Category Archives: Catatan

Catatan: Selingan Indah Keluarga Utuh, Masak?

Benarkan jika saya salah! [2014: E N U]

Benarkan jika saya salah! [2014: E N U]

Benarkan jika saya salah…

Bicara soal perselingkuhan, perselingkuhan sepertinya bukan sesuatu yang asing lagi di jaman modern ini. Perselingkuhan seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa bagi semua kalangan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, baik mereka yang hidup di kota maupun di desa, baik bagi si kaya atau si miskin, dan bahkan untuk si terpelajar dan bukan. Baik selebritis, pejabat atau bahkan orang biasa. Atau justru bagi si religius dan si atheis.

Perselingkuhan seolah-olah sudah menjadi obrolan biasa di bar, restaurant atau malah di warteg. Jadi enggak heran lagi kalau isu perselingkuhan juga sudah kerap menjadi headline di berbagai media baik elektronik maupun cetak.

Bahkan…. perselingkuhan seolah sudah menjadi hal yang biasa bagi setiap hubungan, baik bagi mereka yang masih pacaran, baru menikah atau bahkan sudah bertahun-tahun menikah. Hanya karena satu alasan KETIDAKPUASAN. Ketidakpuasan batin, ketidakpuasan seksual dan ketidakpuasan materi. Maklum… manusia selalu tidak puas akan apa yang mereka miliki. Bukankah begitu?

Lucu ya… di jaman yang semakin modern ini dan di jaman yang katanya semakin beradab, kita manusia seolah-olah sudah enggak ada lagi yang peduli soal norma sosial atau norma agama yang mengatur tentang arti sebuah kesetiaan dalam sebuah hubungan. Banyak yang masa bodoh dan cuek dengan yang namanya nilai dan norma. Tapi toh, norma dan nilai juga manusia  sendiri yang membuatnya sehingga membuat kita berbeda dengan binatang. Bukankah begitu?

Namun saya ingin bertanya pada kamu, kamu, kamu, ya aku bertanya pada kalian… dan saya sendiri tentunya tentang  bagaimana bagi perasaan mereka yang menjadi korban perselingkuhan ketika mereka tahu bahwa mereka telah diselingkuhi? Atau bagaimana perasaan mereka yang terjadi menjadi selingkuhan orang yang sudah mempunyai hubungan?  Well… menurut saya yang pasti patah hati tentunya. Marah. Kesal. Namun semuanya itu relatif. Tergantung.

Lalu apa pendapat kamu, kamu dan kalian semua tentang mereka yang berselingkuh? Hummm…. jujur saja, saya enggan untuk menghakimi karena saya sendiri pernah diselingkuhi dan berselingkuh. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Mister Jesus dalam injil Yohanes 8 ayat 7 yang selalu saya dengar dalam lagu Get Back Up oleh T.I. Mas Jesus mengatakan “Let he without sin cast the stone first The sinner or the one who judged him, who was wrong first?

Maaf bukan bermaksud menjustifikasi perselingkuhan tapi bagi saya enggak ada untungnya menghakimi mereka yang melakukan kesalahan karena mereka punya alasan masing-masing. Lagian kita toh belum tentu sempurna.

By the way, perselingkuhan sepertinya sudah terjadi sejak jaman dahulu di setiap peradaban. Lagian, apa artinya kesetiaan tanpa kebahagiaan? Makanya manusia berselingkuh. Bukankah begitu? Well, benarkan jika saya salah…

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Hedonisme & Penipuan Online 3

Masih ngomongin hedonisme dan penipuan online. Saya pengen ngomongin tentang uang legal atau dalam bahasa Indonesia-nya uang halal. Belum lama ini saya berkunjung ke Canada, the land of immigrants. Dalam suatu perjalanan, saya berbicara dengan seorang supir taksi asli Ghana.

Ghana? Afrika Barat? tanya saya dalam hati. Hal tersebut mengingatkan saya akan kawan saya, si mr. scammer. Saya pun terusik untuk bertanya, apa yang membawanya ke Kanada? Apakah dia bahagia dengan apa yang dia lakukan?

I want to improve my life financially that is why I moved to Canada. I’m blessed that I can get this job (taxi driver) here. I earn enough money to live a normal life and also I can save some money for family back home.” kata Mr. Driver. “Even some people would look down on what I am doing but I am happy with it,” tuturnya.

Saya pun terusik untuk bertanya pada Mr. Scammer, apakah dia tertarik untuk tinggal di Amerika? Kalau ya, apa yang kira-kira akan dia lakukan? Apakah kamu akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan di Indonesia alias menawarkan investasi bodong? Bagaimana kalau mencoba pekerjaan legal, menjadi personal trainer di fitness center misalnya atau jadi supir taksi? Dengan sombongnya, dia menjawab “Kamu pikir aku kelas rendahan?

Ha ha ha ha lucu sekali pikir saya! Mental orang pemalas yang ingin kaya instan tapi hidup hura-hura. Inilah dosa masyarakat kita yang telah mengelompokkan manusia berdasarkan kelas sosial mereka. Belum lagi mengelompokkan orang berdasarkan pekerjaan mereka, di mana pekerjaan tertentu lebih bermartabat ketimbang pekerjaan lain.

Saya jadi inget obrolan saya dengan  seorang supir taksi asal India ketika saya tiba di Toronto minggu lalu. Meskipun telah tinggal di Kanada selama 35 tahun lamanya, dia baru bekerja menjadi seorang supir taksi selama 6 terakhir ini. Sebelumnya dia bekerja di sebuah rumah sakit, entah bagian apa. Menariknya,  dia sama sekali enggak malu bekerja sebagai supir taksi. “Di sini, kami dimanusiakan meskipun kami supir taksi,”

Saya tersentuh mendengar ucapannya. Tapi lagi-lagi itu kembali ke individualnya masing-masing, apa yang sesungguhnya mereka cari. Bukankah begitu?

Anyway beberapa minggu terakhir ini saya mendapatkan SMS teror dari penggemar saya. Jujur aja, bukannya saya enggak tahu siapa si peneror tapi biarlah dia melakukannya sampai lelah sendiri. Saya pun pernah bertemu dengannya, dia membenci saya sampai tingkat dewa!

Alasannya? Karena dia enggak suka saya dekat dengan Mr. Scammer. Saya pikir, mungkin dia salah satu the-so-called business partnernya yang telah dikadali Mr. Scammer. Mungkin, dia jatuh hati pada si boss namun kemudian dia ditolak. Udah ditolak, tahu-tahu, Mr. Scammer dekat dengan saya pula. Kalau begitu, kenapa marahnya sama saya? Harusnya marahnya pada si lelaki toh?

Lagipula ya mbak terrorist, kalau boleh saya bilang…. tuan scammer kan udah punya anak dan istri, apa yang mau diharapin? Duit pun enggak punya! Belum lagi njenengan dimanfaatkan, kenapa marahya pada saya? Oh well…. mungkin dia rela menjadi perempuan kedua demi alasan tertentu. Entah apapun itu, saya juga enggak ngerti.

Jujur aja ya, saya justru ngerasa kasihan pada si mbak terrorist ini. Menurut analisis saya, si Mr. Scammer telah menawarkan imaginative life seperti yang ada di film-film Hollywood, menawarkan cinta semu sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan uang. Gimana enggak?

Kalau dugaan saya bener bahwa mbak terrorist adalah perempuan yang pernah saya temui di Jakarta Utara, saya mungkin paham kenapa dia menginginkan Mr. Scammer, mungkin dia merasa insecure and lack of confidence about herself.  Porposi berat badannya yang berlebihan dan usianya sudah menginjakkan kepala tiga namun masih single. Belum lagi, Mr. Scammer tampan dan seksi yang seolah-olah mengidam-idamkannya.

