Category Archives: Catatan

Catatan: Numpang Hidup sama Mister

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah SMS yang membuat bulu kuduk berdiri lalu tersenyum simpul. Sebuah nomor yang tidak saya kenal, mencaci maki saya. Basically, si pengirim SMS gelap menuduh saya numpang hidup sama suami saya yang notabene adalah bule alias londo alias orang barat. Maklum orang barat sering dianggap sebagai orang kaya oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Berbagai pertanyaan muncul di kepala saya”Who is this?“, “What does she want from me?“, “How does (S)he knows my full name?” Entahlah. Saya pikir enggak ada gunanya untuk menggubris SMS semacam itu.

Lucunya si pengirim SMS gelap sepertinya benar-benar sayang dengan saya. Hari Sabtu kemarin, saya kembali mendapatkan SMS gelap dari nomor  yang berbeda, lagi-lagi nomor saya yang enggak dikenal. Dengan bahasa yang sama, saya menduga bahwa si pengirim adalah orang yang berpendidikan rendah atau bahkan enggak pernah mengenyam bangku pendidikan. Kenapa saya berpikir seperti itu? Mudah saja, saya bisa membacanya dari kalimat dan pemilihan kata yang digunakan.

Si pengirim SMS gelap kembali mencaci saya dengan menyebut saya “pelacur”, “pengangguran” dan “cewek matre”. Belum lagi dia berkata demikian “Lu kan sekelas pembantu. Bisa hidup enak karena laki lu bule.” Kesal dan jengkel namun lagi-lagi saya dibuat tertawa oleh SMS ini. Dicaci kok malah ketawa sih?

Well… tentu saja saya tertawa. Lagi-lagi saya mendengar celetukan org yang sudah termakan stereotype bahwa cewek Indonesia nikah dengan orang Barat hanya untuk numpang hidup. Perempuan Indonesia dengan kulit coklat dan pendek dan menikah/berhubungan dengan bule ‘dimasukkan’ dalam kelas pembantu. Aduh-aduh…. ini kan lucu! Kelas pembantu itu seperti apa sih?

Belum lagi beberapa waktu yang lalu saya baru saja mengeluarkan buku berjudul “Bule Hunter”, sebuah catatan tentang perempuan-perempuan pemburu bule yang selama ini kerap dicap negatif oleh masyarakat baik oleh masyarakat lokal atau oleh orang barat. Entah dicap sebagai gold digger, slut, bertampang babu dan sebagainya.

JUST BECAUSE tuan-tuan londho (orang Barat) kerap dianggap sebagai Paman Gober atau Mesin ATM. And of course, it creates jealousy because ‘perempuan dari kelas pembantu’ mendadak jadi ‘orang kaya’. Padahal belum tahu saja kalau enggak sedikit dari mister-mister tersebut yang juga kere. Ya toh?

Anyway…. lucunya lagi saya dibilang pengangguran. Waduh-waduh ha ha ha. Hanya karena saya ke kantor tidak pakai seragam,  saya dibilang pengangguran. Hanya karena saya dapat bekerja dari rumah dan memiliki office hour yang berbeda, saya dibilang pengangguran. Lucu sekali ini!

Biar kata gaji saya kecil (dibanding gaji suami saya), saya lebih memilih untuk makan hasil keringat saya sendiri. Suatu kebahagiaan ketika saya melihat angka di rekening saya berubah menjelang akhir bulan. I can say to myself ‘That’s my hard work!’. But I think that I owe nobody any explanation. Let them judge me as they want it! However before you judge other, make sure that you are perfect!

signature

2 Comments

Filed under Catatan

Catatan: Penulis “Bule Hunter”

Tentang Penulis “Bule Hunter

Lahir di Yogyakarta, 17 Oktober 1987, Elisabeth Oktofani adalah seorang jurnalis dan penulis yang kini berdomisili di Jakarta.

Lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2010 ini mengawali karier di bidang jurnalistik sebagai pekerja magang sebuah lifestyle magazine di Bali pada pertengahan 2009.

