Tag Archives: Indonesia

BJ: The Power of Prayer

Have no anxiety at all, but in everything, by prayer and petition, with thanksgiving, make your requests known to God – Philippians 4:6

signature

Leave a comment

Filed under Bible Journal

Coretan: Delapan Ribu Dollar Melayang Karena e-Warisan

Belum lama ini, saya menemukan sebuah artikel yang dimuat oleh detik.com pada tanggal 27 Mei 2006 dengan judul “Tertipu Rp 80 Juta Gara-Gara Dapat Warisan via Email“. Artikel yang menarik, pikir saya.

Tertipu Rp 80 Juta Gara-Gara Dapat Warisan via Email

Ahmad Yunus-detiknews

Bandung – Hati-hati jika Anda menerima kiriman email tidak jelas. Hendra, seorang wiraswasta asal Bandung tertipu Rp 80 juta gara-gara menerima sebuah email tak jelas. Penipuan ini bermula ketika dirinya membuka email yang isinya telah menerima uang sebesar US 38 juta dolar.

Uang ini berasal dari sisa pembagian warisan seorang pengusaha asal Italia, Mario Julio. Pasalnya, dalam 2 bulan mendatang, dirinya, dikabarkan akan meninggal dunia. Mario berpesan agar uang tersebut dibagikan untuk dana sosial di Indonesia.

“Uang 80 juta itu untuk kebutuhan administrasi pengiriman dan sudah diberikan. Ini adalah kejahatan jaringan,” ungkap Kasatreskrim Polres Bandung Barat, AKP Suciptono saat menggelar jumpa pers di Mapolres Bandung Barat, Jalan Sukajadi, Bandung, Jum’at (26/05/2006).

Saat ini Mapolres Bandung Barat telah membekuk tersangka yang melakukan penipuan tersebut. Tersangka ini adalah pria asal Liberia, Walter Lordgate, 36 tahun. Ia ditangkap di Hotel Le’Meridien, Jakarta, Kamis sore (25/05/2006).

Walter Lordgate ditangkap aparat kepolisian ketika tengah terjadi pertemuan dengan Hendra. Pada pertemuan tersebut, tersangka sempat memperlihatkan sebagian uang warisan tersebut sebanyak US 500 dolar. Uang warisan tersebut seluruhnya dalam bentuk kertas berwarna hitam. Tersangka kemudian mencucinya dengan cairan khusus. Bak sulap, uang 100 Dollar Amerika tersebut pun muncul.

“Namun setelah diselidiki sisanya cuma uang kertas karton hitam saja,” ungkapnya. Saat ini Mapolres Bandung Barat mengamankan barang bukti berupa satu kotak hitam. Isinya, kertas karton hitam seukuran uang dollar. Kertas hitam seukuran uang dolar tersebut diikat dengan pita kuning bertuliskan “100 USD Defaced Bills”. Tersangka saat ini masih dalam pemeriksaan aparat polisi.

“Untuk mencairkan seluruh uang tersebut, tersangka juga sempat meminta uang sebesar 180 ribu dolar,” ungkapnya. Hendra, si korban penipuan pun mesti gigit jari. Pasalnya, dari uang US 500 dolar yang sudah disulap tersebut dirinya hanya kebagian sekitar US 200 dolar saja. Sisanya diambil oleh kawan Walter Lordgate.

**

Saya tersenyum simpul. Bukan karena familiar dengan beritanya tapi saya merasa familiar dengan nama si pelaku, Walter Lordgate. Saya pernah melihat nama tersebut. Nama yang tertera dalam kartu United Nation palsu yang saya temukan di meja makan beberapa waktu lalu. Nama yang juga tertera di kartu keanggotaan fitness center di Kelapa Gading.

Apakah Walter Lordgate yang ada di dalam berita adalah Walter Lordgate yang saya kenal? Apakah Walter Lordgate dalam berita adalah Jordan? Apalagi Jordan pernah bercerita bahwa dulu dia sempat tinggal di Bandung dan sangat mengenal Bandung dengan baik. Ummmm….. sayang berita tersebut enggak dilengkapi dengan foto dan hanya detik.com saja yang memberitakan kejadian tersebut.

Jakarta, 19 Januari 2015

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Coretan Kedua: Teori Kedua, Partner In Crime

Fictional writing 

Teori kedua, Jeanny Tan adalah partner in crime Jordan dalam menjalankan bisnis abal-abalnya tersebut. Tugas si business partner biasanya mempersiapkan dokumen, menyiapkan hotel untuk targeted client, mencari client dan bahkan menyiapkan rekening bank untuk menampung uang dari hasil penipuan dan mengambil uang di bank dari hasil penipuan.

Seperti pada berita-berita yang dimuat oleh media massa pada umumnya, banyak perempuan Indonesia yang mau jadi partner in crime dari scammer asal Afrika Barat. Biasanya perempuan-perempuan macam ini, alias yang bisa diperdaya, adalah mereka yang malas bekerja dan ingin kaya instan.

Apalagi Jakarta adalah salah satu kota dengan living cost yang sangat tinggi di Indonesia. Biaya hidup tinggi, gaya hidup jor-joran. Akhirnya orang sikut sana sini untuk menikmati kemewahan hidup yang notabene hanya memberi kenikmatan hidup sesaat.

Nah kalau mental kita enggak kuat, maka penipuan atau korupsi bisa jadi jalan pintas untuk kaya instan baik bagi penipu kelas coro ampai kelas kakap, dari kelas kroco sampai konglomerat. Mereka enggak enggan tipu sana-sini.

Bicara tentang Jeanny Tan sebagai partner in crime Jordan, saya jadi ingat salah satu berita yang dimuat oleh tempo.co berjudul “Penipuan Online, Komplotan Afrika Punya Cara”.

Dalam berita tersebut, Bapak Komisaris Jerry Raimond yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit III Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, mengatakan bahwa komplotan scammer Afrika enggak bekerja sendirian, biasanya mereka mengajak beberapa perempuan Indonesia dengan cara menikahi atau memacari mereka.

Jangan kaget ya kalau sebenernya ternyata enggak sedikit dari mereka yang ternyata udah nikah di negara mereka. Tapi buat mbak-mbak ini, ya sudahlah toh dia kasih saya duit dan berada di pelukannya saya lebih lama ketimbang dengan istrinya.

Anyway, mbak-mbak pacar atau istri scammer ini pun kerap diminta untuk membuat KTP dengan nama palsu, perusahaan fiktif dan juga rekening bank palsu untuk menerima uang hasil penipuan tersebut. Tentu saja, si perempuan akan mendapatkan imbalan dari hal tersebut. Gede lho imbalannya bisa 5 juta rupiah sekali transaksi. Bayangkan kalau ada 4 transaksi saja dalam satu bulan? Dua puluh juta datang tanpa harus sekolah tinggi ataupun kerja keras.

Nah cara ini pun sebenernya sudah digunakan para drug dealer yang memanfaatkan perempuan Indonesia menjadi kurirnya. Enggak bedalah caranya. Sebelas dua belas.

Nah kalau toh Jeanny Tan adalah partner in crime Jordan maka Jeanny Tan harus berhati-hati. Kenapa? Biarkan saya bercerita di sini.

Pada tahun 2013, saya mengenal seorang perempuan bernama Yanti. Saya bertemu dengannya dua kali saja. Saya enggak terlalu kenal dengan Yanti, perempuan berbadan besar tersebut. Saya pun sempat menghadiri ulang tahunnya bersama dengan Jordan dan bertemu dengannya di salah satu restaurant di Mega Kuningan. Namun meskipun demikian, saya enggak terlalu mengenalnya.

Menurut cerita Jordan, dulu Yanti adalah asistan Flori, seorang agen visa khusus untuk orang Afrika Barat di Petamburan, Jakarta. Namun sejak Yanti mengenal dan berpacaran dengan orang Afrika, Yanti mulai membantu pacarnya untuk menampung uang hasil dari menipu atau mencuri.

Uang pun mulai mengalir bak aliran sungai Eloprogo yang keruh. Harta bergelimangan padanya. Mbak Yanti pun mulai menghiasi tubuhnya dengan emas dan berlian dari atas ke bawah. Maklum seperti kata pepatah Jawa “Kere munggah bale”, mbak Yanti ingin menunjukkan kesuksesannya dengan perhiasan tersebut.

