Tag Archives: Jakarta

Notes: When Faith Turned To Be Fear

Trying to catching up on my time [2014: E R]

Trying to catching up on my time [2014: E R]

When I was young, I always thought of myself as a bird. A bird, who loves to spread my wings and learns how to fly so I could see the world. I also always knew that I am fearless. I would take every opportunity, I would take every risk to get everything that I want. I want to be success, I want to be happy.

I have never been afraid of anything. Never afraid of doing something new, of being failed, of losing things or afraid of any human being. No… I have never been afraid because I know that I always have been having faith in myself that I would be able to do things that I want regardless its obstacle.

In 2009, a doctor told me that I might only have another 10 years to live if I did not pay attention of my health by taking medication. Really? Only 10 years and I was 21 years old. I started to have a little fear. Not fear of dying but fear of not being success, fear of not being happy by the time I am gone.

However since I saw my doctor in Singapore, my fear faded away. Continuously I saw the good result of my medication. I was happy. I knew that everything would be alright. I knew that it was a non-sense statement. “How could a doctor tell you when you are going to die?” Just within two year, I completed my medication. I knew I would be alright and have a longer life.

But thing changed. Last Christmas, I was in the hospital. It came back. My faith turned to be fear. I no longer have faith. All I have fear. Fear to not be able to be success. Fear to not be able to be happy.

If the first doctor was true, I would only have another five year left. If I am lucky, I would stay longer but if I am not, I would only have another five year or even less. What would have I done when the time is over? I don’t know

Today is my birthday. I used to always be grateful because I was blessed to be able to new experience in life every year. I was never afraid of getting old. But today, I am upset and afraid because time is ticking and I am counting down my year. And all I know… I just want to be success and I just want to be happy by the time I am gone.

I know I might sound hopeless, coward, ungrateful or whatever you want to call me. But …. reader…. I do not mean to be rude but no I do not need your pity. I do not need you to feel sorry. And I do not even want to read your negative comment or encouraging comment as if you are in my shoes. And yes,  I know that I am not the only one facing what I face in the world. I just want to share my burden. Sometimes some people just want to be listened only when they share their burden. Thank you.

signature

4 Comments

Filed under Notes

Review: In a Jakarta Prison “Life Stories of Women Inmates”

Judul         : In a Jakarta Prison “Life Stories of Women Inmates”
Penulis     : Sujinah
Penerbit   : The Lontar Foundation, Jakarta, 2000
Halaman  : 172
Bahasa      : English
Harga       : Rp 72.000,00

Neneng, Inah, Leha, Asmi, Nyonya Hamid, Sri, Ita, Genuk, Checkers, Keling, Nyonya Kasim, Nunung dan Lian adalah beberapa nama perempuan yang hidup di balik jeruji besi bersama Sujinah. Sujinah merupakan mantan anggota Gerwani, yang dijebloskan ke dalam penjara pada masa pemerintahan Suharto.

Keberadaan Sujinah dalam rumah tahanan Tangerang agaknya menjadi corong bagi mereka yang selama ini bungkam akan apa yang sesungguhnya terjadi di balik tembok tinggi dengan jeruji besi yang mengungkung para tahanan dalam sel mereka.

Cerita dari Keling misalnya, seorang narapidana yang ditahan karena kelihaiannya sebagai seorang pencopet dari Sungai Ciliwung yang akhirnya tertangkap di Pasar Senen. Tentu saja, bukan karena tanpa alasan akhirnya Keling kembali ke pekerjaanya sebagai seorang pencopet setelah pernikahannya dengan Bopeng, memaksanya untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang pencopet, namun kehamilannya yang menuntutnya untuk hidup sehat, Mak Isah yang butuh perawatan di usiannya yang sudah senja dan Bopeng yang dipenjara, memaksa Keling untuk kembali beraksi. Terdiam, tertunduk dan merenung, sambil tersenyum Keling berkata pada Sujinah, “Isn’t life a bitch?”

Lain pula dengan Nyonya Hamid, seorang nyonya yang hidup dalam kemewahan namun selalu dirundung kesedihan ketika akhirnya ia memutuskan untuk menikahi Hamid, seorang pemuda sederhana dari keluarga sederhana. Kesuksesan Hamid dalam menjalankan bisnis yang telah diajarkan istrinya, kekayaan yang telah melimpah dalam rekening banknya agakanya telah membutakan Hamid, sanga pemuda sederhana yang akhirnya main gila dengan perempuan lain. Kesetiaannya Nyonya Hamid sebagai seorang istri telah dibalas dengan dusta yang begitu menyakitkan hingga akhirnya Nyonya Hamid memutuskan untuk mengakhiri hidup suaminya di suatu sore.

Dua cerita dari Keling dan Nyonya Hamid kepada Ma, begitulah panggilan akrab Sujinah, telah membuka kabut yang membungkus tembok-tembok penjara yang penuh cerita. Pintu penjara yang berada di balik kabut akan selalu terbuka bagi siapa saja yang telah melakukan kejahatan, tak peduli mereka kaya, tak peduli mereka miskin. Terkadang pula, mereka pun, terkadang tak peduli apakah mereka bersalah atau tidak. Yang ada hanyalah cerita yang tak ceritakan kepada masyarakat, kepada dunia tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Keberanian Sujinah dalam menuangkan pengalamannya dalam tulisan memang perlu diacungi jempol. Seorang tahanan politik yang bersuara akan kebenaran yang tak pernah diketahui orang hingga akhirnya dunia mendengar dan mengerti apa yang sesungguhnya terjadi di balik jeruji besi, ketika mereka mendengar kata penjara. Bukan hanya penjahat yang ada dalam penjara namun ada pula korban kejahatan yang dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan.

signature

Leave a comment

Filed under Review

Catatan: Hedonisme & Penipuan Online 2

They are all talking about money [2014:E O]

They are all talking about money [2014:E O]

Suatu hari, saya punya seorang kenalan yang udah lama banget menikmati uang panas hasil penipuan online dengan investasi bodong. Bahkan dia udah melakukan aksinya di berbagai belahan dunia mulai dari Afrika Barat, India, Dubai dan Indonesia.

Gaya hidupnya hedon. Koleksi baju bermerek fashion terkemuka berderet di lemarinya. Mulai dari Emporio Armani, Dolce & Gabbana, Hugo Boss, Kenzo, Roberto Cavalli bahkan sampai Valentino. Belum lagi koleksi sepatu dan jam tangannya.

Jujur aja ya…. Setiap kali saya ngeliat orang dengan pakaian mahal, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri ‘pekerjaannya apa ya kok bisa beli barang-barang mahal seperti itu?’ Eh usut punya usut ternyata dia adalah seorang scammer yang melakukan bisnis investasi bodong dengan memanfaatkan orang-orang rakus yang ingin kaya instan atau perempuan-perempuan kesepian tapi berduit.

Bahkan dia mengaku bahwa dia kerap memanfaatkan orang-orang tersebut, terutama perempuan Indonesia untuk keuntungan pribadinya mulai dari apartment, mobil, uang bensin, komputer bahkan sepiring makanan. Apalagi dia tampan dan cukup lihai dalam berbicara meskipun dia sangat arogan. Jadi enggak heran kalau kemudian banyak perempuan Indonesia yang jatuh hati padanya dan bersedia memberikan apapun untuknya.

Saya pun kembali bertanya, apa sih sebenernya motivasinya melakukan hal tersebut? Jawabannya kemiskinan, kemalasan dan gaya hidup hedonisme. Dia pengen hidup bak rapper-rapper America dengan uang bergelimang. Belum lagi adanya orang-orang rakus yang ingin kaya instan. So there is a supply and demand.

Saya inget banget saat pertama kali saya mengenalnya. Dia sempat mengatakan pada saya bahwa dia enggak bakal hang out sama saya kalau saya enggak punya uang. Belum lagi, dia mengatakan bahwa koleksi baju saya, yang notabene saya beli di Plaza Semanggi atau Ambassador Mall, adalah koleksi baju murahan.

Dia lalu mengenalkan saya pada merek-merek fashion terkemuka mulai dari Armani Exchange, Massimo Dutti, Calvin & Klein, Dolce & Gabbana bahkan Valentino. Tentu saja bukan barang palsu.

Sejak saat itu, saya enggak pernah lagi membeli baju di Ambassador Mall atau Plaza Semanggi karena takut diejek (feel free to judge me tho). Lihat saja koleksi baju saya mulai dari DKNY, Armani Exchange, Versace, Roberto Cavalli, Manolo Blahnik sampai Christian Louboutins. Yes! You are right! I am also victim of hedonism lifestyle anyhow! Yet, I am changing now :-) Eittss bukan uang dari scammer lho! Uang halal ini mah!

Saya menemukan sebuah kenyamanan dengan pakaian-pakaian mahal tersebut, saya mendapatkan senyuman yang ramah dari pelayan restaurant, high end fashion boutique dan lain-lain. Bahkan kalau saya sedang jalan-jalan di Plaza Indonesia, saya kerap disapa oleh pelayan toko tersebut setiap kali berpapasan. Mereka tahu nama saya.

Bahkan saya kadang-kadang heran ketika menggunakan pakaian tersebut, saya selalu berkata pada diri saya sendiri “Wah gila…. Total rupiah yang saya gunakan dari atas sampai bawah hampir lebih dari 20 juta” (bukan bermaksud pamer tapi saya sendiri juga heran chyin…)

Tapi lama-lama saya capek juga setiap kali dia bicara soal kelas. Dia selalu bicara bahwa kita berbeda dengan mereka yang miskin, tinggal di kos-kosan atau menggunakan pakaian tidak bermerek. Bukankah kebanyakan teman-teman saya hidup demikian? Bukankah narasumber yang saya temui adalah mereka dari kelas menengah ke bawah.

Ah…. Saya tahu, saya bukan orang yang peduli dengan kelas sosial tersebut. Jadi saya enggak pernah pedulikan apa kata dia tentang kelas sosial. Di Jakarta, saya ini hanya pegawai biasa, mencari yang dengan menulis. Pendapatan bulanan lumayanlah tapi enggak bisa untuk beli barang-barang mewah terus terusan. Kapan nabungnya kalau begitu?!

Ngomong-ngomong soal gaya hidup hedonisme dan uang instan, banyak berita tentang perempuan Indonesia yang menjadi the-so-called business partner para scammer, yang kebetulan orang Afrika, yang bertugas untuk menerima uang hasil kejahatan mereka atau pura-pura menjadi petugas bea cukai.

Dalam pemberitaan tempo.co yang berjudul “Penipuan Online, Komplotan Afrika Punya Cara”, Bapak Komisaris Jerry Raimond yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit III Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bilang bahwa komplotan scammer Afrika enggak bekerja sendirian, biasanya mereka mengajak beberapa perempuan Indonesia dengan cara menikahi atau memacari mereka (walaupun sebenernya ternyata enggak sedikit dari mereka yang ternyata udah nikah di negara mereka chyin)

Anyway, mbak-mbak pacar atau istri scammer ini pun kerap diminta untuk membuat KTP dengan nama palsu, perusahaan fiktif dan juga rekening bank palsu untuk menerima uang hasil penipuan tersebut. Tentu saja, si perempuan akan mendapatkan imbalan dari hal tersebut. Gede lho imbalannya.

Nah… Jakarta, kota metropolitan dengan biaya hidup tinggi dan gaya hidup ‘jetset’ membuat orang-orang mau melakukan apa saja demi uang. Mengutip lagu bang Iwan Fals Opiniku … “Namun kadang kala ada manusia yang seperti binatang bahkan lebih keji dari binatang. ll Tampar kiri kanan, alasan untuk makan. Padahal semua tahu dia serba kecukupan. Himpit kiri kanan, lalu curi jatah orang peduli sahabat kental kurus kering kelaparan”

Bahkan the-so-called business partner scammer ini ada juga yang rela meninggalakn pekerjaan mereka demi investasi bodong ni. Heran deh demi uang instan yang enggak tahu berapa lama akan mengalir. Ya toh? Apa yang bisa dibanggakan dengan melakukan kejahatan ini? Uang?

Nah belum lama ini, saya mendapatkan kabar bahwa polisi menangkap seorang perempuan Indonesia yang selama ini bekerja sebagai business partner scammer orang Afrika.

Kabarnya, sejak penangkapannya, si pacar enggak pernah menggunjunginya sama sekali sampai-sampai si mbak ini mengalami depresi berat di penjara dan akhirnya meninggal dunia dalam waktu kurang dari dua bulan. (May she rest in peace) Bukankah itu menyedihkan?

…. bersambung

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Hedonisme & Penipuan Online 1

Teknologi mempermudah terjadinya cyber crime [2014:EO]

Teknologi mempermudah terjadinya cyber crime [2014:EO]

Pernah enggak sih kamu denggar  istilah romance scam, Nigerian scam, military scam, Facebook scam atau black money? Atau… pernah enggak sih kamu dapet email berisi tawaran bisnis bernilai jutaan dollar Amerika Serikat?

Atau…. pernah juga dapet friend request seorang warga negara asing yang mengaku anggota militer atau pebisnis dengan wajah yang sangat amat tampan? Well…. semuanya merupakan sebagian kecil  bentuk  dari internet fraud atau penipuan online yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia. Pelaku penipuan tersebut biasanya disebut sebagai scammer.

Dari berbagai bentuk internet fraud yang terjadi, romance scam merupakan bentuk penipuan online yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir ini dengan sasaran korban yang mayoritas adalah perempuan. Maklum bagi scammer, perempuan adalah obyek paling mudah untuk dimanipulasi, apalagi manipulasi perasaan. Walaupun ada juga laki-laki yang menjadi korban.

Menurut informasi dari berbagai sumber di internet, romance scam adalah sebuah penipuan yang dilakukan oleh seseorang dengan memanipulasi perasaan seseorang yang sedang membutuhkan kasih sayang dari seseorang untuk mendapatkan keuntungan finansial sehingga si pelaku dapat mendapatkan akses keuangan, rekening bank atau kartu kredit seseorang. Tapi perlu dicatet nih bahwa sebenernya romance scam bukanlah modus penipuan baru.

Sejak masyarakat memiliki akses internet dan melek teknologi, social media dan dating site kerap dijadakan sarana  oleh para pelaku romance scam. Biasanya si scammer bakal nyolong foto bule tampan dengan seragam tentara, foto artis Hollywood atau bahkan foto polisi Indonesia yang ganteng dari internet (so hati-hati kalau upload foto ya!), lalu  menggunakan foto hasil curian dengan untuk melakukan aksinya.

Menurut saya, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, internet merupakan sebuah dolanan baru. Masyarakat belum teredukasi secara baik bagaimana menggunakan internet. Masyarakat masih cenederung menggunakan internet untuk ‘bermain’ social media untuk berkawan ketimbang menggunakannya sebagai media pembelajaran. Walaupun perlu dicatet bahwa enggak semuanya begitu.

Jadi bisa dibilang, perempuan mana yang yang berbunga-bunga kalau dapat friend request dari cowok ganteng. Belum lagi kalau si cowok ternyata single, romantis dan kaya pula? Siapa yang enggak klepek-klepek? Ya kan…?

Setelah berkenalan, si pelaku akan melakukan aksinya dengan bersikap romantis, memberikan panggilan sayang seperti ‘baby, honey, sweetheart, sayang atau cinta’; memberikan harapan palsu akan sebuah pernikahan yang sempurna bak dalam film Hollywood.

Biasanya pelaku mengatakan pada si korban bahwa mereka akan mengirimkan sebuah hadiah bernilai ratusan sampai jutaan USD namun korban diminta untuk membayar bea cukai. Di sinilah para pelaku mulai melakukan aksi penipuan mereka.

Tahun lalu tempo.co melansir beberapa berita tentang penipuan online di Indonesia. Pada bulan Maret 2013, Polisi Polda Metro Jaya menangkap sepasang suami istri, Mathias Udhie (25)  warga negara Nigeria, dan Waraswati (36) yang telah melakukan penipuan terhadap seorang pengusaha garmen asal Indonesia dengan total kerugian Rp 1,78 miliar.

Menariknya Komisaris Jerry Raimond yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit III Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bilang bahwa komplotan penipuan online banyak dilakukan oleh warga negara Afrika yang sebagian besar adalah warga negara Nigeria, Liberia dan Kamerun.

Selain itu, Komisaris Jerry juga menyebutkan bahwa komplotan penipu tersebut biasanya tidak bekerja sendirian namun mengajak beberapa perempuan asli Indonesia. Eng… ing… eng!

Meskipun perlu diakui bahwa akhir-akhir ini marak pula penipuan online yang juga dilakukan oleh warga negara Indonesia yang menggunakan foto perwira TNI, anggota POLRI, dokter atau pilot.

Ngeliat fenomena ini, saya enggak mau menggunakan religious approach, bahasa akademik ketinggian atau bahkan membully untuk mengkomentari si korban. Saya jadi penasaran aja, mengapa mereka alias pelaku melakukan hal ini? Mengapa mereka rela menyakiti orang lain demi keuntungan sendiri? Apa motivasi mereka?

Di satu sisi, saya berpikir…. “Well… bukankah kehidupan memang seperti itu? Kita, manusia, akan melakukan apapun untuk perut kita. Namanya juga manusia. Namun namanya juga manusia, rakus. Sekalinya berhasil mereka akan ketagihan terus dan terus. Lalu pada akhirnya, bukan lagi urusan perut tapi urusan gaya hidup.

Saya jadi teringat salah satu lagu bang Iwan Fals berjudul Opiniku. Pernah dengar lagu tersebut?  Begini liriknya.

Manusia sama saja dengan binatang selalu perlu makan. Namun cara berbeda dalam memperoleh makanan ll Binatang tak mempunyai akal dan pikiran segara cara halalkan demi perut kenyang. Binatang tak pernah tau rasa belas kasihan, padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang ll Namun kadanhkala ada manusia yang seperti binatang bahkan lebih keji dari binatang. ll Tampar kiri kanan, alasan untuk makan. Padahal semua tahu dia serba kecukupan. Himpit kiri kanan, lalu curi jatah orang peduli sahabat kental kurus kering kelaparan.

Bisa dibilang bahwa saya menyalahkan media yang kerap mempromosikan atau menggembar-gemborkan gaya hidup hedonisme yang cenderung yang tidak dapat dibayar oleh masyarakat pada umumnya. Mulai dari pakaian seharga 1,000 USD sampai jam tangan seharga 130,000 USD. Orang-orang seolah-olah bangga menggunakan uang dan merek pada tubuh mereka, tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki.

Brengsek betul media, ya toh? Mulai dari televisi, majalah, film bahkan sampai musik. Mereka tidak henti-hentinya bicara masalah uang. Kita, manusia, jadi budak uang! Eittts… saya sendiri juga pekerja di industri media lho!

Belum lagi dengan adanya social media. Orang-orang berlomba-lomba memamerkan apa yang mereka uang yang mereka kenakan melalui foto-foto mereka, baik sengaja maupun enggak sengaja -alesan banget ya?-. Oh don’t get me wrong .. I am no saint, I’ve done that too before or sometimes still. I am only human dawg :-).