Ya tentu saja si mbak terrorist ini klepek-klepek dibuatnya. Ganteng, seksi and sok living American dream pula! Ya toh? Makanya dia insecure dan terus-terusan meneror saya. Lucu ya?! Saya malah merasa punya fans. Niat banget lagi sampai gonta-ganti nomor.

Anyway, saya senang berkawan dengan Mr. Scammer. Kenapa? Saya belajar banyak tentang kehidupan yang enggak bisa saya temui dari orang-orang yang hidup di jalan yang lempeng atau bangku sekolah. Tapi jujur aja, saya kesel saat tahu dia enggak ada keinginan untuk mengubah jalan hidupnya untuk melakukan pekerjaan legal sehingga dia bisa dihargai oleh orang lain tanpa dihantui perasaan bersalah.

Tapi ya mau apa dikata? Toh, setiap orang punya jalan hidup masing-masing kan? Demi memenuhi gaya hidup hedonisme, dia sampai hati tipu kanan-kiri. Sangat menyedihkan!

…….

Sambil menulis blog ini, saya sedang duduk di ruang tunggu Kantor Polres Metro Jakarta-Selatan. Seorang ibu berpakaian batik bercerita pada saya bahwa dia baru saja kehilangan uang 40 juta Rupiah untuk investasi bodong, kemungkinan besar pelakunya adalah orang Afrika. Akh brengsek betul scammer-scammer itu! Memangnya duit metik? Kata saya dalam hati!

Tamat.

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Hedonisme & Penipuan Online 2

They are all talking about money [2014:E O]

They are all talking about money [2014:E O]

Suatu hari, saya punya seorang kenalan yang udah lama banget menikmati uang panas hasil penipuan online dengan investasi bodong. Bahkan dia udah melakukan aksinya di berbagai belahan dunia mulai dari Afrika Barat, India, Dubai dan Indonesia.

Gaya hidupnya hedon. Koleksi baju bermerek fashion terkemuka berderet di lemarinya. Mulai dari Emporio Armani, Dolce & Gabbana, Hugo Boss, Kenzo, Roberto Cavalli bahkan sampai Valentino. Belum lagi koleksi sepatu dan jam tangannya.

Jujur aja ya…. Setiap kali saya ngeliat orang dengan pakaian mahal, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri ‘pekerjaannya apa ya kok bisa beli barang-barang mahal seperti itu?’ Eh usut punya usut ternyata dia adalah seorang scammer yang melakukan bisnis investasi bodong dengan memanfaatkan orang-orang rakus yang ingin kaya instan atau perempuan-perempuan kesepian tapi berduit.

Bahkan dia mengaku bahwa dia kerap memanfaatkan orang-orang tersebut, terutama perempuan Indonesia untuk keuntungan pribadinya mulai dari apartment, mobil, uang bensin, komputer bahkan sepiring makanan. Apalagi dia tampan dan cukup lihai dalam berbicara meskipun dia sangat arogan. Jadi enggak heran kalau kemudian banyak perempuan Indonesia yang jatuh hati padanya dan bersedia memberikan apapun untuknya.

Saya pun kembali bertanya, apa sih sebenernya motivasinya melakukan hal tersebut? Jawabannya kemiskinan, kemalasan dan gaya hidup hedonisme. Dia pengen hidup bak rapper-rapper America dengan uang bergelimang. Belum lagi adanya orang-orang rakus yang ingin kaya instan. So there is a supply and demand.

Saya inget banget saat pertama kali saya mengenalnya. Dia sempat mengatakan pada saya bahwa dia enggak bakal hang out sama saya kalau saya enggak punya uang. Belum lagi, dia mengatakan bahwa koleksi baju saya, yang notabene saya beli di Plaza Semanggi atau Ambassador Mall, adalah koleksi baju murahan.

Dia lalu mengenalkan saya pada merek-merek fashion terkemuka mulai dari Armani Exchange, Massimo Dutti, Calvin & Klein, Dolce & Gabbana bahkan Valentino. Tentu saja bukan barang palsu.

Sejak saat itu, saya enggak pernah lagi membeli baju di Ambassador Mall atau Plaza Semanggi karena takut diejek (feel free to judge me tho). Lihat saja koleksi baju saya mulai dari DKNY, Armani Exchange, Versace, Roberto Cavalli, Manolo Blahnik sampai Christian Louboutins. Yes! You are right! I am also victim of hedonism lifestyle anyhow! Yet, I am changing now :-) Eittss bukan uang dari scammer lho! Uang halal ini mah!

Saya menemukan sebuah kenyamanan dengan pakaian-pakaian mahal tersebut, saya mendapatkan senyuman yang ramah dari pelayan restaurant, high end fashion boutique dan lain-lain. Bahkan kalau saya sedang jalan-jalan di Plaza Indonesia, saya kerap disapa oleh pelayan toko tersebut setiap kali berpapasan. Mereka tahu nama saya.

Bahkan saya kadang-kadang heran ketika menggunakan pakaian tersebut, saya selalu berkata pada diri saya sendiri “Wah gila…. Total rupiah yang saya gunakan dari atas sampai bawah hampir lebih dari 20 juta” (bukan bermaksud pamer tapi saya sendiri juga heran chyin…)

Tapi lama-lama saya capek juga setiap kali dia bicara soal kelas. Dia selalu bicara bahwa kita berbeda dengan mereka yang miskin, tinggal di kos-kosan atau menggunakan pakaian tidak bermerek. Bukankah kebanyakan teman-teman saya hidup demikian? Bukankah narasumber yang saya temui adalah mereka dari kelas menengah ke bawah.

Ah…. Saya tahu, saya bukan orang yang peduli dengan kelas sosial tersebut. Jadi saya enggak pernah pedulikan apa kata dia tentang kelas sosial. Di Jakarta, saya ini hanya pegawai biasa, mencari yang dengan menulis. Pendapatan bulanan lumayanlah tapi enggak bisa untuk beli barang-barang mewah terus terusan. Kapan nabungnya kalau begitu?!

Ngomong-ngomong soal gaya hidup hedonisme dan uang instan, banyak berita tentang perempuan Indonesia yang menjadi the-so-called business partner para scammer, yang kebetulan orang Afrika, yang bertugas untuk menerima uang hasil kejahatan mereka atau pura-pura menjadi petugas bea cukai.

Dalam pemberitaan tempo.co yang berjudul “Penipuan Online, Komplotan Afrika Punya Cara”, Bapak Komisaris Jerry Raimond yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit III Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bilang bahwa komplotan scammer Afrika enggak bekerja sendirian, biasanya mereka mengajak beberapa perempuan Indonesia dengan cara menikahi atau memacari mereka (walaupun sebenernya ternyata enggak sedikit dari mereka yang ternyata udah nikah di negara mereka chyin)

Anyway, mbak-mbak pacar atau istri scammer ini pun kerap diminta untuk membuat KTP dengan nama palsu, perusahaan fiktif dan juga rekening bank palsu untuk menerima uang hasil penipuan tersebut. Tentu saja, si perempuan akan mendapatkan imbalan dari hal tersebut. Gede lho imbalannya.

Nah… Jakarta, kota metropolitan dengan biaya hidup tinggi dan gaya hidup ‘jetset’ membuat orang-orang mau melakukan apa saja demi uang. Mengutip lagu bang Iwan Fals Opiniku … “Namun kadang kala ada manusia yang seperti binatang bahkan lebih keji dari binatang. ll Tampar kiri kanan, alasan untuk makan. Padahal semua tahu dia serba kecukupan. Himpit kiri kanan, lalu curi jatah orang peduli sahabat kental kurus kering kelaparan”

Bahkan the-so-called business partner scammer ini ada juga yang rela meninggalakn pekerjaan mereka demi investasi bodong ni. Heran deh demi uang instan yang enggak tahu berapa lama akan mengalir. Ya toh? Apa yang bisa dibanggakan dengan melakukan kejahatan ini? Uang?