Namun ada satu yang janggal daripada mbak Yanti. I don’t see happiness in her face. I wonder why? Does she feel insecure? Insecure about what? Is it because she is involved in a dirty business and police can arrest her and her boyfie anytime and anywhere? Well, perhaps!  Mungkin itu yang dia pikirkan.

Beberapa minggu yang lalu, Jordan semoat bercerita bahwa mbak Yanti ditangkap polisi. Sayangnya, suami atau pacar atau apalah itu panggilannya sedang kembali ke Nigeria. Lebih gilanya, sejak penangkapan mbak Yanti, si pacar enggak pernah memunculkan batang hidungnya sama sekali. While she was in jail, she was abandoned. Nobody paid a visit. They are afraid to be the next target of police. 

Keadaan tersebut membuat mbak Yanti depresi dan akhirnya meninggal dunia dalam penjara. O Lord… may she rest in peace. Somehow I understand. Brengsek betul si pacar. For the sake of love, she did everything for the beloved one without knowing that he is just another jerk. But what can we say? Easy comes, easy goes! In the end of the day, greed would bring you no where.

Nah kalau Jeanny Tan adalah partner in crime Jordan, apakah Jeanny Tan pemilik nomor handphone di kartu nama Stephanie Bilwa? Bisa jadi! Jadi kalau Jeanny Tan maka dia harus menyadari resiko dari bisnis kotor tersebut.  Belajarlah dari yang sudah-sudah karena saya yakin Jordan enggak akan melindunginya kalau Jeanny Tan sampai terjerat kasus hukum. Belajarlah dari kasus mbak Yanti.

Tapi entah mengapa saya merasa bahwa Jeanny Tan terlalu dungu untuk jadi partner in crimenya Jordan. She would spill the beans everywhere as we have seen it. Dia pun begitu menurut, melakukan segala sesuatu yang Jordan perintahkan mulai untuk berhati-hati dalam memposting tweet, berhenti meneror saya dan juga mulai bawel tentang keberadaan Facebook Jordan :-).

Namun itulah teori kedua saya, Jeanny Tan adalah partner in crime Jordan, which is unlikely.

Jakarta, 14 Januari 2015

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Coretan: Teori Pertama, Mugu

Fictional writing

Awalnya saya enggak berpikiran bahwa Jeanny Tan adalah potential client Jordan. Saya sama sekali enggak kepikiran sampai hal itu hinggu suatu hari Jeanny Tan sendiri memposting sebuah twitter yang mengatakan bahwa saya adalah clientnya Jordan. Akh yang benar saja? Well bisa jadi.

Saya pun sering merasa bahwa Jordan dekat dengan saya karena keuangan saya. Memang, saya enggak kaya tapi saya cukup murah hati dalam memberikan uang atau barang pada orang yang saya anggap baik pada saya atau kekurangan. Namun setiap kali saya menanyakan hal tersebut pada Jordan, dia selalu marah dan membantah. Tapi mana ada maling ngaku, ya toh?

Saya masih ingat ketika Jordan menunjukkan black money scam pada pertemuan kami kedua. Malam itu, Jordan membawa selembar kertas putih yang kemudian berubah menjadi selembar uang 100 USD. Saya mengernyitkan dahi saya. Apakah betul itu uang asli?

Saya pun menanyakan pada rekan kerja saya yang bertugas di kejaksaan agung. Mas Budi tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita saya dan menasehati saya untuk berhati-hati. Bahkan lebih baik menyingkir. Hanya orang rakuslah yang bisa jadi korban akan penipuan tersebut. Saya pun menolak tawaran the-so-called business opportunity dari Jordan tersebut.

Nah ketika saya mencoba menanyakan apakah dia mencoba menipu saya dengan black money scam, Jordan mengatakan pada saya bahwa dia hanya memberitahu saya agar berhati-hati dengan penipuan tersebut. Akh… apakah saya percaya begitu saja? Tentu saja enggak. Lagipula sekali lagi saya katakan mana ada maling ngaku!

Namun sepertinya Jordan pun enggak menyerah. Dia pun kembali mendekati saya dengan cara yang sangat manis. Saya masih ingat Jordan pernah mengatakan pada saya pada awal pertemuan kami bahwa dia enggak akan berteman dengan saya kalau saya enggak punya apa-apa. Lalu enggak lama setelah itu, Jordan pun pernah mengatakan pada saya bahwa dia sangat senang berteman dengan saya because he still can maintain his lifestyle.

Meskipun enggak dinyatakan secara blak-blakan, saya paham maksud dia apalagi hampir enggak pernah dia mengeluarkan uang sepeserpun ketika kami makan malam. Bahkan untuk membayar juru parkir, saya pun harus merogok kocek saya. Gila! Tapi enggak tahu kenapa it’s always fine by me to spend the money. Mungkin saya menemukan suatu kenyamanan dengan Jordan. Well, bisa dibilang mungkin saya sudah menyewa a male escort alias gigolo selama ini.

Nah bicara soal Jeanny Tan, ada kemungkinan bahwa Jeanny Tan adalah mugu alias client alias korban. Namun kali ini, sepertinya Jordan menggunakan romance scam untuk mendapatkan uang dari perempuan ini. Entah apa yang akan Jordan dapatkan dari Jeanny Tan. Saya belum tahu. Namun hal ini mengingatkan saya pada salah satu client Jordan bernama Melani Hoang dari Vietnam pada awal tahun 2014.

Setiap kali  Jordan menerima telepon dari perempuan berusia 50 tahun tersebut, ia bersikap sangat manis sekali pada perempuan tersebut melalui telepon. Saya pun mulai cemburu. Saya mencoba mencari tahu bisnis apa yang dia lakukan. Saya pun mensabotase bisnis kotornya tersebut. Sejak saat itu, Jordan enggak pernah menceritakan tentang clientnya kembali.

Tapi kalai melihat Jeanny Tan, dia punya apa? Sepertinya duitnya enggak banyak. Itu pun hanya kesimpulan yang saya buat dengan bertemu dengannya sekali di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Begitu pula dengan outfit yang dia gunakan, she does not seem to have a good sense of fashion.  Bahkan dia belanja tas palsu di Mall Artha Gading di salah satu counter milik adik ipar Jordan.

Atau mungkin keluarganya lah yang jadi target Jordan? Well, itupun enggak menutup kemungkinan. Apalagi melihat dari beberapa foto Facebook miliknya dan adiknya. Apakah Jeanny pemilik mobil Camry itu? Bisa. Bisa jadi. Itulah alasan Jordan dekat dengan Jeanny Tan. Enggak lain enggak bukan untuk urusan uang semata. Enggak mungkin urusan hati.

Hal ini pun dikuatkan dengan pernyataan Michael, adik Jordan pemilik Bag Wardrobe Shop, yang mengatakan bahwa Jeanny Tan hanyalah customer yang selama tiga tahun terakhir ini membeli tas di toko istrinya. Enggak lebih dari itu.

Well, saya semakin yakin bahwa Jeanny Tan adalah mugu Jordan. Selama tiga tahun lebih saya jalan sama Jordan, saya tahu selera Jordan. Jordan enggak akan dating dengan the-so-called ibu-ibu kalau untuk urusan hati dan ranjang. At least, itulah yang berulang kali dia katakan pada saya. Dia sudah punya satu ibu-ibu di rumah yaitu Stephanie. Istrinya. Ibu dari Princeton dan Michaelangelo.

Bahkan untuk urusan hati, Jordan mengatakan bahwa Stephanie is the love of his life and will never leave her no matter what. Saya menghargai kejujurannya akan hal itu. Saya enggak bisa memaksa orang lain untuk bersama saya atau mencintai saya ketika saya mendengar hal itu dari mulutnya. Namun saya jadi merasa kasihan dengan Jeanny Tan yang sepertinya memang jatuh hati pada Jordan sampai-sampai dia mengirim SMS teror pada saya berulang kali, mencaci saya, memaki saya tanpa kenal siapa saya.

Lebih parahnya, Jeanny Tan sepertinya merasa insecure dengan kepribadian saya karena saya bisa bertahan dengan Jordan hingga lebih drai tiga tahun lamanya. Dia mencoba melakukan apa yang saya lakukan mulai dari memasak untuk Jordan, berolah raga bersama, pergi ke tempat saya clubbing bahkan sampai berpakaian yang mini-mini dan terus menerus mengutib ayat alkitab.

Come on… Why do you have to feel insecure? All those ugly details are in your life, it is a proof that you are a human. It shows that you are a real person. So you should be proud with who you are and your own capability. You don’t need to copy me or anybody. Be yourself! You can easily find a man, who know your worth and love you sincerely. 

