Category Archives: Catatan

Catatan: Novel

Ada dua hal yang saya suka dalam Catatan Pinggir Goenawan Mohammad yang berjudul Heteroglosia ini yakni:

  1. “Novel adalah medium tempat pelbagai ragam bahasa bisa masuk, karena ia menampung percakapan sehari-hari: dialek daerah, bahasa khas satu kelompok sosial, bahasa dengan istilah profesional, bahasa birokrasi” 
  2. “Heteroglossia Slamet, dengan demikian, bukan sekadar suara yang beragam. Ia mengandung perlawanan kelas yang dibisukan menghadapi kelas yang memonopoli wibawa dan ukuran keindahan. Kesenian Slamet Gundono bukan punya komitmen sosial dalam pesan-pesannya, tapi lebih dalam: dalam pilihan ekspresinya.”

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Perihal Kebahagian

Beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebook salah seorang teman sekelas saat saya masih duduk di bangku SMA. Sebut saja namanya Lestari. Saya nggak pernah mengenalnya dengan dekat. Hanya sebatas nama dan beberapa prestasinya di kelas saja. Dulu bagi saya, dia hanyalah cah ndesa, nggak ada sesuatu yang spesial tentang dirinya. Dan sejak lulus SMA, saya nggak pernah lagi stay in touch dengannya karena berbagai hal.

Namun beberapa hari yang lalu, saya melihat akun Facebooknya. Saya merasa iri dengannya. Lestari looks perfectly happy! Dia terlihat bahagia dengan keluarga kecil yang dibangunnya dan pekerjaannya sebagai seorang guru SD. Setelah beberapa menit saya menelusuri akun Facebooknya termasuk membaca status-status nya dan melihat album fotonya, saya melihat bahwa Lestari sepertinya sangat bahagia dengan kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya termenung sejenak. Saya bertanya pada diri saya. Akh apa hebatnya jadi guru SD? Apa enaknya jadi ibu muda? Apa hebatnya tinggal di desa? Apa menariknya kehidupan Lestari? Pasti sangat membosankan! Tentu saja saya berkata demikian karena saya tidak sebahagia Lestari.

Dream and Achievement

Saya pun mendiskusikan hal ini dengan Heirwid, salah seorang sahabat saya dari Yogya yang juga bekerja di Jakarta. Saya bercerita tentang kebahagian Lestari (Heirwid nggak kenal Lestari)

“Aku bukan orang kaya tetapi aku menikmati beberapa kemewahan hidup. Aku punya banyak sepatu mahal dengan harga jutaan, baju bermerk dengan harga jutaan, mobil, pernah travelling ke benua Amerika dan Afrika, pergi ke restaurant mahal dan menginap di hotel berbintang. Tapi sepertinya aku nggak sebahagia Lestari. Rasanya masih banyak yang nggak aku miliki. Rasanya aku nggak begitu bahagia dengan pekerjaanku yang aku lakukan. Tapi kenapa Lestari yang cuman seorang guru, tinggal di desa, sepertinya nampak sangat bahagia?” tutur saya pada Heirwid.

“Well, aku nggak pernah nanya sih apakah Lestari benar-benar happy dengan kehidupan yang dimilikinya. Namun sepertinya dia sangat bahagia. Coba lihat foto-fotonya di Facebook! Kenapa bisa begitu?”

“Mungkin karena mimpi dia menjadi guru dan membangun keluarga sederhana di desa. Mungkin bagi orang lain Lestari ‘hanya’, ‘cuma’, ‘mung’ guru. Tapi buat dia menjadi guru adalah sesuatu yang luar biasa bukan mung guru. Dan saat ini mimpinya udah terwujud, tentu aja dia bahagia. Dia bahagia dengan keluarganya. Dia bahagia dengan pekerjaannya. Sedangkan kita yang punya mimpi yang istilah lebih tinggi masih berusaha mencapai mimpi kita, tentu kita nggak sebahagia dia.” kata Heirwid.

Buat aku say, kebahagian itu bisa dicapai ketika kita telah mewujudkan mimpi kita baik itu cinta, karir atau kekayaan. Terkadang jalannya mulus, kadang berkelok-kelok. Semua tergantung usaha kita. Tapi kalau semua cita-cita udah terwujud pasti kita akan perfectly happy… entah itu besok atau 10 tahun mendatang.

Benar kata Heirwid. Banyak orang enggak terlalu bahagia dengan kehidupannya karena mereka (termasuk saya) mempunya kehidupan yang rumit. Namun tentu saja, mimpi dan cita-cita orang itu beda-beda. Kita nggak boleh merendahan begitu saja karena seserhana apapun mimpi seseorang, mimpi tersebut memiliki arti yang besar bagi mereka.

Bersyukur, Being Grateful

Hari ini Bebek, salah seorang kawan dari Yogya, berkunjung ke apartment. Lagi-lagi saya membicarakan Lestari. Sama dengan Heirwid, Bebek pun enggak kenal Lestari. Bukannya saya nyinyir dan ingin menjelek-jelekkan seseorang. Namun perihal kebahagian ini sangat menarik untuk didiskusikan dengan kawan lain karena mungkin saya nggak sebahagia Lestari dan saya iri dengan kebahagiaannya dalam kesederhanaan hidup yang dimilikinya.

Saya pun menunjukkan akun Facebook Lestari. Nggak ada yang mentereng dari akun Facebooknya. Hanya foto-foto anaknya atau kegiatannya sebagai guru. Bebek pun berkomentar bahwa Lestari nampaknya sangat bahagia dan dia berkata.

Menurutku, materi bukanlah sumber kebahagiaan. Kadang-kadang materi justru membebani hidup kita. Dulu waktu aku masih punya apa-apa, aku nggak ngerasa sebahagia sekarang. Tapi sekarang saat aku hidup pas-pasan aku justru malah merasa bahagia karena aku punya kebebasan.” kata Bebek.

Sebenernya semuanya itu lebih tentang bagaimana kita mensyukuri apa yang kita punya. Tapi kadang-kadang manusia rakus dan nggak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.” imbuhnya.

Bebek benar. Kita sebagai manusia cenderung enggak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Ketika kita punya uang 100 juta, kita ingin 200 juta. Ketika kita punya 200 juta, kita ingin 300 juta. Dan seterusnya, dan seterusnya. Namun bukan berarti kemudian kita hanya bersyukur dan berhenti berusaha.

Mensyukuri apa yang kita miliki sebenernya mempermudah jalan kita untuk mewujudkan impian dan kebahagiaan kita tanpa beban yang berat. Saya selalu percaya bahwa kita kita mengatakan bahwa kita nggak bisa maka kita akan benar-benar nggak bisa melakukan sesuatu, namun ketika kita yakin bahwa kita mampu maka kita mampu.

Perihal kebahagian bukan tentang bagaimana kita lebih bahagia dari orang lain karena ini bukan kompetisi atau lomba. Bagiku, kebahagian adalah tahu apa yang kita mau, berusaha keras untuk mewujudkan mimpi kita dan terus bersyukur dengan apa yang telah kita capai.

Kita enggak perlu iri dengan kebahagiaan orang lain karena mereka telah mewujudkan cita-cita mereka sendiri dan merasakan kebahagiaan yang mereka inginkan.

*

Buat kawanku yang merasa sebagai Lestari, terima kasih telah menunjukkan sebuah kebahagian dalam keserderhanaan.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Membuat KTP Legal Itu Mudah

Ada uang! Ada barang! [2013: E O]

Ada uang! Ada barang! [2013: E O]

“Ini Indonesia bung! Ada uang, ada barang!” 

Saya yakin bahwa seruan tersebut sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Semisal saja ketika anda akan membuat SIM (Surat Ijin Mengemudi) tetapi malas melakukan serangkaian tes, anda tinggal membayar ‘orang dalam‘ saja. Biasanya, si ‘orang dalam‘ memasang tarif Rp 550,000

Atau, ketika anda pindah ke kota lain tetapi malas untuk membuat Surat Keterangan Pindah sebagai salah satu syarat utama untuk mengajukan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga), maka anda pun dapat membayar jasa ‘orang dalam‘ untuk membereskan ‘printilan‘ tersebut. Biasanya si calo memasanga tarif sekitar Rp 700,000 sampai Rp 1,500,000.

Dan masih banyak lagi, praktek-praktek korupsi kecil-kecilan yang membuat hal rumit menjadi mudah. Ini sudah bukan rahasia lagi. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan urusan perut, segala macam resiko diambil oleh si ‘orang dalam’ alias calo.

Tentu saja, saya menulis hal ini bukan karena asal ‘njeplak’ alias asal ngomong saja tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Bukan sebagai calo namun sebagai pengguna jasa.

Tetapi sesungguhnya ketika kita bisa meluangkan waktu dan mau ‘ngoyo’ sedikit, mengurusi ‘printilan-printilan’ tersebut untuk mendapatkan KTP, KK atau SIM secara legal sebenarnya tidaklah rumit.

Untuk membuat KTP

  1. Anda tinggal datang ke rumah ketua RT (Rukun Tetangga) untuk mendapatkan Surat Pengantar Pindah dengan membawa fotokopi KTP dan KK anda yang lama
  2. Bertemu dengan ke ketua RW (Rukun Warga) untuk mendaptkan tanda tangan pada Surat Pengantar Pindah yang telah diberikan oleh ketua RT
  3. Dengan membawa Surat Pengantar Pindah dari RT/RW, fotokopi KK, KTP serta KTP yang asli, anda ke kantor kelurahan setempat untuk mendapatkan Surat Keterangan Pindah WNI dengan membayar retribusi sebasar Rp 10,000
  4. Lalu, anda ke kantor kecamatan setempat untuk melaporkan kepindahan anda dengan membawa Surat Keterangan Pindah WNI yang didapatkan dari kantor kelurahan. Biasanya di kantor kecamatan, anda akan dimintai sumbangan sukarela untuk PMI sebesar minimal Rp 2,000 saja.
  5. Setelah semua surat Surat Pengantar Pindah dan Surat Keterangan Pindah WNI telah diperoleh, langkah selanjutnya yang anda lakukan adalah datang ke rumah ketua RT dan RW untuk mendapatkan Surat Keterangan Tinggal. Akan tetapi, ketika anda tinggal di apartment, anda dapat mengunjungi Badan Pengelola Apartment untuk meminta Surat Keterangan Tingal
  6. Setelah semua dokumen lengkap, anda pergi ke kantor kelurahan untuk membuat KTP,  KK dan sekaligus e-KTP yang baru tanpa dipungut biaya. Proses pengisian data dan pengambilan foto hanya memakan waktu selama 1 jam saja (tergantung antrian).
  7. Maka jadilah KTP dan KK yang baru.

Dari pengalaman saya membuat KTP secara legal, selain saya dapat menyimpan uang sebesar Rp 1,200,000, saya pun dapat mengetahui lingkungan tempat tinggal saya yang baru, saya tahu di mana kantor kelurahan dan saya pun tahu kapan proses pembuatan KTP dan KK tersebut selesai.

Beberapa saat yang lalu saat saya membuat KTP instan, kebetulan si calo tersebut malas dan ogah-ogahan. Si calo cuma mau makan uangnya saja, padahal si calo adalah seorang sarjana hukum. Saya hanya tersenyum mengingat kejadian tersebut.

Namun apa dikata, nasi telah menjadi bubur. Banyak orang licik dan picik di luar sana yang berpura-pura ingin menolong kita, namun nyatanya hanya ingin menolong perut sendiri. Mungkin si calo membutuhkan uang tambahan untuk anak dan istri yang kelaparan di rumah. Hitung-hitung saya memberi sumbangan pada orang miskin. Bukan begitu?

signature

2 Comments

Filed under Catatan

Catatan: Dalam Air Mata

Merasa terkhianati

Merasa cemburu dan marah

Gelisah akan apa yang kulihat

Marah akan apa yang telah kulakukan

Aku cemburu dan marah dalam air mata cinta

E O ll 18 Mei 2009

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Catatan Minggu Pagi

Beberapa bulan ini, jiwaku berpetualang

Menyusur jalan untuk sebuah jawaban 

Hati dan pikiran bertanya, siapa yang benar

Riuh debat antara hati dan pikiran  

Kutinggalkan begitu saja mereka di antara semak kegundahan

Untuk menemukan sebuah kepastian atau sekedar jawaban

Terkadang…

Kularungkan galau demi galau dalam setetes racun

Atau justru dalam segengam kenikmatan

Namun tak jua kurasakan jawaban atau kepastian

Aku tersenyum

Mungkin sebuah kesejukan hati yang tengah kucari

Yang dapat kutemui di dalam hutan mahoni

Minggu, 21 November 2010 || 05:50 WIB

E O

signature 

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Uang Instan

Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) saat menggelar barang bukti dan tersangka di gedung BNN, Cawang, Jakarta, Selasa (13/11/2012). Selain berhasil mengamankan narkotika jenis shabu seberat 2,5 kg, BNN juga berhasil mengamankan dua box uang palsu dalam pecahan 100 USD dan 100 Euro bernilai milliaran rupiah dari oknum wartawan. Foto: VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

Dua hari yang lalu, saya terkejut membaca sebuah press release yang diterbitkan oleh Mabes POLRI dengan judul ‘Wartawati Terlibat Jaringan Pengedaran Narkoba’ pada hari Rabu, 14 November 2012.

Saya bukan terkejut dengan keterlibatan oknum wartawan dengan jaringan narkoba internasional, namun saya lebih terkejut pada temuan polisi atas dua box besar yang berisi uang palsu dengan pecahan 100 USD and 100 euro dengan kualitas menyerupai uang asli.

Pasalnya, saya pernah berkenalan dengan seseorang yang kemudian menawari saya untuk melakukan ‘bisnis’ uang palsu tersebut. Sebut saja dia Carl. Saya lupa namanya. Kami udah lama enggak berkomunikasi lagi. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi.

Di awal tahun 2011, saya mengenal Carl di salah satu tempat hiburan malam di Jakarta Selatan. Kami berdansa dan kemudian bertukar nomor handphone. Carl adalah seorang warga negara asing, dia sopan dan menarik. Katanya, dia adalah lulusan fakultas hukum di salah satu universitas di Amerika Serikat. Benar atau enggak, saya juga enggak tahu. Tetapi dia terdengar pintar.

Setelah dua minggu kami saling mengenal, Carl mengirim pesan singkat melalui BBM bahwa ia ingin menemui saya untuk menawarkan sebuah bisnis.

“Hum… bisnis? Bisnis apa?” pikir saya.

Singkat cerita, kami pun bertemu di suatu tempat. Carl membawa selembar kertas putih dan beberapa botol cairan. Sim sala bim ….. kertas putih tersebut berubah menjadi satu lembar uang 100 USD.

Saya terkejut. Saya belum pernah melihat hal tersebut. Dan… saya pun penasaran apakah uang tersebut asli atau enggak. Carl menjelaskan bahwa uang tersebut asli, jika saya tertarik… maka saya harus membayar sekitar Rp 300 juta untuk membeli cairan tersebut.

Wow! Saya terdiam! Saya enggak bisa ngomong apa-apa! Saya hanya mengatakan padanya “Let’s see!” dan sejak itu kami enggak lagi berteman.

Anyway, banyak orang mengatakan ‘Jakarta ini kejam bung!’

Ya… enggak heran kalau banyak orang maling, nipu, korupsi, ngebunuh, dan lain-lain hanya demi uang. Manusia lupa nilai-nilai kemanusiaan karena mahalnya biaya hidup di ibu kota ini. Belum lagi dengan gaya hidup hedonis dan kosumtif yang sangat sulit dihindari membuat manusia ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin dengan cara yang instan. Tetapi, mana ada uang instan yang enggak berisiko?!

Sampai detik ini, saya hanya bisa tersenyum mengingat keterlibatan sang wartawati dengan jaringan narkotika internasional sekaligus jaringan pengedar uang palsu.

Untung saja, saya enggak tergiur dengan tawaran ‘bisnis’ yang ditawarkan oleh Carl. Kalau YA, waduh! Bisa-bisa saya kehilangan uang ratusan juta yang bisa saya pakai buat beli rumah atau mobil.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Belajar dari Petugas Kebersihan Bandara Ahmad Yani

Marilah saling membantu satu sama lain dengan sukarela [Picture: C P]

Ada suatu kejadian yang menarik saat saya berkunjung ke Semarang untuk melakukan liputan khusus tiga minggu lalu. Seorang petugas kebersihan di Bandara Ahmad Yani dengan sabar mengajari pengunjung bandara yang asing dengan kloset duduk.

Hari itu, saya berangkat ke Semarang dengan pesawat Garuda pukul 5:50 pagi. Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam, pesawat mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani pukul 7:00.  Saya enggak tahu apa yang harus saya lakukan di Semarang sepagi itu karena saya baru akan menemui nara sumber saya pada pukul 1 siang.

Mata berat. Saya masih ngantuk. Saya butuh kafein untuk membuat saya tetap terjaga. Namun sayang, saya enggak melihat adanya decent coffee shop di terminal kedatang Bandara Ahmad Yani. Ummm…. Baiklah! Ketimbang saya komplen lebih baik saya cuci muka saja di rest room  agar lebih segar.

Namun lagi-lagi, ada satu hal yang hendak membuat saya kesal. Sa… ngat kesal.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 7: 22 menit. Hari masih pagi namun antrian enam orang perempuan tua sudah mengular di kamar mandi perempuan. Mereka semua berbalutkan baju kebaya sederhana dilengkapi dengan kain selendang sebagai penutup kepala. Dari cara mereka berbicara, mereka sepertinya datang dari Tegal atau Cilacap.

Sedangkan di salah satu bilik toilet, seorang petugas kebersihan sibuk membersihkan salah satu bilik toilet dengan kloset duduk yang basah kuyup di mana-mana, baik dari kloset duduknya sendiri, dinding pembatas, pintu dan juga lantai.

Selesai membersihkan bilik toilet, petugas kebersihan tersebut mendekati salah seorang perempuan tua yang hendak masuk ke dalam bilik toilet.

Bu… ngertos caranipun ngagem wc duduk mboten? (Bu tahu cara pakai wc duduk enggak?)” tanya petugas kebersihan dengan ramah dan sabar.

Yen mboten, kula ajari. (Kalau enggak tahu, saya ajari” tambahnya.

Si ibu yang hendak masuk ke dalam bilik toilet tersebut pun menerima tawaran dari si petugas kebersihan. Dengan ramah dan sabar, petugas kebersihan tersebut mengajarkan ibu tersebut bagaimana menggunakan kloset duduk.

Saya yang tadinya merasa kesal karena panjangnya antrian, terhentak melihat kejadian tersebut. Si petugas kebersihan dengan senang hati dan sabar membatu para pengunjung bandara yang asing dengan penggunaan kloset duduk.

Saya penasaran dengan motivasi si petugas kebersihan. Saat antrian telah habis, saya pun bertanya pada petugas kebersihan tersebut.

“Kenapa Ibu mau ngajari ibu-ibu tadi untuk menggunakan kloset duduk?” tanya saya

“Ya… mereka kan datang dari desa. Mereka asing dengan kloset duduk. Saya lebih baik ngajari mereka satu per satu agar nantinya kalau mereka menemui kloset duduk lagi, mereka tahu cara menggunakannya. Bukan jongkok di kloset duduk atau pipis di lantai.” tuturnya sembari membersihkan wastafel.

“Toh, kita sama-sama perempuan. Jadi ndak masalah.” tambahnya.

Kejadian ini mengajarkan saya untuk berbesar hati membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun, apalagi mengingat gaji mereka yang kecil. Saya yakin, bukan imbalan duniawi yang mereka dapatkan namun imbalan surgawi yang akan mereka dapatkan.

Sayang, saya lupa menanyakan namanya.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan