Monthly Archives: January 2013

Catatan: Membuat KTP Legal Itu Mudah

Ada uang! Ada barang! [2013: E O]

Ada uang! Ada barang! [2013: E O]

“Ini Indonesia bung! Ada uang, ada barang!” 

Saya yakin bahwa seruan tersebut sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Semisal saja ketika anda akan membuat SIM (Surat Ijin Mengemudi) tetapi malas melakukan serangkaian tes, anda tinggal membayar ‘orang dalam‘ saja. Biasanya, si ‘orang dalam‘ memasang tarif Rp 550,000

Atau, ketika anda pindah ke kota lain tetapi malas untuk membuat Surat Keterangan Pindah sebagai salah satu syarat utama untuk mengajukan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga), maka anda pun dapat membayar jasa ‘orang dalam‘ untuk membereskan ‘printilan‘ tersebut. Biasanya si calo memasanga tarif sekitar Rp 700,000 sampai Rp 1,500,000.

Dan masih banyak lagi, praktek-praktek korupsi kecil-kecilan yang membuat hal rumit menjadi mudah. Ini sudah bukan rahasia lagi. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan urusan perut, segala macam resiko diambil oleh si ‘orang dalam’ alias calo.

Tentu saja, saya menulis hal ini bukan karena asal ‘njeplak’ alias asal ngomong saja tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Bukan sebagai calo namun sebagai pengguna jasa.

Tetapi sesungguhnya ketika kita bisa meluangkan waktu dan mau ‘ngoyo’ sedikit, mengurusi ‘printilan-printilan’ tersebut untuk mendapatkan KTP, KK atau SIM secara legal sebenarnya tidaklah rumit.

Untuk membuat KTP

  1. Anda tinggal datang ke rumah ketua RT (Rukun Tetangga) untuk mendapatkan Surat Pengantar Pindah dengan membawa fotokopi KTP dan KK anda yang lama
  2. Bertemu dengan ke ketua RW (Rukun Warga) untuk mendaptkan tanda tangan pada Surat Pengantar Pindah yang telah diberikan oleh ketua RT
  3. Dengan membawa Surat Pengantar Pindah dari RT/RW, fotokopi KK, KTP serta KTP yang asli, anda ke kantor kelurahan setempat untuk mendapatkan Surat Keterangan Pindah WNI dengan membayar retribusi sebasar Rp 10,000
  4. Lalu, anda ke kantor kecamatan setempat untuk melaporkan kepindahan anda dengan membawa Surat Keterangan Pindah WNI yang didapatkan dari kantor kelurahan. Biasanya di kantor kecamatan, anda akan dimintai sumbangan sukarela untuk PMI sebesar minimal Rp 2,000 saja.
  5. Setelah semua surat Surat Pengantar Pindah dan Surat Keterangan Pindah WNI telah diperoleh, langkah selanjutnya yang anda lakukan adalah datang ke rumah ketua RT dan RW untuk mendapatkan Surat Keterangan Tinggal. Akan tetapi, ketika anda tinggal di apartment, anda dapat mengunjungi Badan Pengelola Apartment untuk meminta Surat Keterangan Tingal
  6. Setelah semua dokumen lengkap, anda pergi ke kantor kelurahan untuk membuat KTP,  KK dan sekaligus e-KTP yang baru tanpa dipungut biaya. Proses pengisian data dan pengambilan foto hanya memakan waktu selama 1 jam saja (tergantung antrian).
  7. Maka jadilah KTP dan KK yang baru.

Dari pengalaman saya membuat KTP secara legal, selain saya dapat menyimpan uang sebesar Rp 1,200,000, saya pun dapat mengetahui lingkungan tempat tinggal saya yang baru, saya tahu di mana kantor kelurahan dan saya pun tahu kapan proses pembuatan KTP dan KK tersebut selesai.

Beberapa saat yang lalu saat saya membuat KTP instan, kebetulan si calo tersebut malas dan ogah-ogahan. Si calo cuma mau makan uangnya saja, padahal si calo adalah seorang sarjana hukum. Saya hanya tersenyum mengingat kejadian tersebut.

Namun apa dikata, nasi telah menjadi bubur. Banyak orang licik dan picik di luar sana yang berpura-pura ingin menolong kita, namun nyatanya hanya ingin menolong perut sendiri. Mungkin si calo membutuhkan uang tambahan untuk anak dan istri yang kelaparan di rumah. Hitung-hitung saya memberi sumbangan pada orang miskin. Bukan begitu?

signature

2 Comments

Filed under Catatan

Spirituality: The Prayer for Today Needs

Prayer for Today Needs

Lord, for tomorrow and its needs I don’t pray; 

keep me, my God, from stain of sin, just for today;

Let me both diligently work and duly pray;

let me be kind in word and deed just for today. 

Let me be slow to do my will, prompt to obey;

help me to mortify my flesh, just for today.

Let me no wrong or idle word unthinking say;

set a seal upon my lips, just for today.

Let me in season Lord, be grave in season gray;

let me be faithful to Your grace just for today.

And if today my tide of life should edd away,

give me Your Sacraments divine sweet Lord, today.

So for tomorrow and its needs, I don’t pray;

but keep me, guide me, love Lord … just for today.

-sister M. Xavier, S.N.D-

signature

Leave a comment

Filed under Spirituality

Indonesia: Jamu, Vagina and Libido

A traditional homemade jamu seller in Pasar Pujokusuman, Yogyakarta

A traditional homemade jamu seller in Pasar Pujokusuman, Yogyakarta [2013: E O]

Since I was child, I have been introduced to jamu by my parents.  Nearly every day, my grandmother always bought me a glass of kunir asem (kunyit asam) or beras kencur from Bu Tarmi, a neighbor of mine who made homemade jamu.   Beras kencur is believed to help me to overcome coughing; while kunir asem is believed to cool down the body from fever.

Jamu is a traditional herbal medicine, which is made from parts of plant either from its roots, leaves, fruit and also bark; such as tamarind, turmeric, ginger, papaya leaf, curcuma and also bratawali. Some of jamu tastes sweet but some of them taste very bitter.

As I understand, there are many type of jamu which are specifically made to cure illness such as stiffness, dizziness, fever, high cholesterol, itching, diabetes and hepatitis. While there are also some of jamu are made to improve sexual pleasure either to increase men sex drive such as purwoceng and tongkat ali  and also to tighten the women’s vagina such as galian rapat, rapat wangi or empot ayam.

A traditional homade jamu seller was making a glass of galian rapat, which is believed to tighten vagina

A traditional homade jamu seller was making a glass of galian rapat, which is believed to tighten [2012: E O]

Unfortunately since I moved to Bali then to Jakarta, I could not find any good homemade jamu. Many of those jamu just tastes like a glass of mineral water with a little bit of food coloring. Or perhaps, I just have not found the proper place that sells proper  homemade jamu.

Other than that, despite the fact there are many instant jamu sold in the pharmacy or supermarket, I would not buy it because it does not have the same taste as the homemade jamu. I just want a real homemade jamu. Period!

Therefore whenever I visit Yogyakarta, I often try to go to Pasar Pujokusuman to buy a homemade jamu from an old lady, who has been selling  for many years [unfortunately, I have never asked what her name is] . She always is concocting the remedy as the customer order the jamu so she can make a fresh glass of jamu for the customer.

'I would not make jamu galian rapat for unmarried woman'  said a traditional homemade jamu seller.

‘I would not make jamu galian rapat for unmarried woman’ said a traditional homemade jamu seller [2012: E O]

Every time I visit her stall in Pasar Pujokusuman, I always buy a glass of galian rapat, galian singset and also kunyit sirih. But oddly enough, if a female customer wants to buy a glass of galian rapat, rapat wangi or empot ayam [type of jamu which is believed to tighten the vagina], she always asks the customer whether she is married or not, instead of asking whether she is virgin or not. Weird, isn’t?

I wonder if she would ask a male customer, who wants to buy purwoceng or tongkat ali jamu [type of jamu which is believed to increase male sex drive], the same questions. *sigh*

Well I guess as I am living in a ‘religious’ country, consuming galian rapatrapat wangi or empot ayam is considered to be sinful if you are not married because it is then  letting somebody to do a free sex with a good quality vagina. But who gives a damn about it anyway?! You can always lie about your marital status just for a glass of homemade jamu. No?

So if you have never tried to drink jamu or you wanna tighten your vagina or increase the sex drive,  you better try it. I can tell you that it works well to my body. Other than that, it tastes good and very cheap.

Drinking a glass of fresh homemade 'jamu galian rapat'

Drinking a glass of fresh homemade ‘jamu galian rapat’ [2012: E R]

6 Comments

Filed under Indonesia