Bukan cuma itu saja, saya melihat bahwa Jeanny Tan baru saja ngeadd Novita Obasanjo, istri Michael yang notabene adalah pemilik Bag Wardrobe Shop. Menurut analisis saya, mungkin Jeanny Tan ingin paham kehidupan mereka. Mungkin Jeanny ingin punya nama lengkap Jeanny Tan Obasanjo juga. Mungkin. Mungkin saja. Namanya juga cinta. Seorang perempuan cenderung mengharapkan suatu outcome positive ketika mereka menjalin sebuah intimate relationship.

Jujur saja, saya bukan cemburu melihat Jeanny Tan jalan dengan Jordan tapi saya merasa kasihan. Toh saya melihat sendiri bagaimana Stephanie berulang kali mengingatkan Jordan bahwa dia memiliki anak dan istri yang menunggunya di Lagos. Jeanny Tan enggak lebih dari sekedar mugu.

Saya paham betul dengan apa yang disebut dengan romance scam setelah ngobrol dengan beberapa korban romance scam yang saya temui di kantor polisi beberapa waktu yang lalu. It’s a heartless game. Romance scam is a betrayal of trust game. In the end of the day, you would lose a lot of things that you have worked for and have your heart broken. You heart and your love, you will lose it. Trust me!

Scammer akan menunjukkan bahwa dia adalah sesosok yang nyata dan apa adanya. Dia menunjukkan bahwa dia adalah sesosok yang karismatik. Bukan cuma itu saja, dia juga akan mengundang si korban ke apartmenynya untuk menunjukkan jati dirinya. Setelah berada digenggamnnya, Jordan akan mengatakan pada si korban bahwa jangan sampai ada yang tahu di mana mereka kerap menginap as it is their comfort zone, enggak akan ada perempuan lain yang datang ke sana.

Yang menarik adalah baik security maupun management enggak tahu identitas asli Jordan. Maklum kartu identitasnya banyak bak intel aja. Nah…. setelah mendapatkan kepercayaannya, Jordan akan mulai menggerogoti harta si korban.

Lebih gila lagi, Jordan akan memastikan bahwa si korban, dalam hal ini Jeanny Tan, agar terpisah dari kawan-kawannya yang mungkin akan mempengaruhi dia. Dari situlah Jordan akan terus menerus menguasai pikiran si korban untuk memberikan sesuatu untuknya, apalagi kata-kata Jordan kerap pedas. Saya akui bahwa Jordan memiliki kemampuan komunikasi persuasif yang luar biasa.

Pernah suatu kali saya mendengar bahwa Jordan mengatakan pada Jeanny Tan bahwa dia akan selalu melindunginya. Ya tentu saja, dia akan melindungi korbannya dari scammer yang lain demi keuntungannya sendiri. Sekalipun Jordan enggak mendapatkan banyak uang tapi dia akan mendapatkan beberapa barang yang bisa diuangkan. Uang tersebutlah yang akan dikirim pada istrinya di sana.

Well, well, well! Apa yang telah dilakukan Jeanny Tan selama ini pada saya memang sangat keterlaluan. Kalau dia diduakan dan dijanjikan surga oleh Jordan, kenapa marahnya pada saya? Kenapa saya yang dianggap pengganggu? Ya begitulah perempuan kalau dibutakan oleh cinta. Padahal cinta si lelaki hanyalah cinta palsu. Banyak sekali perempuan Indonesia yang telah jadi korban romance scam baik dilakukan oleh orang kita sendiri maupun orang asing, tapi mereka enggak mau diingatkan.

Saya jadi teringat sebuah film berjudul “The Other Woman” yang dibintangi oleh Cameron Diaz. Dalam film tersebut, tiga orang perempuan dipermainkan oleh seorang playboy yang notabene sudah menikah. Ia menjanjikan surga pada mereka semua. Make a long story short, ketiga perempuan tersebut akhirnya memberi pelajaran pada si playboy sang penipu. Perempuan mana yang mau dimadu. Ya toh?

Tapi sepertinya perempuan rasional seperti itu jarang dalam kehidupan nyata. Walaupun kalau saya diajak untuk ngerjain Jordan, tentu saja saya mau. Jadi, kalau Jordan memang playboy dan bajingan seharusnya kami memberinya pelajaran. Oh well but love is blind. 

Banyak perempuan lebih memilih jahat pada perempuan lain karena cemburu dan egois. Jadi mungkin dalam pikiran Jeanny Tan buat apa ngerjain Jordan karena dia cinta mati sama Jordan. Pertanyaan saya adalah apakah Jordan mau diadd di Facebook oleh Jeanny Tan, tentu saja melalui akun Facebook Jordan yang asli? Apakah pernah Jordan menunjukkan surat cerai resmi dengan Stephanie? Kalau belum lalu apa yang dipertahankan dengan Jordan? Apakah Jordan pernah menunjukkan suatu komitmen jangka panjang? Masa depan pun enggak ada. Apalagi uang?! Oh what a crazy world we are living! 

I can tell you all of these because I fell into his trap! Maka enggak salah kalau Jordan mengatakan bahwa saya adalah clientnya meskipun pada akhirnya Jordan jatuh hati pada saya karena saya nyata dan apa adanya. Tapi kalau memang benar saya adalah clientnya, anggap saja saya sudah menyewa a male escort selama ini. “Toh, tante cukup senang kok dengan pelayan kamu!”

Itulah teori pertama saya, Jeanny Tan enggak lebih dari seorang mugu.

Jakarta, 14 Januari 2015

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Coretan: Teka Teki tentang Jeanny Tan

Fictional Writing 

“Saya belajar banyak dari hubungan kita. Mulai sekarang, saya akan setia pada istri saya Stephanie. Saya enggak akan menjalin intimate relationship dengan perempuan lain lagi.” kata Jordan pagi itu.

Saya terdiam mendengar ucapan Jordan. Saya mendengar ketulusan dan kesungguhannya. Namun pernyataan tersebut mengingatkan saya akan pernyataan mbak Kartika tentang laki-laki Afrika di Indonesia.

“Cuma ada dua alasan kenapa laki-laki Afrika jalan sama perempuan Indonesia, either dijadiin sebagai mugu alias client untuk dimanfaatin duitnya atau partner in crime dan fuck buddy. Jarang dari mereka yang bisa berteman dengan perempuan Indonesia tanpa motivasi tertentu.”

“Kenapa gue bisa bilang kayak begitu? Gue udah jalan sama beberapa laki-laki Afrika sebelumnya. Bukan cuma satu aja. Enggak jarang juga lho kalau sebenernya si laki-laki Afrika ini sebenernya udah nikah dan punya istri dan anak di negaranya. Lebih gilanya, enggak jarang si istri membiarkan suaminya tidur sama perempuan lain as long as they send the money home!” kata mbak Kartika.

Memahami penyataan Jordan dan mbak Kartika, saya jadi teringat akan Jeanny Tan yang selama ini mengganggu saya melalui puluhan SMS teror. Who is she exactly? I met her once but I still had no clue because she lied. Jeanny Tan enggak cerita apa adanya tentang siapa dia. Saya merasa bahwa dia telah didikte oleh seseorang. Well, saya punya tiga teori tentang Jeanny Tan.

Teori pertama Jeanny Tan adalah mugunya Jordan alias targeted client. Teori kedua Jeanny Tan adalah partner in crime Jordan. Teori ketiga Jeanny Tan adalah suruhan Nuningtyas untuk menggangu saya. Semua teori itu memungkinkan.

Dari ketiga teori tersebut, saya yakin bahwa Jeanny Tan adalah mugu Jordan.  I can read the plot of the story. I am familiar with it. The story how I fell into Jordan’s hand. The plot story of romance scam dengan memanfaatkan pesona dan karisma sebagai laki-laki religious dan athletic. As they said, there is nothing new under the sun. Saya sudah bisa membacanya.

Jakarta, 14 January 2015 

signature

Leave a comment

Filed under Coretan

Photo: Istanbul in Frame 2

My first sunrise of Istanbul [2014: E O]

My first sunrise of Istanbul [2014: E O]

Christmas mass in in Sent Antuan Church [2014: E O]

Christmas mass in in Sent Antuan Church [2014: E O]

Mother Mary in The Holy Church of Wisdom, Hagia Sophia [2014: E O]

Mother Mary in The Holy Church of Wisdom, Hagia Sophia [2014: E O]

Hagia Sophia is where Islam and Christian met [2014: E O]

Hagia Sophia is where Islam and Christian met [2014: E O]

Under the blue sky, there is a blue mosque of Sultanamet [2014: E O]

Under the blue sky, there is a blue mosque of Sultanamet [2014: E O]

Inside the Grand Bazaar of Istanbul [2014: E O]

Inside the Grand Bazaar of Istanbul [2014: E O]

The view of Istanbul [2015: E O]

The view of Istanbul [2015: E O]

.

signature

Leave a comment

Filed under Photo

Coretan: Pertemuan di Jumat Kliwon

Fictional Writing 

Seperti biasa, Jumat malam adalah waktu bagi saya untuk clubbing, menutup akhir pekan dengan bersenang-senang dan pesta pora. Menari di lantai dansa, minum beberapa gelas margarita atau lychee martini dan keesokan paginya sakit kepala tujuh keliling. Itulah yang saya lakukan hampir setiap minggu. Kalau kurang puas, pesta pun akan berlanjut pada Sabtu malam.

Enggak seperti biasanya, enggak tahu kenapa malam ini rasanya saya males banget untuk ke bilangan Senayan. Bilangan di mana saya biasanya menghabiskan Jumat malam dan menyabut Sabtu pagi.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 11: 25 malam. Saya masih menimbang-nimbang antara tidur di rumah atau clubbing. Kalau tidur, rasanya kok ada yang kurang tapi kalau saya clubbing, saya kok merasa sangat lelah.

Entahlah! Saya biarkan waktu berlalu sembari chatting dengan Mariana Siswanto, salah seorang kawan lama dari bangku sekolah dasar di Yogyakarta. Kami hanya ngobrol selama dua puluh menit lamanya melalui Yahoo Messenger. Membosankan, pikir saya. Lebih baik saya bersenang-senang di lantai dansa, pikir saya.

Saya pun beranjak dari ruang kerja, menuangkan segelas red wine merlot lalu memilih salah satu little black dress yang tergantung dalam wardrobe saya. Saya pikir lebih baik saya menggunakan one shoulder long sleeve little black dress dan sepasang Nine West mary jane black pump shoes dengan heels setingga 12 centimeter. I love high heels. It makes me tall and I feel so confident about myself. 

Sembari saya bersiap-siap, Party Rock Anthem dari LMFAO yang sedang ngehits pun saya putar untuk pemanasan. I hope it’s gonna be another fabulous night! kata saya dalam hati. I am ready and I am set to go.

Saya meminta security untuk memanggil taksi untuk saya. Tak lama saya menunggu, taksi Blue Bird mengantarkan saya ke bilangan Senayan dengan cepat. Tak kurang dari 15 menit, kami tiba di kawasan Senayan. Namun, kali ini saya bingung antara memilih clubbing di salah satu night club di Plaza Arcadia atau di Plaza Senayan.

Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk menilik club malam di Plaza Arcadia, toh ini masih pagi. Kalau terlalu sepi atau membosankan, saya tinggal berjalan kaki ke Plaza Senayan karena partynya lebih asyik. Toh enggak ada lima menit.

Seperti Jumat, Jumat sebelumnya, saya selalu clubbing seorang diri. Saya malas kalau harus mencari free entry karena terlalu ngoyo. Lagipula, saya clubbing  hanya untuk membunuh kelelahan setelah lima hari bekerja. Selain itu, saya enggak clubbing untuk mencari pacar atau lelaki tapi untuk bersenang-senang.

Maklum saya kesepian, pacar saya berada di benua Australia enam bulan terakhir ini dan hubungan kami udah cukup lama renggang. Kami banyak bertengkar meskipun kami sedang menyiapkan pernikahan kami. Jadi daripada saya bersusah hati lebih baik saya bersenang-senang di lantai dansa.

Malam ini sepertinya saya minum terlalu banyak. Bahkan tanpa sadar, saya membayar pekerja seks komersil untuk ngobrol dengan saya hingga akhirnya dia mendapatkan seorang kustomer. Saya pun kembali kesepian. Saya memutuskan untuk ke club malam di lantai empat di  Plaza Senayan

Saya berjalan dengan hati riang dan senyum di wajah saya. Tentu saja, saya senang dan senyum karena saya sudah mabuk. Entah berapa banyak lychee martini yang sudah saya teguk malam itu di Plaza Arcadia.

Masuk ke lantai empat Plaza Senayan, saya pun kembali memesan segelas margarita. Malam ini, Equinox cukup ramai. Rupanya mereka sedang menggelar fashion show. Lantai dansa pun sesak. Semua orang berpesta pora.

Melihat sesaknya lantai dansa, saya mencari meja untuk bersandar sementara untuk meletakkan minuman saya.

“Hi…” kata seorang berkulit hitam dengan sepasang sunglasses menutupi kedua matanya. Sunglasses di night club? Really? pikir saya.

“Hi” saur saya singkat. “Wanna dance with me?” tanya saya sambil meletakkan cocktail glass di atas meja di mana ia bersandar. “Ya… why not!” katanya. Saya enggak tahu namanya.

Kami berdua hanyut dalam hingar bingar musik hiphop dan R&B di Equinox. Pria berkulit hitam legam tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Jordan Smith, asal Barbados. Barbados? tanya saya dalam hati. What the hell is he doing here? Saya belum  pernah mengenal seseorang dari Carribean kecuali Dominic, salah seorang kawan saya dari Couch Surfing yang saya temui di Thailand tahun lalu.

Anyway, Jordan, begitulah saya mengenalnya, mengaku bekerja sebagai seorang pengacara bagi pebisnis asing yang mencari business partner di Indonesia. Sebagai seorang pengacara, Jordan mengaku bahwa dia sempat menempuh pendidikan di New York City Amerika Serikat. Entah dari kampus mana. Saya juga enggak tahu dia bekerja dengan law firm mana.

But who cares! I just wanna have fun and I am pretty drunk. Yet, it indeed he got me interested to get to know him more. 

“FYI, saya udah punya tunangan dan saya cuma bersenang-senang saja malam ini.” kata saya dengan sedikit berteriak.

But I don’t have enough cash to pay you,” jawabnya. “I have seen you around many times here,” teriaknya di telingaku.

Saya mengernyitkan dahi, tercengang mendengar ucapannya. Jadi Jordan pikir saya pekerja seks komersial? Lucu! Well, let’s play his game then, kata saya dalam hati.

Well, we can stop in ATM machine and you can withdraw some cash. FYI, I just wanna have fun in five star hotels,” kataku menantangnya.

“Bagaimana kalau di mobil saya,” jawabnya menggoda. Akh kere! Membayar hotel saja enggak bisa apalahi membelikan saya segelas lychee martini, pikir saya. Lebih baik saya bawa pulang saja dia.

“Tempatku saja,” bisik saya nakal sambil mencium lehernya. Jordan menyetujui.

Namun sebelum meninggalkan club, Jordan sempat bertanya apakah dia bisa membawa adiknya atau enggak karena dia datang bersamanya. Saya mengiyakan. Adiknya memperkenalkan diri sebagai William. Entah apa yang dia lakukan di sini. Dia hanya berdiam diri sepanjang perjalanan.

Sementara itu, Jordan bercerita bahwa dia adalah duda beranak dua. Dia mengaku bahwa dia menikah dengan perempuan Amerika dan kedua anaknya tinggal di Amerika Serikat. Di J-town, Jordan mengaku tinggal di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Rute Sudirman, Gatot Subroto lengang malam ini. Mobil hatchback putih ciptaan perusahaan Henry Ford pun melaju kencang ke bilangan Kuningan. Malam semakin larut. Kepala saya semakin pening. Kami berbincang dan tertawa. Setibanya kami di lantai 16, kami tenggelam dalam dosa selama satu jam lamanya.

Mata saya terbelalak. Batang hitam pertama bagi saya. Bukan hanya itu, bonus tiga buah kelereng terpatri di dalam batang tersebut pun membuat saya ketakutan. Alkohol pun menguasai saya. Saya hanya menikmati apa yang dia berikan malam ini.

Sabtu Legi pukul 4 pagi, Jordan meninggalkan rumah saya setelah meneguk segelas Baileys dari dapur saya. Begitulah kami saling mengenal pada Jumat Kliwon di bulan Mei 2011.

Istanbul, 01012015

signature

Leave a comment

Filed under Coretan