Oktofani kemudian bekerja sebagai kontributor untuk salah satu koran berbahasa Inggris di Jakarta sejak September 2009 dari Yogyakarta sambil menuntaskan kuliah. Pada awal 2010, ia kembali mendapat kesempatan untuk magang di koran tersebut selama tiga bulan.

Pada tahun yang sama, Oktofani mendapatkan beasiswa dari Jakarta Foreign Correspondent Club untuk magang di sebuah kantor berita Amerika Serikat biro Jakarta . Oktofani kemudian menerima tawaran dari salah satu koran berbahasa Inggris untuk bekerja sebagai reporter untuk general news sejak November 2010 dimana ia diberi tanggung jawab untuk meliput isu-isu sosial di Jakarta dan sekitarnya.

Oktofani juga mendapatkan beasiswa fellowship dari FOJO Media Institute selama dua minggu lamanya di Bangkok, Thailand pada bulan Desember 2010. Hampir saja ia melewatkan kesempatan tersebut lantaran kebijakan perusahaan tempat ia baru memulai karier. Untunglah, ia mendapatkan izin untuk mengambil fellowship tersebut sehingga dia tidak melewatkan sebuah kesempatan berharga.

Pada November 2011, Oktofani mengundurkan diri dari harian berbahasa Inggris tersebut dan mulai bekerja sebagai kontributor lepas untuk salah satu media asing dari Amerika Serikat sejak Februari 2012.

Kini, dia bekerja sebagai asisten editor dan kontributor salah satu media outlet yang sedang berkembang di Indonesia.

Kecintaan Oktofani pada dunia tulis menulis dan ketertarikannya pada isu sosial membuat Oktofani senang berkenalan dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan mulai dari pekerja seks, scammer atau waria yang kerap dijauhi oleh masyarakat pada umumnya. Belum lagi pekerjaannya sebagai jurnalis memberinya kesempatan untuk  bertemu aktivis, pemuka agama, penata busana, bankir, pegawai swasta dan juga orang pemerintahan.

Kesempatan untuk mengenal orang-orang dengan berbagai macam latar belakang tersebut membuatnya belajar banyak hal tentang sisi-sisi kehidupan masyarakat secara langsung. Tentu saja bagi penggemar penyanyi rap Tupac Shakur Amaru dan Clifford Joseph Harris ini, hal tersebut memberinya kesempatan untuk mendokumentasikan pengalamannya tersebut melalui tulisan baik dalam bentuk berita maupun blog.

Bule Hunter adalah buku Oktofani pertama yang ditulis dengan metode jurnalistik, yakni melalui riset, wawancara dan observasi lapangan dengan sudut pandang perempuan Indonesia. Selain itu, sebagai perempuan Indonesia yang juga menikah dengan laki-laki dari ras kaukasoid, Oktofani juga menceritakan pengalaman pribadinya sebagai perempuan yang kerap dicap sebagai pemburu bule alias bule hunter.

Baginya, buku ini merupakan sebuah media yang dipersembahkan pada masyarakat Indonesia dan dunia untuk memperkenalkan perempuan Indonesia yang menjalin hubungan kasih atau menikah dengan laki-laki bule. Sehingga mereka tidak lagi mendapatkan stereotipe negatif dari siapa pun.

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Novel

Ada dua hal yang saya suka dalam Catatan Pinggir Goenawan Mohammad yang berjudul Heteroglosia ini yakni:

  1. “Novel adalah medium tempat pelbagai ragam bahasa bisa masuk, karena ia menampung percakapan sehari-hari: dialek daerah, bahasa khas satu kelompok sosial, bahasa dengan istilah profesional, bahasa birokrasi” 
  2. “Heteroglossia Slamet, dengan demikian, bukan sekadar suara yang beragam. Ia mengandung perlawanan kelas yang dibisukan menghadapi kelas yang memonopoli wibawa dan ukuran keindahan. Kesenian Slamet Gundono bukan punya komitmen sosial dalam pesan-pesannya, tapi lebih dalam: dalam pilihan ekspresinya.”

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Cinta dan Kematian

Mati karena cinta itu bodoh!

