Category Archives: Catatan

Catatan: Numpang Hidup sama Mister

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah SMS yang membuat bulu kuduk berdiri lalu tersenyum simpul. Sebuah nomor yang tidak saya kenal, mencaci maki saya. Basically, si pengirim SMS gelap menuduh saya numpang hidup sama suami saya yang notabene adalah bule alias londo alias orang barat. Maklum orang barat sering dianggap sebagai orang kaya oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Berbagai pertanyaan muncul di kepala saya”Who is this?“, “What does she want from me?“, “How does (S)he knows my full name?” Entahlah. Saya pikir enggak ada gunanya untuk menggubris SMS semacam itu.

Lucunya si pengirim SMS gelap sepertinya benar-benar sayang dengan saya. Hari Sabtu kemarin, saya kembali mendapatkan SMS gelap dari nomor  yang berbeda, lagi-lagi nomor saya yang enggak dikenal. Dengan bahasa yang sama, saya menduga bahwa si pengirim adalah orang yang berpendidikan rendah atau bahkan enggak pernah mengenyam bangku pendidikan. Kenapa saya berpikir seperti itu? Mudah saja, saya bisa membacanya dari kalimat dan pemilihan kata yang digunakan.

Si pengirim SMS gelap kembali mencaci saya dengan menyebut saya “pelacur”, “pengangguran” dan “cewek matre”. Belum lagi dia berkata demikian “Lu kan sekelas pembantu. Bisa hidup enak karena laki lu bule.” Kesal dan jengkel namun lagi-lagi saya dibuat tertawa oleh SMS ini. Dicaci kok malah ketawa sih?

Well… tentu saja saya tertawa. Lagi-lagi saya mendengar celetukan org yang sudah termakan stereotype bahwa cewek Indonesia nikah dengan orang Barat hanya untuk numpang hidup. Perempuan Indonesia dengan kulit coklat dan pendek dan menikah/berhubungan dengan bule ‘dimasukkan’ dalam kelas pembantu. Aduh-aduh…. ini kan lucu! Kelas pembantu itu seperti apa sih?

Belum lagi beberapa waktu yang lalu saya baru saja mengeluarkan buku berjudul “Bule Hunter”, sebuah catatan tentang perempuan-perempuan pemburu bule yang selama ini kerap dicap negatif oleh masyarakat baik oleh masyarakat lokal atau oleh orang barat. Entah dicap sebagai gold digger, slut, bertampang babu dan sebagainya.

JUST BECAUSE tuan-tuan londho (orang Barat) kerap dianggap sebagai Paman Gober atau Mesin ATM. And of course, it creates jealousy because ‘perempuan dari kelas pembantu’ mendadak jadi ‘orang kaya’. Padahal belum tahu saja kalau enggak sedikit dari mister-mister tersebut yang juga kere. Ya toh?

Anyway…. lucunya lagi saya dibilang pengangguran. Waduh-waduh ha ha ha. Hanya karena saya ke kantor tidak pakai seragam,  saya dibilang pengangguran. Hanya karena saya dapat bekerja dari rumah dan memiliki office hour yang berbeda, saya dibilang pengangguran. Lucu sekali ini!

Biar kata gaji saya kecil (dibanding gaji suami saya), saya lebih memilih untuk makan hasil keringat saya sendiri. Suatu kebahagiaan ketika saya melihat angka di rekening saya berubah menjelang akhir bulan. I can say to myself ‘That’s my hard work!’. But I think that I owe nobody any explanation. Let them judge me as they want it! However before you judge other, make sure that you are perfect!

signature

1 Comment

Filed under Catatan

Catatan: Penulis “Bule Hunter”

Tentang Penulis “Bule Hunter

Lahir di Yogyakarta, 17 Oktober 1987, Elisabeth Oktofani adalah seorang jurnalis dan penulis yang kini berdomisili di Jakarta.

Lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2010 ini mengawali karier di bidang jurnalistik sebagai pekerja magang sebuah lifestyle magazine di Bali pada pertengahan 2009.

Oktofani kemudian bekerja sebagai kontributor untuk salah satu koran berbahasa Inggris di Jakarta sejak September 2009 dari Yogyakarta sambil menuntaskan kuliah. Pada awal 2010, ia kembali mendapat kesempatan untuk magang di koran tersebut selama tiga bulan.

Pada tahun yang sama, Oktofani mendapatkan beasiswa dari Jakarta Foreign Correspondent Club untuk magang di sebuah kantor berita Amerika Serikat biro Jakarta . Oktofani kemudian menerima tawaran dari salah satu koran berbahasa Inggris untuk bekerja sebagai reporter untuk general news sejak November 2010 dimana ia diberi tanggung jawab untuk meliput isu-isu sosial di Jakarta dan sekitarnya.

Oktofani juga mendapatkan beasiswa fellowship dari FOJO Media Institute selama dua minggu lamanya di Bangkok, Thailand pada bulan Desember 2010. Hampir saja ia melewatkan kesempatan tersebut lantaran kebijakan perusahaan tempat ia baru memulai karier. Untunglah, ia mendapatkan izin untuk mengambil fellowship tersebut sehingga dia tidak melewatkan sebuah kesempatan berharga.

Pada November 2011, Oktofani mengundurkan diri dari harian berbahasa Inggris tersebut dan mulai bekerja sebagai kontributor lepas untuk salah satu media asing dari Amerika Serikat sejak Februari 2012.

Kini, dia bekerja sebagai asisten editor dan kontributor salah satu media outlet yang sedang berkembang di Indonesia.

Kecintaan Oktofani pada dunia tulis menulis dan ketertarikannya pada isu sosial membuat Oktofani senang berkenalan dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan mulai dari pekerja seks, scammer atau waria yang kerap dijauhi oleh masyarakat pada umumnya. Belum lagi pekerjaannya sebagai jurnalis memberinya kesempatan untuk  bertemu aktivis, pemuka agama, penata busana, bankir, pegawai swasta dan juga orang pemerintahan.

Kesempatan untuk mengenal orang-orang dengan berbagai macam latar belakang tersebut membuatnya belajar banyak hal tentang sisi-sisi kehidupan masyarakat secara langsung. Tentu saja bagi penggemar penyanyi rap Tupac Shakur Amaru dan Clifford Joseph Harris ini, hal tersebut memberinya kesempatan untuk mendokumentasikan pengalamannya tersebut melalui tulisan baik dalam bentuk berita maupun blog.

Bule Hunter adalah buku Oktofani pertama yang ditulis dengan metode jurnalistik, yakni melalui riset, wawancara dan observasi lapangan dengan sudut pandang perempuan Indonesia. Selain itu, sebagai perempuan Indonesia yang juga menikah dengan laki-laki dari ras kaukasoid, Oktofani juga menceritakan pengalaman pribadinya sebagai perempuan yang kerap dicap sebagai pemburu bule alias bule hunter.

Baginya, buku ini merupakan sebuah media yang dipersembahkan pada masyarakat Indonesia dan dunia untuk memperkenalkan perempuan Indonesia yang menjalin hubungan kasih atau menikah dengan laki-laki bule. Sehingga mereka tidak lagi mendapatkan stereotipe negatif dari siapa pun.

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Novel

Ada dua hal yang saya suka dalam Catatan Pinggir Goenawan Mohammad yang berjudul Heteroglosia ini yakni:

  1. “Novel adalah medium tempat pelbagai ragam bahasa bisa masuk, karena ia menampung percakapan sehari-hari: dialek daerah, bahasa khas satu kelompok sosial, bahasa dengan istilah profesional, bahasa birokrasi” 
  2. “Heteroglossia Slamet, dengan demikian, bukan sekadar suara yang beragam. Ia mengandung perlawanan kelas yang dibisukan menghadapi kelas yang memonopoli wibawa dan ukuran keindahan. Kesenian Slamet Gundono bukan punya komitmen sosial dalam pesan-pesannya, tapi lebih dalam: dalam pilihan ekspresinya.”