Tapi saya menyadari bahwa hal tersebut menimbulkan kecemburuan sosial, membuat kawan  jadi lawan; membuat kita jadi musuh bersama karena kemewahan.

Terus apa kaitannya gaya hidup hedonisme dengan penipuan online termasuk romance scam? Kaitannya adalah baik pelaku maupun korban keduanya telah menjadi korban gaya hidup hedonisme yang selama ini ditawarkan oleh media, yang cenderung berupa imaginative life.

….. bersambung

2 Comments

Filed under Catatan

Jakarta: Are Human Beings Less Valuable than Money?

Since I moved to Jakarta for the very first time, I always become very sensitive with the money issue. It is because I feel that we, as a human being, as a social being, are often being appreciated and valued according to  the money that we have by others. It is very different comparing the time when I lived in Yogyakarta, my hometown.

We tend to be appreciated and valued according to the money that we have, the money that we wear, the money that we live, the money that we drive, the money that we eat and the money that we earn. It makes us, as a human being and social being, is less valuable than other unless they have money.

No wonder… there are many corruption in every institution, be it government institution or private company. It has become a social disease because people value other according to the money that we have, the money that we wear. No wonder… there are many women look for a rich man to keep up with the ‘social requirement’ so they can be accepted. There are many men look for rich vulnerable woman to get money from them so they can keep up with their lifestyle even they cannot afford it. I don’t mean to judge but people try to do anything to generate a lot of money without using a ‘normal process’.

I used to be terrified with it. Honestly, I was…. I used to think what about if I don’t have friend here because I don’t have money? What about if this…? What about that…? But as time passed by…. I realised that I should not have cared about how people value me, how people judge me, how people think about me. It is because other will never be satisfied with who you are, with what you have. They will ask more and more and more.

For this…. I blamed it to the media and business corporation, which try to brainwash people’s mindset with material stuff on daily basis through news, song, film, advertising, magazine and books. They try to decide the definition of beauty for its audience so the audience, which is us, are buying their shit to meet up with the social requirement. Good job!

If we cannot afford it, we will force ourselves to get it by using credit card that we cannot pay every month; by committing  into a corruption be it small or big; by marrying or dating a rich man or woman; by exploiting other to work hard and earning money; or even by stealing. There are just many methods that people do to make money simply because they want to meet up with the ‘social requirement’, which has been shaped by the media.

In the end, we value ourself less, we don’t appreciate our own hard work. Yet, it is not done everyone and I cannot generalise it. I really feel sick with it. I know it does not only happen in Jakarta but in the majority of big city and metropolitan city. Yet, as I am living here…. I just want to share my thought about this issue in Jakarta.

Oh Jakarta…. would you be less arrogant? I love living here because I love my job but ‘those social requirement’ and ‘those definition of beauty’, which have been implemented by many business sector, have forced its citizen to be fake individual. I feel like living in a fake world.

signature

2 Comments

Filed under Jakarta

Notes: The Magdalene Featured Bule Hunter

Yesterday  a good friend of mine, Mahel told me that the Magdalene finally featured my first baby “Bule Hunter”. The article titled “What ‘Bule Hunters’ Wants’ was written by Sebastian Partogi, a Jakarta based feminist writer.  I felt so thrilled with it. Thank you for featuring my first book…. the Magdalene.

Readers …. Check the article out!

==@==

The Eyes [2014: Yuventius Nicky]

The Eyes [2014: Yuventius Nicky]

Indonesian women who have Western partners or husbands are often met with negative, sometimes harsh judgment from people around them, from gold diggers to exotic-looking harlots.

​When you see an Indonesian woman with brown complexion walking together with a Western man, for example, you might hear responses like, “Why on Earth would a bule want to be with a woman with a tampang babu?”

Bule is an Indonesian slang word for Westerners, while tampang babu means the face of a domestic help.

Irked by such stereotypes, Jakarta-based writer Elisabeth Oktofani decided to write  a book called Bule Hunter: Kisah Wanita Pemburu Bule (Bule Hunter: Tales of Women who Pursue Western Men). Published by Rene Books this year, it is based on her interviews with several women with Western partners to understand their motivation in pursuing the men. Read more here

signature

Leave a comment

Filed under Notes

Catatan: Numpang Hidup sama Mister

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah SMS yang membuat bulu kuduk berdiri lalu tersenyum simpul. Sebuah nomor yang tidak saya kenal, mencaci maki saya. Basically, si pengirim SMS gelap menuduh saya numpang hidup sama suami saya yang notabene adalah bule alias londo alias orang barat. Maklum orang barat sering dianggap sebagai orang kaya oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Berbagai pertanyaan muncul di kepala saya”Who is this?“, “What does she want from me?“, “How does (S)he knows my full name?” Entahlah. Saya pikir enggak ada gunanya untuk menggubris SMS semacam itu.

Lucunya si pengirim SMS gelap sepertinya benar-benar sayang dengan saya. Hari Sabtu kemarin, saya kembali mendapatkan SMS gelap dari nomor  yang berbeda, lagi-lagi nomor saya yang enggak dikenal. Dengan bahasa yang sama, saya menduga bahwa si pengirim adalah orang yang berpendidikan rendah atau bahkan enggak pernah mengenyam bangku pendidikan. Kenapa saya berpikir seperti itu? Mudah saja, saya bisa membacanya dari kalimat dan pemilihan kata yang digunakan.

Si pengirim SMS gelap kembali mencaci saya dengan menyebut saya “pelacur”, “pengangguran” dan “cewek matre”. Belum lagi dia berkata demikian “Lu kan sekelas pembantu. Bisa hidup enak karena laki lu bule.” Kesal dan jengkel namun lagi-lagi saya dibuat tertawa oleh SMS ini. Dicaci kok malah ketawa sih?

Well… tentu saja saya tertawa. Lagi-lagi saya mendengar celetukan org yang sudah termakan stereotype bahwa cewek Indonesia nikah dengan orang Barat hanya untuk numpang hidup. Perempuan Indonesia dengan kulit coklat dan pendek dan menikah/berhubungan dengan bule ‘dimasukkan’ dalam kelas pembantu. Aduh-aduh…. ini kan lucu! Kelas pembantu itu seperti apa sih?

Belum lagi beberapa waktu yang lalu saya baru saja mengeluarkan buku berjudul “Bule Hunter”, sebuah catatan tentang perempuan-perempuan pemburu bule yang selama ini kerap dicap negatif oleh masyarakat baik oleh masyarakat lokal atau oleh orang barat. Entah dicap sebagai gold digger, slut, bertampang babu dan sebagainya.

JUST BECAUSE tuan-tuan londho (orang Barat) kerap dianggap sebagai Paman Gober atau Mesin ATM. And of course, it creates jealousy because ‘perempuan dari kelas pembantu’ mendadak jadi ‘orang kaya’. Padahal belum tahu saja kalau enggak sedikit dari mister-mister tersebut yang juga kere. Ya toh?

Anyway…. lucunya lagi saya dibilang pengangguran. Waduh-waduh ha ha ha. Hanya karena saya ke kantor tidak pakai seragam,  saya dibilang pengangguran. Hanya karena saya dapat bekerja dari rumah dan memiliki office hour yang berbeda, saya dibilang pengangguran. Lucu sekali ini!

Biar kata gaji saya kecil (dibanding gaji suami saya), saya lebih memilih untuk makan hasil keringat saya sendiri. Suatu kebahagiaan ketika saya melihat angka di rekening saya berubah menjelang akhir bulan. I can say to myself ‘That’s my hard work!’. But I think that I owe nobody any explanation. Let them judge me as they want it! However before you judge other, make sure that you are perfect!

signature

2 Comments

Filed under Catatan