Monthly Archives: September 2010

Catatan: Surat teruntuk Tuhan

Bali, 26 Juli 2009

Yth: t[T].uhan

Pernah suatu hari kubertanya pada diriku sendiri tentang siapakah Tuhan itu? Ketika aku mempertanyakan hal tersebut kepada mereka yang religious, beberapa dari mereka akan menganggapku orang yang berdosa besar hanya karena aku mempertanyakan pertanyaan tersebut.

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri dan juga mereka yang meragukan suatu konsep yang orang sebut sebagai Tuhan, Siapakah Tuhan itu sebenarnya? Di manakah Ia tinggal? Apakah ada Tuhan yang menciptakan Tuhan sebagaimana Tuhan dikonsepkan sebagai yang mahakuasa? Lalu, jika tidak ada Tuhan, siapa yang menciptkan bumi ini? Apakah betul jika di bumi dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way Galaxy) ada hanya karena letupan besar(Big Bang) di mana terdapat perkembangan ruang dan waktu sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Georges Lemaître, seorang pastur Katholik Roma berdarah Belgia yang mengajar di Universitas Katolik Leuven di Belgia. Lalu bagaimana dengan kehidupan yang menghiasinya?

Aku tak berbicara banyak mengenai konsep yang tidak kupahami tersebut (karena aku memang belum pernah benar-benar mempelajari masalah kosmologi) namun setidaknya konsep tersebut cukup menarik untuk mempertanyakan siapakah Tuhan tersebut.

Jika Tuhan memang ada dan bumi ini diciptakannya, mengapa kita tidak dapat melihatnya, menemuinya dan berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan sesame kita? Atau mungkin, sesuai dengan lagu One of Us (Joan Osbourne), If God had a name, what would it be? Bagaimana wujudnya? Apa pekerjaannya? Siapakah yang menciptakannya? Dan kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, di manakah Ia tinggal? Siapakah Tuhan itu? Apakah Tuhan hanya sebatas konsep saja? Lalu mengapa orang menulis kata Tuhan dengan T capital dan bukan tuhan? Lalu, jika Tuhan yang mereka konsepkan sebagai YANG MAHABAIK dan YANG MAHAMURAH sehingga membuat manusia menemukan cara untuk memuji dan menyembahnya melalui sebuah jalan bernama agama yang kemudian mengkotak-kotakan manusia melalui agama tersebut untuk menyembah dan memuji Tuhan, mengapa cara yang baik tersebut yang dikonsepkan oleh manusia justru membuat manusia tidak akur sama lain hanya karena jalan mereka berbeda. Tentu saja, aku tak dapat mengatakan bahwa semua manusia yang memiliki agama akan melakukan hal tersebut, namun bagaimana praktek kehidupan sehari-hari orang di sekitar. Tak perlulah aku mengambil contoh akan mereka yang berbeda agama, bagaimana yang memeluk agama yang sama? Terkadang mereka sendiri ribut-ribut dan tak dapat menghargai sesamanya. Menantu yang marah-marah dengan mertuanya atau istri yang menganggap rendah suaminya. Atau, tak perlu sama sekali membawa-bawa nama agama untuk membahas hal tersebut?

Dan aku pun kembali bertanya mengenai Tuhan.

Jika di sana memang ada Tuhan dan di sana memang ada Dosa dan Setan, berdosakah aku hanya karena mempertanyakan hal ini? Akankah Ia mengirimkanku ke nereka, jika di sana memang ada Tuhan yang memiliki nereka bagi mereka yang berdosa dan tidak mempercayainya? Tidak aku mempercayai keberadaan Tuhan dengan demikian atau seperti katanya ‘aku kesetanan’?

Dan aku pun kemudian tersenyum setelah aku membaca kembali tulisanku ini, lalu berkata ‘Untuk apa aku berpikir keras-keras mengenai hal ini, bagiku semasa hidupku, yang ingin kulakukan adalah melakukan kebaikan dengan siapapun yang ada di sekelilingku. Tak peduli label agama apa yang mereka miliki, tak peduli warna kulitnya, tak peduli dari mana asalanya, tak peduli pula orientasi seks yang ia miliki, yang terpenting adalah aku mau berbuat baik dengannya.

Jika ada yang mengatakan aku kesetanan, katakanlah aku kesetanan. Jika ada yang mengatakan aku gila, katakanlah aku gila. Aku tak akan cukup peduli dengan perkataan tersebut, karena bukan orang lain yang dapat mengatakan hal tersebut hanya karena berbeda pandangan denganku, mengingat setiap orang memiliki akal budi, pikiran, hati dan kehendak yang dapat menentukan ke apa yang seharusnya mereka lakukan.

Memang, aku lahir dari keluarga beragama, menimba ilmu di sekolah yayasan yang membawa label agama dan aku diajarkan tentang berbagai hal tentang agama tersebut. Tak perlulah kusebutkan apa nama agama yang dianut oleh keluargaku, namun dari sinilah aku kemudian mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab dengan benar oleh pihak yang mampu memberikan jawaban tersebut. Tentu saja bukan orang-orang religious yang harus memberikan jawaban atas pertanyaanku atas Tuhan, karena mereka hanya akan menguliahku dengan ajaran-ajaran yang mereka terima, menguliahku dengan sesuatu yang mereka sendiri belum tentu memahaminya.

Aku tak mengatakan bahwa ajaran yang mereka terima adalah sajaran yang salah tidak sama sekali. Ajaran-ajaran agama kebanyakan merupakan ajaran-ajaran positif yang mengajarkan orang untuk berbuat baik karena adanya konsep surga yang mereka bentuk akan tempat di mana mereka akan berada ketika mereka berbuat baik dan berbuat jahat kepada orang lain.

Apakah benar Tuhan, dosa, setan, surga dan neraka hanyalah sebatas konsep semata? Atau, jika Tuhan memang ada, kembali kubertanya padaMu, berdosakah aku hanya karena mempertanyakan keberadaanMu?

Adakah yang mampu memberikanku jawaban atas pertanyaan normalku ini? Tentu saja, aku bukanlah yang pertama bertanya ini padamu, akan apa yang dikonsepkan sebagai Tuhan dan aku rasa pertanyaanku ini adalah pertanyaan wajar. Bukankah demikian?

Namun, lagi. Jika ada yang mengatakan aku sedang kesetanan hanya karena mempertanyakan hal ini, lalu katakanlah! Jika ada yang mengatakan aku gila, katakanlah pula demikian. Karena aku tak cukup peduli dengan pernyataan seperti itu dan yang aku butuhkan hanyalah jawaban dari pertanyaanku.

Bukankah demikian… Tuhan?

Ok…. Tuhan… I am looking forward to hear from you.

Best Regards

E.O

signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Notes: Dear You, I Love You

We are you and I.

It was started from a very simple crush,
on my journey of searching to the beloved one,
on my journey of healing my broken heart.

I still remember how did I bump into you,
You were a totally stranger for me,
and I appeared the same for you.

We were sharing our story by the pool,
about you and me,
about what you wanted,
and about what I wanted.

You promised me something,
that you would never disappear without any word,
that you would meet me again.

I was not so sure how I felt for you,
I was not so sure how much I want you,
and I just wanted an answer for my uncertainty feeling.

I took a risk,
I made a trip to see you in a very strange land,
with no experience of going abroad.

And it was started from a very simple crush,
when I met you for the second time,
I thought I found the answer of my uncertainty,
that I fell . . . for you.

It was nearly two years ago,
a story between you and me was started,
and it was from a very simple crush.

There are laughter and tear,
patience and fight,
smiling face and also sad eyes,
they are all coloring our story.

One day in the end of August 2009,
we found out about my condition,
it brought me down,
so did it to you.

You told me that everything would be all right,
you promised me that you would stand by me,
and we would fight it together.

You asked here and there,
tried to find out the best way to get rid of my problem,
you wanted the best thing for me,
for you and me.

The clock is ticking,
I sip a glass of Bordeaux,
and look at our pictures in a red maroon photo album.

I ask myself,
“Who am I actually? Angel or Evil?”
“What am I looking for?”
“Have I found the one that I was looking for?”

I smile and sip for more Bordeaux,
“Why would I ask those questions to myself?,
Haven’t I found the answer in himself?”

Last night, he asked me to go home,
to be together with him as we used to be,
in our house, in our place,
a place that we call as our home.

I smile and take a deep breath,
how grateful I am to find a man that I love,
how grateful I am to find a man, who loves me,
will stand by me in whatever condition.

Then I talk to myself,
wonder if I will be able to find another man who just like him?
Exactly, like him!
I guess, not!

One more time, I sip into my glass of Bordeaux,
Say to myself,
that I don’t want to have a broken heart,
I don’t want to be on that stage anymore,
I just want to be with him till the end of love,
but let me say something,
that I am so sorry for every mistake that I have done.

Hard for me to say sorry sometimes,
but now I know how much I love you,
let me apologize for all my mistakes.

E.O

Jakarta, 29 March 2010

1 Comment

Filed under Notes

Puisi: Kau Bilang Aku Lonthe

Aku sudah tahu apa yang wanita tua itu katakan,

tak perlu lagi kau memberitahuku,

tapi kuhargai usahamu.

*

Rambutnya yang putih,

tubuhnya yang mulai lemah,

sudah mulai bau bau tanah,

tapi masih aneh aneh saja.

*

Lebih baik kau diam, duduk di situ saja,

atau beristirahat di tempat tidurmu.

*

Tak perlu kau buka mulutmu,

untuk mengomentaraiku atau orang lain.

*

Sudah! Diamlah!

*

Aku bosan dengar keinginanmu itu,

aku bosan dengan tingkah lakumu.

*

Pura pura baik padaku,

di belakangku kau bilang aku lonte.

*

Aku tak peduli apa yang kau bilang,

tapi dia peduli, dia pun sampai menangisku.

*

Apa maumu sebenarnya?

*

Aku tak butuh uangmu,

jika kamu cuma ingin mencari kawan,

kawan yang kau tusuk dari belakang,

lebih baik cari orang lain saja,

bukan aku!

*

Tak kusangka kau sebusuk itu,

apalagi kau sudah setua itu.

*

Keinginan terjahatku,

lebih baik kamu mati saja.

*

Tak ada yang mengomentariku,

tak ada yang membuatnya menangisiku.

*

Apa kau mendengarku?

*

Kau sudah terlalu tua,

mungkin kau ingin berpulang.

*

Bukannya aku tak menyayangimu,

aku sayang kamu,

aku juga sayang dia.

*

Tingkahmu dan tingkahnya sama saja!

*

Tapi, lebih baik kau yang pergi

aku masih membutuhkannya!

*

Cepat! Sana pergi!

*

Tapi nyatanya, Ia tak mau peduli mengambilmu juga

Elisabeth Oktofani

Yogyakarta, 10 Juni 2008signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Puisi: Bukan Rama dan Shinta

Kuremas lalu kubuang,
lembaran buram dengan tinta merah,
bergambar coretan anak taman kanak-kanak
Dengan alur cerita Rama dan Shinta.

Aku senang dan tersenyum,
menatap setiap coretan tinta-tinta yang beralur.

Terus menerus kucoretkan tintaku,
bak anak kecil dengan mainan barunya,
hingga semua membentuk alur, cerita Rama dan Shinta.

Kupandang lagi, kutersenyum kembali.
Menangis dan tertawa saat kumelihatnya.

Bukan ini yang ingin kugambar,
bukan Rama dan Shinta yang ada dalam kertas,
bukan pula Aladin dan Jasmine,
namun Beauty and The Beast.

Dan dalam tawaku,
kuremas kertas ceriat bergambarku,
untuk Beuty and The Beast.

E.O

Yogyakarta, May 26th 2009signature

Leave a comment

Filed under Catatan

Poem: Dan Kau Lelaki Terindahku

Ini tubuhku, milikku.
Ini hatiku, masa depanku.
Dan ini. . . diriku, milikmu seutuhnya.

Pernah suatu pagi, kita berjalan berdua,
gelap dan hening.

Aku terus berkata-kata ini itu dalam langkah tergesa,
dengan kau di sampingku.

Hingga kuucapkan,

“Sayang, jangan lagi kau menangis.
Jangan pula kau larut dalam kesedihanmu.
Aku masih di sini, berdiri di sampingmu.
Kuat dan segar.

Tak kan kuhembuskan napas terakhirku hari ini atau besok,
karna aku masih akan bersamamu.

Lihat aku, kuat dan segar!

Sayang, tak perlu lagi kau larut dalam sedihmu!”

Kuterus berjalan seraya berkata,
langkah cepat hanya ingin tuk melihat cahaya.

Ia terdiam, terhenti dan pecah dalam tangis.

Isak keras sang adam membekukan darahku,
menghentikan detak jantungku.

Kau menarikku dalam pelukmu,
kini kau berkata-kata dalam isak tangis kesedihan seorang romeo.

Tersengal dalam nada kesedihan yang tak pernah kudengar.

Hanya kelunglaian yang kurasakan,
kengerian berbumbu kebahagian yang melebur.

Dan kembali terlintas dalam visionku

Gelap

.

Hening

.

Hujan
.

Kata-kata
.

Langkah cepat

.

dan terdiam….
.

Ia terhenti

.

dan pecah tangisnya.

Dan lagi… kumelihat hal yang sama …

Gelap

.

Hening

.

Hujan
.

Kata-kata
.

Langkah cepat

.

dan terdiam….
.

Ia terhenti

.

dan pecah tangisnya.

Lagi, lagi dan lagi.

Kumelihat hal yang sama berkali-kali,

Gelap dan mematung,

diraihnya tubuh dan ia pun berucap.

Aku sangat mencintaimu,
kan kulakukan apapun untukmu.

Tak akan pernah kubiarkan viral-viral itu menghancurkanmu,
ku kan terus bersamamu tuk melawannya.

Dengar…
aku tak akan pernah meninggalkanmu.

Tak akan pernah.
Gelap

.

Hening

.

Hujan
.

Kata-kata
.

Langkah cepat

.

dan terdiam….
.

Ia terhenti

.

dan pecah tangisnya.

. . . . . . .

Dan kau lelaki terindahku,

dalam dirimu kutemukan impian sang gadis cilik.

E.O
UAJY, R 4304
Sept 4th 2009signature

Leave a comment

Filed under Catatan