Category Archives: Indonesia

Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Buku atau Internet?

Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Tetapi di jaman modern ini, sebenarnya selain buku, internet juga merupakan jendela dunia. Kita dapat berselancar ke mana pun kita mau tanpa batas. Kita bisa melihat dunia dan mengenyam ilmu hanya dari balik layar komputer selama terhubung dengan koneksi internet.

Saya sendiri berkenalan dengan internet pada tahun 2000. Sejak kenal dengan internet, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses internet, entah untuk berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia atau membaca berbagai macam artikel. Melalui internet, saya dapat mempelajari kehidupan manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk urusan pekerjaan. Saya sangat menyukai internet. Saya gila internet.

Namun sayangnya, informasi di internet terlalu banyak dan berserakan di mana-mana. Tidak terstruktur dan bahkan susah dibuktikan kebenarannya apalagi informasi di internet bisa dipublikasi oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Belum lagi informasi-informasi tersebut bisa dihapus oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Itulah internet sebagai jendela dunia.

Meskipun gila akan internet, saya ternyata lebih menyukai buku ketimbang internet. Kenapa? Karena setidaknya saya tahu siapa yang menulisnya. Tapi sayang saya agak kurang rajin membaca walaupun saya suka membaca.

Sejak kecil, saya suka membaca tapi saya enggak punya banyak koleksi buku. Saya pun jarang pergi ke perpustakaan di sekolah. Tapi….  saya sering ke “Taman Bacaan Tintin”, sebuah perpustakaan keliling yang menyewakan komik. Paling sering saya menyewa komik serial cantik :-).

Menginjak bangku SMA, saya mulai suka membaca novel apalagi sekolah saya dekat dengan Gramedia. Ketika banyak orang suka membaca tulisan Fira Basuki, saya lebih suka baca nover terjemahan karya  novelis Inggris Barbara Cartland. Barbara Cartland menawarkan cerita cinta dengan setting di kerajaan Inggris. Asyik, seru! Tulisannya membawa imajinasi saya ke dalam cerita tersebut.

Selain Barbara Cartland, saya juga suka tulisan Paulo Coelho. Penulis asal Brazil ini menawarkan berbagai refleksi kehidupan dengan tokoh utama perempuan. Menariknya lagi, Coelho selalu membawa sosok Bunda Maria dalam cerita-cerita spiritualnya.

Jujur saja, saya enggak terlalu banyak membaca tulisan anak bangsa saat itu. Kenapa? Saya enggak tahu mana yang bagus. Saya enggak tahu siapa penulis Indonesia yang bagus.

Suatu hari, saya mulai berkenalan dengan tulisan anak bangsa. London Wild Rose karya Kusuma Andrianto. Dari situ saya baru menyadari bahwa tulisan orang Indonesia enggak kalah hebatnya dengan tulisan orang asing. Saya pun mulai membaca tulisan karya Rendra, Ahmad Tohari, A.A Navis, Ayu Utami dan juga Djenar Maesa Ayu.

Tapi seperti yang sayang bilang tadi, saya kurang rajin membaca. Kadang baca, kadang enggak. Saya lebih banyak mengakses internet daripada baca buku. Nah belum lama ini, saya mulai berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer. Saya baru berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer di usia saya yang ke 27. Ke mana saja selama ini? Payah ya?! Biarlah!

Meskipun demikian enggak ada kata terlambat. Saya pun keranjingan mebaca tulisan Pram… Seru! Asyik! Menarik!  Sayangnya buku-buku Pram yang asli susah didapatkan. Kalaupun ada, saya harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Tapi enggak masalah, saya enggak suka membaca buku palsu. Sebagai penulis, saya enggak suka buku saya dipalsukan. He he he.

Bisa dibilang bahwa, tulisan Pram membuat saya mengenal Indonesia lebih baik. Tulisannya dikemas secara apik dan sederhana tapi penuh makna. Apa artinya mengenal dunia luar kalau saya enggak mengenal Indonesia sama sekali?! Ya toh?! Tapi ya tapi…. saya juga harus mengerti apa yang terjadi di luar sana secara seimbang.

Bagi saya buku dan internet adalah sumber informasi yang saling melengkapi. Internet merupakan sumber referensi akan informasi sedangkan buku memberikan penjelasan akan suatu isu secara mendalam. Di jaman modern ini, mau tak mau kita harus menggunakan internet, si jendela dunia, to keep ourself updated. Tapi bukan berarti kita harus melupakan buku sebagai jendela dunia untuk memahami isu secara mendalam. FYI, I don’t like reading ebook : -) 

Kalau belum suka membaca buku, mulailah dari sekarang. Enggak ada kata terlambat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Indonesia: President Joko “Jokowi” Widodo

signature

Leave a comment

Filed under Indonesia

Catatan: Berpendapat

Saya ini… payah! Sejak duduk di bangku sekolah lalu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya selalu takut untuk berpendapat. Saya takut kalau saya salah. Saya takut kalau pendapat saya bodoh. Dua hal tersebut membuat saya cenderung mengunci mulut saya di tengah-tengah diskusi dengan topik menarik. Padahal apa salahnya kalau kita salah, apakah pendapat mereka sudah pasti benar? Lalu kenapa saya berkecil hati…?!

Mungkin karena saya merasa jelek, item, kriting dan krempeng. Kombinasi ideal untuk menjadi jelek untuk masyarakat kita yang mengidealkan bahwa cantik itu, putih, kurus dan berambut lurus panjang. Dari situ, saya kerap berpikir bahwa saya takut untuk diejek. “Udah jelek, bodoh pula!“. Enggak tahu kenapa hal tersebut menjadi suatu masalah besar bagi saya.

Tetapi kebiasaan saya menulis buku harian sejak kecil membuat saya berani berpendapat melalui tulisan. Dari buku harian yang sifatnya pribadi, saya menemukan internet forum lalu kemudian blog saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas (2003/2004).

Waktu itu, internet masih merupakan barang mahal. Untuk mengakses internet, saya harus ke internet cafe dan mengeluarkan Rp 4,000 per jam untuk dapat mengakses internet. Di situ saya menemukan dunia saya, saya bisa berpendapat tanpa orang tahu bagaimana bentuk muka saya, warna kulit saya atau jenis rambut saya. Saya enggak takut diejek karena penampilan fisik saya yang jauh dari definisi cantik.

Toh, orang enggak bisa melihat foto diri saya. Maklum waktu itu kamera digital belum terlalu populer untuk mengambil foto diri ribuan kali. Apalagi  foto selfie, istilah itu pun sepertinya belum ada. Kalau mau foto masih pakai roll film atau harus ke studio atau photo box.

Tahun 2005, saya pun menemukan multiply.com. Saya kembali menemukan ruang di mana saya bisa berbagi tentang berbagai macam hal, mulai dari catatan harian pribadi, pendapat saya tentang topik hangat, foto atau musik. Saya pun membangun pertemanan virtual dengan orang-orang yang sama sekali enggak saya kenal.

Meskipun pertemuan hanya terjadi secara virtual saja tapi saya merasa tahu mereka dari tulisan mereka atau postingan mereka. Ada yang suka traveling, ada yang suka memasak lalu berbagi resep makanan. Ada yang suka nonton film, ada juga yang suka photography. Ada yang suka politik, ada juga yang suka belajar bahasa dan budaya.

Bisa dikatakan bahwa berbagai macam diskusi tentang ide dan pikiran pun terbangun di antara para blogger. Yang menarik adalah enggak ada yang 100% benar atau 100% salah. Bahkan, seingat saya jarang netizen yang sangat amat defensive waktu itu atau saya jarang menemukan akun bodong yang bertujuan untuk menipu atau menyerang pihak-pihak tertentu.

Bukan hanya itu, saya pun bisa belajar dari orang lain apalagi kebanyakan dari para blogger tersebut, usianya jauh lebih tua dari saya, jadi mereka sudah banyak makan garam. Saya belajar bahwa pikiran orang itu macam-macam, saya belajar untuk memberi kesempat orang lain untuk berpendapat dan menghargai pendapat orang lain sekalipun saya enggak setuju.

Pada tahun 2006/2007, saya mulai bertemu dengan mpers (blogger pengguna multiply) di Yogya. Pertemanan terbentuk, meskipun kemudian kami jarang bertemu. Belum lagi multiply yang kemudian berubah menjadi e-commerce platform, lalu almarhum alias tutup. Walhasil  saya jarang ngeblog dan berinteraksi dengan kawan-kawan blogger.

Jujur saja, meskipun saya sudah blogging selama satu dekade, saya masih takut membuka mulut saya untuk berpendapat di tengah orang-orang yang enggak saya kenal dekat. Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau saya terdengar bodoh?  Bahkan sebagai kuli tinta, saya lebih memilih melakukan ‘wawancara ekslusif’ dengan narasumber karena saya enggak akan terlihat bodoh di mata orang lain. Payah sekali! Ya…. saya ini payah!

Saya iri dengan mereka yang berani mengungkapkan pendapat tanpa takut mereka salah. Saya iri dengan mereka yang cenderung lantang dan berpikir kritis dalam berdiskusi.

Hal ini membuat saya bertanya, apakah ketakutan saya ini karena saya orang Jawa dan cenderung nrimo? Kalau itu sih enggak ada hubungannya! Atau apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari dunia pendidikan kita yang enggak mengajarkan siswa untuk berdiskusi sejak dini? Apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari pendidikan kita di mana guru atau dosen HARUS digugu dan ditiru serta selalu benar karena mereka adalah guru? Well bisa jadi. Dan ini harus diubah agar siswa enggak takut berpendapat dan dapat membangun diskusi yang kritis di kemudian hari.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Indonesia dan Rohingnya

Dukungan online terhadap pemerintah Indonesia untuk menerima dan menampung etnis Rohingnya terus meningkat setelah mereka tidak mendapatkan tempat di Myanmar, Thailand dan Malaysia.  Sementara itu warga  Syiah di Sampang, warga Ahmadiyah di Lombok dan Jawa Barat dan juga masyarakat Papua, yang notabene adalah warga negara Indonesia, terus usir dari negaranya / tempat tinggal mereka sendiri. Hak konstitusi mereka sebagai warga negara tidak terakomodasi.

Belum lagi politisi dari partai agama yang selama ini cenderung mendukung diskriminasi terhadap warga Syiah dan Ahmadiyah sekarang meminta pemerintah Indonesia untuk membantu warga Rohingnya atas nama Pancasila. Pancasila yang sekarang mungkin hanya tinggal teori semata.

Memang atas dasar kemanusiaan kita harus membantu mereka, tapi seberapa jauh kita harus membantu mereka, seberapa lama kita harus membantu mereka lalu bagaimana dengan saudara kita sendiri yang terusir dari negeri ini? Ironi!

signature

1 Comment

Filed under Catatan, Indonesia

Indonesia Has Decided: President Jokowi and VP JK

Vox populi, vox Dei [2014: EO]

Vox populi, vox Dei [2014: EO]

Leave a comment

Filed under Indonesia

Indonesia: Jogja Istimewa

Jogja Jogja tetap istimewa

Istimewa negerinya istimewa orangnya

Jogja Jogja tetap istimewa

Jogja istimewa untuk Indonesia
Rungokno iki GATRA seko Ngayogyakarta

Negeri paling penak rasane koyo swargo

Ora peduli dunyo dadi neroko

Ning kene tansah edi peni lan mardiko
Tanah lahirkan tahta, TAHTA UNTUK RAKYAT

Di mana rajanya bersemi di Kalbu rakyat

Demikianlah singgasana bermartabat

Berdiri kokoh untuk mengayomi rakyat
Memayu hayuning bawono

Seko jaman perjuangan nganti merdeko

Jogja istimewa bukan hanya daerahnya

Tapi juga karena orang-orangnya
Tambur wis ditabuh, suling wis muni

Holopis kuntul baris ayo dadi siji

Bareng poro prajurit lan senopati

MUKTI utowo mati manunggal kawulo gusti
Menyerang tanpa pasukan

Menang tanpa merendahkan

Kesaktian tanpa ajianKekayaan tanpa kemewahan
Tenang bagai ombak gemuruh laksana merapi

Tradisi hidup di tengah modernisasi

Rakyatnya njajah deso milang kori

Nyebarake seni lan budhi pekerti
Elingo kabare Sri Sultan Hamengku Buwono Kaping IX

Sakduwur-duwure sinau kudune dhewe tetep wong jowo

Diumpamake kacang kang ora ninggalke lanjaran

Marang bumi sing nglairake dewe tansah kelingan
Ing ngarso sung tulodoIng madya mangun karso

Tut wuri handayaniHolopis kuntul baris ayo dadi siji
Sepi ing pamrih rame ing nggawe

Sejarah ning kene wis mbuktikake

Jogja istimewa bukan hanya tuk dirinya

Jogja istimewa untuk Indonesia

Leave a comment

Filed under Indonesia