Notes: ISIS, A Health Conscious Organization

Last January, International Business Times reported that ISIS executor was beheaded because he is a smoker. IBT wrote IS has declared smoking is a form of slow suicide. Having said that apparently ISIS is  a health conscious organization.

ISIS understands well that all those scary pictures on the cigarette package seems to not make smoker afraid. Hence, ISIS chooses the extreme method by beheading anyone who is smoking in their territory. A very strong reminder ay?

So if you are a smoker and interested to join ISIS, please think twice before you join ISIS. ISIS will kill you first before you are able to fight or defend them.

But as a health conscious organization, what does ISIS say about the consequences of sex slavery? Does ISIS also talk about sexual and reproductive health?  Few months ago, various media reported that ISIS also executed Indonesian ISIS fighter, who allegedly spread AIDS in its territory.

Well… ISIS has to promote condom and monogamy then. Even better, ISIS must eradicate sex slavery and polygamy. Isn’t ISIS a health conscious organization?

signature

Leave a comment

Filed under Notes

Brief: Why Religious Violence Occured in Indonesia

This is an interesting analysis about the possibility of Saudi Arabia and ISIS merger. It actually reminds me of my interview with prominent scholar a year ago. We talked about who might have been financing extremist group in Indonesia.

Indonesian media outlets have been reporting about the attack and the execution of  Ahmadiyya and Shia community in these past five years. Some of them also attacked the Christian community throughout the country.

He pointed out that Saudi Arabia has funded those extremist group with purpose to have many Wahabi and/or Sunni followers because the majority of Indonesia population is Islam followers. However he does not have the written evidence about it but he had a chance to see it with his own eyes.

Having said that it is good to know how the extremist got finance at the first and how the religious violence has been fabricated at the first place. The following questions are how much they get funded? Who received the money?

Sadly, religion is just a political tool to obtain as well gain power for certain group of people so they can get both financial and political benefit. Meanwhile religion actually offers a plenty of good teaching and its follower taking it seriously.  Ironic!
signature

Leave a comment

Filed under Indonesia

Catatan: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adalah pria pribumi yang haus kuasa, haus harta.

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma negatif pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Catatan: Buku atau Internet?

Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Tetapi di jaman modern ini, sebenarnya selain buku, internet juga merupakan jendela dunia. Kita dapat berselancar ke mana pun kita mau tanpa batas. Kita bisa melihat dunia dan mengenyam ilmu hanya dari balik layar komputer selama terhubung dengan koneksi internet.

Saya sendiri berkenalan dengan internet pada tahun 2000. Sejak kenal dengan internet, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses internet, entah untuk berkenalan dengan orang dari berbagai belahan dunia atau membaca berbagai macam artikel. Melalui internet, saya dapat mempelajari kehidupan manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk urusan pekerjaan. Saya sangat menyukai internet. Saya gila internet.

Namun sayangnya, informasi di internet terlalu banyak dan berserakan di mana-mana. Tidak terstruktur dan bahkan susah dibuktikan kebenarannya apalagi informasi di internet bisa dipublikasi oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Belum lagi informasi-informasi tersebut bisa dihapus oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Itulah internet sebagai jendela dunia.

Meskipun gila akan internet, saya ternyata lebih menyukai buku ketimbang internet. Kenapa? Karena setidaknya saya tahu siapa yang menulisnya. Tapi sayang saya agak kurang rajin membaca walaupun saya suka membaca.

Sejak kecil, saya suka membaca tapi saya enggak punya banyak koleksi buku. Saya pun jarang pergi ke perpustakaan di sekolah. Tapi….  saya sering ke “Taman Bacaan Tintin”, sebuah perpustakaan keliling yang menyewakan komik. Paling sering saya menyewa komik serial cantik :-).

Menginjak bangku SMA, saya mulai suka membaca novel apalagi sekolah saya dekat dengan Gramedia. Ketika banyak orang suka membaca tulisan Fira Basuki, saya lebih suka baca nover terjemahan karya  novelis Inggris Barbara Cartland. Barbara Cartland menawarkan cerita cinta dengan setting di kerajaan Inggris. Asyik, seru! Tulisannya membawa imajinasi saya ke dalam cerita tersebut.

Selain Barbara Cartland, saya juga suka tulisan Paulo Coelho. Penulis asal Brazil ini menawarkan berbagai refleksi kehidupan dengan tokoh utama perempuan. Menariknya lagi, Coelho selalu membawa sosok Bunda Maria dalam cerita-cerita spiritualnya.

Jujur saja, saya enggak terlalu banyak membaca tulisan anak bangsa saat itu. Kenapa? Saya enggak tahu mana yang bagus. Saya enggak tahu siapa penulis Indonesia yang bagus.

Suatu hari, saya mulai berkenalan dengan tulisan anak bangsa. London Wild Rose karya Kusuma Andrianto. Dari situ saya baru menyadari bahwa tulisan orang Indonesia enggak kalah hebatnya dengan tulisan orang asing. Saya pun mulai membaca tulisan karya Rendra, Ahmad Tohari, A.A Navis, Ayu Utami dan juga Djenar Maesa Ayu.

Tapi seperti yang sayang bilang tadi, saya kurang rajin membaca. Kadang baca, kadang enggak. Saya lebih banyak mengakses internet daripada baca buku. Nah belum lama ini, saya mulai berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer. Saya baru berkenalan dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer di usia saya yang ke 27. Ke mana saja selama ini? Payah ya?! Biarlah!

Meskipun demikian enggak ada kata terlambat. Saya pun keranjingan mebaca tulisan Pram… Seru! Asyik! Menarik!  Sayangnya buku-buku Pram yang asli susah didapatkan. Kalaupun ada, saya harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Tapi enggak masalah, saya enggak suka membaca buku palsu. Sebagai penulis, saya enggak suka buku saya dipalsukan. He he he.

Bisa dibilang bahwa, tulisan Pram membuat saya mengenal Indonesia lebih baik. Tulisannya dikemas secara apik dan sederhana tapi penuh makna. Apa artinya mengenal dunia luar kalau saya enggak mengenal Indonesia sama sekali?! Ya toh?! Tapi ya tapi…. saya juga harus mengerti apa yang terjadi di luar sana secara seimbang.

Bagi saya buku dan internet adalah sumber informasi yang saling melengkapi. Internet merupakan sumber referensi akan informasi sedangkan buku memberikan penjelasan akan suatu isu secara mendalam. Di jaman modern ini, mau tak mau kita harus menggunakan internet, si jendela dunia, to keep ourself updated. Tapi bukan berarti kita harus melupakan buku sebagai jendela dunia untuk memahami isu secara mendalam. FYI, I don’t like reading ebook : -) 

Kalau belum suka membaca buku, mulailah dari sekarang. Enggak ada kata terlambat.

signature

Leave a comment

Filed under Catatan, Indonesia

Notes: Social Media’s Perfect Life

Almost everybody has social media accounts these days, be it Facebook, Instagram, Path or Twitter. Social media helps us to be in touch with our long lost friends, family members, schoolmates, coworkers as well as connects us with new people. They also give us a space to have a discussion about certain issues that matter to us. At the same time, social media also gives us the opportunity to see other people’s life. But one thing about social media is that it often makes an individual feel like bad about themselves.

Since the presence of social media, many people often compare themselves or their life circumstances to other people whenever they scroll down the screen. Sometimes social media users forget that everyone has their own unique journey. I somehow feel that it is actually not healthy to be able to see other people lives through social media. Why? It’s because we start to unfairly compare ourselves to them.

Remember that everyone has their own life struggle and it just comes in different forms for each person. Not just that, some people actually find their life difficult. Unfortunately we just do not really see the difficulty that people have. Social media users often try to post their perfect life, try to show off their life’s achievements. But who really knows the story behind all those posts?

Other than that, social media can also stop us ftom having a real interaction with our friends because it creates a lazy form of friendship, without real life human interaction. Even if they do hang out together, they would just be busy with their smartphone and post stuff in social media.

That is why I deleted my Path account, I deactivated my Facebook account few weeks ago temporarily. I just find it not useful. Yet, I keep my twitter account active to keep up with the latest news and I might activate my Facebook again sometime. Arrgg technology…

signature

Leave a comment

Filed under Notes

Notes: My Better Half

Suddenly I remember that day, one day in Aug 2009. The day when we found out that I am sick. It was just one year after we met for the very first time. I gave you choice. You chose to stay with me. You chose to stand by me.

I vividly remember that early morning. It was 4 a.m. We walked down by the small road of Nyuh Gading. It was pitch dark, it was very quiet. And there we were, you and me. As we walked side by side, I suddenly hear you crying. You broke into tears and held me tight. You promised to stand by me no matter what.

And it was six years ago. So many tears, sadness, fight, arguments and misunderstanding between you and me. Yet, there were so many laughter, happiness and so many smiles that we have been sharing together. There were some stage of our journey where we thought it’s going to be over. Yet, we chose to take time to fix it, to improve it. Now, everyday we learn to be a better person for each other.

I just feel so grateful and blessed to have a man like you in my life. I wouldn’t ask for a better man to be my better half. You are just the best that I have ever had.

signature

Leave a comment

Filed under Notes

Indonesia: President Joko “Jokowi” Widodo

signature

Leave a comment

Filed under Indonesia