Category Archives: Indonesia

Jakarta: Pasar Pocong

Mrs. Atun has been a traditional herbal drinking beverage jamu seller for decades in Pasar Pocong, Jakarta [2015: EO]

Mrs. Atun has been a traditional herbal drinking beverage jamu seller for decades in Pasar Pocong, Jakarta [2015: EO]

Selama lima tahun tinggal di Jakarta, baru beberapa bulan terakhir ini saya dolan ke Pasar Pocong, sebuah pasar tradisional di Kelurahan Menteng Atas. Hampir setiap pagi saya ke Pasar Pocong untuk  berbelanja kebutuhan sayur dan buah-buahan. Selain untuk mendapatkan sayuran dengan harga lebih murah, saya pun bisa berinteraksi dengan para pedagang dan mengetahui cerita masyarakat yang bekerja di luar gedung perkantoran maupun pusat perbelanjaan di Jakarta. Cerita masyarakat biasa yang mungkin jarang saya dengar di food-hall shopping center, bar atau restaurant-restaurant di Ibu Kota.

Enggak jarang para pedagang bertanya pada saya mengapa saya lebih memilih untuk ke pasar seorang diri ketimbang meminta pembantu saya untuk berbelanja, termasuk Mbak Tatik, seorang pedagang buah asal Klaten, Jawa Tengah “Ngapain mbak ke pasar? Kan bisa nyuruh pembantunya ke sini.

Saya bilang ke Mbak Tatik bahwa dari dulu saya memang suka ke pasar tradisional untuk berinteraksi dengan masyarakat pada umumnya. Selain karena harganya lebih murah ketimbang belanja di supermarket seperti FoodHall atau Farmer Market, saya pun juga bisa kenal mbak Sri pedagang sayur, Bu Atun penjual jamu dan Mbak Gethuk penjual tiwul.

Dari mereka, saya bisa tahu kapan harga pangan naik dan turun, saya bisa tahu apakah akan mempengaruhi penjualan mereka dan lebih tahu kehidupan orang-orang yang mencari uang di luar gedung kantor atau shopping center.Mana bisa saya berinteraksi dengan para pelayan di supermarket yang cenderung jutek setiap kali melayani pelanggan.

Memang sayuran di pasar tradisional enggak seindah atau sebersih sayuran di supermarket. Bahkan saya harus mencucinya berulang kali saking kotornya. Belum lagi, akhir-akhir ini saya mulai kecewa karena brokoli, daun mint, cilantro dan beet roots cepat busuk. Sayangkan kalau dibuang begitu saja?

Jujur aja, saya sebenernya sempat berpikir untuk berhenti belanja di pasar tradisional karena buang-buang uang. Harga murah tapi cepat busuk. Buat apa? Namun, saya tahu bahwa saya tetap ingin ke sana untuk mendengarkan cerita para pedagang Pasar Pocong.

Untung aja setelah berbagi cerita ini melalui Facebook, beberapa kawan saya di Facebook menyarankan agar saya merendam sayuran tersebut ke dalam air es selama satu jam. Sayuran tersebut kemudian dibungkus di dalam koran lalu di lemari es. Dengan begitu, sayuran akan tetap segar.

Nah dengan begitu, saya enggak perlu khawatir untuk belanja sayuran di pasar tradisional lagi dan terus mendengarkan cerita para pedagang pasar yang diiringi dengan lantunan musik dangdut dari pedagang MP3 di Pasar Pocong.

signature

2 Comments

Filed under Indonesia

Notes: Women’s Voices

Bali Undercover by Malcolm Scott [2015:EO]

Bali Undercover by Malcolm Scott [2015:EO]

When I published “Bule Hunter: Money, Sex and Love”  in September 2014, I received a stream of criticism in the net from many people. I would have understood that they criticized my book after they read it but they have not. They criticized it based on some media coverages. Those are including many Indonesian  women, who are in relationship with Western Men and feel offended with my writing as well as other people are who simply narrow minded.