Nah belum lama ini, saya mendapatkan kabar bahwa polisi menangkap seorang perempuan Indonesia yang selama ini bekerja sebagai business partner scammer orang Afrika.

Kabarnya, sejak penangkapannya, si pacar enggak pernah menggunjunginya sama sekali sampai-sampai si mbak ini mengalami depresi berat di penjara dan akhirnya meninggal dunia dalam waktu kurang dari dua bulan. (May she rest in peace) Bukankah itu menyedihkan?

…. bersambung

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Hedonisme & Penipuan Online 1

Teknologi mempermudah terjadinya cyber crime [2014:EO]

Teknologi mempermudah terjadinya cyber crime [2014:EO]

Pernah enggak sih kamu denggar  istilah romance scam, Nigerian scam, military scam, Facebook scam atau black money? Atau… pernah enggak sih kamu dapet email berisi tawaran bisnis bernilai jutaan dollar Amerika Serikat?

Atau…. pernah juga dapet friend request seorang warga negara asing yang mengaku anggota militer atau pebisnis dengan wajah yang sangat amat tampan? Well…. semuanya merupakan sebagian kecil  bentuk  dari internet fraud atau penipuan online yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia. Pelaku penipuan tersebut biasanya disebut sebagai scammer.

Dari berbagai bentuk internet fraud yang terjadi, romance scam merupakan bentuk penipuan online yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir ini dengan sasaran korban yang mayoritas adalah perempuan. Maklum bagi scammer, perempuan adalah obyek paling mudah untuk dimanipulasi, apalagi manipulasi perasaan. Walaupun ada juga laki-laki yang menjadi korban.

Menurut informasi dari berbagai sumber di internet, romance scam adalah sebuah penipuan yang dilakukan oleh seseorang dengan memanipulasi perasaan seseorang yang sedang membutuhkan kasih sayang dari seseorang untuk mendapatkan keuntungan finansial sehingga si pelaku dapat mendapatkan akses keuangan, rekening bank atau kartu kredit seseorang. Tapi perlu dicatet nih bahwa sebenernya romance scam bukanlah modus penipuan baru.

Sejak masyarakat memiliki akses internet dan melek teknologi, social media dan dating site kerap dijadakan sarana  oleh para pelaku romance scam. Biasanya si scammer bakal nyolong foto bule tampan dengan seragam tentara, foto artis Hollywood atau bahkan foto polisi Indonesia yang ganteng dari internet (so hati-hati kalau upload foto ya!), lalu  menggunakan foto hasil curian dengan untuk melakukan aksinya.

Menurut saya, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, internet merupakan sebuah dolanan baru. Masyarakat belum teredukasi secara baik bagaimana menggunakan internet. Masyarakat masih cenederung menggunakan internet untuk ‘bermain’ social media untuk berkawan ketimbang menggunakannya sebagai media pembelajaran. Walaupun perlu dicatet bahwa enggak semuanya begitu.

Jadi bisa dibilang, perempuan mana yang yang berbunga-bunga kalau dapat friend request dari cowok ganteng. Belum lagi kalau si cowok ternyata single, romantis dan kaya pula? Siapa yang enggak klepek-klepek? Ya kan…?

Setelah berkenalan, si pelaku akan melakukan aksinya dengan bersikap romantis, memberikan panggilan sayang seperti ‘baby, honey, sweetheart, sayang atau cinta’; memberikan harapan palsu akan sebuah pernikahan yang sempurna bak dalam film Hollywood.

Biasanya pelaku mengatakan pada si korban bahwa mereka akan mengirimkan sebuah hadiah bernilai ratusan sampai jutaan USD namun korban diminta untuk membayar bea cukai. Di sinilah para pelaku mulai melakukan aksi penipuan mereka.

Tahun lalu tempo.co melansir beberapa berita tentang penipuan online di Indonesia. Pada bulan Maret 2013, Polisi Polda Metro Jaya menangkap sepasang suami istri, Mathias Udhie (25)  warga negara Nigeria, dan Waraswati (36) yang telah melakukan penipuan terhadap seorang pengusaha garmen asal Indonesia dengan total kerugian Rp 1,78 miliar.

Menariknya Komisaris Jerry Raimond yang saat itu menjabat sebagai Kepala Unit III Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bilang bahwa komplotan penipuan online banyak dilakukan oleh warga negara Afrika yang sebagian besar adalah warga negara Nigeria, Liberia dan Kamerun.

Selain itu, Komisaris Jerry juga menyebutkan bahwa komplotan penipu tersebut biasanya tidak bekerja sendirian namun mengajak beberapa perempuan asli Indonesia. Eng… ing… eng!

Meskipun perlu diakui bahwa akhir-akhir ini marak pula penipuan online yang juga dilakukan oleh warga negara Indonesia yang menggunakan foto perwira TNI, anggota POLRI, dokter atau pilot.

Ngeliat fenomena ini, saya enggak mau menggunakan religious approach, bahasa akademik ketinggian atau bahkan membully untuk mengkomentari si korban. Saya jadi penasaran aja, mengapa mereka alias pelaku melakukan hal ini? Mengapa mereka rela menyakiti orang lain demi keuntungan sendiri? Apa motivasi mereka?

Di satu sisi, saya berpikir…. “Well… bukankah kehidupan memang seperti itu? Kita, manusia, akan melakukan apapun untuk perut kita. Namanya juga manusia. Namun namanya juga manusia, rakus. Sekalinya berhasil mereka akan ketagihan terus dan terus. Lalu pada akhirnya, bukan lagi urusan perut tapi urusan gaya hidup.

Saya jadi teringat salah satu lagu bang Iwan Fals berjudul Opiniku. Pernah dengar lagu tersebut?  Begini liriknya.

Manusia sama saja dengan binatang selalu perlu makan. Namun cara berbeda dalam memperoleh makanan ll Binatang tak mempunyai akal dan pikiran segara cara halalkan demi perut kenyang. Binatang tak pernah tau rasa belas kasihan, padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang ll Namun kadanhkala ada manusia yang seperti binatang bahkan lebih keji dari binatang. ll Tampar kiri kanan, alasan untuk makan. Padahal semua tahu dia serba kecukupan. Himpit kiri kanan, lalu curi jatah orang peduli sahabat kental kurus kering kelaparan.

Bisa dibilang bahwa saya menyalahkan media yang kerap mempromosikan atau menggembar-gemborkan gaya hidup hedonisme yang cenderung yang tidak dapat dibayar oleh masyarakat pada umumnya. Mulai dari pakaian seharga 1,000 USD sampai jam tangan seharga 130,000 USD. Orang-orang seolah-olah bangga menggunakan uang dan merek pada tubuh mereka, tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki.

Brengsek betul media, ya toh? Mulai dari televisi, majalah, film bahkan sampai musik. Mereka tidak henti-hentinya bicara masalah uang. Kita, manusia, jadi budak uang! Eittts… saya sendiri juga pekerja di industri media lho!

Belum lagi dengan adanya social media. Orang-orang berlomba-lomba memamerkan apa yang mereka uang yang mereka kenakan melalui foto-foto mereka, baik sengaja maupun enggak sengaja -alesan banget ya?-. Oh don’t get me wrong .. I am no saint, I’ve done that too before or sometimes still. I am only human dawg :-).

Tapi saya menyadari bahwa hal tersebut menimbulkan kecemburuan sosial, membuat kawan  jadi lawan; membuat kita jadi musuh bersama karena kemewahan.

Terus apa kaitannya gaya hidup hedonisme dengan penipuan online termasuk romance scam? Kaitannya adalah baik pelaku maupun korban keduanya telah menjadi korban gaya hidup hedonisme yang selama ini ditawarkan oleh media, yang cenderung berupa imaginative life.

….. bersambung

2 Comments

Filed under Catatan

Catatan: Numpang Hidup sama Mister

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah SMS yang membuat bulu kuduk berdiri lalu tersenyum simpul. Sebuah nomor yang tidak saya kenal, mencaci maki saya. Basically, si pengirim SMS gelap menuduh saya numpang hidup sama suami saya yang notabene adalah bule alias londo alias orang barat. Maklum orang barat sering dianggap sebagai orang kaya oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Berbagai pertanyaan muncul di kepala saya”Who is this?“, “What does she want from me?“, “How does (S)he knows my full name?” Entahlah. Saya pikir enggak ada gunanya untuk menggubris SMS semacam itu.

Lucunya si pengirim SMS gelap sepertinya benar-benar sayang dengan saya. Hari Sabtu kemarin, saya kembali mendapatkan SMS gelap dari nomor  yang berbeda, lagi-lagi nomor saya yang enggak dikenal. Dengan bahasa yang sama, saya menduga bahwa si pengirim adalah orang yang berpendidikan rendah atau bahkan enggak pernah mengenyam bangku pendidikan. Kenapa saya berpikir seperti itu? Mudah saja, saya bisa membacanya dari kalimat dan pemilihan kata yang digunakan.

Si pengirim SMS gelap kembali mencaci saya dengan menyebut saya “pelacur”, “pengangguran” dan “cewek matre”. Belum lagi dia berkata demikian “Lu kan sekelas pembantu. Bisa hidup enak karena laki lu bule.” Kesal dan jengkel namun lagi-lagi saya dibuat tertawa oleh SMS ini. Dicaci kok malah ketawa sih?

Well… tentu saja saya tertawa. Lagi-lagi saya mendengar celetukan org yang sudah termakan stereotype bahwa cewek Indonesia nikah dengan orang Barat hanya untuk numpang hidup. Perempuan Indonesia dengan kulit coklat dan pendek dan menikah/berhubungan dengan bule ‘dimasukkan’ dalam kelas pembantu. Aduh-aduh…. ini kan lucu! Kelas pembantu itu seperti apa sih?

Belum lagi beberapa waktu yang lalu saya baru saja mengeluarkan buku berjudul “Bule Hunter”, sebuah catatan tentang perempuan-perempuan pemburu bule yang selama ini kerap dicap negatif oleh masyarakat baik oleh masyarakat lokal atau oleh orang barat. Entah dicap sebagai gold digger, slut, bertampang babu dan sebagainya.

JUST BECAUSE tuan-tuan londho (orang Barat) kerap dianggap sebagai Paman Gober atau Mesin ATM. And of course, it creates jealousy because ‘perempuan dari kelas pembantu’ mendadak jadi ‘orang kaya’. Padahal belum tahu saja kalau enggak sedikit dari mister-mister tersebut yang juga kere. Ya toh?

Anyway…. lucunya lagi saya dibilang pengangguran. Waduh-waduh ha ha ha. Hanya karena saya ke kantor tidak pakai seragam,  saya dibilang pengangguran. Hanya karena saya dapat bekerja dari rumah dan memiliki office hour yang berbeda, saya dibilang pengangguran. Lucu sekali ini!

Biar kata gaji saya kecil (dibanding gaji suami saya), saya lebih memilih untuk makan hasil keringat saya sendiri. Suatu kebahagiaan ketika saya melihat angka di rekening saya berubah menjelang akhir bulan. I can say to myself ‘That’s my hard work!’. But I think that I owe nobody any explanation. Let them judge me as they want it! However before you judge other, make sure that you are perfect!

signature

2 Comments

Filed under Catatan

Catatan: Penulis “Bule Hunter”

Tentang Penulis “Bule Hunter

Lahir di Yogyakarta, 17 Oktober 1987, Elisabeth Oktofani adalah seorang jurnalis dan penulis yang kini berdomisili di Jakarta.

Lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2010 ini mengawali karier di bidang jurnalistik sebagai pekerja magang sebuah lifestyle magazine di Bali pada pertengahan 2009.

Oktofani kemudian bekerja sebagai kontributor untuk salah satu koran berbahasa Inggris di Jakarta sejak September 2009 dari Yogyakarta sambil menuntaskan kuliah. Pada awal 2010, ia kembali mendapat kesempatan untuk magang di koran tersebut selama tiga bulan.

Pada tahun yang sama, Oktofani mendapatkan beasiswa dari Jakarta Foreign Correspondent Club untuk magang di sebuah kantor berita Amerika Serikat biro Jakarta . Oktofani kemudian menerima tawaran dari salah satu koran berbahasa Inggris untuk bekerja sebagai reporter untuk general news sejak November 2010 dimana ia diberi tanggung jawab untuk meliput isu-isu sosial di Jakarta dan sekitarnya.

Oktofani juga mendapatkan beasiswa fellowship dari FOJO Media Institute selama dua minggu lamanya di Bangkok, Thailand pada bulan Desember 2010. Hampir saja ia melewatkan kesempatan tersebut lantaran kebijakan perusahaan tempat ia baru memulai karier. Untunglah, ia mendapatkan izin untuk mengambil fellowship tersebut sehingga dia tidak melewatkan sebuah kesempatan berharga.

Pada November 2011, Oktofani mengundurkan diri dari harian berbahasa Inggris tersebut dan mulai bekerja sebagai kontributor lepas untuk salah satu media asing dari Amerika Serikat sejak Februari 2012.

Kini, dia bekerja sebagai asisten editor dan kontributor salah satu media outlet yang sedang berkembang di Indonesia.

Kecintaan Oktofani pada dunia tulis menulis dan ketertarikannya pada isu sosial membuat Oktofani senang berkenalan dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan mulai dari pekerja seks, scammer atau waria yang kerap dijauhi oleh masyarakat pada umumnya. Belum lagi pekerjaannya sebagai jurnalis memberinya kesempatan untuk  bertemu aktivis, pemuka agama, penata busana, bankir, pegawai swasta dan juga orang pemerintahan.

Kesempatan untuk mengenal orang-orang dengan berbagai macam latar belakang tersebut membuatnya belajar banyak hal tentang sisi-sisi kehidupan masyarakat secara langsung. Tentu saja bagi penggemar penyanyi rap Tupac Shakur Amaru dan Clifford Joseph Harris ini, hal tersebut memberinya kesempatan untuk mendokumentasikan pengalamannya tersebut melalui tulisan baik dalam bentuk berita maupun blog.

Bule Hunter adalah buku Oktofani pertama yang ditulis dengan metode jurnalistik, yakni melalui riset, wawancara dan observasi lapangan dengan sudut pandang perempuan Indonesia. Selain itu, sebagai perempuan Indonesia yang juga menikah dengan laki-laki dari ras kaukasoid, Oktofani juga menceritakan pengalaman pribadinya sebagai perempuan yang kerap dicap sebagai pemburu bule alias bule hunter.

Baginya, buku ini merupakan sebuah media yang dipersembahkan pada masyarakat Indonesia dan dunia untuk memperkenalkan perempuan Indonesia yang menjalin hubungan kasih atau menikah dengan laki-laki bule. Sehingga mereka tidak lagi mendapatkan stereotipe negatif dari siapa pun.

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Novel

Ada dua hal yang saya suka dalam Catatan Pinggir Goenawan Mohammad yang berjudul Heteroglosia ini yakni:

  1. “Novel adalah medium tempat pelbagai ragam bahasa bisa masuk, karena ia menampung percakapan sehari-hari: dialek daerah, bahasa khas satu kelompok sosial, bahasa dengan istilah profesional, bahasa birokrasi” 
  2. “Heteroglossia Slamet, dengan demikian, bukan sekadar suara yang beragam. Ia mengandung perlawanan kelas yang dibisukan menghadapi kelas yang memonopoli wibawa dan ukuran keindahan. Kesenian Slamet Gundono bukan punya komitmen sosial dalam pesan-pesannya, tapi lebih dalam: dalam pilihan ekspresinya.”

signature

Leave a comment

Filed under Catatan