menunjukkan surat cerai resmi dengan Stephanie? Kalau belum lalu apa yang dipertahankan dengan Jordan? Apakah Jordan pernah menunjukkan suatu komitmen jangka panjang? Masa depan pun enggak ada. Apalagi uang?! Oh what a crazy world we are living! 

I can tell you all of these because I fell into his trap! Maka enggak salah kalau Jordan mengatakan bahwa saya adalah clientnya meskipun pada akhirnya Jordan jatuh hati pada saya karena saya nyata dan apa adanya. Tapi kalau memang benar saya adalah clientnya, anggap saja saya sudah menyewa a male escort selama ini. “Toh, tante cukup senang kok dengan pelayan kamu!”

Itulah teori pertama saya, Jeanny Tan enggak lebih dari seorang mugu.

Jakarta, 14 Januari 2015

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Coretan: Teka Teki tentang Jeanny Tan

Fictional Writing 

“Saya belajar banyak dari hubungan kita. Mulai sekarang, saya akan setia pada istri saya Stephanie. Saya enggak akan menjalin intimate relationship dengan perempuan lain lagi.” kata Jordan pagi itu.

Saya terdiam mendengar ucapan Jordan. Saya mendengar ketulusan dan kesungguhannya. Namun pernyataan tersebut mengingatkan saya akan pernyataan mbak Kartika tentang laki-laki Afrika di Indonesia.

“Cuma ada dua alasan kenapa laki-laki Afrika jalan sama perempuan Indonesia, either dijadiin sebagai mugu alias client untuk dimanfaatin duitnya atau partner in crime dan fuck buddy. Jarang dari mereka yang bisa berteman dengan perempuan Indonesia tanpa motivasi tertentu.”

“Kenapa gue bisa bilang kayak begitu? Gue udah jalan sama beberapa laki-laki Afrika sebelumnya. Bukan cuma satu aja. Enggak jarang juga lho kalau sebenernya si laki-laki Afrika ini sebenernya udah nikah dan punya istri dan anak di negaranya. Lebih gilanya, enggak jarang si istri membiarkan suaminya tidur sama perempuan lain as long as they send the money home!” kata mbak Kartika.

Memahami penyataan Jordan dan mbak Kartika, saya jadi teringat akan Jeanny Tan yang selama ini mengganggu saya melalui puluhan SMS teror. Who is she exactly? I met her once but I still had no clue because she lied. Jeanny Tan enggak cerita apa adanya tentang siapa dia. Saya merasa bahwa dia telah didikte oleh seseorang. Well, saya punya tiga teori tentang Jeanny Tan.

Teori pertama Jeanny Tan adalah mugunya Jordan alias targeted client. Teori kedua Jeanny Tan adalah partner in crime Jordan. Teori ketiga Jeanny Tan adalah suruhan Nuningtyas untuk menggangu saya. Semua teori itu memungkinkan.

Dari ketiga teori tersebut, saya yakin bahwa Jeanny Tan adalah mugu Jordan.  I can read the plot of the story. I am familiar with it. The story how I fell into Jordan’s hand. The plot story of romance scam dengan memanfaatkan pesona dan karisma sebagai laki-laki religious dan athletic. As they said, there is nothing new under the sun. Saya sudah bisa membacanya.

Jakarta, 14 January 2015 

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Photo: Istanbul in Frame 2

My first sunrise of Istanbul [2014: E O]

My first sunrise of Istanbul [2014: E O]

Christmas mass in in Sent Antuan Church [2014: E O]

Christmas mass in in Sent Antuan Church [2014: E O]

Mother Mary in The Holy Church of Wisdom, Hagia Sophia [2014: E O]

Mother Mary in The Holy Church of Wisdom, Hagia Sophia [2014: E O]

Hagia Sophia is where Islam and Christian met [2014: E O]

Hagia Sophia is where Islam and Christian met [2014: E O]

Under the blue sky, there is a blue mosque of Sultanamet [2014: E O]

Under the blue sky, there is a blue mosque of Sultanamet [2014: E O]

Inside the Grand Bazaar of Istanbul [2014: E O]

Inside the Grand Bazaar of Istanbul [2014: E O]

The view of Istanbul [2015: E O]

The view of Istanbul [2015: E O]

.

signature

Leave a comment

Filed under Photo

Coretan: Pertemuan di Jumat Kliwon

Fictional Writing 

Seperti biasa, Jumat malam adalah waktu bagi saya untuk clubbing, menutup akhir pekan dengan bersenang-senang dan pesta pora. Menari di lantai dansa, minum beberapa gelas margarita atau lychee martini dan keesokan paginya sakit kepala tujuh keliling. Itulah yang saya lakukan hampir setiap minggu. Kalau kurang puas, pesta pun akan berlanjut pada Sabtu malam.

Enggak seperti biasanya, enggak tahu kenapa malam ini rasanya saya males banget untuk ke bilangan Senayan. Bilangan di mana saya biasanya menghabiskan Jumat malam dan menyabut Sabtu pagi.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 11: 25 malam. Saya masih menimbang-nimbang antara tidur di rumah atau clubbing. Kalau tidur, rasanya kok ada yang kurang tapi kalau saya clubbing, saya kok merasa sangat lelah.

Entahlah! Saya biarkan waktu berlalu sembari chatting dengan Mariana Siswanto, salah seorang kawan lama dari bangku sekolah dasar di Yogyakarta. Kami hanya ngobrol selama dua puluh menit lamanya melalui Yahoo Messenger. Membosankan, pikir saya. Lebih baik saya bersenang-senang di lantai dansa, pikir saya.

Saya pun beranjak dari ruang kerja, menuangkan segelas red wine merlot lalu memilih salah satu little black dress yang tergantung dalam wardrobe saya. Saya pikir lebih baik saya menggunakan one shoulder long sleeve little black dress dan sepasang Nine West mary jane black pump shoes dengan heels setingga 12 centimeter. I love high heels. It makes me tall and I feel so confident about myself. 

Sembari saya bersiap-siap, Party Rock Anthem dari LMFAO yang sedang ngehits pun saya putar untuk pemanasan. I hope it’s gonna be another fabulous night! kata saya dalam hati. I am ready and I am set to go.

Saya meminta security untuk memanggil taksi untuk saya. Tak lama saya menunggu, taksi Blue Bird mengantarkan saya ke bilangan Senayan dengan cepat. Tak kurang dari 15 menit, kami tiba di kawasan Senayan. Namun, kali ini saya bingung antara memilih clubbing di salah satu night club di Plaza Arcadia atau di Plaza Senayan.

Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk menilik club malam di Plaza Arcadia, toh ini masih pagi. Kalau terlalu sepi atau membosankan, saya tinggal berjalan kaki ke Plaza Senayan karena partynya lebih asyik. Toh enggak ada lima menit.

Seperti Jumat, Jumat sebelumnya, saya selalu clubbing seorang diri. Saya malas kalau harus mencari free entry karena terlalu ngoyo. Lagipula, saya clubbing  hanya untuk membunuh kelelahan setelah lima hari bekerja. Selain itu, saya enggak clubbing untuk mencari pacar atau lelaki tapi untuk bersenang-senang.

Maklum saya kesepian, pacar saya berada di benua Australia enam bulan terakhir ini dan hubungan kami udah cukup lama renggang. Kami banyak bertengkar meskipun kami sedang menyiapkan pernikahan kami. Jadi daripada saya bersusah hati lebih baik saya bersenang-senang di lantai dansa.

Malam ini sepertinya saya minum terlalu banyak. Bahkan tanpa sadar, saya membayar pekerja seks komersil untuk ngobrol dengan saya hingga akhirnya dia mendapatkan seorang kustomer. Saya pun kembali kesepian. Saya memutuskan untuk ke club malam di lantai empat di  Plaza Senayan

Saya berjalan dengan hati riang dan senyum di wajah saya. Tentu saja, saya senang dan senyum karena saya sudah mabuk. Entah berapa banyak lychee martini yang sudah saya teguk malam itu di Plaza Arcadia.

Masuk ke lantai empat Plaza Senayan, saya pun kembali memesan segelas margarita. Malam ini, Equinox cukup ramai. Rupanya mereka sedang menggelar fashion show. Lantai dansa pun sesak. Semua orang berpesta pora.

Melihat sesaknya lantai dansa, saya mencari meja untuk bersandar sementara untuk meletakkan minuman saya.

“Hi…” kata seorang berkulit hitam dengan sepasang sunglasses menutupi kedua matanya. Sunglasses di night club? Really? pikir saya.

“Hi” saur saya singkat. “Wanna dance with me?” tanya saya sambil meletakkan cocktail glass di atas meja di mana ia bersandar. “Ya… why not!” katanya. Saya enggak tahu namanya.

Kami berdua hanyut dalam hingar bingar musik hiphop dan R&B di Equinox. Pria berkulit hitam legam tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Jordan Smith, asal Barbados. Barbados? tanya saya dalam hati. What the hell is he doing here? Saya belum  pernah mengenal seseorang dari Carribean kecuali Dominic, salah seorang kawan saya dari Couch Surfing yang saya temui di Thailand tahun lalu.

Anyway, Jordan, begitulah saya mengenalnya, mengaku bekerja sebagai seorang pengacara bagi pebisnis asing yang mencari business partner di Indonesia. Sebagai seorang pengacara, Jordan mengaku bahwa dia sempat menempuh pendidikan di New York City Amerika Serikat. Entah dari kampus mana. Saya juga enggak tahu dia bekerja dengan law firm mana.

But who cares! I just wanna have fun and I am pretty drunk. Yet, it indeed he got me interested to get to know him more. 

“FYI, saya udah punya tunangan dan saya cuma bersenang-senang saja malam ini.” kata saya dengan sedikit berteriak.

But I don’t have enough cash to pay you,” jawabnya. “I have seen you around many times here,” teriaknya di telingaku.

Saya mengernyitkan dahi, tercengang mendengar ucapannya. Jadi Jordan pikir saya pekerja seks komersial? Lucu! Well, let’s play his game then, kata saya dalam hati.

Well, we can stop in ATM machine and you can withdraw some cash. FYI, I just wanna have fun in five star hotels,” kataku menantangnya.

“Bagaimana kalau di mobil saya,” jawabnya menggoda. Akh kere! Membayar hotel saja enggak bisa apalahi membelikan saya segelas lychee martini, pikir saya. Lebih baik saya bawa pulang saja dia.

“Tempatku saja,” bisik saya nakal sambil mencium lehernya. Jordan menyetujui.

Namun sebelum meninggalkan club, Jordan sempat bertanya apakah dia bisa membawa adiknya atau enggak karena dia datang bersamanya. Saya mengiyakan. Adiknya memperkenalkan diri sebagai William. Entah apa yang dia lakukan di sini. Dia hanya berdiam diri sepanjang perjalanan.

Sementara itu, Jordan bercerita bahwa dia adalah duda beranak dua. Dia mengaku bahwa dia menikah dengan perempuan Amerika dan kedua anaknya tinggal di Amerika Serikat. Di J-town, Jordan mengaku tinggal di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Rute Sudirman, Gatot Subroto lengang malam ini. Mobil hatchback putih ciptaan perusahaan Henry Ford pun melaju kencang ke bilangan Kuningan. Malam semakin larut. Kepala saya semakin pening. Kami berbincang dan tertawa. Setibanya kami di lantai 16, kami tenggelam dalam dosa selama satu jam lamanya.

Mata saya terbelalak. Batang hitam pertama bagi saya. Bukan hanya itu, bonus tiga buah kelereng terpatri di dalam batang tersebut pun membuat saya ketakutan. Alkohol pun menguasai saya. Saya hanya menikmati apa yang dia berikan malam ini.

Sabtu Legi pukul 4 pagi, Jordan meninggalkan rumah saya setelah meneguk segelas Baileys dari dapur saya. Begitulah kami saling mengenal pada Jumat Kliwon di bulan Mei 2011.

Istanbul, 01012015

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Coretan: What Is It About Men?

Fictional writing

Kita, manusia, laki-laki maupun perempuan kerap menginginkan a perfect relationship ketika kita menjalin hubungan romantis dengan seseorang. Kita, manusia, laki-laki maupun perempuan kerap mengharapkan sesuatu yang indah dari hubungan tersebut entah sebuah rumah tangga, great sex, kehidupan nyaman, pasangan yang pandai dan mapan, suami yang tampan dan kekar atau istri yang cantik dan seksi. Kalau kita harus membuat list alias daftar, pasti bakal panjang banget.

Tapi terkadang kita, manusia, lupa bahwa enggak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Kita enggak bisa mendapatkan segalanya dalam satu packaging. Kalau ditanya kenapa, saya juga enggak tahu jawabnnya.

Saya selalu berpikir bahwa Jordan adalah pasangan yang sempurna bagi saya. Dia single, tampan, cerdas, sehat dan seksi. Dia juga tahu bagaimana memuaskan saya di ranjang. We addicted to each other body. Saya sebenernya paham bahwa yang membuat saya susah melepaskan Jordan dari pelukan saya adalah urusan ranjang.

Saya malas untuk mencari fvck buddy. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai jatuh cinta pada Jordan. Begitupula dengan dia. Atau setidaknya begitulah dia mengatakan pada saya bahwa dia mencintai saya.

Selama berpacaran denga Jordan, saya selalu mendefinisikan hubungan kami as a perfect picture of intimate relationship. Kami menyukai hal yang sama, kami suka party, kami suka high fashion, kami suka high-end lifestyle. But honestly, I feel that I live other’s people life and he is hopeless on that!  he does not know to live a rich people life. Well, we are not rich people so that is why we are lost living in this kind of life-style. Bisa dibilang, banyak orang yang mengenal atau setidaknya recognize us as big spender dan big tipper di setiap sudut Jakarta. Life was a party for us. 

Bukan cuma itu saja, kami suka ngomongin tentang hidup dan makna kehidupan bagi kami. Jujur saja, saya enggak setuju dengan apa yang Jordan lakukan untuk mencari uang. Tipu sana-sini mengambil uang orang yang sudah bekerja keras untuk mengumpulkan itu saja.

Berulang kali saya mencoba mencari cara untuk keluar dari jalan hidup yang dipilihnya sejak muda. Namun, saya gagal. Saya belum berhasil. Yang aja malah saya sempat terjerumus membantunya untuk menyiapkan sebuah bank account untuk bisnis alibaba yang dia jalankan dengan kawannya di Afrika Selatan.

Alasan saya cuma satu membantunya kala itu, saya ingat Princenton dan Michaelangelo. Dua orang darah daging Jordan yang sedang mengenyam bangku sekolah dasar di Lagos, Nigeria. Bukan untuk hal lain. Bagi saya, pendidikan sangatlah penting dan itu penting untuk Princeton dan Michaelangelo.

But party was over sejak penyakit saya kambuh. Saya mulai jadi pemarah dan sensitif karena racun dalam tubuh saya mempengaruhi psikologi saya. Hampir setiap hari saya muntah-muntah bahkan saya enggak kuat lagi untuk bergadang atau menegak alkohol. Lebih bodoh lagi, saya sering memaksakan diri saya untuk terus minum sehingga saya bisa bersenang-senang dengan Jordan hingga akhirnya saya pun berakhir di rumah sakit.

Party was indeed over. Jordan mengatakan pada saya bahwa dia enggak lagi tinggal di apartment Palladium Garden. Kini, dia tinggal bersama William di Mall of Indonesia. Saya mengiyakan saja ucapannya walaupun saya yakin dia berbohong. Dia masih di Palladium Garden dan mungkin kini dia menjalin hubungan dengan perempuan lain. Mungkin, Jeanny Tan. Perempuan di twitter.

Saya ingat ketika seorang security mengatakan ada perempuan berbadan besar kerap datang ke apartment. Pada saat itu juga saya juga kerap menemukan helain rambut panjang di lantai dan di kamar mandi. Belum lagi peralatan mandi yang saya tinggalkan pun berubah tempat.

Jordan selalu bilang bahwa itu rambut pembantunya. Saya enggak goblog Jordan. Saya goblog karena saya jatuh cinta sama kamu dan enggak mau kehilangan kamu. Itu saja. Bukan untuk sebuah pernikahan atau uang tapi karena urusan ranjang dan anak kita yang ada di surga. Itu saja.

Aneh bin ajaib, semakin saya berusaha untuk mempertahankan hubungan kami. Hubungan kami semakin rapuh. Jordan jarang menemui saya, Jordan sering berbohong, Jordan sering bersikap kasar dan hingga akhirnya dia mengatakan bahwa Jordan sudah enggak bahagia lagi dengan saya.

Wow! I was stumbled and upset! Tapi mau bagaimana lagi, saya enggak mau mamaksa orang untuk mencintai saya kalau dia enggak bahagia dengan saya. I have to set him free. Itulah yang ada dipikiran saya pada tahun keempat kami berpacaran. Berulang kali saya mencoba, saya gagal. Hi

Saya selalu berpikir bahwa saya enggak akan bisa hidup tanpa Jordan. What? Why was I so stupid? What is it about him or man that makes me thinking that way? Apalagi dia sudah menikah dan Stephanie selalu mengingatkan Jordan bahwa dia punya anak dan istri di Nigeria.

Saya terdiam. Segelas merlot wine menemai saya malam ini di lantai 18. Saya memandang langit Jakarta. Amy Winehouse menemani saya. Dengan suaranya yang parau, Amy mengingatkan saya untuk mempertanyakan “What is it about man?” …. I don’t know, begitulah jawabannya saya sambil meneguk Yellow Tail merlot.

Jujur saya, andai saja saya tahu bahwa Jordan sudah menikah I would never ever go  through it first hand. Surely we can be friends but not stay in a relationship. Saya jadi ingat kata Eddie Griffin dalam salah satu lagu Dr. Dre berjudul Ed-ucation.

Dengan bahasa yang cukup kasar, Griffin mengatakan demikian “The biggest hoe on planet earth are walking through the motherfucking neighborhood. You knew  that you got with the nigga he already had a woman, you knew he already had a family but you fucked him anyway.

Saya tersenyum simpul mendengarkan kalimat tersebut. Saya memutarnya berulang kali, bertanya pada diri saya. Who is the biggest hoe on planet earth? Me or Jeanny Tan? In my defense, I had no idea that Jordan is a family man hingga akhir tahun lalu. But in the end of day, saya pun udah menikah. 

Still, I am one of the biggest yet ungrateful hoe on planet earth. Saya sama sekali enggak menghormati janji suci yang kami ucapkan di depan altar hanya untuk urusan ranjang semata.

Jujur saja, saya enggak pengen bernasib sama seperti Stephanie yang diselingkuhi oleh suaminya. Tapi suatu hari, seorang peramal mengatakan pada saya bahwa Erick main belakang dengan perempuan berambut panjang. Bahkan dia mengeluarkan banyak uang untuk perempuan tersebut.

Jadi jangan kaget kalau dia mulai pelit sama kamu,” begitulah kata peramal tersebut suatu malam di bulan September. How funny is our life is…?! Right?

Akh perempuan, bagi saya, kami ini makhluk yang lucu apalagi kalau sudah berurusan dengan yang namanya laki-laki, kami akan bertengkar bak kucing. But for me, it is not worth because I know that I can walk fabulously with my head held high with or without man as I have been, was, is and always be. 

Saya bukan hanya sekedar perempuan bodoh berbalut little black dress yang berjalan dengan 12 centimeter stiletto semata. I can always find the new one. It is the matter whether I want it or not because love is full of tragedy. So, tell me what is it about man to make us, women, fighting against each other? 

Istanbul, 291214

signature

Leave a comment

Filed under Coretan