Some of them said that it was just a bunch of gossip, some of them said that it’s not a journalism work because it’s very subjective yadda yadda yadda (Well honey, it’s hard to find an objective journalism work these days. Media is controlled by companies who are linked to govt). Anyway, there were big wave of nasty comments coming toward me. It was terrifying! 

Frankly, I was shocked reading those comments. I refused to read further for few weeks. But I must say that I am grateful because  those haters actually  inspired me  to write my next book.

So when I went to  Times Bookstore in Plaza Singapura, I saw this book and purchased one. I read nearly half of the book within few hours over few glasses of Chardonnay. Since I read the title, I already assumed that it would have similar content to my book Bule Hunter. And YES IT IS!

It talks about Indonesian women, Western men, Indonesian men, western women,money, sex and  relationship. However, it seems nobody attacking the Australian author Malcolm Scott. At least, I didn’t hear about it.

Is it because the author is a man? Is it because the author is a Westerner? Or is it because he choose a soft title instead of Bule Hunter?! Or is it because it’s written in English and doesn’t get a lot of media exposure in Indonesia (if I understand correctly)?

Oh well, we are still living in an era and place where women can hardly say their voices loudly and bluntly! 

signature

1 Comment

Filed under Indonesia, Jakarta, Notes, Review

Notes: Sustainable Business Practice in Indonesia

During Soeharto administration, the Indonesian government had little or no interest in sustainable business practice because it was just gonna benefit the ordinary people and it would not benefit the elites.

Meanwhile, the elites did not care about the condition of workers, environment, jungle, the local community or the urban poor *reflection from Indonesian Haze problem and conversation with former Adidas’s sweatshop worker.

signature

Leave a comment

Filed under Indonesia, Jakarta, Notes

Indonesia: Foreign Investors and Sustainable Business

It seems that the Indonesia government doesn’t want to or cannot impose sustainable business practices tomorrow because foreign investors would not come meanwhile Indonesia wanst to have foreign investment in the country because it helps to create job.

On the other hand, Indonesia government desperately wants sustainable business practice appear because unsustainable business practice damages the country and harm the workers. Dilemma!

signature

Leave a comment

Filed under Indonesia

Brief: Why Religious Violence Occured in Indonesia

This is an interesting analysis about the possibility of Saudi Arabia and ISIS merger. It actually reminds me of my interview with prominent scholar a year ago. We talked about who might have been financing extremist group in Indonesia.

Indonesian media outlets have been reporting about the attack and the execution of  Ahmadiyya and Shia community in these past five years. Some of them also attacked the Christian community throughout the country.

He pointed out that Saudi Arabia has funded those extremist group with purpose to have many Wahabi and/or Sunni followers because the majority of Indonesia population is Islam followers. However he does not have the written evidence about it but he had a chance to see it with his own eyes.

Having said that it is good to know how the extremist got finance at the first and how the religious violence has been fabricated at the first place. The following questions are how much they get funded? Who received the money?

Sadly, religion is just a political tool to obtain as well gain power for certain group of people so they can get both financial and political benefit. Meanwhile religion actually offers a plenty of good teaching and its follower taking it seriously.  Ironic!
signature

Leave a comment

Filed under Indonesia

Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Buku atau Internet?

Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Tetapi di jaman modern ini, sebenarnya selain buku, internet juga merupakan jendela dunia. Kita dapat berselancar ke mana pun kita mau tanpa batas. Kita bisa melihat dunia dan mengenyam ilmu hanya dari balik layar komputer selama terhubung dengan koneksi internet.

Saya sendiri berkenalan dengan internet pada tahun 2000. Sejak kenal dengan internet, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses internet, entah untuk berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia atau membaca berbagai macam artikel. Melalui internet, saya dapat mempelajari kehidupan manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk urusan pekerjaan. Saya sangat menyukai internet. Saya gila internet.