Apalagi kalau sampai hati membunuh diri sendiri atau membunuh orang lain hanya karena cinta. Apakah hidup ini hanya sekedar untuk mencintai seseorang yang kita sebut sebagai kekasih, pacar, suami, istri atau tunangan? Kalau mereka tak lagi mencintai kita apakah dunia akan runtuh?

Mati kok karena cinta. Apa hebatnya? Itu bukan cinta namanya. Itu hidup tanpa makna! Bodoh sekali kalau ada yang berpikir demikian.

Akhir-akhir ini, berita tentang pembunuhan akibat cinta segitiga terus menghiasi berbagai macam media di Indonesia. Suami membunuh istri demi hidup dengan kekasih gelapnya. Suami membunuh kekasih gelapnya. Istri membunuh suami karena suami selingkuh. Begitu dan terus begitu. Bodoh!

Hidup dan matinya manusia ada di tangan Tuhan, tak ada seorang manusia pun yang berhak mengambil atau mencabut nyawa orang lain  kecuali Tuhan.

Dalam kitab Ulangan pun Tuhan bersabda demikian “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.” Ulangan 32: 39

Jakarta, 14 08 13

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Pengecut

Sekedar imajinasi saja

Dalam perjamuan kudus pagi ini, saya pun kembali beride gila.

Saya lelah dengan hidup saya. Saya lelah dengan urusan hati. Rasanya, saya ingin mati saja. Tetapi bagaimana?

Gantung diri? Kalau saya gantung diri, lidah saya akan menjulur keluar. Akh itu cara yang  tidak keren! Atau meloncat dari lantai 27? Ya kalau mati, kalau cacat seumur hidup bukankah itu justru memalukan? Atau bagaimana kalau menelan obat tidur sebanyak mungkin di samping kekasih gelap saya? Akh… saya justru akan meninggalkan luka mendalam pada suami saya. Suami saya pun akan membenci kekasih gelap saya.

Atau begini saja, saya ingin membeli wine paling bagus dan meminumnya seorang diri pada suatu malam secara perlahan. Lalu setelah mabuk, saya akan mengendarai mobil saya dengan kecepatan tinggi di sepanjang jalan M.H Thamrin – Sudirman dan menabrakkan diri saya pada sesuatu yang keras? Entah itu tiang pancang atau sebuah bangunan kokoh. Saya enggak mau menyakiti orang lain kecuali diri saya sendiri.

Atau setelah mabuk, saya akan mengendarai mobil saya dengan kecepatan tinggi di atas jembatan layang dan menabrak pagar pembatas. Dengan demikian kalau saya mati, orang enggak akan berpikir bahwa saya bunuh diri. Orang akan berpikir bahwa saya mati karena suatu kecelakaan. Bagaimana?

Saya tak lagi mencintai suami saya. Saya tergila-gila pada kekasih saya. Suami saya sangat mencintai saya. Katanya, kekasih saya pun mencintai saya. Tapi saya enggak pernah percaya dengan ucapannya. Dia pun enggak pernah punya cita-cita tentang kami berdua. Daripada saya menderita masalah cinta, bukankah lebih baik saya mati saja?

Akh…. pikiran macam apa itu? Mati! Bunuh diri?! Apakah saya sepengecut itu sehingga saya harus lari dari suatu kenyataan? Jika memang ingin sesuatu membaik, lari dari kenyataan bukanlah jalan keluar apalagi kematian. Bagaimana kalau kamu justru enggak mati dari kecelakaan tersebut? Bagaimana kalau kamu cacat? Saya yakin kekasihmu akan meninggalkanmu. Suamimulah yang akan terus bersamamu.

“Nona… sesungguhnya kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu hanya sedang gundah saja. Berdoalah pada Tuhan sehingga kamu diberi kekuatan. Dia akan menuntunmu ke jalan yang benar.”  kata seorang Bapak tua di gereja pagi ini.

Sebuah pesan pun saya terima darinya, sang kekasih “Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja di hari Minggu yang cerah ini. Tuhan memberkati.”

Jakarta 12 08 13

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Perempuan Gila

Suatu hari, saya pernah berpikir demikian.

Jika saya adalah seorang manusia sehat, saya ingin menjual salah satu ginjal saya hanya untuk dapat hidup dengannya. Menurut info, satu ginjal bisa dijual dengan harga Rp 500 juta sampai Rp 1 milliar. Tetapi kalau saya menjual ginjal saya, saya enggak akan berumur panjang. Akh… itu enggak masalah. Yang penting saya bisa hidup dengannya sampai akhir hayat saya.

Namun apakah saya segila itu? Apakah dia mau untuk hidup dengan saya? Apakah dia mengijinkan saya untuk menjual ginjal saya? Saya rasa tidak. Mungkin saya sedikit gila.

Akh jaman sekarang. Apapun bisa diperjualbelikan. Bukan saja organ tubuh manusia tetapi juga nyawa manusia. Seperti kata Ranggawarsita “Saiki jamane jaman edan, yen ora edan ora keduman. Sak bejo-bejone wong kang edan, isih bejo wong kang eling lan waspada“.

Lha kalau saya sampai menjual ginjal untuk hidup dengannya berarti saya takut ora keduman cinta. Saya takut ndak kebagian cinta terutama cinta dia. Tapi apakah iya dia memang mencintai saya seperti saya mencintai dia. Well, tentu betul kata Ranggawarsita, sak bejo-bejone wong kang edan, isih bejo wong kang eling lan waspada. Jadi saya harus eling lan waspada. Jangan sampai terlalu dibutakan oleh cinta. Akh… jaman sekarang… jamane jaman edan!

Dan sebuah pesan pun saya terima melalui ponsel saya. “Kamu sudah gila ya? Aku bener-bener enggak paham kenapa kamu bisa berpikir seekstreme itu? Terus kalau kamu mati, kamu akan meninggalku seorang diri dalam kesedihan?Perempuan gila!”

Jakarta, 100813

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Tersesat

Awalnya aku tak mau kita sejauh ini

namun hari ini kita di sini

Kau katakan kau tak peduli dengan dirinya

tetapi aku tak bisa bersikap sama

*

Aku tersesat…

Aku kehilangan arah…

Terus kucoba mencari jalan keluar

Namun aku tak kunjung menemukannya

*

Ini berat bagiku…

Entah pada siapa harus kuucapkan pisah

Dia menawarkanku sebuah kepastian

Kepastian yang tak pernah kau tawarkan padaku…

*

Di tepi pantai ini, kumainkan lantunan musik syahdu

Kunikmati hembusan angin laut malam ini

Kututup mataku, lalu menari…

dan dengan erat kau peluk tubuhku…

*

Di telingaku… kau bisikkan ‘I love you’

Dan … sekali lagi kau katakan ‘I love you’

Lalu kau cium bibirku…

Kubuka mataku perlahan namun ternyata kau tak ada di hadapanku

*

Akh…. Kau selalu begitu bung!

Kau selalu memburuku

Bayang-bayanganmu terus mengikuti

dalam tidurku maupun dalam kesendirianku…

*

Akh… Aku jatuh cinta padamu bung!

Kau katakan kau juga mencintaiku

Namun mengapa kau tak mau memberikanku kepastian?

Apakah kau ragu dengan cintamu?

*

Akh… aku jatuh cinta padamu bung….

Kau katakan kau juga mencintaiku…

Tapi mengapa kau terus mencabik-cabik hatiku?

Beginikan kau mencintaiku…?

*

Sayang… aku benci kata ‘sayang’

Aku hanya butuh sebuah kejujuran

Aku hanya butuh sebuah kepastian…

Bukan dari mulutmu tapi dari tindakanmu…

Akankah kau memberikan itu padaku ‘sayang’?

*

Akh … aku benci ketidakpastianmu

Dan kini… aku tersesat dalam sebuah permainan

Sayang… Tunjukkanlah jalan pulang

Akh … aku benci kata ‘sayang’

Jakarta, 08 August 2013

signature

Leave a comment

Filed under Catatan