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Cinta dan Kematian

Mati karena cinta itu bodoh!

Apalagi kalau sampai hati membunuh diri sendiri atau membunuh orang lain hanya karena cinta. Apakah hidup ini hanya sekedar untuk mencintai seseorang yang kita sebut sebagai kekasih, pacar, suami, istri atau tunangan? Kalau mereka tak lagi mencintai kita apakah dunia akan runtuh?

Mati kok karena cinta. Apa hebatnya? Itu bukan cinta namanya. Itu hidup tanpa makna! Bodoh sekali kalau ada yang berpikir demikian.

Akhir-akhir ini, berita tentang pembunuhan akibat cinta segitiga terus menghiasi berbagai macam media di Indonesia. Suami membunuh istri demi hidup dengan kekasih gelapnya. Suami membunuh kekasih gelapnya. Istri membunuh suami karena suami selingkuh. Begitu dan terus begitu. Bodoh!

Hidup dan matinya manusia ada di tangan Tuhan, tak ada seorang manusia pun yang berhak mengambil atau mencabut nyawa orang lain  kecuali Tuhan.

Dalam kitab Ulangan pun Tuhan bersabda demikian “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.” Ulangan 32: 39

Jakarta, 14 08 13

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Pengecut

Sekedar imajinasi saja

Dalam perjamuan kudus pagi ini, saya pun kembali beride gila.

Saya lelah dengan hidup saya. Saya lelah dengan urusan hati. Rasanya, saya ingin mati saja. Tetapi bagaimana?

Gantung diri? Kalau saya gantung diri, lidah saya akan menjulur keluar. Akh itu cara yang  tidak keren! Atau meloncat dari lantai 27? Ya kalau mati, kalau cacat seumur hidup bukankah itu justru memalukan? Atau bagaimana kalau menelan obat tidur sebanyak mungkin di samping kekasih gelap saya? Akh… saya justru akan meninggalkan luka mendalam pada suami saya. Suami saya pun akan membenci kekasih gelap saya.

Atau begini saja, saya ingin membeli wine paling bagus dan meminumnya seorang diri pada suatu malam secara perlahan. Lalu setelah mabuk, saya akan mengendarai mobil saya dengan kecepatan tinggi di sepanjang jalan M.H Thamrin – Sudirman dan menabrakkan diri saya pada sesuatu yang keras? Entah itu tiang pancang atau sebuah bangunan kokoh. Saya enggak mau menyakiti orang lain kecuali diri saya sendiri.

Atau setelah mabuk, saya akan mengendarai mobil saya dengan kecepatan tinggi di atas jembatan layang dan menabrak pagar pembatas. Dengan demikian kalau saya mati, orang enggak akan berpikir bahwa saya bunuh diri. Orang akan berpikir bahwa saya mati karena suatu kecelakaan. Bagaimana?

Saya tak lagi mencintai suami saya. Saya tergila-gila pada kekasih saya. Suami saya sangat mencintai saya. Katanya, kekasih saya pun mencintai saya. Tapi saya enggak pernah percaya dengan ucapannya. Dia pun enggak pernah punya cita-cita tentang kami berdua. Daripada saya menderita masalah cinta, bukankah lebih baik saya mati saja?

Akh…. pikiran macam apa itu? Mati! Bunuh diri?! Apakah saya sepengecut itu sehingga saya harus lari dari suatu kenyataan? Jika memang ingin sesuatu membaik, lari dari kenyataan bukanlah jalan keluar apalagi kematian. Bagaimana kalau kamu justru enggak mati dari kecelakaan tersebut? Bagaimana kalau kamu cacat? Saya yakin kekasihmu akan meninggalkanmu. Suamimulah yang akan terus bersamamu.

“Nona… sesungguhnya kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu hanya sedang gundah saja. Berdoalah pada Tuhan sehingga kamu diberi kekuatan. Dia akan menuntunmu ke jalan yang benar.”  kata seorang Bapak tua di gereja pagi ini.

Sebuah pesan pun saya terima darinya, sang kekasih “Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja di hari Minggu yang cerah ini. Tuhan memberkati.”

Jakarta 12 08 13

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Perempuan Gila

Suatu hari, saya pernah berpikir demikian.

Jika saya adalah seorang manusia sehat, saya ingin menjual salah satu ginjal saya hanya untuk dapat hidup dengannya. Menurut info, satu ginjal bisa dijual dengan harga Rp 500 juta sampai Rp 1 milliar. Tetapi kalau saya menjual ginjal saya, saya enggak akan berumur panjang. Akh… itu enggak masalah. Yang penting saya bisa hidup dengannya sampai akhir hayat saya.

Namun apakah saya segila itu? Apakah dia mau untuk hidup dengan saya? Apakah dia mengijinkan saya untuk menjual ginjal saya? Saya rasa tidak. Mungkin saya sedikit gila.

Akh jaman sekarang. Apapun bisa diperjualbelikan. Bukan saja organ tubuh manusia tetapi juga nyawa manusia. Seperti kata Ranggawarsita “Saiki jamane jaman edan, yen ora edan ora keduman. Sak bejo-bejone wong kang edan, isih bejo wong kang eling lan waspada“.

Lha kalau saya sampai menjual ginjal untuk hidup dengannya berarti saya takut ora keduman cinta. Saya takut ndak kebagian cinta terutama cinta dia. Tapi apakah iya dia memang mencintai saya seperti saya mencintai dia. Well, tentu betul kata Ranggawarsita, sak bejo-bejone wong kang edan, isih bejo wong kang eling lan waspada. Jadi saya harus eling lan waspada. Jangan sampai terlalu dibutakan oleh cinta. Akh… jaman sekarang… jamane jaman edan!

Dan sebuah pesan pun saya terima melalui ponsel saya. “Kamu sudah gila ya? Aku bener-bener enggak paham kenapa kamu bisa berpikir seekstreme itu? Terus kalau kamu mati, kamu akan meninggalku seorang diri dalam kesedihan?Perempuan gila!”

Jakarta, 100813

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Tersesat

Awalnya aku tak mau kita sejauh ini

namun hari ini kita di sini

Kau katakan kau tak peduli dengan dirinya

tetapi aku tak bisa bersikap sama

*

Aku tersesat…

Aku kehilangan arah…

Terus kucoba mencari jalan keluar

Namun aku tak kunjung menemukannya

*

Ini berat bagiku…

Entah pada siapa harus kuucapkan pisah

Dia menawarkanku sebuah kepastian

Kepastian yang tak pernah kau tawarkan padaku…

*

Di tepi pantai ini, kumainkan lantunan musik syahdu

Kunikmati hembusan angin laut malam ini

Kututup mataku, lalu menari…

dan dengan erat kau peluk tubuhku…

*

Di telingaku… kau bisikkan ‘I love you’

Dan … sekali lagi kau katakan ‘I love you’

Lalu kau cium bibirku…

Kubuka mataku perlahan namun ternyata kau tak ada di hadapanku

*

Akh…. Kau selalu begitu bung!

Kau selalu memburuku

Bayang-bayanganmu terus mengikuti

dalam tidurku maupun dalam kesendirianku…

*

Akh… Aku jatuh cinta padamu bung!

Kau katakan kau juga mencintaiku

Namun mengapa kau tak mau memberikanku kepastian?

Apakah kau ragu dengan cintamu?

*

Akh… aku jatuh cinta padamu bung….

Kau katakan kau juga mencintaiku…

Tapi mengapa kau terus mencabik-cabik hatiku?

Beginikan kau mencintaiku…?

*

Sayang… aku benci kata ‘sayang’

Aku hanya butuh sebuah kejujuran

Aku hanya butuh sebuah kepastian…

Bukan dari mulutmu tapi dari tindakanmu…

Akankah kau memberikan itu padaku ‘sayang’?

*

Akh … aku benci ketidakpastianmu

Dan kini… aku tersesat dalam sebuah permainan

Sayang… Tunjukkanlah jalan pulang

Akh … aku benci kata ‘sayang’

Jakarta, 08 August 2013

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Teringat

Sesaat aku teringat tentang kita…

*

Suatu siang ketika kuucapkan selamat tinggal

Suatu pagi ketika kau memintaku pergi

Suatu siang ketika kau memintaku kembali

Suatu siang ketika kita bertengkar di dapur

Suatu pagi ketika kutemukan pesan untuk ‘sayang’

Suatu pagi saat kau berlutut tuk katakan maaf

Suatu malam saat kau berlutut tuk akui kebohonganmu

Suatu malam ketika kutelan sepuluh obat tidur

Suatu malam ketika kupecahkan botol champagne

Lalu kutorehkan pecahkan kaca tersebut ke tanganku

Suatu malam saat kau menatapkanku

Lalu kau bertanya padaku “Do you know that I love you so much?”

Dan aku pun tak mampu berucap

Kuterdiam dan hanya memelukmu

Dalam benakku aku bertanya

Entah cinta apa yang kau milikki untukku

*

Akh… sesungguhnya siapakah kita?

Aku benci terombang-ambing dalam ketidakpastian

Jakarta, 080813

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Perihal Kebahagian

Beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebook salah seorang teman sekelas saat saya masih duduk di bangku SMA. Sebut saja namanya Lestari. Saya nggak pernah mengenalnya dengan dekat. Hanya sebatas nama dan beberapa prestasinya di kelas saja. Dulu bagi saya, dia hanyalah cah ndesa, nggak ada sesuatu yang spesial tentang dirinya. Dan sejak lulus SMA, saya nggak pernah lagi stay in touch dengannya karena berbagai hal.

Namun beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebooknya. Saya merasa iri dengannya. Lestari looks perfectly happy! Dia terlihat bahagia dengan keluarga kecil yang dibangunnya dan pekerjaannya sebagai seorang guru SD. Setelah beberapa menit saya menelusuri akun Facebooknya termasuk membaca status-status nya dan melihat album fotonya, saya melihat bahwa Lestari sepertinya sangat bahagia dengan kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya termenung sejenak. Saya bertanya pada diri saya. Akh apa hebatnya jadi guru SD? Apa enaknya jadi ibu muda? Apa hebatnya tinggal di desa? Apa menariknya kehidupan Lestari? Pasti sangat membosankan! Tentu saja saya berkata demikian karena saya tidak sebahagia Lestari.

Dream and Achievement

Saya pun mendiskusikan hal ini dengan Heirwid, salah seorang sahabat saya dari Yogya yang juga bekerja di Jakarta. Saya bercerita tentang kebahagian Lestari (Heirwid nggak kenal Lestari)

“Aku bukan orang kaya tetapi aku menikmati beberapa kemewahan hidup. Aku punya banyak sepatu mahal dengan harga jutaan, baju bermerk dengan harga jutaan, mobil, pernah travelling ke benua Amerika dan Afrika, pergi ke restaurant mahal dan menginap di hotel berbintang. Tapi sepertinya aku nggak sebahagia Lestari. Rasanya masih banyak yang nggak aku miliki. Rasanya aku nggak begitu bahagia dengan pekerjaanku yang aku lakukan. Tapi kenapa Lestari yang cuman seorang guru, tinggal di desa, sepertinya nampak sangat bahagia?” tutur saya pada Heirwid.

“Well, aku nggak pernah nanya sih apakah Lestari benar-benar happy dengan kehidupan yang dimilikinya. Namun sepertinya dia sangat bahagia. Coba lihat foto-fotonya di Facebook! Kenapa bisa begitu?”

“Mungkin karena mimpi dia menjadi guru dan membangun keluarga sederhana di desa. Mungkin bagi orang lain Lestari ‘hanya’, ‘cuma’, ‘mung’ guru. Tapi buat dia menjadi guru adalah sesuatu yang luar biasa bukan mung guru. Dan saat ini mimpinya udah terwujud, tentu aja dia bahagia. Dia bahagia dengan keluarganya. Dia bahagia dengan pekerjaannya. Sedangkan kita yang punya mimpi yang istilah lebih tinggi masih berusaha mencapai mimpi kita, tentu kita nggak sebahagia dia.” kata Heirwid.

Buat aku say, kebahagian itu bisa dicapai ketika kita telah mewujudkan mimpi kita baik itu cinta, karir atau kekayaan. Terkadang jalannya mulus, kadang berkelok-kelok. Semua tergantung usaha kita. Tapi kalau semua cita-cita udah terwujud pasti kita akan perfectly happy… entah itu besok atau 10 tahun mendatang.

Benar kata Heirwid. Banyak orang enggak terlalu bahagia dengan kehidupannya karena mereka (termasuk saya) mempunya kehidupan yang rumit. Namun tentu saja, mimpi dan cita-cita orang itu beda-beda. Kita nggak boleh merendahan begitu saja karena seserhana apapun mimpi seseorang, mimpi tersebut memiliki arti yang besar bagi mereka.

Bersyukur, Being Grateful

Hari ini Bebek, salah seorang kawan dari Yogya, berkunjung ke apartment. Lagi-lagi saya membicarakan Lestari. Sama dengan Heirwid, Bebek pun enggak kenal Lestari. Bukannya saya nyinyir dan ingin menjelek-jelekkan seseorang. Namun perihal kebahagian ini sangat menarik untuk didiskusikan dengan kawan lain karena mungkin saya nggak sebahagia Lestari dan saya iri dengan kebahagiaannya dalam kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya pun menunjukkan akun Facebook Lestari. Nggak ada yang mentereng dari akun Facebooknya. Hanya foto-foto anaknya atau kegiatannya sebagai guru. Bebek pun berkomentar bahwa Lestari nampaknya sangat bahagia dan dia berkata.

Menurutku, materi bukanlah sumber kebahagiaan. Kadang-kadang materi justru membebani hidup kita. Dulu waktu aku masih punya apa-apa, aku nggak ngerasa sebahagia sekarang. Tapi sekarang saat aku hidup pas-pasan aku justru malah merasa bahagia karena aku punya kebebasan.” kata Bebek.

Sebenernya semuanya itu lebih tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya. Tapi kadang-kadang manusia rakus dan nggak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.” imbuhnya.

Bebek benar. Kita sebagai manusia cenderung enggak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Ketika kita punya uang 100 juta, kita ingin 200 juta. Ketika kita punya 200 juta, kita ingin 300 juta. Dan seterusnya, dan seterusnya. Namun bukan berarti kemudian kita hanya bersyukur dan berhenti berusaha.

Mensyukuri apa yang kita miliki sebenernya mempermudah jalan kita untuk mewujudkan impian dan kebahagiaan kita tanpa beban yang berat. Saya selalu percaya bahwa kita kita mengatakan bahwa kita nggak bisa maka kita akan benar-benar nggak bisa melakukan sesuatu, namun ketika kita yakin bahwa kita mampu maka kita mampu.

Perihal kebahagian bukan tentang bagaimana kita lebih bahagia dari orang lain karena ini bukan kompetisi atau lomba. Bagiku, kebahagian adalah tahu apa yang kita mau, berusaha keras untuk mewujudkan mimpi kita dan terus bersyukur dengan apa yang telah kita capai.

Kita enggak perlu iri dengan kebahagiaan orang lain karena mereka telah mewujudkan cita-cita mereka sendiri dan merasakan kebahagiaan yang mereka inginkan.

*

Buat kawanku yang merasa sebagai Lestari, terima kasih telah menunjukkan sebuah kebahagian dalam keserderhanaan.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Fiksi: Aku Lelah… Jordan

Outta times when I know I should be smiling. Seems to be the time that I frown the most. Can’t believe that we still surviving cause I’m slowly breaking down even when I hold you close-  Trey Songz

Hari ini, hari Kamis. Tanggal 14 Februari.

Hari ini orang-orang merayakan Valentine’s day. Tetapi aku dan Jordan tak punya rencana apa-apa untuk hari kasih sayang ini.

Sebenarnya, kami berencana untuk pergi berlibur ke Pulau Dewata. Namun rencana tersebut batal. Jordan  memberikan banyak persyaratan yang membuatku malas untuk pergi ke sana. Meninggalkan Jakarta tengah malam pada tanggal 13 Februari. Lalu meninggalkan Bali dini hari pada tanggal 15 Februari. Waktu habis di jalan. Buat apa?

Akh Jordan…. aku mencintaimu tapi aku tak tahu bagaimana untuk memahamimu. Kamu terlalu tertutup. Hal ini menyiksaku. 

Sudah jam 9 malam. Jordan belum pulang. Entah dia ke mana. Katanya ada meeting. Meeting di malam Valentine? Jangan-jangan dia ‘meeting’ dengan perempuan lain untuk merayakan hari kasih sayang. Akh Jordan… kamu ke mana sih?

Pikiranku mulai kacau. Aku mencoba menghubunginya berkali-kali. Jordan tak kunjung menjawabku. Aku curiga. Aku penasaran. Apalagi, akhir-akhir ini Jordan bersikap aneh padaku. Setiap kali aku menginap, Jordan justru selalu pulang malam. Kemarin dia pulang jam 11. Kali ini jam 9, dia belum juga menunjukkan batang hidungnya. Tak ada pula pesan darinya.

Biasanya setiap kali aku menginap di rumahnya, dia selalu pulang awal apalagi kalau aku memasak. Aku penasaran apa yang dia lakukan di luar sana.

***

Aku bosan. Aku penasaran. Aku membuka laptopnya. Aku menemukan ratusan foto. Di antara ratusan foto yang kulihat, aku melihat sebuah foto Jordan menggunakkan cincin kawin, dia berfoto dengan anaknya. Cincin kawin? Dan…berdasarkan informasi foto tersebut, foto tersebut diambil Desember lalu.  Akh Jordan, lagi-lagi kamu berbohong!

Sebagai pacar, aku tak masalah Jordan bertemu dengan anaknya. Yang menjadi masalah adalah apakah Jordan masih berstatus kawin dengan Christina atau dia memang sudah bercerai dari perempuan tersebut. Aku hanya tak ingin menganggu rumah tangga orang. Apalagi, Jordan dan aku sudah menjalin hubungan lebih dari satu setengah tahun. Aku cuma mau tau hubungan ini akan dibawa ke mana?

Bukan hanya itu saja. Lagi-lagi Jordan bermesraan dengan Ayu Suprianto. Lagi-lagi mereka memanggil satu sama lain dengan kata sayang.

Akh … bajingan kamu Jordan! Apa susahnya sih untuk jujur?! Apa yang kamu cari dari hubungan ini dengan berbohong puluhan kali padaku? I always believe on second chance, but you ain’t changed! You stay the same. What do you want from me? Why do you keep lying to me? Aku tak tahan Jordan! Aku ingin pergi. Kamu betul-betul bajingan. Teriakku saat melihat semua foto tersebut.

O my God! I just don’t believe what I’m seeing. I’m truly speechless, frozen, heartbroken. Why do you do this to me Jordan?

***

Jam 10 malam. Jordan baru pulang. Aku bersiap untuk tidur. Suhu tubuhku tinggi. Wajahku pucat pasi. Mataku sembab. Kepalaku berat. Perutku mual. Aku kehilangan selera makan. Aku hanya mau tidur. Aku tak ingin membahas apa yang aku lihat dengannya malam ini. Aku akan berbicara dengannya besok. Aku tak mau mengumbar emosiku. Aku ingin berpisah. Aku ingin pergi. Aku dirundung kekecewaan.

Kami berbaring di tempat tidur. Jordan nonton bola sambil bermain blackberry.

“Baby… apa yang akan membuatmu memutuskanku?” tanyaku

“Kalau kamu mengkhianati kepercayaanku…. ” Jordan menjawab. Ia terus berbicara. Pikiranku kacau. Hanya bla bla bla saja yang aku dengar. Entah apa yang ia katakan. Aku lelah untuk mendengar bualannya.

“Aku tahu kamu lagi-lagi berbohong padaku. Apa kamu masih menikah? Kenapa kamu memanggil Ayu dengan kata sayang? Apa yang kamu mau dari hubungan ini? Kenapa kamu tidak bisa jujur dariku?” tanyaku dengan air mata membasahi pipiku.

“Apa maksudmu?!”

“Aku melihat semua itu di Facebook!” jawabku berbohong. Kini aku berbohong. Aku tak mampu jujur untuk mengatakan bahwa aku membuka laptopnya. Aku takut.

Jordan terdiam.

“Jordan! Dengarkan aku! Kamu tahu hubungan kita ini salah! Kamu tahu apa yang aku cari dari hubungan ini. Kebahagian yang tak aku dapat dalam rumah tanggaku. Kalau kamu cuma mau mempermainkanku atau kamu punya perempuan lain, lebih baik aku mundur. Berat. Namun, buat apa aku menjalani dua hubungan yang kedua-duanya tidak membuatku bahagia?! Buat apa aku mencintai dua orang bajingan yang sama-sama membuatku kecewa?” tuturku

“Kalau memang itu yang kamu mau. Aku akan membiarkan kamu ruang untuk berpikir sejenak. Aku tak akan membiarkan kamu pergi begitu saja.” jawab Jordan.

“Aku tak butuh ruang. Aku ingin pergi. Aku tak ingin kamu menghubungi aku lagi setelah ini. Aku ingin memperbaiki rumah tanggaku dengan Henry.”

Aku terdiam sejenak. Aku tak mampu menahan air mataku. Pikiranku kacau. Hatiku hancur. Wajah perempuan itu terus ada dipikiranku. Aku tak nyaman. Aku sedih. Aku kecewa. Akh bajingan kamu… Jordan!

“Aku akan pergi Jordan. Tapi, biarkan aku tidur di sini malam ini. Aku tak kuat mengendarai mobil. Aku akan bangun pagi-pagi dan langsung pergi besok.”  kataku.

“Kamu bisa tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau. Aku mau merokok di luar.” jawabnya.

Jordan terdiam. Lalu dia meninggalkan kamar.

Aku kecewa. Aku marah. Aku hanya ingin pergi. Kepalaku sangat berat. Aku benar-benar pusing dibuatnya. Namun aku tak kuat untuk mengendarai mobil.

***

 Mataku tertutup. Aku ngantuk.  Sayup-sayup kudengar Jordan membuka pintu kamar. Jordan marah.

“Jadi kamu mengobrak-abrik rumahku? Menggeledah barang-barangku? Aku tahu kamu membuka laptopku!” kata Jordan kesal padaku sambil membanting pintu.

Aku tak menjawab.  Obat tidur dari dokter Bayu bekerja kilat. Aku sudah di alam mimpi.

Bersambung

Jakarta, 11 April 2013

signature

Leave a comment

Filed under Catatan