Category Archives: Catatan

Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Buku atau Internet?

Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Tetapi di jaman modern ini, sebenarnya selain buku, internet juga merupakan jendela dunia. Kita dapat berselancar ke mana pun kita mau tanpa batas. Kita bisa melihat dunia dan mengenyam ilmu hanya dari balik layar komputer selama terhubung dengan koneksi internet.

Saya sendiri berkenalan dengan internet pada tahun 2000. Sejak kenal dengan internet, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses internet, entah untuk berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia atau membaca berbagai macam artikel. Melalui internet, saya dapat mempelajari kehidupan manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk urusan pekerjaan. Saya sangat menyukai internet. Saya gila internet.

Namun sayangnya, informasi di internet terlalu banyak dan berserakan di mana-mana. Tidak terstruktur dan bahkan susah dibuktikan kebenarannya apalagi informasi di internet bisa dipublikasi oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Belum lagi informasi-informasi tersebut bisa dihapus oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Itulah internet sebagai jendela dunia.

Meskipun gila akan internet, saya ternyata lebih menyukai buku ketimbang internet. Kenapa? Karena setidaknya saya tahu siapa yang menulisnya. Tapi sayang saya agak kurang rajin membaca walaupun saya suka membaca.

Sejak kecil, saya suka membaca tapi saya enggak punya banyak koleksi buku. Saya pun jarang pergi ke perpustakaan di sekolah. Tapi….  saya sering ke “Taman Bacaan Tintin”, sebuah perpustakaan keliling yang menyewakan komik. Paling sering saya menyewa komik serial cantik :-).

Menginjak bangku SMA, saya mulai suka membaca novel apalagi sekolah saya dekat dengan Gramedia. Ketika banyak orang suka membaca tulisan Fira Basuki, saya lebih suka baca nover terjemahan karya  novelis Inggris Barbara Cartland. Barbara Cartland menawarkan cerita cinta dengan setting di kerajaan Inggris. Asyik, seru! Tulisannya membawa imajinasi saya ke dalam cerita tersebut.

Selain Barbara Cartland, saya juga suka tulisan Paulo Coelho. Penulis asal Brazil ini menawarkan berbagai refleksi kehidupan dengan tokoh utama perempuan. Menariknya lagi, Coelho selalu membawa sosok Bunda Maria dalam cerita-cerita spiritualnya.

Jujur saja, saya enggak terlalu banyak membaca tulisan anak bangsa saat itu. Kenapa? Saya enggak tahu mana yang bagus. Saya enggak tahu siapa penulis Indonesia yang bagus.

Suatu hari, saya mulai berkenalan dengan tulisan anak bangsa. London Wild Rose karya Kusuma Andrianto. Dari situ saya baru menyadari bahwa tulisan orang Indonesia enggak kalah hebatnya dengan tulisan orang asing. Saya pun mulai membaca tulisan karya Rendra, Ahmad Tohari, A.A Navis, Ayu Utami dan juga Djenar Maesa Ayu.

Tapi seperti yang sayang bilang tadi, saya kurang rajin membaca. Kadang baca, kadang enggak. Saya lebih banyak mengakses internet daripada baca buku. Nah belum lama ini, saya mulai berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer. Saya baru berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer di usia saya yang ke 27. Ke mana saja selama ini? Payah ya?! Biarlah!

Meskipun demikian enggak ada kata terlambat. Saya pun keranjingan mebaca tulisan Pram… Seru! Asyik! Menarik!  Sayangnya buku-buku Pram yang asli susah didapatkan. Kalaupun ada, saya harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Tapi enggak masalah, saya enggak suka membaca buku palsu. Sebagai penulis, saya enggak suka buku saya dipalsukan. He he he.

Bisa dibilang bahwa, tulisan Pram membuat saya mengenal Indonesia lebih baik. Tulisannya dikemas secara apik dan sederhana tapi penuh makna. Apa artinya mengenal dunia luar kalau saya enggak mengenal Indonesia sama sekali?! Ya toh?! Tapi ya tapi…. saya juga harus mengerti apa yang terjadi di luar sana secara seimbang.

Bagi saya buku dan internet adalah sumber informasi yang saling melengkapi. Internet merupakan sumber referensi akan informasi sedangkan buku memberikan penjelasan akan suatu isu secara mendalam. Di jaman modern ini, mau tak mau kita harus menggunakan internet, si jendela dunia, to keep ourself updated. Tapi bukan berarti kita harus melupakan buku sebagai jendela dunia untuk memahami isu secara mendalam. FYI, I don’t like reading ebook : -) 

Kalau belum suka membaca buku, mulailah dari sekarang. Enggak ada kata terlambat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Berpendapat

Saya ini… payah! Sejak duduk di bangku sekolah lalu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya selalu takut untuk berpendapat. Saya takut kalau saya salah. Saya takut kalau pendapat saya bodoh. Dua hal tersebut membuat saya cenderung mengunci mulut saya di tengah-tengah diskusi dengan topik menarik. Padahal apa salahnya kalau kita salah, apakah pendapat mereka sudah pasti benar? Lalu kenapa saya berkecil hati…?!

Mungkin karena saya merasa jelek, item, kriting dan krempeng. Kombinasi ideal untuk menjadi jelek untuk masyarakat kita yang mengidealkan bahwa cantik itu, putih, kurus dan berambut lurus panjang. Dari situ, saya kerap berpikir bahwa saya takut untuk diejek. “Udah jelek, bodoh pula!“. Enggak tahu kenapa hal tersebut menjadi suatu masalah besar bagi saya.

Tetapi kebiasaan saya menulis buku harian sejak kecil membuat saya berani berpendapat melalui tulisan. Dari buku harian yang sifatnya pribadi, saya menemukan internet forum lalu kemudian blog saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas (2003/2004).

Waktu itu, internet masih merupakan barang mahal. Untuk mengakses internet, saya harus ke internet cafe dan mengeluarkan Rp 4,000 per jam untuk dapat mengakses internet. Di situ saya menemukan dunia saya, saya bisa berpendapat tanpa orang tahu bagaimana bentuk muka saya, warna kulit saya atau jenis rambut saya. Saya enggak takut diejek karena penampilan fisik saya yang jauh dari definisi cantik.

Toh, orang enggak bisa melihat foto diri saya. Maklum waktu itu kamera digital belum terlalu populer untuk mengambil foto diri ribuan kali. Apalagi  foto selfie, istilah itu pun sepertinya belum ada. Kalau mau foto masih pakai roll film atau harus ke studio atau photo box.

Tahun 2005, saya pun menemukan multiply.com. Saya kembali menemukan ruang di mana saya bisa berbagi tentang berbagai macam hal, mulai dari catatan harian pribadi, pendapat saya tentang topik hangat, foto atau musik. Saya pun membangun pertemanan virtual dengan orang-orang yang sama sekali enggak saya kenal.

Meskipun pertemuan hanya terjadi secara virtual saja tapi saya merasa tahu mereka dari tulisan mereka atau postingan mereka. Ada yang suka traveling, ada yang suka memasak lalu berbagi resep makanan. Ada yang suka nonton film, ada juga yang suka photography. Ada yang suka politik, ada juga yang suka belajar bahasa dan budaya.

Bisa dikatakan bahwa berbagai macam diskusi tentang ide dan pikiran pun terbangun di antara para blogger. Yang menarik adalah enggak ada yang 100% benar atau 100% salah. Bahkan, seingat saya jarang netizen yang sangat amat defensive waktu itu atau saya jarang menemukan akun bodong yang bertujuan untuk menipu atau menyerang pihak-pihak tertentu.

Bukan hanya itu, saya pun bisa belajar dari orang lain apalagi kebanyakan dari para blogger tersebut, usianya jauh lebih tua dari saya, jadi mereka sudah banyak makan garam. Saya belajar bahwa pikiran orang itu macam-macam, saya belajar untuk memberi kesempat orang lain untuk berpendapat dan menghargai pendapat orang lain sekalipun saya enggak setuju.

Pada tahun 2006/2007, saya mulai bertemu dengan mpers (blogger pengguna multiply) di Yogya. Pertemanan terbentuk, meskipun kemudian kami jarang bertemu. Belum lagi multiply yang kemudian berubah menjadi e-commerce platform, lalu almarhum alias tutup. Walhasil  saya jarang ngeblog dan berinteraksi dengan kawan-kawan blogger.

Jujur saja, meskipun saya sudah blogging selama satu dekade, saya masih takut membuka mulut saya untuk berpendapat di tengah orang-orang yang enggak saya kenal dekat. Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau saya terdengar bodoh?  Bahkan sebagai kuli tinta, saya lebih memilih melakukan ‘wawancara ekslusif’ dengan narasumber karena saya enggak akan terlihat bodoh di mata orang lain. Payah sekali! Ya…. saya ini payah!

Saya iri dengan mereka yang berani mengungkapkan pendapat tanpa takut mereka salah. Saya iri dengan mereka yang cenderung lantang dan berpikir kritis dalam berdiskusi.

Hal ini membuat saya bertanya, apakah ketakutan saya ini karena saya orang Jawa dan cenderung nrimo? Kalau itu sih enggak ada hubungannya! Atau apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari dunia pendidikan kita yang enggak mengajarkan siswa untuk berdiskusi sejak dini? Apakah ketakutan ini sebenarnya berasal dari pendidikan kita di mana guru atau dosen HARUS digugu dan ditiru serta selalu benar karena mereka adalah guru? Well bisa jadi. Dan ini harus diubah agar siswa enggak takut berpendapat dan dapat membangun diskusi yang kritis di kemudian hari.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Indonesia dan Rohingnya

Dukungan online terhadap pemerintah Indonesia untuk menerima dan menampung etnis Rohingnya terus meningkat setelah mereka tidak mendapatkan tempat di Myanmar, Thailand dan Malaysia.  Sementara itu warga  Syiah di Sampang, warga Ahmadiyah di Lombok dan Jawa Barat dan juga masyarakat Papua, yang notabene adalah warga negara Indonesia, terus usir dari negaranya / tempat tinggal mereka sendiri. Hak konstitusi mereka sebagai warga negara tidak terakomodasi.

Belum lagi politisi dari partai agama yang selama ini cenderung mendukung diskriminasi terhadap warga Syiah dan Ahmadiyah sekarang meminta pemerintah Indonesia untuk membantu warga Rohingnya atas nama Pancasila. Pancasila yang sekarang mungkin hanya tinggal teori semata.

Memang atas dasar kemanusiaan kita harus membantu mereka, tapi seberapa jauh kita harus membantu mereka, seberapa lama kita harus membantu mereka lalu bagaimana dengan saudara kita sendiri yang terusir dari negeri ini? Ironi!

signature

1 Comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Novel

Ada dua hal yang saya suka dalam Catatan Pinggir Goenawan Mohammad yang berjudul Heteroglosia ini yakni:

  1. “Novel adalah medium tempat pelbagai ragam bahasa bisa masuk, karena ia menampung percakapan sehari-hari: dialek daerah, bahasa khas satu kelompok sosial, bahasa dengan istilah profesional, bahasa birokrasi” 
  2. “Heteroglossia Slamet, dengan demikian, bukan sekadar suara yang beragam. Ia mengandung perlawanan kelas yang dibisukan menghadapi kelas yang memonopoli wibawa dan ukuran keindahan. Kesenian Slamet Gundono bukan punya komitmen sosial dalam pesan-pesannya, tapi lebih dalam: dalam pilihan ekspresinya.”

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Perihal Kebahagian

Beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebook salah seorang teman sekelas saat saya masih duduk di bangku SMA. Sebut saja namanya Lestari. Saya nggak pernah mengenalnya dengan dekat. Hanya sebatas nama dan beberapa prestasinya di kelas saja. Dulu bagi saya, dia hanyalah cah ndesa, nggak ada sesuatu yang spesial tentang dirinya. Dan sejak lulus SMA, saya nggak pernah lagi stay in touch dengannya karena berbagai hal.

Namun beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebooknya. Saya merasa iri dengannya. Lestari looks perfectly happy! Dia terlihat bahagia dengan keluarga kecil yang dibangunnya dan pekerjaannya sebagai seorang guru SD. Setelah beberapa menit saya menelusuri akun Facebooknya termasuk membaca status-status nya dan melihat album fotonya, saya melihat bahwa Lestari sepertinya sangat bahagia dengan kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya termenung sejenak. Saya bertanya pada diri saya. Akh apa hebatnya jadi guru SD? Apa enaknya jadi ibu muda? Apa hebatnya tinggal di desa? Apa menariknya kehidupan Lestari? Pasti sangat membosankan! Tentu saja saya berkata demikian karena saya tidak sebahagia Lestari.

Dream and Achievement

Saya pun mendiskusikan hal ini dengan Heirwid, salah seorang sahabat saya dari Yogya yang juga bekerja di Jakarta. Saya bercerita tentang kebahagian Lestari (Heirwid nggak kenal Lestari)

“Aku bukan orang kaya tetapi aku menikmati beberapa kemewahan hidup. Aku punya banyak sepatu mahal dengan harga jutaan, baju bermerk dengan harga jutaan, mobil, pernah travelling ke benua Amerika dan Afrika, pergi ke restaurant mahal dan menginap di hotel berbintang. Tapi sepertinya aku nggak sebahagia Lestari. Rasanya masih banyak yang nggak aku miliki. Rasanya aku nggak begitu bahagia dengan pekerjaanku yang aku lakukan. Tapi kenapa Lestari yang cuman seorang guru, tinggal di desa, sepertinya nampak sangat bahagia?” tutur saya pada Heirwid.

“Well, aku nggak pernah nanya sih apakah Lestari benar-benar happy dengan kehidupan yang dimilikinya. Namun sepertinya dia sangat bahagia. Coba lihat foto-fotonya di Facebook! Kenapa bisa begitu?”

“Mungkin karena mimpi dia menjadi guru dan membangun keluarga sederhana di desa. Mungkin bagi orang lain Lestari ‘hanya’, ‘cuma’, ‘mung’ guru. Tapi buat dia menjadi guru adalah sesuatu yang luar biasa bukan mung guru. Dan saat ini mimpinya udah terwujud, tentu aja dia bahagia. Dia bahagia dengan keluarganya. Dia bahagia dengan pekerjaannya. Sedangkan kita yang punya mimpi yang istilah lebih tinggi masih berusaha mencapai mimpi kita, tentu kita nggak sebahagia dia.” kata Heirwid.

Buat aku say, kebahagian itu bisa dicapai ketika kita telah mewujudkan mimpi kita baik itu cinta, karir atau kekayaan. Terkadang jalannya mulus, kadang berkelok-kelok. Semua tergantung usaha kita. Tapi kalau semua cita-cita udah terwujud pasti kita akan perfectly happy… entah itu besok atau 10 tahun mendatang.

Benar kata Heirwid. Banyak orang enggak terlalu bahagia dengan kehidupannya karena mereka (termasuk saya) mempunya kehidupan yang rumit. Namun tentu saja, mimpi dan cita-cita orang itu beda-beda. Kita nggak boleh merendahan begitu saja karena seserhana apapun mimpi seseorang, mimpi tersebut memiliki arti yang besar bagi mereka.

Bersyukur, Being Grateful

Hari ini Bebek, salah seorang kawan dari Yogya, berkunjung ke apartment. Lagi-lagi saya membicarakan Lestari. Sama dengan Heirwid, Bebek pun enggak kenal Lestari. Bukannya saya nyinyir dan ingin menjelek-jelekkan seseorang. Namun perihal kebahagian ini sangat menarik untuk didiskusikan dengan kawan lain karena mungkin saya nggak sebahagia Lestari dan saya iri dengan kebahagiaannya dalam kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya pun menunjukkan akun Facebook Lestari. Nggak ada yang mentereng dari akun Facebooknya. Hanya foto-foto anaknya atau kegiatannya sebagai guru. Bebek pun berkomentar bahwa Lestari nampaknya sangat bahagia dan dia berkata.

Menurutku, materi bukanlah sumber kebahagiaan. Kadang-kadang materi justru membebani hidup kita. Dulu waktu aku masih punya apa-apa, aku nggak ngerasa sebahagia sekarang. Tapi sekarang saat aku hidup pas-pasan aku justru malah merasa bahagia karena aku punya kebebasan.” kata Bebek.

Sebenernya semuanya itu lebih tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya. Tapi kadang-kadang manusia rakus dan nggak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.” imbuhnya.

Bebek benar. Kita sebagai manusia cenderung enggak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Ketika kita punya uang 100 juta, kita ingin 200 juta. Ketika kita punya 200 juta, kita ingin 300 juta. Dan seterusnya, dan seterusnya. Namun bukan berarti kemudian kita hanya bersyukur dan berhenti berusaha.

Mensyukuri apa yang kita miliki sebenernya mempermudah jalan kita untuk mewujudkan impian dan kebahagiaan kita tanpa beban yang berat. Saya selalu percaya bahwa kita kita mengatakan bahwa kita nggak bisa maka kita akan benar-benar nggak bisa melakukan sesuatu, namun ketika kita yakin bahwa kita mampu maka kita mampu.

Perihal kebahagian bukan tentang bagaimana kita lebih bahagia dari orang lain karena ini bukan kompetisi atau lomba. Bagiku, kebahagian adalah tahu apa yang kita mau, berusaha keras untuk mewujudkan mimpi kita dan terus bersyukur dengan apa yang telah kita capai.

Kita enggak perlu iri dengan kebahagiaan orang lain karena mereka telah mewujudkan cita-cita mereka sendiri dan merasakan kebahagiaan yang mereka inginkan.

*

Buat kawanku yang merasa sebagai Lestari, terima kasih telah menunjukkan sebuah kebahagian dalam keserderhanaan.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Membuat KTP Legal Itu Mudah

Ada uang! Ada barang! [2013: E O]

Ada uang! Ada barang! [2013: E O]

“Ini Indonesia bung! Ada uang, ada barang!” 

Saya yakin bahwa seruan tersebut sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Semisal saja ketika anda akan membuat SIM (Surat Ijin Mengemudi) tetapi malas melakukan serangkaian tes, anda tinggal membayar ‘orang dalam‘ saja. Biasanya, si ‘orang dalam‘ memasang tarif Rp 550,000

Atau, ketika anda pindah ke kota lain tetapi malas untuk membuat Surat Keterangan Pindah sebagai salah satu syarat utama untuk mengajukan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga), maka anda pun dapat membayar jasa ‘orang dalam‘ untuk membereskan ‘printilan‘ tersebut. Biasanya si calo memasanga tarif sekitar Rp 700,000 sampai Rp 1,500,000.

Dan masih banyak lagi, praktek-praktek korupsi kecil-kecilan yang membuat hal rumit menjadi mudah. Ini sudah bukan rahasia lagi. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan urusan perut, segala macam resiko diambil oleh si ‘orang dalam’ alias calo.

Tentu saja, saya menulis hal ini bukan karena asal ‘njeplak’ alias asal ngomong saja tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Bukan sebagai calo namun sebagai pengguna jasa.

Tetapi sesungguhnya ketika kita bisa meluangkan waktu dan mau ‘ngoyo’ sedikit, mengurusi ‘printilan-printilan’ tersebut untuk mendapatkan KTP, KK atau SIM secara legal sebenarnya tidaklah rumit.

Untuk membuat KTP

  1. Anda tinggal datang ke rumah ketua RT (Rukun Tetangga) untuk mendapatkan Surat Pengantar Pindah dengan membawa fotokopi KTP dan KK anda yang lama
  2. Bertemu dengan ke ketua RW (Rukun Warga) untuk mendaptkan tanda tangan pada Surat Pengantar Pindah yang telah diberikan oleh ketua RT
  3. Dengan membawa Surat Pengantar Pindah dari RT/RW, fotokopi KK, KTP serta KTP yang asli, anda ke kantor kelurahan setempat untuk mendapatkan Surat Keterangan Pindah WNI dengan membayar retribusi sebasar Rp 10,000
  4. Lalu, anda ke kantor kecamatan setempat untuk melaporkan kepindahan anda dengan membawa Surat Keterangan Pindah WNI yang didapatkan dari kantor kelurahan. Biasanya di kantor kecamatan, anda akan dimintai sumbangan sukarela untuk PMI sebesar minimal Rp 2,000 saja.
  5. Setelah semua surat Surat Pengantar Pindah dan Surat Keterangan Pindah WNI telah diperoleh, langkah selanjutnya yang anda lakukan adalah datang ke rumah ketua RT dan RW untuk mendapatkan Surat Keterangan Tinggal. Akan tetapi, ketika anda tinggal di apartment, anda dapat mengunjungi Badan Pengelola Apartment untuk meminta Surat Keterangan Tingal
  6. Setelah semua dokumen lengkap, anda pergi ke kantor kelurahan untuk membuat KTP,  KK dan sekaligus e-KTP yang baru tanpa dipungut biaya. Proses pengisian data dan pengambilan foto hanya memakan waktu selama 1 jam saja (tergantung antrian).
  7. Maka jadilah KTP dan KK yang baru.

Dari pengalaman saya membuat KTP secara legal, selain saya dapat menyimpan uang sebesar Rp 1,200,000, saya pun dapat mengetahui lingkungan tempat tinggal saya yang baru, saya tahu di mana kantor kelurahan dan saya pun tahu kapan proses pembuatan KTP dan KK tersebut selesai.

Beberapa saat yang lalu saat saya membuat KTP instan, kebetulan si calo tersebut malas dan ogah-ogahan. Si calo cuma mau makan uangnya saja, padahal si calo adalah seorang sarjana hukum. Saya hanya tersenyum mengingat kejadian tersebut.

Namun apa dikata, nasi telah menjadi bubur. Banyak orang licik dan picik di luar sana yang berpura-pura ingin menolong kita, namun nyatanya hanya ingin menolong perut sendiri. Mungkin si calo membutuhkan uang tambahan untuk anak dan istri yang kelaparan di rumah. Hitung-hitung saya memberi sumbangan pada orang miskin. Bukan begitu?

signature

2 Comments

Filed under Catatan