Namun sayangnya, informasi di internet terlalu banyak dan berserakan di mana-mana. Tidak terstruktur dan bahkan susah dibuktikan kebenarannya apalagi informasi di internet bisa dipublikasi oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Belum lagi informasi-informasi tersebut bisa dihapus oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Itulah internet sebagai jendela dunia.

Meskipun gila akan internet, saya ternyata lebih menyukai buku ketimbang internet. Kenapa? Karena setidaknya saya tahu siapa yang menulisnya. Tapi sayang saya agak kurang rajin membaca walaupun saya suka membaca.

Sejak kecil, saya suka membaca tapi saya enggak punya banyak koleksi buku. Saya pun jarang pergi ke perpustakaan di sekolah. Tapi….  saya sering ke “Taman Bacaan Tintin”, sebuah perpustakaan keliling yang menyewakan komik. Paling sering saya menyewa komik serial cantik :-).

Menginjak bangku SMA, saya mulai suka membaca novel apalagi sekolah saya dekat dengan Gramedia. Ketika banyak orang suka membaca tulisan Fira Basuki, saya lebih suka baca nover terjemahan karya  novelis Inggris Barbara Cartland. Barbara Cartland menawarkan cerita cinta dengan setting di kerajaan Inggris. Asyik, seru! Tulisannya membawa imajinasi saya ke dalam cerita tersebut.

Selain Barbara Cartland, saya juga suka tulisan Paulo Coelho. Penulis asal Brazil ini menawarkan berbagai refleksi kehidupan dengan tokoh utama perempuan. Menariknya lagi, Coelho selalu membawa sosok Bunda Maria dalam cerita-cerita spiritualnya.

Jujur saja, saya enggak terlalu banyak membaca tulisan anak bangsa saat itu. Kenapa? Saya enggak tahu mana yang bagus. Saya enggak tahu siapa penulis Indonesia yang bagus.

Suatu hari, saya mulai berkenalan dengan tulisan anak bangsa. London Wild Rose karya Kusuma Andrianto. Dari situ saya baru menyadari bahwa tulisan orang Indonesia enggak kalah hebatnya dengan tulisan orang asing. Saya pun mulai membaca tulisan karya Rendra, Ahmad Tohari, A.A Navis, Ayu Utami dan juga Djenar Maesa Ayu.

Tapi seperti yang sayang bilang tadi, saya kurang rajin membaca. Kadang baca, kadang enggak. Saya lebih banyak mengakses internet daripada baca buku. Nah belum lama ini, saya mulai berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer. Saya baru berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer di usia saya yang ke 27. Ke mana saja selama ini? Payah ya?! Biarlah!

Meskipun demikian enggak ada kata terlambat. Saya pun keranjingan mebaca tulisan Pram… Seru! Asyik! Menarik!  Sayangnya buku-buku Pram yang asli susah didapatkan. Kalaupun ada, saya harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Tapi enggak masalah, saya enggak suka membaca buku palsu. Sebagai penulis, saya enggak suka buku saya dipalsukan. He he he.

Bisa dibilang bahwa, tulisan Pram membuat saya mengenal Indonesia lebih baik. Tulisannya dikemas secara apik dan sederhana tapi penuh makna. Apa artinya mengenal dunia luar kalau saya enggak mengenal Indonesia sama sekali?! Ya toh?! Tapi ya tapi…. saya juga harus mengerti apa yang terjadi di luar sana secara seimbang.

Bagi saya buku dan internet adalah sumber informasi yang saling melengkapi. Internet merupakan sumber referensi akan informasi sedangkan buku memberikan penjelasan akan suatu isu secara mendalam. Di jaman modern ini, mau tak mau kita harus menggunakan internet, si jendela dunia, to keep ourself updated. Tapi bukan berarti kita harus melupakan buku sebagai jendela dunia untuk memahami isu secara mendalam. FYI, I don’t like reading ebook : -) 

Kalau belum suka membaca buku, mulailah dari sekarang. Enggak ada kata terlambat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia