Monthly Archives: November 2012

Catatan: Dalam Air Mata

Merasa terkhianati

Merasa cemburu dan marah

Gelisah akan apa yang kulihat

Marah akan apa yang telah kulakukan

Aku cemburu dan marah dalam air mata cinta

E O ll 18 Mei 2009

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Catatan Minggu Pagi

Beberapa bulan ini, jiwaku berpetualang

Menyusur jalan untuk sebuah jawaban 

Hati dan pikiran bertanya, siapa yang benar

Riuh debat antara hati dan pikiran  

Kutinggalkan begitu saja mereka di antara semak kegundahan

Untuk menemukan sebuah kepastian atau sekedar jawaban

Terkadang…

Kularungkan galau demi galau dalam setetes racun

Atau justru dalam segengam kenikmatan

Namun tak jua kurasakan jawaban atau kepastian

Aku tersenyum

Mungkin sebuah kesejukan hati yang tengah kucari

Yang dapat kutemui di dalam hutan mahoni

Minggu, 21 November 2010 || 05:50 WIB

E O

signature 

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Uang Instan

Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) saat menggelar barang bukti dan tersangka di gedung BNN, Cawang, Jakarta, Selasa (13/11/2012). Selain berhasil mengamankan narkotika jenis shabu seberat 2,5 kg, BNN juga berhasil mengamankan dua box uang palsu dalam pecahan 100 USD dan 100 Euro bernilai milliaran rupiah dari oknum wartawan. Foto: VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

Dua hari yang lalu, saya terkejut membaca sebuah press release yang diterbitkan oleh Mabes POLRI dengan judul ‘Wartawati Terlibat Jaringan Pengedaran Narkoba’ pada hari Rabu, 14 November 2012.

Saya bukan terkejut dengan keterlibatan oknum wartawan dengan jaringan narkoba internasional, namun saya lebih terkejut pada temuan polisi atas dua box besar yang berisi uang palsu dengan pecahan 100 USD and 100 euro dengan kualitas menyerupai uang asli.

Pasalnya, saya pernah berkenalan dengan seseorang yang kemudian menawari saya untuk melakukan ‘bisnis’ uang palsu tersebut. Sebut saja dia Carl. Saya lupa namanya. Kami udah lama enggak berkomunikasi lagi. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi.

Di awal tahun 2011, saya mengenal Carl di salah satu tempat hiburan malam di Jakarta Selatan. Kami berdansa dan kemudian bertukar nomor handphone. Carl adalah seorang warga negara asing, dia sopan dan menarik. Katanya, dia adalah lulusan fakultas hukum di salah satu universitas di Amerika Serikat. Benar atau enggak, saya juga enggak tahu. Tetapi dia terdengar pintar.

Setelah dua minggu kami saling mengenal, Carl mengirim pesan singkat melalui BBM bahwa ia ingin menemui saya untuk menawarkan sebuah bisnis.

“Hum… bisnis? Bisnis apa?” pikir saya.

Singkat cerita, kami pun bertemu di suatu tempat. Carl membawa selembar kertas putih dan beberapa botol cairan. Sim sala bim ….. kertas putih tersebut berubah menjadi satu lembar uang 100 USD.

Saya terkejut. Saya belum pernah melihat hal tersebut. Dan… saya pun penasaran apakah uang tersebut asli atau enggak. Carl menjelaskan bahwa uang tersebut asli, jika saya tertarik… maka saya harus membayar sekitar Rp 300 juta untuk membeli cairan tersebut.

Wow! Saya terdiam! Saya enggak bisa ngomong apa-apa! Saya hanya mengatakan padanya “Let’s see!” dan sejak itu kami enggak lagi berteman.

Anyway, banyak orang mengatakan ‘Jakarta ini kejam bung!’

Ya… enggak heran kalau banyak orang maling, nipu, korupsi, ngebunuh, dan lain-lain hanya demi uang. Manusia lupa nilai-nilai kemanusiaan karena mahalnya biaya hidup di ibu kota ini. Belum lagi dengan gaya hidup hedonis dan kosumtif yang sangat sulit dihindari membuat manusia ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin dengan cara yang instan. Tetapi, mana ada uang instan yang enggak berisiko?!

Sampai detik ini, saya hanya bisa tersenyum mengingat keterlibatan sang wartawati dengan jaringan narkotika internasional sekaligus jaringan pengedar uang palsu.

Untung saja, saya enggak tergiur dengan tawaran ‘bisnis’ yang ditawarkan oleh Carl. Kalau YA, waduh! Bisa-bisa saya kehilangan uang ratusan juta yang bisa saya pakai buat beli rumah atau mobil.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Catatan: Belajar dari Petugas Kebersihan Bandara Ahmad Yani

Marilah saling membantu satu sama lain dengan sukarela [Picture: C P]

Ada suatu kejadian yang menarik saat saya berkunjung ke Semarang untuk melakukan liputan khusus tiga minggu lalu. Seorang petugas kebersihan di Bandara Ahmad Yani dengan sabar mengajari pengunjung bandara yang asing dengan kloset duduk.

Hari itu, saya berangkat ke Semarang dengan pesawat Garuda pukul 5:50 pagi. Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam, pesawat mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani pukul 7:00.  Saya enggak tahu apa yang harus saya lakukan di Semarang sepagi itu karena saya baru akan menemui nara sumber saya pada pukul 1 siang.

Mata berat. Saya masih ngantuk. Saya butuh kafein untuk membuat saya tetap terjaga. Namun sayang, saya enggak melihat adanya decent coffee shop di terminal kedatang Bandara Ahmad Yani. Ummm…. Baiklah! Ketimbang saya komplen lebih baik saya cuci muka saja di rest room  agar lebih segar.

Namun lagi-lagi, ada satu hal yang hendak membuat saya kesal. Sa… ngat kesal.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 7: 22 menit. Hari masih pagi namun antrian enam orang perempuan tua sudah mengular di kamar mandi perempuan. Mereka semua berbalutkan baju kebaya sederhana dilengkapi dengan kain selendang sebagai penutup kepala. Dari cara mereka berbicara, mereka sepertinya datang dari Tegal atau Cilacap.

Sedangkan di salah satu bilik toilet, seorang petugas kebersihan sibuk membersihkan salah satu bilik toilet dengan kloset duduk yang basah kuyup di mana-mana, baik dari kloset duduknya sendiri, dinding pembatas, pintu dan juga lantai.

Selesai membersihkan bilik toilet, petugas kebersihan tersebut mendekati salah seorang perempuan tua yang hendak masuk ke dalam bilik toilet.

Bu… ngertos caranipun ngagem wc duduk mboten? (Bu tahu cara pakai wc duduk enggak?)” tanya petugas kebersihan dengan ramah dan sabar.

Yen mboten, kula ajari. (Kalau enggak tahu, saya ajari” tambahnya.

Si ibu yang hendak masuk ke dalam bilik toilet tersebut pun menerima tawaran dari si petugas kebersihan. Dengan ramah dan sabar, petugas kebersihan tersebut mengajarkan ibu tersebut bagaimana menggunakan kloset duduk.

Saya yang tadinya merasa kesal karena panjangnya antrian, terhentak melihat kejadian tersebut. Si petugas kebersihan dengan senang hati dan sabar membatu para pengunjung bandara yang asing dengan penggunaan kloset duduk.

Saya penasaran dengan motivasi si petugas kebersihan. Saat antrian telah habis, saya pun bertanya pada petugas kebersihan tersebut.

“Kenapa Ibu mau ngajari ibu-ibu tadi untuk menggunakan kloset duduk?” tanya saya

“Ya… mereka kan datang dari desa. Mereka asing dengan kloset duduk. Saya lebih baik ngajari mereka satu per satu agar nantinya kalau mereka menemui kloset duduk lagi, mereka tahu cara menggunakannya. Bukan jongkok di kloset duduk atau pipis di lantai.” tuturnya sembari membersihkan wastafel.

“Toh, kita sama-sama perempuan. Jadi ndak masalah.” tambahnya.

Kejadian ini mengajarkan saya untuk berbesar hati membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun, apalagi mengingat gaji mereka yang kecil. Saya yakin, bukan imbalan duniawi yang mereka dapatkan namun imbalan surgawi yang akan mereka dapatkan.

Sayang, saya lupa menanyakan namanya.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan